
Putra Mahkota Yuan Konju meminta pada salah satu adik laki lakinya untuk membawa sang ibu keluar dari ruang kerjanya serangkaian adik laki laki yang satunya akan membantu Sang Putra Mahkota untuk melawan Xiao Ziya. Mungkin pertarungan kali ini tak akan seimbang namun Putra Mahkota Yuan Konju berfikir dengan pengorbanan yang ia lakukan setidaknya Istana Kerajaan Yuan Liong masih berdiri dengan utuh, sungguh pemikiran yang sangat naif karna hal itu tak akan terjadi. Memprovokasi gadis seperti Xiao Ziya hanya akan menyisakan puing puing penyesalan saja, karna Xiao Ziya akan meluluh lantahkan seluruh bangunan istana tersebut hingga ia merasa puas.
Pangeran Yuan Junyang menggendong Ratu Yuan Mingi, ia ingin membuka pintu ruang kerja kakak pertamanya namun pintu tersebut terasa sangat berat. Pangeran Yuan Junyang akhirnya menoleh ke arah Xiao Ziya, apakah gadis itu telah melakukan sesuatu pada pintu tersebut agar tak ada yang bisa keluar dengan selamat?.
"Bukankah saya sudah mengatakan bahwa Putra Mahkota Yuan Konju tak dapat mencabut kata katanya lagi? lalu mengapa kalian berharap bisa keluar dari ruangan ini. Saya sudah memberitahu dua pilihan yang lebih mudah namun kenyataannya Putra Mahkota Yuan Konju lebih memilih kehancuran bagi Kerajaan Yuan Liong. Maka dari itu nikmatilah setiap proses penghancuran yang saya lakukan." ucap Xiao Ziya dengan senyuman lebar dan ekspresi wajah yang menyeramkan. Putra Mahkota Yuan Konju menelan ludahnya dengan susah payah, semua tak berjalan sesuai dengan rencana yang ada di otaknya.
"Biarkan adik kedua dan ibu saya keluar dari ruangan ini, setelah itu Anda bebas melakukan apapun." ucap Putra Mahkota Yuan Konju yang sedang memohon pada Xiao Ziya untuk keselamatan ibunya.
"Saya fikir Anda lebih peduli dengan keluarga tiri Anda daripada keluarga kandung Anda sendiri hingga membuat pilihan seperti itu. Tenang saja kalian semua akan pergi dengan tenang dari tempat ini." ucap Xiao Ziya. Gadis itu melapis pedang hitamnya menggunakan api hitam.
Putra Mahkota Yuan Konju merasa percuma saja meminta belas kasih pada seorang gadis seperti Xiao Ziya, mungkin satu satunya cara mereka bisa keluar dari ruangan itu adalah dengan mengalahkan Xiao Ziya. Putra Mahkota Yuan Konju dan kedua adik laki-lakinya menyiapkan senjata spiritual yang mereka miliki, ketiganya maju dan menyerang Xiao Ziya secara bersamaan. Tak ada kemungkinan untuk menang jika mereka menyerang gadis itu satu persatu karna itulah mereka menyerang Xiao Ziya secara bersamaan.
Pedang hitam milik Xiao Ziya memutar secara sempurna den membuat ketiga pemuda itu harus mengambil jarak yang cukup jauh agar mereka bisa menghindari serangan tersebut. Xiao Ziya menatap ke arah Pangeran Yuan Anzu kemudian melesat kearahnya untuk memberikan beberapa serangan telak hingga sang pangeran mengalami luka yang cukup parah, Putra Mahkota Yuan Konju tak tinggal diam ia berusaha untuk menyerang Xiao Ziya dari belakang. Belum sempat pedang milik Putra Mahkota Yuan Konju menyentuh baju yang dikenakan oleh Xiao Ziya, tiba tiba pedang tersebut hancur menjadi butiran debu.
"Menyerang dari belakang? bukankan itu tindakan pengecut." ucap Xiao Ziya dengan suara tawa yang terdengar seperti sedang mengejek Putra Mahkota Yuan Konju.
"Argh sialan, bagaimana gadis iblis sepertimu bisa terlahir di dunia ini." hina Putra Mahkota Yuan Konju pada Xiao Ziya. Sang Putra Mahkota belum pernah bertemu dengan gadis yang segila dan setega itu sebelumnya.
"Hey saya sudah memberikan Anda pilihan namun Anda lebih memilih untuk menantang maut. Apakah salah jika saya mulai menunjukkan keseriusan dalam pertarungan ini, lain kali pikirkan dengan hati hati sebelum mengambil keputusan." ucap Xiao Ziya dengan sorot mata tajam, tak ada setitik penyesalanku di mata gadis itu.
"Pilihan yang Anda berikan sangat tidak masuk akal, saya akan membunuh Anda Nona Xiao Ziya!!." triak Putra Mahkota Yuan Konju, ia mengambil pedang lain yang tersimpan di bawah meja kerjanya. Dari penampilan mungkin pedang itu jauh lebih kuat daripada sebelumnya namun belum mampu menyaingi pedang hitam milik Xiao Ziya.
Putra Mahkota Yuan Konju berusaha menarik kerah baju bagian belakang Xiao Ziya untuk menariknya menjauh dari Pangeran Yuan Anzu, meskipun badan Xiao kecil dan mungil bukan berarti ia ringan untuk diangkat. Putra Mahkota berusaha keras menarik kerah baju Xiao Ziya namun gadis itu tak bergeser sedikitpun, Xiao Ziya membalikkan badannya kemudian menendang Putra Mahkota Yuan Konju dengan kencang hingga terpental menabrak meja kerjanya.
Pangeran Yuan Anzu berusaha melepaskan diri dari Xiao Ziya, ia mengarahkan pedangnya pada leher gadis itu namun pedang tersebut hancur sama seperti milik Putra Mahkota.
"Pergilah dengan tenang Pangeran." ucap Xiao Ziya dengan senyuman miring kemudian gadis itu menancapkan pedang hitam miliknya pada perut Pangeran Yuan Anzu. Seketika tubuh sang pangeran terbakar oleh api hitam yang mengelola pedang tersebut kemudian menghilang dari pandangan semua orang.
Putra Mahkota Yuan Konju meneteskan air matanya saat ia melihat kematian sang adik tepat di depan kepalanya sendiri, mungkin pilihan yang diberikan oleh Xiao Ziya terlalu sulit namun jika ia memilih salah satu setidaknya sang Putra Mahkota tak akan kehilangan anggota keluarganya sendiri. Setelah selesai melenyapkan Pangeran Yuan Anzu, kini Xiao Ziya mengalihkan pandangannya pada Pangeran Yuan Junyang.
"Apakah Anda sudah siap Pangeran?." tanya Xiao Ziya dengan tatapan datar.
"Tolong jangan bunuh saya Nona Muda Xiao Ziya, saya akan melakukan apapun yang Anda perintahkan." jawab Pangeran Yuan Junyang yang belum siap untuk mati. Ia masih sangat muda dan memiliki keinginan untuk menikmati hidup, menikah, kemudian memiliki keluarga sendiri.
__ADS_1
"Sangat disayangkan kakak tertua Anda memilih kematian untuk seluruh anggota keluarganya. Seharusnya ia menyerahkan Permaisuri beserta kedua selir pada saya maka hal seperti ini tak akan pernah menimpa keluarga Anda." ucap Xiao Ziya, gadis itu berjalan mendekat ke arah Pangeran Yuan Junyang sedangkan pemuda yang ia dekati berusaha untuk menjaga jarak dari gadis itu.
Xiao Ziya menebaskan pedang hitamnya ke arah Pangeran Yuan Junyang hingga tubuh sang pangeran terbelah menjadi dua, Putra Mahkota Yuan Konju membelalakkan matanya saat melihat sang adik mati dalam kondisi yang sangat mengenaskan, bagaimana caranya ia bertahan dalam kemarahan gadis gila itu, jika hal ini terus berlanjut maka semua orang yang ada di dalam Istana Kerajaan Yuan Liong akan menemui ajal mereka.
"Anda sudah kehilangan dua adik Anda Putra Mahkota." ucap Xiao Ziya.
"Hentikan sudah cukup hentikan, saya akan memberikan semua yang Anda inginkan Nona Muda Xiao Ziya. Tolong biarkan kami bertiga tetap hidup dengan tenang, saya sudah merelakan kepergian kedua saudara saya itu." ucap Putra Mahkota Yuan Konju, ia meminta pengampunan untuk nyawanya, nyawa adik laki laki terakhirnya, serta nyawa sang ibu. Setelah bebas dari cengkraman Xiao Ziya, Putra Mahkota Yuan Konju akan memikirkan cara untuk membalas dendam pada Kerajaan Bulan. Sang Putra Mahkota sangat yakin gadis itu tak akan tinggal selamanya di lapisan dunia manusia abadi.
Xiao Ziya terdiam untuk beberapa saat, ia melihat ke arah tiga orang yang masih tersisa di dalam ruang itu. Setelah mempertimbangkan perkataan Putra Mahkota, keputusan Xiao Ziya tetaplah sama. Gadis itu tak akan menyisakan musuhnya di Dunia Manusia Abadi karna beberapa hari lagi ia harus kembali ke Dunia Bawah, entah kapan gadis itu akan kembali ke tempat ini.
"Saya masih memiliki otak yang berfungsi dengan baik Putra Mahkota, saya tau apa yang sedang Anda fikiran jika saya membiarkan kalian tetap hidup." jawab Xiao Ziya dengan senyuman tipis, jangan sampai ada masalah di kemudian hari hanya karna gadis itu berbaik hati pada ketiganya.
Di sisi lain saat ini Yie Munha masih bertarung melawan Yie Gu, pertarungan diantara keduanya sangat sengit karna Yie Munha benar benar serius ingin membunuh kakeknya itu. Yie Gu sudah mendapatkan luka yang cukup parah karna saat ini kekuatan miliknya menurut drastis setelah menggunakan mantra teleportasi beberapa hari lalu, Yie Gu meloncat mundur cukup jauh ketika pedang milik Yie Munha ingin menebas tubuhnya. Yie Gu menoleh ke kanan dan ke kiri untuk memastikan bagaimana kondisi para pangeran dan juga putri dari Kerajaan Yuan Liong, sepertinya mereka mulai kewalahan menghadapi pasukan mayat hidup yang terus bermunculan selain itu kehadiran Tuan Muda Min Xome dan Tuan Muda Min Wungi memperkeruh suasana.
"Sialan, sepertinya saya harus mencari cara untuk kabur dari tempat ini." gumam Yie Gu dengan suara pelan karna ia sangat yakin rencananya kali ini juga gagal.
Saat pria tua itu sedang lengah karna memikirkan cara untuk kabur, Yie Munha menusuk lengan bagian kiri Yie Gu menggunakan pedang miliknya. Yie Gu memegangi lengan kirinya yang saat ini mendapat luka parah, pria itu membacakan sebuah mantra kemudian luka di lengan kirinya langsung sembuh. Dari kejauhan Ratu Min Xunzi menatap ke arah Yie Gu, ia yakin serangan yang diberikan oleh Yie Munha memberitahukan kerusakan yang parah, sepertinya kakek tua pengikut Penguasa Agung itu telah mempelajari beberapa sihir hitam ataupun sihir terlarang.
"Ahahaha apakah kau fikir mudah untuk menyingkirkan kakek tua ini? sembilan belas tahun kau tinggal di Klan Yie apakah kau tak menyadari bahwa tak ada satu Ketua Klan yang berani menyerang kakek mu ini secara langsung!." ucap Yie Gu dengan nada bicara yang terdengar sangat sombong seolah olah ia tak bisa mati meski ditusuk dengan pedang sebanyak ribuan kali.
Yie Munha mengambil beberapa langkah kebelakang, gadis itu menarik nafas beberapa kali kemudian menatap tajam ke arah Yie Gu. Ini adalah saat yang tepat untuk menggunakan jurus pedang yang diberikan oleh Nona Muda Xiao Ziya padanya, manusia seperti Yie Gu tak bisa dibiarkan hidup terlalu lama karna ia akan terus mengulang kesalahan yang sama hingga jutaan kali. Yie Munha melesat dengan kecepatan penuh kemudian melompat dengan sangat tinggi hingga menarik perhatian orang orang yang masih berada di atas gerbang perbatasan. Kilatan petir berwarna merah kehitaman muncul dari pedang Yie Munha, petir tersebut menyambar tubuh Yie Gu hingga hangus dan berubah menjadi debu. Pangeran dan putri yang berasal dari Kerajaan Yuan Liong melihat hal itu secara langsung, kini mereka merasa kebingungan karna orang yang mengajak untuk menyerang gerbang perbatasan Kerajaan Bulan telah dikalahkan dan mati, apa yang harus mereka lakukan? haruskah mereka mencoba mencari cara untuk mundur dan menyelamatkan diri ataukah tetap melanjutkan peperangan skala kecil ini.
"Ya manusia sepertinya memang tak layak untuk mendapat banyak kesempatan, ini jauh lebih baik." ucap Yie Munha dengan senyuman puas, tak ada rasa penyesalan sedikitpun di hati gadis itu. Apa yang telah ia alami selama ini bahkan kurang jika hanya dibayar oleh Nyawa Yie Gu saja, setidaknya dendam sang ibu telah terbalaskan.
"Semuanya mundur!!." triak Pangeran Yuan Wengi anak pertama dari Permaisuri Yuan Bianze.
Prajurit Kerajaan Yuan Liong yang tersisa langsung mundur mematuhi perintah sang pangeran, peperangan ini sedari awal memang tak bisa mereka menangkan. Keenam anggota Keluarga Kerajaan Yuan Liong berusaha untuk melarikan diri ke hutan perbatasan, sangat disayangkan Ratu Min Xunzi dan yang lain langsung turun untuk menangkap mereka semua. Setelah membuat ulah dengan Kerajaan Bulan jangan pernah berfikir untuk kembali dalam kondisi baik baik saja. Beberapa pangeran dan putri berusaha untuk melawan namun tenaga mereka telah terkuras habis dan akhirnya mereka semua ditangkap oleh pihak Kerajaan Bulan.
"Lepaskan kami, Putra Mahkota Yuan Konju pasti akan membalaskan kekalahan kami hari ini." ucap Putri Yuan Zizi dengan tatapan tajam, gadis itu tak bisa menerima kekalahan yang pihak Kerajaan Yuan Liong rasakan.
"Kami pasti akan menunggu Putra Mahkota datang kesini untuk menyelamatkan kalian, lihat saja nanti Kerajaan siapa yang akan luluh lantah." jawab Raja Min Lunxi dengan senyuman miring.
Di sisi lain Saat ini yang tersisa tinggal Putra Mahkota Yuan Konju dan Ratu Yuan Mingi di dalam ruangan itu, Xiao Ziya telah membunuh Pangeran Yuan Ruan'gu karna sang pangeran berusaha untuk menyerang Xiao Ziya secara diam diam saat gadis itu sedang berdiskusi dengan Putra Mahkota Yuan Konju.
__ADS_1
"Ah bagaimana ini, penyerangan diam diam yang Anda rencanakan ternyata gagal. Sekarang tinggal Anda dan Ratu Yuan Mingi yang tersisa." ucap Xiao Ziya dengan senyuman manis, gadis itu bersikap seolah olah apa yang ia lakukan adalah hal yang wajar.
"Saya tak akan membiarkan Anda keluar dari Istana Kerajaan Yuan Liong dalam keadaan baik baik saja, setidaknya Anda harus mendapat luka parah." jawab Putra Mahkota Yuan Konju yang sudah kehilangan batas kesabarannya. Sang Putra Mahkota mengangkat meja kerja yang ada di sampingnya kemudian melemparkan meja kerja itu ke arah Xiao Ziya, dengan mudah Ziya menghindarinya.
Putra Mahkota Yuan Konju membuat sebuah pola sihir di lantai ruang kerjanya, ia menusuk jantungnya sendiri kemudian melepas jantung tersebut dari tubuhnya. Putra Mahkota meletakkan jantung miliknya ke tengah tengah formasi sihir kemudian ia membacakan sebuah mantra. Xiao Ziya melihat apa yang pemuda itu lakukan dengan tatapan heran, mungkinkah Putra Mahkota Yuan Konju melakukan ritual pengorbanan menggunakan nyawanya sendiri? lalu apa yang akan terjadi selanjutnya.
"Penguasa Alam Neraka yang Agung, saya memanggil Anda untuk membalaskan kematian saya. Bunuh lah gadis itu untuk kedamaian Alam Semesta!" ucap Putra Mahkota Yuan Konju kemudiannya cahaya berwarna hitam muncul dari formasi sihir yang telah ia buat.
Raja Artur yang saat itu sedang makan di ruang makan Istana Alam Neraka tiba tiba ditarik oleh cahaya berwarna hitam, Raja Artur menunjukkan ekspresi datar manusia mana lagi yang memanggilnya untuk hal hal konyol yang mereka lakukan. Beberapa saat setelahnya Raja Artur muncul di sebuah ruangan yang sangat asing baginya, ia menundukkan kepala ke bawah untuk melihat siapa yang telah memanggilnya menggunakan pengorbanan seperti itu.
"Apa kau tak tau bahwa saya sangat sibuk?." tanya Raja Artur yang menatap tajam ke arah Putra Mahkota.
"Tolong balaskan dendam saya pada gadis itu." ucap Putra Mahkota Yuan Konju sembari menunjuk ke arah Xiao Ziya.
Raja Artur mengalihkan pandangannya ke arah yang ditunjuk oleh pemuda gila itu, mata Raja Artur membelalak lebar saat bertatapan langsung dengan Xiao Ziya yang sedang tersenyum ke arahnya. Bagaimana bisa ia membunuh penerusnya sendiri, lagipula keuntungan apa yang akan ia dapatkan jika membantu pemuda gila itu.
"Apa yang kau lakukan di sini gadis nakal? apakah kondisi mu sudah lebih baik?." tanya Raja Artur yang lebih mengkhawatirkan kondisi Xiao Ziya daripada membantu Putra Mahkota Yuan Konju yang telah memanggilnya ke tempat itu.
"Saya sudah lebih baik sekarang, saya tak menyangka sampah sepertinya bisa melakukan pengorbanan untuk memanggil Anda." jawab Xiao Ziya dengan tawa yang sebisa mungkin ia tahan.
"Hah saya juga sudah muak dengan hal hal seperti ini. Lanjutkan saja urusanmu dengan pemuda gila ini, saya akan kembali ke Kerajaan Neraka untuk melanjutkan makan siang. ucap Raja Artur yang hendak pergi menggunakan mantra teleportasi.
"Bagaimana Anda bisa melakukan hal seperti itu pada saya, setidaknya Anda harus membunuh gadis itu sebelum pergi dari sini." ucap Putra Mahkota Yuan Konju dengan tatapan kesal.
"Apa kau sudah gila? gadis yang ingin kau habisi ini adalah Junjungan Muda dari Alam Neraka." ucap Raja Artur kemudian ia menghilang dari hadapan semua orang.
Putra Mahkota Yuan Konju menutup matanya setelah mendengar perkataan Raja Artur, sepertinya membunuh Xiao Ziya adalah hal yang tak akan pernah bisa ia lakukan meski sudah mengorbankan nyawanya sendiri. Xiao Ziya tak bisa membiarkan Putra Mahkota Yuan Konju mati begitu saja tanpa merasa penyesalan yang dalam.
"Bangkitlah." ucap Xiao Ziya sembari membaca sebuah mantra.
Tiba tiba jantung Putra Mahkota Yuan Konju masuk kembali ke dalam tubuhnya kemudian ia bangkit dari kematian, Putra Mahkota Yuan Konju menatap ke arah Xiao Ziya dengan tatapan bingung. Mengapa gadis itu menghidupkannya kembali? bukankah gadis itu ingin melihatnya mati?.
"Jangan kira saya akan memberi kematian yang mudah untuk Anda." ucap Xiao Ziya.
__ADS_1
Hai hai semua author balik lagi nih, gimana kabar kalian semoga sehat selalu ya. Jangan lupa follow buat yang belum, vote karna wajib, gift hadiah apapun, like like like, komen buat ninggalin jejak, rate bintang lima, share juga ya.