RATU IBLIS

RATU IBLIS
Bertemu Dengan Kakak Perempuannya


__ADS_3

Ratu Min Xunzi berjalan ke arah pintu keluar masuk markas utama milik Xiao Ziya, setelah sampai di depan pintu tersebut Ratu Min Xunzi meminta para prajurit iblis Xiao Ziya untuk membukakannya. Dengan segera para prajurit iblis membukakan pintu untuk sang ratu, entah mengapa saat Ratu Min Xunzi sudah berada di luar ia hanya diam mematung dan menatap ke arah seseorang. Sama seperti Yie Laingfu, pria itu terkejut melihat kakak perempuannya berada di wilayah perbatasan Klan Yuang berarti kakak perempuannya itu akan ikut serta dalam peperangan.


"Mengapa kau ada di sini?." tanya Yie Laingfu dengan tatapan dingin, pria itu terlihat tak menyukai kehadiran kakak perempuannya.


"Itu bukan urusan anda, saya bebas pergi kemanapun." jawab Ratu Min Xunzi dengan ketus. Ia tak menyangka akan bertemu dengan adik laki lakinya secepat ini, Ratu Min Xunzi meremas telapak tangannya berusaha menahan amarah yang ia pendam selama ini.


"Bisakah anda pergi sekarang paman? apapun alasannya, saya tak akan memberikan obat itu untuk ibu anda." ucap Xiao Ziya yang meminta sang paman segera pergi dari markas utamanya itu.


"Tolong berikan pil darah itu, saya akan melakukan apapun sebagai balasannya." ucap Yie Laingfu dengan sedikit paksaan, ia tau gadis itu masih memerlukan bantuan untuk melawan Kerajaan Bulan.


Xiao Ziya menggelengkan kepalanya, gadis itu sudah membulatkan hati agar tak memberikan pil darah itu untuk kesembuhan Yie Weinje. Wanita itu pantas terbaring lemah tak berdaya untuk beberapa waktu, lambat laun ia akan menyadari bahwa banyak pihak yang tak peduli dengan keadaannya. Xiao Ziya bisa melihat tatapan tak suka dari ketua Klan Yuang Yie yang lainnya saat satu ruangan dengan Yie Weinje.


"Bisalah kau membantu saya untuk membujuk keponakan kita ini, sekarang ibu dalam kondisi yang buruk ia memerlukan pil darah yang dimiliki oleh Xiao Ziya." ucap Yie Laingfu, ia meminta bantuan pada Ratu Min Xunzi. Sebagai salah satu anak dari ibunya, Yie Laingfu yakin Ratu Min Xunzi akan membantunya untuk membujuk Xiao Ziya.


Andai pria itu tau, posisi seorang ibu sudah hilang sejak lama di hati wanita bernama Min Xunzi itu. Tatapan hina yang diberikan oleh Yie Weinje saat memfitnah Min Xunzi puluhan tahun yang lalu masih ia ingat dengan jelas, seharusnya seorang ibu bisa melindungi anak anaknya dengan baik.


"Saya tak memiliki seorang ibu, hanya ayah saja yang masih hidup di hati saya." jawab Ratu Min Xunzi dengan tatapan datar, dari sana Xiao Ziya bisa melihat rasa kecewa yang sangat besar.


"Dia tetap ibumu, wanita yang telah melahirkan mu." ucap Yie Laingfu dengan kerutan di dahinya, pria itu marah setelan mendengar perkataan sang kakak perempuan.


"Tentu anda bisa mengatakan hal itu, sejak dahulu hanya anda yang dianggap seperti seorang anak oleh wanita itu." ucap Ratu Min Xunzi, ia menampar pipi sebelah kiri Yie Laingfu dengan cukup keras hingga meninggalkan bekas di sana.


"Pergilah." ucap Xiao Ziya dengan sorot mata berwarna merah, aura keemasan membeludak dari tubuh gadis itu dan membuat Yie Laingfu terpental beberapa meter kebelakang.


"Mari masuk kedalam bibi." ucap Xiao Ziya mengajak Ratu Min Xunzi untuk masuk kedalam markas utamanya meninggalkan Yie Laingfu yang sedang terluka.


Yie Laingfu menatap kepergian Xiao Ziya dan kakak perempuannya dengan tatapan tajam, pria itu memukul tanah dengan cukup kencang. Semua yang terjadi di masa lalu masih diingat dengan baik oleh saudaranya yang lain begitupun dengan Yie Laingfu, pria itu hanya tak menyangka bahwa saudaranya yang lain masih menyimpan kebencian pada ibu mereka.


"Apa yang harus ku lakukan." ucap Yie Laingfu yang merasa frustasi, semua berjalan tak sesuai dengan rencananya. Mungkinkah ia harus meminta bantuan pada sang ayah untuk membujuk Xiao Ziya?.


Di sisi lain saat ini Xiao Ziya dan Ratu Min Xunzi sudah berkumpul kembali bersama yang lain. Raja Min Lunxi melihat ke arah sang istri, sepertinya telah terjadi hal yang tak menyenangkan hingga istrinya kesal seperti itu.


"Apa yang terjadi di luar sana?." tanya Raja Artur dengan rasa penasaran yang tinggi.


"Paman Yie Laingfu memintaku untuk menyerahkan pil darah untuk kesembuhan ibunya." jawab Xiao Ziya dengan wajah datar.


Setelah mereka semua selesai sarapan, Xiao Ziya mengajak para jenderal dan pemimpin pasukan untuk hadir dalam rapat terakhir mereka siang nanti sebelum berangkat ke medan perang pada sore hari. Di tempat lain tepatnya Kerajaan Bintang Timur, Raja Yongling Zu mendapat kabar bahwa Kerajaan Bulan akan bertarung dengan anak tirinya.


Raja Yongling Zu sangat terkejut mendengar kabar tersebut, apakah anak tirinya memiliki kekuatan untuk menghadapi Kerajaan Bulan hingga menyetujui ajakan perang dari Pangeran Yozan Zee. Jika anak tirinya berhasil mengalahkan Kerajaan Bulan, akan mudah baginya merebut Kerajaan Bulan dari tangan gadis itu.

__ADS_1


"Gadis yang sangat menarik, ahahaha." tawa Raja Yongling Zu menggema di aula utama Kerajaan Bintang Timur.


Di sisi lain Yie Laingfu susah sampai di kastil Klan Yuang Yie, ia langsung pergi ke ruang kerja sang ayah. Saat ingin masuk kedalam ruang kerja ayahnya, Yie Laingfu berpapasan dengan Yie Angli.


"Kau ingin bertemu dengan ayah?." tanya Yie Laingfu pada adik laki lakinya itu.


"Ada beberapa hal yang ingin saya sampaikan pada ayah." jawab Yie Angli dengan nada bicara dingin.


"Biar saya yang bertemu dengan ayah terlebih dahulu." ucap Yie Laingfu, pria itu meminta sang adik untuk mengalah kali ini saja. Yie Laingfu beranggapan masalah yang dialami oleh adik laki lakinya tak lebih penting dari kesembuhan sang ibu.


"Kita bisa masuk bersama sama, jangan meminta saya untuk mengalah lagi pada anda. Sudah cukup banyak saya menahan diri, kali ini saya tak akan melakukannya lagi." ucap Yie Angli dengan tatapan serius, pria itu langsung mengetuk pintu ruang kerja sang ayah.


Yie Gu sedang membaca beberapa berkas yang baru diberikan oleh wakil Klan Yuang Yie, berkas itu berisi penyelidikan mengenai penyerangan yang terjadi pada Yie Weinje kemarin malam. Mendengar pintu ruang kerjanya diketuk oleh seseorang, Yie Gu mempersilahkan tamunya untuk masuk kedalam. Yie Gu menatap keheranan ke arah Yie Laingfu dan Yie Angli, kedua putranya itu berebut ketika ingin masuk kedalam ruang kerjanya.


"Jangan bersikap seperti anak kecil." ucap Yie Gu dengan tatapan tajam, pria tua itu merasa jengah dengan sikap kedua anak laki lakinya itu.


"Maafkan kami ayah." ucap Yie Laingfu dan Yie Angli secara bersamaan.


"Apa yang sedang kalian lakukan di dalam ruang kerja saya? jika kalian berdua tak memiliki kepentingan maka keluarlah." ucap Yie Gu yang melihat ke arah kedua anak laki lakinya. Masih banyak hal yang harus ia urus, dan kedua putranya malah membuat keributan.


"Saya ingin memberi tau tentang kondisi putri saya yang semakin melemah." ucap Yie Angli dengan sorot mata sedih. Sudah beberapa tahun terakhir ini Yie Mungi terbaring lemah di kasur tanpa bisa melakukan apapun, kelumpuhan total sudah di alami oleh gadis itu semenjak hukuman yang diberikan oleh sang nenek.


"Coba ceritakan bagaimana kondisi putrimu sekarang?." tanya Yie Gu pada Yie Angli pada putra terakhirnya, Yie Gu sangat sedih karna cucu perempuannya mengalami kelumpuhan total di usia yang sangat muda.


"Tubuh putri saya semakin dingin setiap harinya, saya sudah meminta bantuan pada Paviliun Obat Langit namun mereka tak sanggup menyembuhkan putri saya. Saya khawatir putri saya tak bisa bertahan lebih lama lagi, bagaimana saya bisa melihat putri saya pergi begitu saja." ucap Yie Angli dengan air mata yang membanjiri wajahnya. Sebagai seorang ayah, Yie Angli merasa gagal menjadi seorang ayah.


"Saya akan melihat kondisi putri mu nanti, kau bisa kembali sekarang." ucap Yie Gu, setelah membaca berkas yang ada di tangannya ia akan pergi ke kamar Yie Mungi.


"Baiklah saya pamit terlebih dahulu." ucap Yie Angli, pria itu langsung pergi dari ruang kerja Yie Gu.


"Dan kau, mengapa kau membutuhkan bantuan saya untuk membujuk Xiao Ziya?." tanya Yie Gu, sepertinya hubungan antara paman dan keponakan diantara mereka terjalin dengan sangat baik.


"Ayah tau sendiri bagaimana ibu memperlakukan gadis itu." ucap Yie Laingfu dengan wajah serius, walau beberapa hari yang lalu ia berselisih paham dengan sang ibu mengenai cara mendidik Yie Munha, ia akan tetap menguasakan kesembuhan ibunya itu.


Yie Gu dan Yie Laingfu sibuk membahas beberapa rencana untuk membujuk Xiao Ziya hingga perlahan lahan matahari mulai terbenam. Di lain sisi Xiao Ziya dan pasukan sekutunya sudah bergerak menuju tempat peperangan, mereka datang lebih awal daripada pihak musuh.


"Semuanya bentuk formasi satu!!!." triak Xiao Ziya yang memimpin semua pasukan yang ada di sana. Seketika pasukan dari keempat kerajaan mulai menempati posisi mereka masing masing sesuai dengan sketsa gambar yang diberikan oleh Xiao Ziya siang tadi.


Pasukan Neraka berada di barisan paling depan karna semua prajurit handal dalam menggunakan pedang, Xiao Ziya membagikan pedang yang ia simpan di dalam cincin semestanya pada para prajuritnya neraka. Lima puluh ribu pasukan peri yang memiliki kemampuan menggunakan pedang berada di barisan kedua di belakang pasukan neraka, seratus ribu pasukan peri dengan kemampuan sihir berada di barisan belakang bersama dengan pasukan penyihir, seratus ribu pasukan peri dengan kemampuan memanah bersembunyi di pepohonan yang ada di sekitar sana, seratus ribu pasukan Kerajaan Hitam dibagi menjadi dua, satu lima puluh ribu pasukan Kerajaan Hitam berada di sebelah kiri dan lima puluh ribu lainnya berada di sebelah kanan. Itulah formasi nomer satu yang telah di susun oleh Xiao Ziya, dengan begitu saat musuh datang dari arah yang berlawanan mereka akan merasa bangga karna jumlah pasukan Xiao Ziya terlihat sangat sedikit.

__ADS_1


"Dalam peperangan kali ini utamakan kerja sama tim, lawan kita adalah prajurit Kerajaan Bulan. Besar kemungkinan mereka adalah manusia setengah abadi yang sulit untuk dibunuh secara individu, apa kalian mengerti!!!." triak Xiao Ziya memberi arahan pada seluruh pasukan sekutunya sebelum pasukan musuh datang.


"Para pemanah, pastikan kalian tetap berada di sana. Jangan sampai musuh menyadari kehadiran kalian di sini, saya telah membuat perisai yang akan melindungi kalian dari serangan balik selama kalian ada di atas sana." ucap Xiao Ziya pada pasukan pemanah dari Pasukan Peri.


"Baik kami mengerti nona muda, kami akan menyerang secara diam diam dan menembakkan panah tepat di jantung musuh kami." ucap pasukan pemanah yang memahami arahan dari Xiao Ziya.


"Meskipun kemenangan adalah prioritas utama kita, namun saat pihak musuh sulit untuk dihadapi kalian bisa mundur. Kita akan membuat rencana baru jika ada situasi berbeda dari yang saya perkirakan." ucap Xiao Ziya pada seluruh pasukan sekutu yang ada di sana.


Setiap orang mendengar arahan gadis itu dengan baik, mereka tau seberapa pentingnya Xiao Ziya bagi masing masing pemimpin lapisan dunia yang berkumpul di sini. Di sisi lain Pangeran Yozan Zee berada di luar gerbang masuk istana Kerajaan Bulan, ia dan tiga ratus pasukan akan berangkat ke medan perang. Sebelum itu mereka menunggu Raja Anling Zee datang memberi beberapa masukan dalam perang kali ini.


"Salam hormat kami Pada Yang Mulia Raja Anling Zee." ucap tiga ratus ribu pasukan Kerajaan Bulan serempak.


"Malam ini kalian akan Berperang membawa nama baik Kerajaan Bulan, pastikan kalian kembali membawa kemenangan. Gadis bernama Xiao Ziya itu ancaman besar bagi masa depan kerajaan kita, pastikan dalam peperangan kali ini kalian membunuhnya. Pasukan musuh berkisar seratus ribu orang, tiga kali lebih sedikit dari pasukan yang kita miliki. Walaupun begitu kalian semua harus berhati hati karna mereka berasal dari dunia peri, jika ada hal yang tak terduga yang membuat kalian kesulitan memenangkan peperangan hari ini maka mundur ke markas dan lanjutkan esok hari dengan rencana yang lebih matang. Hidup Kerajaan Bulan!!!." triak Raja Anling Zee di akhir kalimat untuk menyemangati pasukannya yang akan turun ke medan perang itu.


"Hidup Kerajaan Bulan." triak semua orang yang anda di sana.


"Kalau begitu kami berangkat ayah." ucap Pangeran Yozan Zee dengan senyuman lebar, ia yakin peperangan kali ini akan berakhir dalam waktu singkat.


"Bawalah kemenangan untuk ayahmu ini putraku." ucap Raja Anling Zee melepas kepergian putranya ke medan perang.


Pangeran Yozan Zee dan tiga ratus ribu pasukan Kerajaan Bulan berangkat menuju titik yang telah disepakati sebagai tempat dilangsungkannya peperangan kali ini. Penduduk Kerajaan Bulan melihat keberangkatan para pasukan yang akan berperang dari halaman rumah mereka masing masing, para penduduk hanya berharap pihak musuh tak masuk ke dalam wilayah Kerajaan Bulan.


Xiao Ziya dan pasukan sekutunya masih menunggu kedatangan pasukan Kerajaan Bulan, gadis itu memasang wajah dingin karna pihak musuh terlalu lama tiba di sana.


"Mereka lama sekali, tangan saya sudan sangat gatal." ucap Xiao Ziya yang sedang memantau di atas pohon tertinggi yang ada di tempat itu. Samar samar dari kejauhan ia mendengar suara langkah kaki, pasukan musuh akan segera tiba.


"Persiapkan diri kalian, pasukan musuh akan segera tiba." triak Xiao Ziya dengan sangat keras dan lantang hingga terdengar oleh pasukan Kerajaan Bulan. Gadis itu sengaja mengencangkan suaranya agar pasukan musuh tau pasukan sekutu Xiao Ziya sudah tiba di medan perang.


Xiao Ziya melompat dari atas pohon dan melesat menuju barisan paling depan bersama dengan Raja Artur, ia akan menghadapi para jenderal Kerajaan Bulan yang sudah menjadi manusia abadi yang sempurna. Kini pasukan sekutu Xiao Ziya dan pasukan Kerajaan Bulan saling berhadap hadapan, tatapan tajam terlihat di sorot mata setiap orang yang ikut serta dalam peperangan ini.


"Ternyata kalian sudah datang lebih awal daripada kami, saya sempat berfikir bahwa anda dan pasukan sekutu anda akan terus bersembunyi di markas." ucap Pangeran Yozan Zee, pemuda itu ingin memprovokasi Xiao Ziya.


"Mengapa saya harus takut pada anda? jangan terlalu banyak bicara omong kosong." ucap Xiao Ziya dengan sorot mata merah menyala, penampilan gadis itu seketika berubah.


"Bunyikan terompetnya!!!!!." triak Pangeran Yozan Zee. Salah seorang jenderal Kerajaan Bulan membunyikan terompet dengan keras sebagai pertanda peperangan akan dimulai. Bunyi terompet juga memberi peringatan bagi pihak luar agar tak melintas di medan perang.


"Ingat utamakan untuk membunuh gadis itu!!!." triak Pangeran Yozan Zee yang langsung mundur ke barisan paling belakang.


"Lihatlah betapa memalukannya pemuda itu." ucap Raja Artur yang tak habis fikir dengan tindakan sang pangeran.

__ADS_1


Hai hai semuanya author balik lagi nih, gimana kabar kalian semoga sehat selalu ya. Maaf kemarin ga bisa up guys karna WiFi konslet terus ga ada kuota hehe. Jangan lupa follow buat yang belum, vote karna wajib, gift hadiah apapun makasih banget, like like like, komen buat ninggalin jejak, rate bintang lima, share juga ya.


__ADS_2