RATU IBLIS

RATU IBLIS
Hadiah Perpisahan


__ADS_3

Setelah Xiao Ziya keluar dari aula utama Kerajaan Bintang Timur, Raja Yongling Zu terdiam beberapa saat dan mencoba untuk mengingat ingat bagaimana cara mengembalikan ingatan Ratu Junyi Zu. Sepertinya sang raja merasa sangat bersalah atas kemalangan yang menimpa Xiao Ziya.


"Kita tak bisa melakukan apapun ayah, jika kita memaksa ibu untuk mengingat siapa Xiao Ziya kemungkinan besar ibu akan mati karna tak bisa menahan ingatan lama yang masuk kedalam otaknya." ucap Putra Mahkota Yunzo Zu sembari menepuk punggung sang ayah. Mungkin ini memang sudah takdir yang harus diterima oleh Xiao Ziya, gadis itu harus bisa mengikhlaskan sang ibu yang selama ini ingin ia jumpai agar bisa memeluknya dengan erat.


"Ayah juga tak mengingat siapa pria yang telah menyegel ingatan ibu kalian." jawab Raja Yongling Zu dengan pasrah.


Di sisi lain saat ini Xiao Ziya berada di dalam kamar Putri Beiling Zu untuk mengemasi beberapa barang barang miliknya, gadis itu sudah mengambil keputusan untuk pergi dari Kerajaan Bintang Timur sore hari nanti. Tak banyak hal yang bisa Xiao Ziya lakukan di tempat ini, gadis itu juga tak bisa bergerak dengan bebas untuk menyelesaikan masalah masalah yang lain. Saat Xiao Ziya sedang mengemasi barang barangnya, terdengar suara seseorang yang mengetuk pintu dan dengan segera gadis itu membuka pintu kamar Putri Beiling Zu.


"Ah kalian rupanya, mengapa kalian datang mencari saya?." tanya Xiao Ziya pada Zu Junyang dan Zu Genzi. Kedua pemuda itu sedikit mengintip ke dalam kamar, mereka melihat tumpukan baju Xiao Ziya yang baru saja dikeluarkan dari almari.


"Kami ingin Nona Ziya melanjutkan pelatihan yang tertunda." ucap Zu Junyang dan Zu Genzi, mereka tak tau kemana gadis itu akan pergi dengan membawa semua pakaiannya. Mungkinkah Xiao Ziya ingin kembali ke Kerajaan Bulan? lalu bagaimana dengan pelatihan mereka yang belum selesai.


"Sore nanti saya akan kembali ke Kerajaan Bulan, jika kalian ingin ikut bersama saya silahkan kemasi barang barang kalian terlebih dahulu. Setelah selesai berpamitan pada orang tua kalian, segeralah datang ke perbatasan karna saya akan menunggu di sana." ucap Xiao Ziya yang memberikan pilihan pada kedua pemuda itu, mereka bisa ikut dengannya ke Istana Kerajaan Bulan untuk melanjutkan pelatihan yang tertunda ataukah ingin kembali ke Klan Zu dan menyudahi pelatihan itu.


Zu Junyang dan Zu Genzi saling bertatapan satu sama lain kemudian mereka menganggukkan kepala secara bersamaan, sepertinya kedua pemuda itu memiliki keputusan yang sama.


"Baiklah Nona Ziya tolong tunggu kami di perbatasan, kami akan kembali ke Klan Zu sekarang dan berpamitan pada orang tua kami." ucap Zu Junyang dengan penuh semangat, mereka akan diajari berbagai macam ilmu berpedang ataupun ilmu sihir oleh orang hebat seperti Xiao Ziya.


"Baiklah jika itu keputusan kalian maka saya akan menunggu di perbatasan." ucap Xiao Ziya dengan senyuman tipis yang menghiasi wajah cantiknya itu.


"Kami permisi terlebih dahulu Nona Ziya." ucap Zu Junyang dan Zu Genzi secara bersamaan. Kedua pemuda itu membungkukkan badan di hadapan Xiao Ziya kemudian pergi meninggalkan gadis itu.


Xiao Ziya kembali masuk ke dalam kamar dan menutup pintu rapat rapat, ia memasukkan semua pakaian ke dalam cincin semesta miliknya. Setelah selesai Xiao Ziya bersila di atas tempat tidur dan memulai meditasi, gadis itu perlu memulihkan energi qi miliknya yang sempat ia gunakan dalam jumlah yang cukup besar.


Di sisi lain saat ini Mue Linzong dan Mue Sanron sudah dalam kondisi yang lebih baik, Mue Linzong melihat ke sekitar kemudian menunjukkan ekspresi bingung. Mengapa tiba tiba ia berada di ruang kesehatan? bukankah sebelumnya ia dan sang istri sedang beradu argumen dengan Xiao Ziya. Mue Linzong melihat ke arah tangannya, seketika pria tua itu berteriak dengan sangat kencang. Mue Linzong terkejut karna kedua telapak tangannya hilang, hal apa yang telah ia lalui hingga mendapat hukuman seberat ini.


"Apa yang terjadi padamu suamiku." ucap Mue Sanron yang segera menghampiri sang suami, ia takut otak suaminya semakin kacau setelah mendapat kutukan racun dari Xiao Ziya.


"Dimana kedua telapak tangan saya?." tanya Mue Linzong yang membuat Mue Sanron semakin bingung.


"Kau tau siapa aku?." tanya Mue Sanron untuk memastikan lagi.


"Bagaimana saya bisa melupakan wanita yang sangat saya cintai, berhentilah bersikap aneh istriku." ucap Mue Linzong dengan tatapan datar, entah mengapa sang istri memperlakukannya seolah olah ia kehilangan ingatan.


Mendengar hal itu membuat hati Mue Sanron merasa sangat lega, akhirnya setengah jiwa dari sang suami telah kembali ke badannya lagi. Mue Sanron memeluk suaminya dengan sangat erat, wanita itu menangis sejadi jadinya di sana sedangkan Mue Linzong hanya bisa diam dan berfikir keras tentang apa yang telah terjadi.

__ADS_1


"Mengapa kau menangis istriku? ceritakan apa yang telah terjadi." ucap Mue Linzong dengan sedikit paksaan.


Mue Sanron melepaskan pelukannya, wanita itu duduk di kursi sebelah ranjang sang suami. Mue Sanron menceritakan semua yang terjadi, mulai dari perdebatan antara mereka berdua dengan Xiao Ziya yang berujung dengan penebasan kedua telapak tangan Mue Linzong hingga saat gadis bernama Xiao Ziya itu mengambil setengah jiwa dari Mue Linzong. Mendengar cerita dari sang istri membuat pria tua itu menjadi geram, pantas saja ia tak mengingat apapun yang telah terjadi.


"Sebaiknya kita kembali ke Klan Mue terlebih dahulu untuk meminta bantuan pada ketua klan yang lain. Xiao Ziya sangatlah berbahaya jika hanya kita berdua yang melawannya." ucap Mue Sanron, wanita itu tak ingin ada hal buruk yang menimpa suaminya lagi.


"Mari kita pergi sekarang sebelum gadis itu berubah fikiran dan meminta Raja Yongling Zu untuk memenjarakan kita hingga bukti bukti yang diinginkan terkumpul." ucap Mue Linzong yang langsung turun dari ranjang tempatnya dirawat. Pria itu menarik tangan sang istri untuk keluar dari ruang kesehatan, mereka berdua bergegas pergi dari Istana Kerajaan Bintang Timur melewati gerbang belakang. Untunglah saat itu gerbang belakang belum dijaga oleh siapapun sehingga mereka berdua tak kerepotan untuk kabur dari sana.


"Akhirnya kita keluar dari tempat mengerikan itu." ucap Mue Sanron ketika mereka berdua sudah tiba di pasar terdekat dengan Istana Kerajaan Bintang Timur.


"Jangan membuang buang waktu terlalu banyak, mari kita kembali sekarang juga." ucap Mue Linzong yang langsung melesat dengan kecepatan tercepat yang ia miliki dengan menggenggam tangan istri tercintanya itu.


Xiao Ziya dan para penjaga gerbang belakang keluar dari balik semak semak, mereka semua tertawa karna pasangan suami istri itu sangat yakin tak ada yang mengetahui kapan mereka pergi dari Istana Kerajaan Bintang Timur. Sebelumnya setelah selesai mengemasi barang Xiao Ziya berniat untuk jalan jalan sebentar di sekitar istana, saat melewati ruang kesehatan gadis itu mendengar percakapan antara Mue Sanron dan Mue Linzong yang sedang merencanakan pelarian diri mereka berdua. Karna keduanya ingin segera pergi dari Istana Kerajaan Bintang Timur tentu Xiao Ziya akan mempermudah rencana mereka berdua, gadis itu segera pergi ke gerbang belakang dan meminta para prajurit penjaga gerbang untuk bersembunyi di balik semak semak tinggi sembari memperhatikan kebodohan pasangan suami istri itu.


"Mengapa mereka tak curiga saat gerbang belakang bebas dari penjagaan." ucap seorang penjaga gerbang dengan ekspresi bingung. Seharusnya ketua Klan Mue seperti Mue Linzong mengetahui keamanan sebuah tempat yang ditinggali oleh orang orang dengan kedudukan tinggi memiliki tingkat penjagaan yang sangat ketat.


"Saat ini yang ada di dalam fikiran keduanya hanyalah keluar dari wilayah Kerajaan Bintang Timur secepatnya. Setelah tiba di Kerajaan Yuan Liong mereka akan mendapat kejutan besar." ucap Xiao Ziya dengan senyuman puas, gadis itu sangat penasaran dengan reaksi keduanya saat mengetahui Klan Mue telah hancur.


"Sepertinya Anda telah menyiapkan hadiah besar untuk mereka berdua. Kami sudah tak sabar mendengar berita tentang hal mengejutkan itu tersebar." ucap beberapa prajurit penjaga gerbang yang tak berani menanyakan secara rinci tentang hadiah besar yang di maksud oleh Xiao Ziya.


Mendengar bahwa Xiao Ziya akan kembali ke Istana Bulan membuat para prajurit menjadi sedih, mereka sudah terbiasa dengan kehadiran gadis itu meski Ziya hanya tinggal beberapa hari saja di Istana Kerajaan Bintang Timur ini. Selama Xiao Ziya ada di sana mereka mendapatkan banyak kejutan tak terduga tentang hal hal yang terjadi di dalam maupun di luar istana.


"Suasana di istana ini akan kembali menjadi suram setelah gadis itu pergi." ucap salah seorang prajurit dengan raut wajah sedih.


"Kita tak mungkin menahannya untuk terus tinggal di tempat ini. Gadis sehebat Nona Xiao Ziya memiliki mimpi yang sangat besar." ucap prajurit lain.


Saat ini Xiao Ziya sudah berada di Istana Utama, gadis itu sedang mengetuk pintu sebuah ruangan ia menunggu seseorang membukakan pintu. Setelah pintu terbuka dengan lebar, Ibu Suri Yanhua Zu menatap ke arah Xiao Ziya dengan tatapan bingung, ada perlu apa hingga gadis itu datang mencarinya?.


"Apa Nona Ziya memerlukan sesuatu?." tanya Ibu Suri Yanhua Zu dengan nada yang lebih sopan daripada sebelumnya. Sepertinya wanita itu sangat senang dan puas karna mendapat permata langka dari Xiao Ziya.


"Saya ingin bertemu dengan suami Anda, bisakah saya masuk sebentar?." tanya Xiao Ziya dengan raut wajah datar, meskipun Ibu Suri Yanhua Zu sudah menyambutnya dengan cukup ramah Xiao Ziya mengerti alasan di balik semua itu.


"Silahkan masuk ke dalam, saya harap Nona Ziya tak datang untuk memancing amarah suami saya." ucap Ibu Suri Yanhua Zu secara terang terangan.


Xiao Ziya masuk ke dalam ruangan itu, ia menghampiri Tuan Yonzan Zu yang sedang duduk menghadap ke arah jendela dengan memegang patahan pedang miliknya. Xiao Ziya mendekat ke arah pria tua itu kemudian melemparkan sebuah pedang berwarna perak dengan ukiran naga di bagian bawah, Tuan Yonzan Zu menangkap pedang itu kemudian melihat ke arah belakang.

__ADS_1


"Saya mengganti pedang Anda yang telah saya patahkan." ucap Xiao Ziya dengan nada datar.


Yonzan Zu menatap lekat ke arah pedang yang diberikan oleh Xiao Ziya, pria itu menunjukkan ekspresi terkejut ketika melihat ukiran naga putih di bagian bawah pedang tersebut. Pria tua itu menatap ke arah Xiao Ziya dengan tatapan ragu, benarkah gadis menyebalkan itu memberikan pedang tersebut padanya? pedang ini jauh lebih berharga dari pemberian Dewa Hiloz.


"Ketika Anda menggunakannya untuk hal kebaikan maka pedang tersebut akan memberikan kekuatan besar pada Anda. Setiap manusia menginginkan senjata spiritual yang hebat akan tetapi mereka lupa dengan keinginan dari jiwa pedang yang mereka miliki. Pedang itu disebut dengan pedang naga suci, sebuah pedang yang tercipta atas pengorbanan seorang dewa untuk menyelamatkan umat manusia di masa kehancuran puluhan ribu tahun yang lalu. Pedang tersebut memiliki ambisi untuk melindungi semua orang yang pemiliknya sayangi, dan ketika Anda menggunakannya untuk kepentingan pribadi maka pedang itu akan menghilang." ucap Xiao Ziya yang memberi sedikit penjelasan mengenai pedang yang ia berikan pada Yonzan Zu.


"Anda memberikan pedang berharga seperti ini kepada saya?." tanya Yonzan Zu masih dengan ekspresi tak percaya.


"Saya harap Anda dan Ibu Suri Yanhua Zu dapat menjaga Ratu Junyi Zu ketika saya pergi. Kalian akan mendapatkan kehidupan yang tenang karna sore nanti saya akan kembali ke Kerajaan Bulan." jawab Xiao Ziya dengan santai, lagipula Istana Kerajaan Bintang Timur bukanlah tempat tinggal gadis itu.


Xiao Ziya mengambil sebuah kotak kayu dengan ukuran besar kemudian ia letakkan di meja, setelah itu Xiao Ziya keluar dari ruangan dan meninggalkan Ibu Suri Yanhua Zu serta Tuan Yonzan Zu yang masih merasa bingung dengan perkataan gadis itu. Setelah kepergian Xiao Ziya, mereka berdua membuka kotak kayu tersebut dengan perlahan, tiba tiba saja tubuh Ibu Suri Yanhua Zu gemetaran setelah melihat apa yang ada di dalam kotak tersebut.


"Bagaimana kita bisa menerima semua ini setelah perlakuan buruk yang telah kita berikan pada gadis itu?." tanya Ibu Suri Yanhua Zu masih dengan tubuh gemetaran.


Di dalam kotak kayu tersebut terdapat berbagai jenis permata yang sangat indah, permata permata yang tak akan pernah dimiliki oleh Ibu Suri Yanhua Zu jika bukan karna pemberian dari Xiao Ziya. Selain itu ada beberapa pil yang dapat meningkatkan kultivasi, pil penyembuh, dan beberapa jenis pil lainnya.


"Gadis itu sudah akan pergi, apa yang bisa kita berikan padanya nanti?." ucap Tuan Yonzan Zu yang merasa bingung, apakah mereka pantas menerima hadiah yang sangat luar biasa seperti ini?.


Xiao Ziya berjalan menuju Istana Pangeran dengan langkah santai, gadis itu memberikan satu kantung kecil berisikan koin emas kepada setiap pelayan yang ia temui. Setelah beberapa saat akhirnya gadis itu sampai di Istana Pangeran, tempat pertama yang Xiao Ziya kunjungi adalah Ruang kerja Pangeran Honzi Zu.


Xiao Ziya mengetuk ruang kerja Pangeran Honzi Zu dengan pelan, setelah menunggu beberapa saat akhirnya sang pangeran membukakan pintu. Pangeran Honzi Zu menatap ke arah Xiao Ziya dengan terkejut, baru kali ini gadis itu berkunjung ke Istana Pangeran karna kemauannya sendiri.


"Bisakah saya masuk ke dalam? ada beberapa hal yang ingin saya sampaikan pada Anda." ucap Xiao Ziya, gadis itu untuk pertama kalinya menunjukkan senyuman manis pada Pangeran Honzi Zu.


"Silahkan masuk adik Ziya." ucap Pangeran Honzi Zu dengan semburat merah di pipi karna terpesona dengan kecantikan adik tirinya sendiri.


Xiao Ziya masuk kedalam ruang kerja Pangeran Honzi Zu tanpa ragu ragu, setelahnya gadis itu meletakkan kotak kayu besar di meja ruang kerja sang pangeran. Pangeran Honzi Zu yang tak mengerti dengan maksud Xiao Ziya hanya diam dan bertanya tanya apa yang sedang gadis itu lakukan.


"Ini sedikit hadiah yang ingin saya berikan pada Anda. Terimakasih untuk sambutan baik saat pertemuan pertama kita. Sore nanti saya akan kembali ke Kerajaan Bulan, setelah semua urusan saya selesai saya harus kembali pulang ke dunia bawah. Saya harap Anda bisa menjaga diri dengan baik, jika nanti saya berkunjung ke tempat ini lagi saya ingin melihat Anda sudah lebih kuat dari sebelumnya." ucap Xiao Ziya dengan mata berkaca-kaca. Dengan segera Pangeran Honzi Zu memeluk Xiao Ziya dengan erat, pertemuan singkat mereka membuat Pangeran Honzi Zu sangat menyayangi Xiao Ziya.


"Anda bisa kembali kapanpun ke tempat ini, dan kami akan selalu menyambut kedatangan Anda." ucap Pangeran Honzi Zu dengan menghela nafas panjang, ia belum bisa melepas kepergian Xiao Ziya karna sudah terbiasa dengan keberadaan gadis itu.


"Baiklah saya akan pergi untuk menemui yang lain, Anda bisa melanjutkan pekerjaan yang tertunda. Saya permisi Pangeran Honzi Zu." ucap Xiao Ziya yang langsung keluar dari ruang kerja Pangeran Honzi Zu, gadis itu berusaha menahan air mata yang ingin keluar dari mata indahnya.


Hai hai semua author balik lagi nih gimana kabar kalian semoga sehat selalu ya. Oh iya besok udah lebaran guys, maaf ya kalau author ada salah sama kalian. Author ultahnya juga pas tanggal tiga mei, ada yang mau ngasih thr ga?? wkwkwk. Jangan lupa follow buat yang belum, vote karna wajib, gift hadiah apapun, like like like, komen buat ninggalin jejak, rate bintang lima, share juga ya.

__ADS_1


__ADS_2