
Xiao Ziya mendengar langkah kaki yang berjalan ke arahnya, gadis itu merasakan aura dari Raja Yongling Zu. Dengan segera Ziya berdiri dan melihat ke arah belakang, benar saja Raja Yongling Zu sedang berjalan ke arahnya dengan senyuman hangat seperti mereka saling mengenal satu sama lain saja. Melihat ekspresi dari Raja Yongling Zu membuat gadis itu bingung, ia takut sang raja telah merencanakan sesuatu untuknya dan bagaimana jika ayah tirinya itu hanya ingin memanfaatkan kekuatan yang Xiao Ziya miliki?.
"Salam saya pada Raja Yongling Zu, maaf karna saya belum sempat menemui anda." ucap Xiao Ziya dengan sangat sopan namun mata gadis itu enggan menatap langsung ke arah sang raja.
"Saya datang mencari anda untuk menanyakan tentang keributan beberapa saat yang lalu, Putra Mahkota Yunzo Zu mengatakan agar saya menanyakan hal ini pada anda." ucap Raja Yongling Zu langsung pada intinya, ia takut jika terlalu lama berada di sekitar Xiao Ziya akan membuat gadis itu merasa tak nyaman.
"Saat mengantar Yoe kembali ke rumahnya saya melihat seorang pelayan membeli beberapa tanaman herbal beracun karna hal itu saya bergegas kembali ke istana, setelah sampai di istana saya pergi menuju dapur untuk melihat apa yang sedang direncanakan sang pelayan. Ternyata ia membuat secangkir teh dan menyiapkan beberapa camilan untuk Ratu Junyi Zu, ia juga meminta pelayan lain untuk mengantarnya ke kamar sang ratu dengan maksud jika sesuatu terjadi pada Ratu Junyi Zu maka ia tak akan dicurigai. Dengan cepat saya melesat ke arah para pelayan yang sedang dalam perjalanan menuju kamar utama, saya dengan sengaja menabrak mereka hingga terjauh. Dengan jelas saya melihat tumpahan teh itu berubah menjadi cairan hitam pekat dan menimbulkan kerak yang sangat tebal, menurut pengetahuan yang saya miliki racun itu akan membuat korbannya mati dalam jangka waktu satu sampai tiga hari." jelas Xiao Ziya dengan sangat rinci pada Raja Yongling Zu, pria itu perlu mengetahui semuanya karna ia adalah suami sah dari Ratu Junyi Zu. Xiao Ziya selalu menghargai hubungan orang lain, selama orang itu saling menyayangi satu sama lain.
Tiba tiba saja Xiao Ziya merasakan aura membunuh yang cukup pekat keluar dari tubuh Raja Yongling Zu, terlihat pria itu sangat marah hingga wajahnya ikut memerah. Raja Yongling Zu merasa bersyukur karna ada Xiao Ziya di sini dan gadis itu sangat memperhatikan apa yang sedang terjadi di sekitarnya.
"Apa kau tau siapa dalang di balik semua ini?." tanya Raja Yongling Zu.
"Anda pasti mengetahuinya Yang Mulia Raja Yongling Zu, anda tau siapa pelakunya lebih baik daripada saya." jawab Xiao Ziya dengan senyuman miring.
"Perlu bukti yang kuat untuk menjatuhi hukuman mati pada selir sialan itu." ucap Raja Yongling Zu penuh dengan kekesalan, ia sangat menyesal telah menikah yang kedua kalinya dengan seorang wanita seperti Selir Mue Zu.
"Jika dilain hari saya menemukan fakta bahwa selir anda melakukan sesuatu yang membahayakan nyawa ibu saya, maka saya tak perlu izin dari anda untuk membunuhnya." ucap Xiao Ziya dengan tatapan tajam dan matanya yang memancarkan cahaya merah beberapa saat.
Raja Yongling Zu menelan ludahnya dengan kasar, ini pertama kalinya ia melihat Xiao Ziya marah. Kemarahan gadis itu terlihat biasa biasa saja bagi orang awam, akan tetapi para kultivator dengan tingkatan tinggi akan merasa aura kematian yang sangat kuat.
"Bukanlah itu sangat kejam Nona Ziya?." tanya Raja Yongling Zu dengan badan sedikit gemetaran.
"Ada harga yang harus mereka bayar ketika berani mengganggu keluarga saya." jawab Xiao Ziya dengan sangat jelas. Sepertinya Raja Yongling Zu tak bisa menghentikan tekad gadis itu, ia hanya bisa menutup mata saat Xiao Ziya mulai bertindak.
"Lebih baik kita masuk kedalam, sepertinya hujan akan segera turun." ucap Raja Yongling Zu yang mengajak Xiao Ziya untuk masuk kedalam istana.
Mereka masuk kedalam istana dan beberapa saat setelahnya hujan turun dengan begitu deras, Raja Yongling Zu meminta beberapa pelayan untuk menyiapkan kamar yang akan ditempati oleh Xiao Ziya. Sembari menunggu kamarnya selesai di bereskan, Raja Yongling Zu mengajak Xiao Ziya pergi ke istana pangeran untuk bertemu dengan para pangeran yang tinggal di sana.
"Yang Mulia Raja Yongling Zu dan tamu kehormatan masuk kedalam Istana Pangeran." triak seorang prajurit yang mengumumkan kedatangan Yang Mulia Raja Yongling Zu, hanya Raja dan Ratu saja yang mendapatkan perlakuan khusus seperti itu.
Para pangeran yang tadinya sibuk di ruang kerja mereka masing masing langsung keluar dan bergegas pergi menuju ruangan utama tempat mereka biasa berkumpul dan menyambut kehadiran Yang Mulia Raja Yongling Zu. Beberapa pangeran yang belum mengetahui kehadiran Xiao Ziya di Istana Kerajaan Bintang Timur saling bertatapan satu sama lain, mereka menanyakan identitas gadis cantik yang berdiri di samping ayah mereka. Beberapa pangeran khawatir jika sang ayah ingin menikah lagi dan menjadikan gadis itu sebagai selir kedua.
"Salam hormat kami pada Yang Mulia Raja Yongling Zu, dan selamat datang untuk tamu kehormatan." ucap para pangeran secara serempak.
"Saya terima salam dari kalian." jawab Raja Yongling Zu dengan nada datar.
__ADS_1
"Terimakasih atas sambutannya." jawab Xiao Ziya dengan tatapan dingin yang membuat suasana semakin canggung.
"Siapa gadis musa yang ada di samping ayah? apakah ayah ingin menjadikannya sebagai selir kedua?." tanya Pangeran Jongsu Zu. Perkataan sang pangeran membuat semua yang ada di sana terkejut.
"Ibu saya adalah selir satu satunya di Kerajaan Bintang Timur, saya akan menolak dengan tegas jika ayah ingin menikah lagi." ucap Pangeran Xilian Zu dengan tatapan tajam yang ia arahkan pada Xiao Ziya.
Plak.. satu pukulan keras mendarat di kepala Pangeran Jongsu Zu, orang yang berani melakukan hal itu adalah Putra Mahkota Yunzo Zu. Sang putra mahkota sangat terkejut dengan perkataan adik laki lakinya, bagaimana mungkin adik tiri mereka akan menikah dengan ayah tirinya sendiri?.
"Mengapa kau memukul kepalaku dengan begitu kencang." protes Pangeran Jongsu Zu pada sang kakak laki laki.
"Dia itu adik tiri kita, perkataan mu barusan sangat tak masuk akal." ucap Putra Mahkota dengan emosi, ia ingin memukul kepala adiknya lagi hingga benjol.
Pangeran Jongsu Zu melihat ke arah Xiao Ziya dengan tatapan yang sulit diartikan, lama kelamaan sang pangeran terlihat aneh dan tiba tiba saja keluar darah dari hidung Pangeran Jongsu Zu. Raja Yongling Zu keheranan melihat hal itu, biasanya putra keduanya hanya akan mimisan saat bertemu dengan gadis cantik yang ia sukai jangan bilang sang pangeran jatuh hati pada adik tirinya sendiri.
"Ekem, ayah masih punya beberapa hal yang harus di urus. Tolong jaga Nona Ziya dengan baik, jika sampai terjadi sesuatu padanya maka ayah akan memukul kalian." ucap Raja Yongling Zu yang langsung meninggalkan Xiao Ziya di istana pangeran.
Setelah ditinggal Yang Mulia Raja Yongling Zu, Xiao Ziya terdiam melihat beberapa pangeran yang ada di hadapannya. Xiao Ziya merasa bingung dengan apa yang harus ia lakukan, seharusnya Raja Yongling Zu menitipkannya di istana putri bukan istana pangeran. Pangeran Xilian Zu menatap Xiao Ziya dengan tatapan merendahkan, apa hebatnya anak haram dari Ratu Junyi Zu dengan seorang manusia biasa dari dunia bawah ini. Kehadiran Xiao Ziya di Kerajaan Bintang Timur hanyalah aib yang seharusnya disingkirkan dari sana.
"Hah mengapa anak haram ini ada di sini." ucap Pangeran Xilian Zu yang membuat Xiao Ziya langsung menatapnya dengan tajam.
"Kau adalah anak haram dari Ratu Junyi Zu, apa yang akan difikirkan oleh penduduk Kerajaan Bintang Timur saat mengetahui hal itu?." ucap Pangeran Xilian Zu dengan tawa remeh yang semakin membuat Ziya naik pitam.
"Jika anda ingin mati muda maka saya akan mengabulkannya." jawab Xiao Ziya dengan senyum menyeramkan, semua pangeran yang ada di sana langsung merinding.
"Lebih baik kau pergi saja, jangan merusak suasana di istana pangeran." ucap Putra Mahkota Yunzo Zu, ia mengusir Pangeran Xilian Zu dari sana karna perkataan yang tak sopan itu.
"Cih kalian lebih membela anak ini." ucap Pangeran Xilian Zu yang langsung pergi dari sana. Beberapa saat setelah kepergiannya, suasana di istana pangeran kembali normal meski kekesalan masih terlihat dengan jelas di mata Xiao Ziya.
Pangeran Honzi Zu mengajak Xiao Ziya pergi ke dalam ruang kerjanya akan tetapi para pangeran yang lain malah ikut masuk keruangan itu.
"Sangat disayangkan kita masih memiliki hubungan darah." ucap Pangeran Jongsu Zu secara tiba tiba.
"Apa anda merasa tak nyaman dengan kehadiran saya di sini?." tanya Xiao Ziya dengan tatapan bingung, ia tak mengerti mengapa tiba tiba pangeran kedua mengatakan hal tersebut.
"Bukan seperti itu, saya jatuh cinta pada anda saat pandangan pertama." ucap Pangeran Jongsu Zu yang membuat pangeran lain ingin muntah.
__ADS_1
"Jika anda dan saya tak memiliki hubungan darah, saya akan menolak pernyataan cinta anda." jawab Xiao Ziya dengan tenang, terdengar suara tawa dari pangeran lain.
Di tempat lain Yie Munha sedang berada di dalam kamarnya, gadis itu tak mengerti mengapa setiap harinya penjagaan di perpustakaan Klan Yuang Yie diperketat. Mungkinkah penjaga perpustakaan mengatakan sesuatu pada kakeknya? mengenai keinginan Yie Munha masuk kedalam gudang perpustakaan. Yie Munha sangat penasaran dengan beberapa hal yang disembunyikan oleh sang kakek, apakah identitas nenek kandung Xiao Ziya sangatlah penting hingga dijaga dengan ketat seperti itu. Yie Munha beberapa kali berusaha menerobos masuk kedalam perpustakaan namun ia selalu tertangkap basah oleh prajurit khusus Klan Yuang Yie, gadis itu telah menerima beberapa hukuman yang membuatnya cukup lelah.
"Jika terus seperti ini bagaimana caraku mengetahui siapa nenek kandung dari Xiao Ziya?." tanya Yie Munha pada dirinya sendiri, siapa orang Klan Yuang Yie yang bersedia membongkar rahasia itu?.
Saat Yie Munha sedang bergelut dengan pikirannya sendiri ada seseorang yang mengetuk pintu kamarnya dengan pelan, Yie Munha bangun dan berjalan mendekat ke arah pintu.
"Siapa di sana?." tanya Yie Munha dengan sangat berhati hati. Keadaanya kali ini sangat tak menguntungkan, bisa saja sang kakek sedang memusuhinya dan menyewa pembunuh bayaran untuk membunuhnya.
"Saya tak akan membukakan pintu jika anda tak menjawab pertanyaan saya." ucap Yie Munha lagi kemudian gadis itu kembali berbaring di atas ranjangnya.
Beberapa saat setelahnya ada seseorang yang kembali mengetuk pintu kamar gadis itu, seperti sebelumnya Yie Munha mengajukan beberapa pertanyaan namun tatap tak ada balasan. Yie Munha merasa bahwa orang tersebut dengan sengaja membuatnya merasa penasaran kemudian mengintip keluar, saat kesempatan datang maka orang itu akan menyerangnya secara diam diam.
"Sialan, diamlah jangan mengetuk pintu kamar saya terus menerus." triak Yie Munha dengan keras kemudian gadis itu mengabaikan ketukan pintu ketukan pintu yang lain.
Dua orang pria berpakaian hitam yang sedari tadi mengetuk pintu kamar Yie Munha saling bertatapan satu sama lain, mereka ragu saat ingin mendobrak pintu kamar gadis itu. Yie Gu berpesan pada mereka berdua untuk membunuh Yie Munha secara diam diam tanpa menimbulkan keributan. Sebelum melakukan aksi mengetuk pintu kedua pria itu mencoba untuk masuk dari jendela ataupun atap kamar Yie Munha, anehnya meraka merasa ada sihir pelindung yang dipasang beberapa sudut kamar kecuali pintu masuk kamar tersebut.
"Kita tak bisa terus menunggu seperti ini." ucap salah satu dari kedua pria berpakaian serba hitam itu.
"Pemimpin meminta kita untuk berhati hati, sebaiknya kita tunda rencana hari ini." ucap pria yang satunya.
Kedua pembunuh bayaran itu pergi dari depan pintu masuk kamar Yie Munha, mereka akan mencari waktu yang tepat untuk menghabisi gadis itu. Ada alasan mengapa Yie Gu ingin menghabisi nyawa cucunya sendiri, saat ini Yie Munha dianggap sebagai ancaman besar bagi semua rencana yang telah ia buat ditambah lagi gadis itu bersekongkol dengan Xiao Ziya.
Kedua pembunuh bayaran itu masuk kedalam ruang kerja Yie Gu, mereka melapor tentang sihir pelindung yang ditempatkan di beberapa sudut kamar gadis itu. Mendapat laporan seperti itu tentu membuat Yie Gu kebingungan, seingatnya tak ada yang bisa merapal mantra sihir pelindung tingkat tinggi di Klan Yuang Yie ini.
"Jadi kalian gagal menghabisi gadis itu?." tanya Yie Gu dengan raut wajah serius.
"Kami akan mencari waktu yang tepat untuk menjalankan tugas dari anda." ucap kedua pembunuh bayaran itu.
"Kalian bisa pergi sekarang, jangan sampai ada orang lain yang mengetahui rencana kita." ucap Yie Gu dengan kesal.
Kedua pembunuh bayaran itu pergi dari Klan Yuang Yie menuju tempat persembunyian mereka, saat ini Yie Gu tengah memikirkan siapa orang yang telah memasang mantra pelindung tingkat tinggi di beberapa sudut kamar Yie Munha. Yie Gu yakin bahwa Xiao Ziya tak mungkin melakukan hal itu, sebelum pergi dari Klan Yuang Yie hubungan diantara kedua gadis itu masih sangat buruk.
"Yie Weinje tak memiliki kemampuan melakukan hal semacam itu." ucap Yie Gu dengan frustasi, semua rencananya selama puluhan tahun sedang berada di ambang kehancuran. Ia sudah mengingatkan pada Yie Munha agar tak ikut campur mengenai masalah nenek kandung Xiao Ziya akan tetapi gadis itu bersikeras mencari kebenaran sendiri mengenai hal itu.
__ADS_1
Hai hai semua author balik lagi nih, maaf karna hiatus beberapa hari hehe. Jangan lupa follow buat yang belum, vote karna wajib, gift hadiah apapun, like like like, komen buat ninggalin jejak, rate bintang lima, share juga ya.