
Waktu berjalan dengan cepat dan besok adalah hari pernikahan Kaisar Yan dengan Wi Xume. Para pelayan dan prajurit sibuk mendekor beberapa bagian istana dengan hiasan hiasan yang indah, kali ini Kaisar Yan mengundang beberapa perwakilan dari kerajaan tetangga untuk hadir di pesta pernikahannya itu.
Di sisi lain semua anggota Klan Xiao sudah berkumpul di aula utama untuk membahas tentang pernikahan Xiao Yan. Banyak ketua yang tak setuju dengan pernikahan itu begitupun dengan Xiao Cunyu.
"Apakah kalian sudah menyetujui rencana yang di buat oleh nona Ziya?." tanya Xiao Ciyun pada semua anggota klannya.
"Sebaiknya kita menanyakan hal ini pada ketua kelima karna ia adalah ayah dari Xiao Yan." ucap Xiao Yuza yang meminta persetujuan dari Xiao Cunyu mengenai hal ini.
Hati Xiao Cunyu sangat berat melepas putra pertamanya, namun apa yang telah dilakukan oleh Xiao Yan sudah jauh melampaui batas. Mungkin dengan hal ini Xiao Yan akan belajar bahwa keluarga adalah segalanya, dan untuk membina sebuah keluarga ia perlu mencari wanita yang cantik hatinya bukan hanya fisik semata.
"Baiklah saya setuju dengan keputusan ini." ucap Xiao Cunyu dengan berat hati. Beberapa ketua yang duduk bersebelahan dengan Xiao Cunyu berusaha menghibur pria paruh baya itu.
Akhirnya rapatpun selesai, saat pesta pernikahan berlangsung nanti akan banyak kejutan yang membuat Kaisar Yan dan Wi Xume menangis terharu hingga ingin mati ditempat.
Xiao Ziya masih berada di dalam kamarnya, ia menambah beberapa detail pada gaun buatannya itu. Sebuah drees yang sangat cantik, saat pesta pernikahan berlangsung maka perhatian semua orang akan mengarah padanya.
"Selesai." ucap Xiao Ziya dengan senyuman bahagia kemudian gadis itu merebahkan tubuhnya di atas kasur dan mulai memejamkan mata.
Di sisi lain Wi Algi sedang membungkus beberapa hadiah yang ia beli menggunakan uangnya selama bekerja di paviliun Xiao Ziya. Entah mengapa ia tak rela memberikan hadiah hadiah itu pada Wi Xume mengingat gadis itu telah membuat keluarganya hancur.
"Semua ini terlalu mahal untuk gadis murahan itu." ucap Wi Algi dengan emosi yang sedang ia tahan.
Biaa bisanya Wi Xume menikmati semua fasilitas yang ada di Istana Kekaisaran Qiyu tanpa rasa bersalah sedikitpun. Meskipun ayah dan keluarga yang lain memperlakulannya dengan buruk, masih ada ibu dan Wi Algi yang memperlakukannya selayaknya manusia.
Semua orang sedang sibuk mempersiapkan diri dan juga hadiah yang akan mereka bawa, ada satu hal yang tak diketahui oleh Kaisar Yan maupun anggota kekaisaran yang lain. Saat pesta pernikahan itu berlangsung, Xiao Ziya meminta seluruh penduduk Kekaisaran Qiyu untuk menghentikan kegiatan mereka dan berdiam diri di dalam rumah tak ada yang boleh membuat pawai atau menyambut tamu yang datang. Tanpa menanyakan apa alasan di balik perintah dari Xiao Ziya itu, para penduduk Kekaisaran Qiyu akan mematuhinya.
Sembilan pemuda tampan sudah berkumpul di depan gerbang teleportasi antara dunia atas dengan dunia bawah, mereka adalah beberapa murid Akademi Wunyeng yang akan datang dalam pesta pernikahan Xiao Yan sebagai iring iringan dari Xiao Ziya, mungkin saat pesta pernikahan itu berlangsung akan banyak pemuda tampan yang berdiri di samping kanan, samping kiri, dan juga belakang Xiao Ziya.
"Apakah kalian semua sudah meminta izin pada keluarga masing masing untuk pergi ke dunia bawah?." tanya salah seorang master yang ditugaskan untuk menjaga gerbang teleportasi.
"Ini adalah token dan surat resmi dari kepala keluarga kami." ucap Al Denzi yang memberika sembilan token dan juga enam surat resmi.
Master yang bertugas menjaga gerbang teleportasi itu membaca semua surat dengan cermat dan memastikan keaslian dari keenam surat tersebut. Setelah selesai ia membukakan gerbang dan membaca mantra untuk mengaktifkan gerbang teleportasi itu.
"Masuklah dan katakan kemana kalian akan pergi." ucap master itu yang memberi arahan pada kesembilan pemuda.
Kesembilan pemuda itu berjalan melewati gerbang teleportasi secara bergantian. Mereka mulai melewati dimensi ruang dan waktu dengan kecepatan normal.
Ada beberapa kakak laki laki Xiao Ziya yang akan datang dalam pesta tersebut hanya demi untuk melihat gadis itu seperti Pangeran Zeeling dan Pangeran Anz yang sedang meminta izin pada ayah mereka untuk pergi ke dunia bawah.
__ADS_1
"Ayah biarkan kami menghadiri pesta pernikahan Kaisar Yan, kami akan menjadi perwakilan dari Kerajaan Hitam jika ayah sibuk dan tak bisa menghadiri pesta pernikahan itu." ucap Pangeran Zeeling yang memaksa Raja Zeus untuk mengizinkan mereka untuk datang. Raja Zeus memang dengan sengaja tak memberikan izin pada kedua putranya dengan alasan karna ia tak bisa menghadiri pesta itu.
Raja Zeus sangat sibuk mengurus berkas berkas yang sudah menggunung ditambah beberapa kerajaan tetangga yang akan datang untuk memulai persahanabatan dengan kerajaanya.
"Jika kami berdua tidak datang sebagai perwakilan dari Kerajaan Hitam, pasti adik Ziya akan merasa sangat sedih dan mengira bahwa kita sudag tak menyayanginya lagi." ucap Pangeran Anz dengan wajah sedihnya. Entah mengapa setelah mendengar perkataan dari putra keduanya itu membuat Raja Zeus merasa kaisan dan juga sedih.
"Baiklah jika begitu kalian pergilah dan bawa hadiah untuk adik kalian. Biarkan mempelai bernama Wi Xume itu merasa cemburu karna ia tak layak mendapatkan hadiah dari kita." ucap Raja Zeus yang sudah mendengar kabar tentang kejahatan dan juga kelicikan dari Wi Xume. Ia mendengarka kabar itu dari Raja Artur yang datang berkunjung beberapa hari yang lalu.
"Baiklah kami tak akan mengecewakan ayah." ucap Pangeran Zeeling dengan semangat kemudian mengajak adiknya untuk bersiap.
Pangeran Zeeling dan Pangeran Anz membawa beberapa hadiah dan juga baju yang akan mereka kenakan untuk menghadiri pesta pernikahan itu, setelah semuanya selesai mereka dengan segera menuju gerbang teleportasi yang ada di Istana Kerajaan Hitam agar cepat sampai di dunia bawah. Gerbang teleportasi milik Kerajaan Hitam memiliki kecepatan lima kali lipat daripada gerbang teleportasi yang disediakan untuk seluruh penduduk dunia atas sehingga Pangeran Zeeling dan Pangeran Anz akan tiba lebih dahulu daripada para murid Akademi Wunyeng.
Setelah melintasi dimensi ruang dan waktu dengan kecepatan maksimal, akhirnya Pangeran Zeeling dan Pangeran Anz sampai di depan gerbang masuk Klan Xiao. Mereka berdua memang sengaja turun di sana agar tak ditanyai oleh penjaga perbatasan wilayah Kekaisaran Qiyu.
"Hah aku merasa sedikit mual." ucap Pangeran Anz yang belum terbiasa dengan kecepatan maksimal dari gerbang teleportasi.
"Sepertinya kau harus sering berpergian menggunakan teleportasi agar terbiasa dengan hal semacam ini." ucap Pangeran Zeeling yang sedang menahan tawanya.
Mereka berdua hendak masuk kedalam Klan Xiao namun seperti biasa para penjaga gerbang masuk Klan Xiao menanyai kedua pangeran itu.
"Ada keperluan apa kalian datang kemari dan tolong tunjukkan kartu identitas kalian berdua." ucap salah seorang penjaga gerbang dengan sangat sopan.
Pangeran Anz dan Pangeran Zeeling masuk kedalam Klan Xiao, mereka bertemu dengan Xiao Bin dan juga Xiao Feng yang hendak pergi menuju paviliun mereka.
"Ah bukankah mereka berdua adalah kenalan dari adik Ziya?." ucap Xiao Bin yang samar samar mengingat wajah dari Pangeran Zeeling dan juga Pangeran Anz.
"Mari kita temui mereka, jangan sampai para gadis yang ada di sini membuat keributan." ucap Xiao Feng yang menganggap wajah kedua pangeran sangatlah tampan sehingga akan memancing kerumunan.
"Apakah kalian kenalan dari adik Ziya?." tanya Xiao Feng.
Pangeran Zeeling dan Pangeran Anz sedikit terkejut saat mendengar ada yang bertanya pada mereka dari arah belakang.
"Ah kami adalah kakak angkat dari adik Ziya, salam kenal." ucap Pangeran Zeeling dengan sangat sopan.
"Salam kenal, maaf karna membuat kalian terkejut. Saudaraku ini memang menyebalkan." ucap Xiao Bin yang merasa tak enak pada kedua pemuda tampan yang ada di hadapannya itu.
"Ini bukan masalah besar, mungkin saudara anda penasaran dengan kami." ucap Pangeran Anz yang tak mempermasalahkan hal itu.
"Mari kami antar menuju paviliun adik Ziya sebelum para gadis pecinta gege tampan itu datang." ucap Xiao Feng yang tak bisa membayangkan betapa menyeramkan saat para gadis pecinta pemuda dan pria tampan itu keluar dari rumah mereka.
__ADS_1
Akhirnya keempat pemuda itu berjalan menuju paviliun milik Xiao Ziya. Di sisi lain saat ini kesembilan murid yang berasal dari Akademi Wunyeng sudah sampai di wilayah perbatasan Kekaisaran Qiyu. Mereka diberhentikan oleh para prajurit penjaga perbatasan karna wajah kesembilan pemuda itu tak pernah terlihat sebelumnya.
"Bisakah kalian tunjukkan kartu identitas terlebih dahulu." ucap salah seorang prajurit perbatasan.
Kesembilan pemuda itu menunjukkan token identitas mereka sebagai murid salah satu akademi yang ada di dunia atas. Para prajurit penjaga gerbang langsung mempersilahkan mereka untuk masuk kedalam tanpa menanyai apapun.
Kesembilan pemuda itu berjalan memasuki wilayah Kekaisaran Qiyu. Mereka lupa menanyakan satu hal, dimana letak Klan Xiao, akhirnya salah satu dari kesembilan pemuda itu memberanikan diri untuk bertanya pada seorang pria yang sedang menyapu halaman rumahnya.
"Permisi paman, apakah anda bisa menunjukkan arah dimana letak Klan Xiao?." tanya Al Denzi.
"Anda tinggal lurus saja kedepan, jika bertemu dengan pasar anda belok saja ke kiri setelah pasar anda akan melihat tempok tinggi yang dijaga oleh beberapa orang itulah Klan Xiao." ucap pria itu yang memberikan petunjuk dengan sederhana agar pemuda itu tak tersesat.
"Trimakasih paman." ucap Al Denzi yang membungkukkan badannya kemudia berjalan menuju rombongannya yang sedang menunggu.
Setelah mengetahui dimana letak Klan Xiao, kesembilan pemuda itu melanjutkan perjalanan. Mereka tak terlalu terburu buru karna masih ingin melihat bagaimana kekaisaran tempat guru mereka tinggal.
Di sisi lain saat ini Xiao Feng, Xiao Bin, Pangeran Zeeling, dan Pangeran Anz sudah berada di dalam paviliun milik Xiao Ziya. Mereka sedang berbincang bincang dengan beberapa pemuda lain yang ada di sana seperti Aron, Wi Algi, Xiao Xun dan juga Pangeran Enso, beberapa murid Akademi Kekaisaran Qiyu juga ada di sana.
"Jadi kalian semua datang kesini untuk menjadi pengiringku saat pesta pernikahan? namun mempelai wanitanya bukanlah saya." ucap Xiao Ziya yang tak mengerti dengan jalan fikiran para pemuda yang sudah berkumpul di hadapannya itu. Jika ia memiliki pengiring lebih banyak daripada mempelai wanita maka akan menjadi sesuatu yang aneh.
"Bukankah akan sangat bagus jika membuat gadis itu merasa iri padamu adikku." ucap Xiao Xun yang setuju dengan rencana itu.
"Apakah kalian memiliki baju pesta berwarna hitam?." tanya Xiao Ziya dan semua pemuda yang ada di hadapannya menganggukkan kepala.
"Baiklah jika begitu kalian boleh menjadi pengiringku nantinya." ucap Xiao Ziya yang mengalah untuk kali ini pada semua kakak laki lakinya itu.
Saat ini rombongan murid dari Akademi Wunyeng sudah sampai di depan gerbang masuk Klan Xiao. Para penjaga gerbang merasa keheranan karna banyak pemuda yang mencari nona muda mereka. Pemuda pemuda yang datang mencari Xiao Ziya memiliki wajah di atas rata rata namun entah mengapa nona muda mereka belum tertarik pada siapapun.
"Apakah kalian datang untuk mencari nona Ziya?." ucap salah seorang penjaga gerbang yang dapat menebak dengan benar.
"Bagaimana anda bisa tau? apakah anda seorang ahli sihir yang mengetahui masa depan?." tanya Xiao Sunjin dengan wajah keheranan. Beberapa penjaga gerbang masuk sedang menahan tawa mereka bagaimana bisa ada pemuda yang sepolos itu.
"Masuklah nona sudah menunggu kalian di dalam, kau antar tamu ini menuju paviliun nona muda." ucap seorang penjaga gerbang yang menunjuk salah satu murid Klan Xiao yang kebetulan sedang lewat.
Kesembilan pemuda itu diantar oleh seorang anak laki laki berusia delapan tahun, anak laki laki itu menanyakan beberapa hal pada mereka. Salah satu pertanyaan yang membuat para murid dari Akademi Wunyeng itu sedikit terkejut adalah bagaimana mereka bersembilan bisa sangat tampan?.
"Jika kau ingin tampan seperti kami maka makanlah sayur dan buah buahan, sera daging yang cukup. Kau harus rutin melatih tubuhmu agar terlihat bagus." ucap Al Zunling yang menjawab pertanyaan anak laki laki itu dengan jawaban yang sangat logis.
Setelah beberapa saat berjalan akhirnya mereka sampai di depan paviliun milik Xiao Ziya. Anak kecil itu mengetuk pintu gerbang beberapa kali hingga mereka mendengar langkah seseorang yang datang untuk membukakan pintu.
__ADS_1
Hai hai semua kangen sama aku ga? wkwkwk maaf sering ga up ya. Jangan lupa follow buat yang belum, vote ya karna wajib, like like like, komen buat ninggalin jejak, rate bintang lima, share juga ya.