
Setelah mendapat informasi bahwa wilayah Kerajaan Bintang Timur dalam keadaan aman saat ia pergi, Xiao Ziya merasa sangat lega dan langsung pamit untuk masuk ke dalam. Gadis itu melesat menuju Istana Kerajaan Bintang Timur dengan kecepatan penuh agar segera sampai, para penjaga gerbang masuk istana sampai terkejut ketika melihat Xiao Ziya yang tiba tiba berada di hadapan mereka dengan wajah polosnya.
"Salam hormat kami pada Nona Xiao Ziya, apa yang Anda lakukan di luar malam malam begini?." tanya salah seorang prajurit penjaga gerbang, meskipun Xiao Ziya adalah gadis yang kuat namun ia harus menjaga kesehatan dengan baik.
"Saya memiliki beberapa urusan di luar dan baru saja menyelesaikan semuanya." jawab Xiao Ziya yang tak ingin memberitahu bahwa ia baru saja meluluh lantakkan Klan Mue.
Para prajurit penjaga gerbang itu membukakan gerbang masuk istana untuk Xiao Ziya, gadis itu langsung masuk ke dalam tanpa membuang buang waktu lagi. Ketika Xiao Ziya sedang berjalan menuju Istana Putri ia melihat Zu Junyang dan Zu Genzi sedang menyandarkan punggung mereka di pilar istana, sepertinya mereka berdua menunggu kepulangan Xiao Ziya.
"Bangunlah, mengapa kalian berdua tidur di luar seperti ini." ucap Xiao Ziya yang langsung membangunkan keduanya.
Karna tak kunjung bangun akhirnya dengan sangat terpaksa Xiao Ziya mengangkat kedua tubuh pemuda itu menggunakan sulur hitam miliknya. Zu Junyang dan Zu Genzi melayang karna tubuh mereka sedang terangkat dengan cukup tinggi, setelah dirasa aman Xiao Ziya langsung masuk ke dalam istana putri dengan membawa kedua pemuda itu. Beberapa prajurit yang berjaga di dalam Istana Putri menatap ke arah Xiao Ziya dengan tatapan terkejut, apa yang ingin dilakukan nona muda itu dengan kedua pemuda yang berasal dari Klan Zu?.
"Dimana kamar kedua pemuda ini?." tanya Xiao Ziya pada seorang pelayan yang melintas di hadapannya.
"Kamar mereka ada di ruangan ketiga setelah kamar Tuan Putri Beiling Zu." ucap pelayan itu dengan nada ramah, ia tak berani memperlakukan Xiao Ziya dengan seenaknya karna sudah mengetahui bahwa gadis itu sangatlah berbahaya.
Xiao Ziya segera pergi menuju ruangan tersebut, ia membuka pintu kemudian meletakkan Zu Junyang dan Zu Genzi di atas kasur. Karna kedua muridnya itu sudah berada di tempat yang aman Xiao Ziya segera pergi ke kamar Putri Beiling Zu untuk beristirahat, saat masuk ke dalam kamar sang putri suasana begitu hening dan tak ada siapapun di sana.
"Mungkinkah saat ini jiejie berada di istana utama?." tanya Xiao Ziya dengan tatapan bingung, tak biasanya Putri Beiling Zu meninggalkan kamar saat malam hari.
Karna cukup lelah dengan apa yang terjadi hari ini Xiao Ziya mencoba untuk berfikir positif, mungkin saja Putri Beiling Zu sedang tidur di istana pangeran bersama kakak laki lakinya ataupun berada di istana utama untuk menemani Ratu Junyi Zu. Xiao Ziya segera merebahkan tubuhnya di atas kasur kemudian menutup mata perlahan, dalam hitungan beberapa detik gadis itu sudah terlelap dan masuk ke alam mimpi. Di sisi lain saat ini Putri Beiling Zu yang sedang di cemaskan oleh Xiao Ziya sedang dalam keadaan tidak baik baik saja, ada hal yang terjadi sebelum Xiao Ziya kembali ke wilayah Kerajaan Bintang Timur dan tak ada yang menyadari bahwa Putri Beiling Zu menghilang.
Beberapa waktu yang lalu ada dua orang pelayan yang mengetuk pintu kamar sang putri, keduanya mengatakan bahwa saat ini Ratu Junyi Zu sedang sendirian di halaman belakang istana. Karna merasa khawatir dengan kondisi sang ibu akhirnya Putri Beiling Zu bergegas pergi ke halaman belakang istana, setelah sampai di sana tak ada sang ibu yang sedang ia cari melainkan Mue Sanron. Wanita tua itu tersenyum ke arah Putri Beiling Zu, ia mengajak sang putri untuk duduk di bangku taman dan langsung memukul punggung Putri Beiling Zu hingga pingsan.
Mue Sanron ingin menggunakan Putri Beiling Zu agar Xiao Ziya menyembuhkan suaminya, ia ingin sang suami memiliki anggota tubuh dan akal yang sempurna seperti sebelumnya. Jika Xiao Ziya tak ingin memberikan obat itu maka Mue Sanron akan membunuh Putri Beiling Zu meski ia akan bermusuhan dengan Kerajaan Bintang Timur.
"Lepaskan saya, tak akan saya biarkan Anda menyakiti adik Ziya." ucap Putri Beiling Zu yang sedang diikat menggunakan tali sihir pada bagian pergelangan tangan dan juga kakinya. Putri Beiling Zu tak menyangka bahwa ibu dari Selir Mue Zu akan bertindak sejauh ini hanya untuk memancing amarah Xiao Ziya.
__ADS_1
"Karna gadis sialan itu saat ini suamiku dalam kondisi cacat, jika ia tak memberikan pil miliknya maka aku akan membunuhmu. Aku tak peduli bagaimana hubungan antara Kerajaan Bintang Timur dengan Klan Mue kedepannya karna Klan Mue sangat dilindungi oleh Kerajaan Yuan Liong." ucap Mue Sanron dengan sangat percaya diri, andai saja ia tau bahwa Klan Mue yang ia bangga banggakan itu sekarang sudah hancur.
"Anda sendiri yang mencari masalah dengan adik Ziya, lalu mengapa Anda menyalahkannya atas kondisi Tuan Mue Linzong sekarang ini." ucap Putri Beiling Zu, sang putri menatap malas ke arah wanita sinting itu. Jika tak bisa menyaingi Xiao Ziya seharusnya mereka berdua tak mencari masalah dengan gadis itu.
Mue Sanron merasa tersinggung dengan perkataan Putri Beiling Zu, wanita tua itu menampar wajah cantik sang putri beberapa kali hingga meninggalkan luka lebam. Putri Beiling Zu meringis kesakitan, ia berusaha menahan sakit dan tak menunjukkan sisi lemahnya pada Mue Sanron. Wajah datar dari Putri Beiling Zu membuat Mue Sanron merasa semakin kesal, seharusnya gadis itu menangis sekarang bukannya menatap datar ke arahnya seperti tak merasakan apapun. Mue Sanron memilih untuk pergi meninggalkan Putri Beiling Zu sebelum amarahnya semakin meluap dan membunuh sang putri sebelum rencananya berjalan.
Di sisi lain saat ini Raja Yuan Monzi sedang berada di dalam ruang kerjanya, pria itu tersenyum sendirian karna saat ini ia sedang membayangkan bagaiman jika ia menikah dengan Xiao Ziya nanti. Raja Yuan Monzi sangat terobsesi menjadikan Xiao Ziya sebagai sang istri, selain cantik dan anggun gadis itu juga memiliki kemampuan diatas rata rata dan semua identitasnya sangat luar biasa. Raja Yuan Monzi menyandarkan punggungnya ke kursi kerja kemudian memejamkan mata sejenak, ia harus memikirkan cara agar Xiao Ziya mau menikah dengannya dan bila ada pria ataupun pemuda lain yang ingin mendekati gadis itu maka Raja Yuan Monzi akan langsung membunuhnya.
Saat Raja Yuan Monzi sedang bingung memikirkan cara mendapatkan Xiao Ziya di sisi lain ada seorang pria yang sedang mengawasinya dengan raut wajah marah. Pria itu menggenggam tangan dengan sangat erat, terlihat sorot mata penuh kebencian yang ia arahkan pada Raja Yuan Monzi.
"Siapapun yang ingin mendekati Xiao Ziya harus mendapatkan izin dari saya." ucap Lee Brian, ya pria yang sangat kesal dengan isi otak Raja Yuan Monzi adalah Lee Brian paman dari Xiao Ziya. Lee Brian tak akan membiarkan keponakan yang sangat ia sayangi jatuh ke tangan pria gila seperti Raja Yuan Monzi. Sedari tadi Lee Brian berusaha menahan diri agar ia tak langsung meledakkan isi kepala Yuan Monzi.
"Yah wajah cantik gadis itu begitu menggoda." ucap Raja Yuan Monzi ketika mengingat wajah Xiao Ziya.
Mendengar perkataan dari Raja Yuan Monzi membuat amarah Lee Brian semakin meningkat, ia tak tau apa yang sedang dibayangkan oleh pria brengsek itu hingga tersenyum sendiri seperti orang sakit jiwa. Karna merasa tak tahan melihat keponakannya dilecehkan secara tidak langsung, Lee Brian menghentakkan kakinya di atas atap ruang kerja Raja Yuan Monzi hingga atap itu ambrol dan menimpa sang raja.
"Tolong.....siapapun tolong saya." ucap Raja Yuan Monzi dengan suara terbata bata, saat ini tubuh sang raja sedang tertimpa reruntuhan dan ada Lee Brian yang berdiri di atas reruntuhan itu.
"Dimana ayah sekarang, kami kesulitan menemukan di tumpukan batu bata dan atap ini." ucap Pangeran Yuan Wengi, sang pangeran sibuk menyingkirkan batu bata dan atap yang menutupi ruang kerja sang ayah.
"Uhuk uhuk... ayah mulai kesulitan bernafas. Tolong selamatkan ayah sekarang dan mintalah pria yang sedang berdiri itu untuk menyingkir dari tempatnya." ucap Raja Yuan Monzi dengan nada kesal, jika bukan karna pria aneh itu mungkin ia sudah bisa keluar dari reruntuhan tersebut tanpa meminta bantuan siapapun.
"Permisi tuan bisakah Anda menyingkir sebentar?." tanya Pangeran Yuan Wengi dengan ekspresi kesal dan tatapan tajam. Pangeran itu tak mengerti mengapa sang pria asing berdiri tepat dimana sang ayah terkubur, seharusnya pria asing itu menolong ayahnya.
Lee Brian hanya diam sembari melipat kedua tangannya yang ia letakkan di depan dada, sepertinya Lee Brian tak akan membiarkan Raja Yuan Monzi menghirup nafas dengan bebas setelah membayangkan hal hal aneh pada keponakan kesayangannya itu. Karna diabaikan oleh pria asing yang tak ia kenali, Pangeran Yuan Wengi merasa kesal dan berusaha menarik tangan pria itu agar menjauh dari tempat sang ayah berada. Usaha Pangeran Yuan Wengi sia sia saja karna Lee Brian tak bergeser sedikitpun, melihat saudaranya yang sedang kesusahan beberapa pangeran mulai membantu untuk menggeser posisi pria asing itu.
"Mengapa Anda melakukan hal ini Tuan? suami saya tak mengenal siapa Anda dan dia tak pernah menyinggung perasaan Anda sedikitpun." ucap Ratu Yuan Mingi dengan tegas, bagaimanapun juga ia harus menyelamatkan sang suami meski pria yang sedang menindas suaminya saat ini jauh lebih tampan.
__ADS_1
"Suami Anda memang tak mengenal saya, namun dia sangat menyinggung perasaan saya." jawab Lee Brian dengan nada ketus.
Jawaban dari Lee Brian membuat orang orang menjadi bingung, apa yang telah dilakukan oleh Raja Yuan Monzi hingga membuat seorang pria asing begitu membencinya?.
"Saya belum pernah melihat wajah Anda ataupun bertemu dengan Anda sebelumnya, lalu bagaimana cara saya menyinggung perasaan Anda Tuan." ucap Raja Yuan Monzi, pria itu sedang menahan sakit di seluruh tubuhnya. Raja Yuan Monzi ingin segera keluar dari reruntuhan atap ruang kerjanya, ia harus meyakinkan pada pria itu bahwa ia tak melakukan apapun.
"Saya sangat tersinggung saat otak kotor Anda mulai membayangkan keponakan saya." jawab Lee Brian dengan emosi yang meluap luap saat mengingat kejadian menyebalkan itu. Seketika aura di seluruh istana Kerajaan Yuan Liong berubah menjadi mencekam, para pelayan dan prajurit sampai pingsan karna tak dapat menahan tekanan yang begitu besar.
Raja Yuan Monzi sangat bingung, apa yang harus ia lakukan untuk menghentikan kegilaan pria asing itu. Raja Yuan Monzi juga merasa bingung karna ia dituduh membayangkan keponakan pria tersebut padahal sedari tadi yang ada di pikirannya hanyalah Xiao Ziya, mungkinkan pria itu paman dari Xiao Ziya?.
"Apakah keponakan Anda adalah Nona Ziya?." tanya Raja Yuan Monzi yang memberanikan dirinya untuk bertanya lebih jauh.
Lee Brian hanya diam sembari menekan kembali reruntuhan itu hingga Raja Yuan Monzi mengerang kesakitan, tak hanya sampai di situ saja Lee Brian mengeluarkan sabit kematian miliknya. Dalam sekejap mata penampilan pria itu sudah berubah menjadi sesosok malaikat kematian yang sangat menyeramkan, keempat istri Raja Yuan Monzi tak sanggup melihat serta merasakan aura yang begitu mengerikan hingga mereka jatuh pingsan, kini para putri dan pangeran sangat khawatir dengan kondisi ibu mereka masing masing.
"Tolong jangan lakukan apapun pada keluarga saya." ucap Raja Yuan Monzi yang berusaha mengeluarkan semua energi qi yang ia milik. Sang raja berharap pria itu akan jatuh ataupun terpental setelah terkena ledakan energi miliknya.
Duaaar.
Suara ledakan energi qi milik Raja Yuan Monzi yang terdengar sangat nyaring, pria itu tersenyum dengan puas dan berusaha untuk menggerakkan badannya yang masih tertimpa reruntuhan namun anehnya ia masih belum bisa menggerakkan anggota tubuhnya. Lee Brian masih berdiri dengan tegak bahkan jubah hitam yang ia gunakan tak sobek sedikitpun akibat ledakan energi milik Raja Yuan Monzi.
"Saya sangat ingin melesakkan kepala Anda." ucap Lee Brian dengan nada dingin yang terdengar menakutkan. Entah mengapa Raja Yuan juga merinding setelah mendengarnya.
"Saya meminta maaf pada Anda karna telah menyinggung perasaan Anda secara tidak sengaja." ucap Raja Yuan Monzi dengan suara nafas tersengal sengal, pria itu hampir sekarat karna tak mendapatkan oksigen.
Lee Brian turun dari tumpukan reruntuhan itu kemudian menarik dengan kasar tangan Raja Yuan Monzi, Lee Brian menatap ke arah sang raja dengan tatapan tajam. Awalnya Raja Yuan Monzi merasa lega karna ia bisa keluar dari reruntuhan itu dalam kondisi selamat, akan tetapi ekspresi wajah sang raja berubah dan menjadi pucat pasi. Raja Yuan Monzi mengetahui tentang sabit serta jubah yang sedang dikenakan oleh Lee Brian, siapa yang tau jika gadis bernama Xiao Ziya yang memiliki kedudukannya sebagai penerus alam neraka adalah keponakan dari sang malaikat kematian. Dengan segera Raja Yuan Monzi bersujud di hadapan Lee Brian dan meminta maaf atas kesalahan yang telah ia lakukan, entah akhir seperti apa yang akan ia dapatkan karna menyinggung kuasa yang jauh lebih hebat darinya.
Hai hai semua author balik lagi nih gimana kabar kalian semoga sehat selalu ya. Jangan lupa follow buat yang belum, vote karna wajib, gift hadiah apapun makasih banget, like like like, komen buat ninggalin jejak, rate bintang lima, share juga ya.
__ADS_1