
Setelah selesai makan Xiao Ziya ingin berpamitan untuk kembali ke apartemennya, Hanz dan kedua saudaranya yang lain meminta agar Xiao Ziya menginap saja di toko mereka untuk malam ini karna hari sudah sangat larut dan tak baik bagi seorang gadis itu keluar di malam hari, karna masih mengantuk Xiao Ziyapun mengiyakan keinginan mereka bertiga dan berjalan menuju sofa untuk tidur.
Andai saja Hanz dan kedua saudaranya yang lain tau jika Xiao Ziya selalu keluar setiap saat entah itu pagi, siang, malam, ataupun pagi pagi buta. Tak ada yang berani mengusik gadis itu kecuali orang orang bodoh yang ingin dekat dengan kematian mereka.
"Sebaiknya nona tidur di kamar kami saja." ucap Kenzo yang merasa tak tega membiarkan Xiao Ziya tidur di sofa.
"Saya akan tidur di sini, ini sangat nyaman." ucap Xiao Ziya yang langsung memejamkan matanya kemudian tertidur dengan lelap dalam hitungan detik.
Hanz, Kenzo, dan Zero berjalan menuju kamar mereka masing masing. Di toko black daimon terdapat beberapa fasilitas seperti lantai atas yang berisikan tiga kamar utama, tiga kamar mandi, dan dapur untuk memasak. Sejak awal Hanz dan kedua saudaranya yang lain sengaja menjadikan toko black daimon sebagai rumah kedua mereka.
Semua orang sudah tertidur dengan lelap, di lain tempat saat ini Lino sudah mendapat beberapa informasi mengenai wanita yang menyerang sang ayah. Dari penampilan wanita itu tampak seperti manusia biasa, namun kekuatan tinjunya sangat berbahanya. Lino mengambil beberapa senjata kemudian ia masukkan kedalam sebuah tas ransel, pemuda itu ingin pergi ke hotel tempat Ratu Min Xunzi menginap untuk membalaskan dendamnya. Saat keluar dari kamar Lino berpapasan dengan sang ibu yang baru kembali dari rumah sakit.
"Ingin pergi kemana kau malam malam begini?." tanya Cayni Zee pada putra pertamanya itu.
"Aku akan pergi untuk bersenang senang sebantar ibu." ucap Lino, ia tak mungkin menceritakan hal ini pada ibunya.
"Pulanglah dengan selamat putraku." ucap Cayni dengan senyum yang sedikit tertahan, entah mengapa perasaannya sangat gelisah. Cayni ingin melarang putranya untuk pergi karna ia merasa jika Lino pergi ia tak bisa melihat putranya itu selamanya.
"Tenanglah ibu aku akan segera kembali." ucap Lino yang langsung meninggalkan ibunya begitu saja, jika ia tetap di sana maka sang ibu akan melarangnya untuk keluar.
Lino menaiki sebuah mobil berwarna hitam, ia memacu mob itu dengan kecepatan yang tinggi karna jarak antara rumah Lino dengan hotel tempat Ratu Min Xunzi menginap cukup jauh mungkin memakan waktu dua jam jika dalam kecepatan normal. Walau pemuda itu melanggar beberapa rambu lalulintas tak ada yang berani menghentikannya karna ia putra dari seorang pemimpin.
Setelah setengah jam kemudian Lino sampai di halaman depan hotel tersebut, ia segera mencari tempat parkir. Lino berjalan dengan santai menuju resepsionis dan bertanya dimana kamar Ratu Min Xunzi berada.
"Tuan muda Lino ada keperluan apa dengan tamu kami?." tanya resepsionis itu dengan was was, karna ada alasan dibalik kedatangan Lino ke hotel mereka.
"Aku ingin berbincang bincang sebentar dengan nyonya itu." ucap Lino dengan senyum tampannya namun tak bisa menipu sang resepsionis. Lagipula siapa yang akan datang ke hotel malam malam begini hanya untuk mengatakan sesuatu.
"Saya harap tuan muda tak membuat masalah di hotel kami." ucap sang resepsionis yang memberitahu dimana kamar Ratu Min Xunzi.
Dengan ekspresi ceria Lino berjalan menaiki lift, setelah pintu lift tertutup wajah pemuda itu yang tadi ya ceria berubah menjadi suram. Ia lelah berpura pura di depan resepsionis agar tak dicurigai, meski ia anak seorang pemimpin ada beberapa tempat yang tak bisa ia terobos seenaknya karna banyak pembisnis besar yang berinvestasi di perusahaan pemerintah.
"Hah sungguh hal yang melelahkan." ucap Lino yang langsung mengambil topi dan sebuah senjata api dari tasnya, ia memakan topi hitam tersebut untuk mengelabuhi cctv yang ada di sana.
Lino keluar dari lift dan mulai mencari kamar wanita itu, setelah cukup lama berkeliling di lorong hotel akhirnya ia menemukan kamar nomer 111E tempat dimana Ratu Min Xunzi menginap.
Tok tok tok.
Suara pintu kamar hotel Ratu Min Xunzi yang diketuk oleh Lino, sang ratu yang sedang tidur tak mendengar apapun. Karna tak kunjung mendapat jawaban Lino berusaha untuk mendobrak pintu kamar hotel itu, karna keamanan hotel yang sangat ketat Lino kesulitan untuk membuka pintunya.
"Sialan, hotel ini memiliki tingkat keamanan yang tinggi." ucap Lino yang merasa kesal, terpaksa ia terus mengetuk pintu hingga mendapat jawaban dari dalam.
Ratu Min Xunzi sedikit membuka matanya karna mendengar suara berisik dari luar kamar, menyadari ada seseorang yang terus mengetuk pintu membuatnya sangar risih. Ratu Min Xunzi bangun dari tempat tidur dan berjalan untuk membuka pintu.
"Apa yang kau lakukan di depan pintu kamar hotel saya?." tanya Ratu Min Xunzi yang menginginkan jawaban logis.
__ADS_1
"Saya ingin membicarakan sesuatu dengan anda, bisakah saya masuk kedam?." tanya Lino, ia tak ingin mengotori lorong hotel dengan bercak darah wanita yang ada di hadapannya itu.
Tanpa ragu ragu Ratu Min Xunzi mempersilahkan seorang pemuda asing untuk masuk kedalam kamar hotelnya, lagipula jika pemuda itu ingin berbuat macam macam maka pemuda itulah yang akan mati terlebih dahulu. Lino masuk dengan sangat sopan seperti orang baik yang tak ingin melakukan kejahatan.
Saat Ratu Min Xunzi berjalan di depan Lino, pemuda itu mengambil sebuah pisau dari dalam tas ranselnya dan ingin menikam Ratu Min Xunzi dari belakang. Untunglah sang ratu langsung menghindar saat merasakan bahaya, ia menatap tajam ke arah Lino.
"Kau berencana untuk membunuhku?." tanya Ratu Min Xunzi dengan tatapan membunuhnya.
"Kau telah melukai ayahku hingga koma saat ini. Tentu aku akan membalas dendam atas nama ayah." ucap Lino penuh dengan emosi, ia mengeluarkan semua senjata tajam yang ada di ranselnya.
Lino menyerang Ratu Min Xunzi dengan kecepatan manusia normal tentu hal tersebut membuat sang ratu merasa geli, apakah hanya dengan kemampuan sekecil itu ia ingin membalas dendam?. Ratu Min Xunzi menampar Lino dengan sangat keras hingga pemuda itu jatuh tersungkur dengan sudut bibir yang robek.
"Argh, sialan pantas saja ayah sampai koma. Pukulan mu sungguh menyakitkan." ucap Lino yang menyadari jika serangan jarak dekat tak akan melukai wanita itu. Lino mengambil sebuah pistol dan mulai menembaki Ratu Min Xunzi yang tetap diam di tempat.
Lino merasa serangannya kali ini sudah berhasil nyatanya semua itu gagal karna tak ada satupun peluru yang dapat menyentuh tubuh Ratu Min Xunzi. Lino benar benar terkejut karna wanita itu kebal terhadap banyak senjata, dengan apa lagi ia harus menyerangnya tak mungkin Lino meledakkan sebuah bom di sini. Jika Lino melakukan hal itu ia akan ditahan oleh komite keamanan setempat.
"Mengapa kau tak kunjung mati wanita sialan." ucap Lino yang sudah sangat frustasi, ia memukul Ratu Min Xunzi dengan tangan kosong dan hasilnya tangan Lino menjadi bengkak.
"Apakah kau ingin membela ayahmu yang tak berperasaan itu?." tanya Ratu Min Xunzi dengan nada bicara datar.
"Ayahku adalah pria baik dan dermawan." ucap Lino yang sudah menutup matanya sejak lama mengenai hal hal kriminal yang dilakukan oleh sang ayah, menurut Lino selagi ayahnya baik pada seluruh anggota keluarga maka ia pantas menjadi panutan.
"Ah ternyata kau bukan hanya bodoh, kau juga buta dan tuli." ucap Ratu Min Xunzi, ia menghina pemuda itu secara terang terangan.
Lino semakin marah ia terus menyerang walau hasilnya nihil, paling tidak ia bisa melampiaskan amarahnya pada wanita itu. Ratu Min Xunzi masih mengantuk dan ingin melanjutkan tidurnya namun pemuda itu sangat mengganggu.
"Apa maksudmu?." tanya Lino dengan mata yang membesar, ia merasa bahwa ada ancaman besar yang akan datang.
"Membekulah." ucap Ratu Min Xunzi.
Tiba tiba saja tubuh Lino mulai membeku, mulai dari kaki hingga rambut mengeras secara perlahan. Pemuda itu sangat panik karna yang ia hadapi adalah seorang penyihir yang sangat hebat. Lino berusaha meminta maaf sebanyak yang ia bisa namun semuanya terlambat tububnya kini sudah membeku sepenuhnya.
"Hoam, siapa yang mau mengirim patung es ini kembali ke keluarganya." ucap Ratu Min Xunzi yang kini merasa bingung. Ia mengangkat tubuh Lino yang sudah membeku menuju ruang resepsionis.
"Permisi, bisakah anda mengantar tamu tak diundang ini kembali ke rumahnya." ucap Ratu Min Xunzi sambil menunjuk ke arah Lino.
Sang resepsionis terjungkal kebelakang saat melihat tubuh putra dari seorang pemimpin membeku sepenuhnya, apa yang harus ia katakan jika ibu atau ayah anak itu bertanya padanya??.
"Bagaimana mungkin!." ucap resepsionis itu yang masih tak percaya dengan apa yang ia lihat.
"Jika ada yang bertanya mengapa pemuda ini membeku, katakan saja bahwa seorang wanita yang sudah melakukannya. Dan jika mereka mencariku, antar langsung padaku." ucap Ratu Min Xunzi yang kembali menaiki tangga untuk sampai di kamar hotelnya.
"Bagaimana saya bisa bertahan hidup." ucap sang resepsionis hotel yang langsung menelfon pemilik hotel untuk menyelesaikan masalah itu.
Akhirnya pihak hotel mengirim tubuh Lino yang membeku itu menuju rumahnya, ibu Lino keluar dari rumah setelah mendengar suara ketukan pintu. Cayni merasa senang karna putranya kembali dengan selamat, saat membuka pintu yang ia lihat adalah sekelompok orang yang nampak asing.
__ADS_1
"Ada yang bisa saya bantu?." tanya Cayni Zee.
"Kami ingin mengantar tubuh putra anda." ucap seorang pria dengan nada bicara gemetaran.
Beberapa orang membuka bagian belakang dari mobil box dan mulai mengeluarkan tubuh Lino yang terbungkus es. Cayni Zee ingin pingsan di tempat saat melihat kodisi putranya yang sangat mengenaskan.
"Siapa yang berani melakukan hal ini pada putraku, cepat katakan!!." ucap Cayni dengan penuh emosi.
"Orang itu mengatakan jika kalian ingin bertemu dengannya, maka pergilah ke sebuah hotel besar yang ada di pusat kota." ucap seorang pria yang memberikan informasi pada Cayni Zee. Setelah urusan mereka selesai, mereka langsung pulang.
Cayni memanggil beberapa pengawal untuk membawa tubuh putranya masuk kedalam rumah, karna kejadian ini rumah pemimpin Fenzu Zee menjadi gaduh. Semua orang berusaha mencairkan es yang menutupi tubuh Lino namun sangat sulit.
Waktu berjalan dengan cepat pagipun tiba, berita tentang pemimpin dunia semesta tingkat rendah yang sedang koma di tutup rapat rapat agar tak ada gerakan pemberontakan dari rakyat biasa. Saat ini Lino masih membeku, api sepanas apapun yang digunakan untuk melelehkan es yang mengeliling badannya tetap gagal.
Di sisi lain saat ini Xiao Ziya baru saja bangun dari tidur lelapnya, ia meregangkan tubuh kemudian melihat ke sekitar. Ketiga bersaudara itu belum bangun rupanya, Ziya berinisiatif untuk membuat sarapan untuk mereka berempat.
Kenzo berjalan keluar dari kamar setelah mencium bau harum dari arah dapur, ia mengira Hanz yang sedang memasak. Setelah sampai di dapur ia melihat Xiao Ziya yang sedang sibuk menaruh nasi goreng di atas piring.
"Selamat pagi nona Ziya." ucap Kenzo dengan senyuman ramah, ia kira gadis itu hanya unggul dalam bertarung saja ternyata ia juga bisa memasak.
"Pagi." jawab Xiao Ziya dengan singkat.
Setelah Ziya selesai menyiapkan sarapan, Kenzo langsung membangunkan kedua saudaranya yang lain. Dengan segera mereka bertiga menyantap nasi goreng yang dibuat oleh Xiao Ziya, mungkin ini definisi makanan sederhana dengan rasa yang luar biasa.
"Masakan nona Ziya yang terbaik." ucap Zero yang sudah selesai makan.
"Kami tak menyangka nona unggul dalam banyak hal." ucap Hanz yang semakin kagum dengan gadis itu.
Akhirnya sesi sarapanpun selesai, Xiao Ziya meminta izin untuk menggunakan kamar mandi yang ada di toko itu. Setelah selesai mandi Xiao Ziya ingin pergi ke gedung organisasi serikat dagang untuk menyelesaikan urusannya dengan mereka.
"Nona akan kembali ke apartemen?. Saya akan mengantar anda." ucap Zero yang ingin mengantar Xiao Ziya pulang dengan selamat.
"Tidak, saya akan pergi ke markas organisasi serikat dagang." ucap Xiao Ziya yang membuat ketiga saudara itu terkejut. Apakah gadis itu mampu mengalahkan semua anggota serikat dagang yang sangat banyak?.
"Kami bertiga akan ikut dengan nona, ini terlalu berbahaya jika nona pergi sendirian." ucap Hanz yang tak akan membiarkan mereka menyakiti Xiao Ziya.
"Ikutlah tapi jangan mengganggu, bantulah jika saya memberikan perintah." ucap Xiao Ziya yang mengizinkan mereka untuk ikut bersamanya.
Akhirnya mereka berempat bersiap siap untuk pergi ke markas organisasi perdagangan, Hanz dan kedua saudaranya yang lain membawa berbagai macam senjata, mereka juga menggunakan baju serba hitam seperti biasanya. Xiao Ziya menggeleng gelengkan kepala saat melihat kerempongan yang terjadi.
"Apa kalian belum selesai?." tanya Xiao Ziya dengan senyuman tipis.
"Kami sudah siap nona." ucap Zero penuh dengan semangat.
"Mari kita berangkat." ucap Xiao Ziya yang naik kedalam mobil, Hanz melajukan mobilnya dengan kecepatan standar sesuai dengan keinginan Xiao Ziya.
__ADS_1
Hai hai guys setelah libur satu hari karna agak sakit badan, sakit hati, dan sakit mental author kembali lagi nih gimana kabar kalian semoga baik baik aja ya. Jangan lupa follow buat yang belum, vote karna wajib ingatnya wajib, gift juga ya guys, like like like, komen, rate, share juga ya.