
Ratu Junyi Zu bangun dari tempat tidurnya kemudian berlari keluar dari kamar, sang ratu berjalan menuju ruang kerja Raja Yongling Zu dengan air mata yang terus membasahi wajah cantik dari wanita itu, jantungnya berdetak dengan sangat kencang ia merasa khawatir pada salah satu putrinya yang saat ini tak tinggal bersama dengannya seperti yang lain.
Tok tok tok.
Suara pintu kerja Raja Yongling Zu yang diketuk dengan cukup kencang oleh sang ratu, karna tak mendapat jawaban dari dalam akhirnya sang ratu mencoba mengetuk pintu itu lagi dengan lebih kencang. Awalnya Raja Yongling Zu enggan membuka pintu tersebut karna ia berpikir kedua anak dari Selir Mue Zu yang sedang mengganggunya, namun lama kelamaan Raja Yongling Zu merasa terganggu dan berjalan menuju pintu tersebut kemudian membukanya dengan lebar.
Mata Raja Yongling Zu membelalak dengan lebar saat melihat Ratu Junyi Zu menangis di depannya, bukankah tadi ratu kesayangannya itu sudah tidur? lalu apa yang terjadi hingga ia menangis sesenggukan seperti ini?.
"Putri ku Xiao Ziya..... putriku." rintih Ratu Junyi Zu dengan suara pelan namun masih bisa didengar oleh sang suami yang saat ini sedang menatap dengan tatapan bingung.
Mungkinkah istrinya itu bermimpi buruk mengenai Xiao Ziya sehingga ia terbangun dan menangis seperti itu? bukankah selama ini istrinya tak akan pernah mengingat kembali kejadian saat ia berada di dunia bawah dan akan melupakan pria itu bersama anak yang lahir dari hubungan mereka berdua. Sebelum Xiao Ziya pergi dari Istana Kerajaan Bintang Timur ini Ratu Junyi Zu secara terang terangan mengatakan bahwa Xiao Ziya bukankah anak kandungnya.
"Tenanglah istriku, apa yang sedang kau alami hingga menangis seperti ini?." tanya Raja Yongling Zu sembari memeluk Ratu Junyi Zu. Sang raja menepuk punggung istrinya pelan dan berusaha untuk menenangkannya, jika saat ini ingatan istrinya kembali maka ia akan merasa senang.
Dulu Raja Yongling Zu selalu berfikir bahwa akan sangat bagus jika istrinya melupakan semua kejadian itu untuk selama lamanya, namun setelah bertemu dan melihat Xiao Ziya secara langsung ternyata gadis itu sangat mencintai ibunya meski sang ibu tak pernah merawatnya sejak bayi. Saat tinggal di Istana Kerajaan Bintang Timur ini Xiao Ziya juga selalu menjaga ibunya agar tetap aman, ia bahkan lebih sigap daripada Raja Yongling Zu dan sejak saat itulah Raja Yongling Zu menyadari bahwa sikap selama ini sudah keterlaluan.
"Putriku Xiao Ziya, ibu merindukanmu." ucap Ratu Junyi Zu yang menangis sejadi jadinya hingga Yang Mulia Raja Yongling Zu merasa bingung.
"Baiklah mari kita beristirahat sekarang istriku, esok pagi kita akan pergi ke Istana Kerajaan Bulan untuk menjenguk putri mu itu." ucap Raja Yongling Zu dengan senyuman tipis.
"Benarkah kita akan pergi ke sana suamiku?." tanya Ratu Junyi Zu untuk memastikan bahwa sang suami tak akan mengingkari kata katanya.
"Tentu saja, putrimu adalah putriku juga. Mari kita melihat bagaimana kondisi Nona Xiao Ziya di sana, ajaklah Putri Beiling Zu karna ia sangat menyayangi Xiao Ziya seperti adik kandungnya sendiri." ucap Raja Yongling Zu sembari melepas pelukannya dari Ratu Junyi Zu dan mengusap pelan air mata dari wanita yang sangat ia sayangi itu.
Di tempat lain tepatnya di ruang kesehatan Istana Kerajaan Bulan ada seorang pria yang sedang menatap ke arah Xiao Ziya dengan tatapan kecewa, ia merasa gagal melindungi gadis itu. Pria tersebut adalah Lee Brian, saat Xiao Ziya bertarung melawan Penguasa Agung saat itu juga ia sedang menjalankan tugas yang diberikan oleh Sang Penguasa Alam Semesta dan baru saja kembali beberapa saat yang lalu. Dari Alam Kematian Lee Brian melihat keponakan kesayangannya sedang dalam kondisi kritis, rambut Xiao Ziya bahkan berubah menjadi putih dan tubuhnya sangat pucat dan dingin seperti es. Lee Brian duduk di sebuah kursi yang berada di samping Xiao Ziya kemudian memeluk Xiao Ziya dari samping, apa yang harus Lee Brian lakukan jika sesuatu yang lebih buruk terjadi pada keponakannya itu.
"Tubuh mu begitu dingin, biarkan aku memelukmu dan merasakan rasa sakit mu juga." ucap Lee Brian dengan suara pelan yang ia bisikkan ke telinga Xiao Ziya.
Lee Brian mengusap pipi Xiao Ziya pelan kemudian memberikan sebuah ciuman hangat pada kedua pipi keponakannya itu, Lee Brian memutuskan untuk menemani Xiao Ziya hingga pagi tiba ia terus memposisikan tubuhnya memeluk gadis itu. Samar samar Lee Brian merasakan ada beberapa energi yang ingin menguasai tubuh keponakannya itu, sebuah energi meledakkan kekuatannya hingga membuat tubuh Xiao Ziya mengejang. Lee Brian yang seharusnya terluka saat terkenal ledakan energi namun tubuh pria itu baik baik saja karna ia memiliki energi pelindung alam dari dalam tubuhnya, Lee Brian mengeratkan pelukannya pada Xiao Ziya untuk menghentikan gejolak yang sedang terjadi.
"Tenanglah karna paman akan selalu berada di sisi mu, jangan khawatir semuanya akan baik baik saja." ucap Lee Brian kemudian memejamkan matanya. Pria itu sedikit lelah setelah menyelesaikan tugas karna itu ia akan beristirahat di tempat tersebut bersama dengan Xiao Ziya.
Di Alam Neraka Raja Artur tak bisa beristirahat dengan tenang, hatinya terasa begitu gelisah seperti ada hal besar yang sudah terjadi. Raja Artur saat ini sedang berada di dalam kamarnya, ia membaringkan tubuh di atas kasur sembari menatap ke langit langit kamar tersebut. Sebenarnya apa yang baru saja ia lewatkan? hal besar apa yang telah terjadi? dan mengapa fikirannya tak bisa tenang seperti hari hari sebelumnya. Sempat terbersit di fikiran kakek tua itu bahwa semua ini berhubungan dengan Xiao Ziya, sebagai penerus dari Alam Neraka tentu mereka berdua memiliki ikatan batin yang cukup rumit.
"Bagaimana saya bisa beristirahat jika seperti ini terus, apa yang sedang terjadi padamu gadis nakal." ucap Raja Artur dengan raut wajah khawatir. Jika ia pergi sekarang kemungkinan besar semua orang yang berada di Istana Kerajaan Bulan sedang tertidur lelap, Raja Artur memutuskan untuk mengunjungi penerusnya itu esok pagi.
__ADS_1
"Ayolah saya juga butuh tidur untuk beberapa waktu saja." ucap Raja Artur kemudian memejamkan matanya dengan rapat.
Hampir semua orang yang memiliki hubungan yang dekat dengan Xiao Ziya memiliki firasat yang kurang baik pada gadis itu termasuk Xiao Cunyu. Ayah dari Xiao Ziya itu sedang mondar mandir di halaman depan paviliunnya, beberapa saat yang lalu ia sedang berdiam diri di dalam kamar dan mencoba untuk tidur namun fikirannya selalu tertuju pada Xiao Ziya.
"Apa yang sedang terjadi padamu putriku, ayah sangat khawatir padamu. Bagaimana cara ayah datang kesana, hah mengapa sangat sulit untuk menemui putri kandung ku sendiri." ucap Xiao Cunyu dengan raut wajah khawatir, ia tak bisa berhenti memikirkan Xiao Ziya yang kini tengah jauh dengannya. Jika gadis itu sedang jatuh sakit siapa yang akan merawatnya di sana, mungkinkah wanita yang dulu bersama dengannya bisa menerima kehadiran Xiao Ziya?.
"Apa yang sedang ayah lakukan selarut ini?." tanya Xiao Xun yang baru saja masuk melalui gerbang depan paviliun ayahnya itu. Xiao Xun melihat sang ayah sedang mondar mandir dengan raut wajah khawatir.
"Entahlah ayah sedang mencemaskan adik mu saat ini. Apakah tak ada sebuah cara agar kultivator tingkat rendah seperti ayah bisa pergi ke Lapisan Dunia Manusia Abadi?." tanya Xiao Cunyu pada Xiao Xun.
"Tak ada cara apapun untuk pergi ke sana ayah, saya juga tak mengetahui seketat apa keamanan yang dimiliki oleh dunia itu. Apakah mungkin bagi Yang Mulia Raja Artur untuk membawa ayah pergi ke sana? saya lihat Raja Artur cukup kuat dan kemungkinan besar bisa pergi ke sana untuk menemui adik Ziya." ucap Xiao Xun yang seketika teringat dengan Raja Artur yang dulu sering datang ke Klan Xiao saat Xiao Ziya masih berada di Dunia Bawah.
"Tapi bagaimana cara memanggil Raja Artur datang kesini, hingga sekarang ayah belum tau dari kerajaan mana pria itu berasal." jawab Xiao Cunyu dengan raut wajah frustasi, ia benar benar ingin pergi untuk menemui putrinya.
"Besok saya akan pergi ke Istana Kekaisaran Qiyu untuk bertanya pada Kaisar Zue apakah ia mengenal Raja Artur lebih jauh ataukah tidak." ucap Xiao Xun yang berusaha untuk menenangkan ayahnya yang tengah khawatir itu.
"Semoga saja ada cara untuk bertemu dengan adikmu." ucap Xiao Cunyu dengan perasaan yang sangat kacau.
Keterpurukan Xiao Ziya saat ini mempengaruhi perasaan banyak orang, gadis itu sering melakukan perbuatan baik pada orang orang yang membutuhkan bantuan darinya hingga ia mendapat banyak kepercayaannya dan kasih sayang dari orang lain, entah kapan Xiao Ziya akan berhasil melewati masa kritisnya itu semuanya berharap Xiao Ziya akan pulih dan bisa menemani mereka lagi.
"Apakah tak ada sesuatu yang bisa kita lakukan untuk Nona Besar Xiao Ziya?." tanya Zu Genzi dengan perasaan tak karuan.
"Bukankah ayah dan ibumu mengoleksi banyak buku mengenai pengobatan kuno? mungkin diantara buku buku itu ada cara untuk memulihkan kondisi Nona Xiao Ziya." jawab Zu Junyang yang baru teringat akan hal itu.
"Ya kau benar, ayah dan ibu selalu mengoleksi buku buku kono dengan harga yang cukup mahal hingga membuat Ketua Klan Zu yang lain merasa heran." ucap Zu Genzi yang baru saja teringat dengan hal hal yang menjadi kebiasaan orang tuannya.
Zu Genzi memasukkan pedang miliknya ke dalam sarung pedangnya lagi, pemuda itu berjalan masuk melalui pintu belakang Istana Kerajaan Bulan. Zu Genzi ingin meminta izin pada Ratu Min Xunzi untuk kembali ke Klan Zu malam ini juga, ia harus menemukan sebuah cara untuk memulihkan kondisi Nona Muda Xiao Ziya. Setelah melihat kepergian Zu Genzi, Zu Junyang langsung berlari menyusul temannya itu meskipun saat ini Zu Genzi sudah cukup kuat untuk melindungi dirinya sendiri namun Zu Junyang tak bisa membiarkan temannya pulang sendirian.
"Hey tunggulah aku!." triak Zu Junyang dari belakang, ia berlari dan berhasil menyusul Zu Genzi.
"Kau juga akan kembali dengan ku?." tanya Zu Genzi dengan tatapan bingung.
"Tentu saja aku akan menemanimu kembali ke Klan Zu, kau adalah pemuda yang sangat ceroboh bagaimana jika kau bertemu dengan perampok ataupun bandit hutan saat perjalanan pulang nanti?. Sebaiknya aku ikut dengan mu karna paman dan bibi mempercayakan keselamatan mu padaku." ucap Zu Junyang dengan senyuman lebar, ia tak akan membiarkan teman baiknya itu dalam bahaya saat perjalanan menuju Klan Zu.
"Baiklah kita akan kembali bersama, mari meminta izin pada Ratu Min Xunzi terlebih dahulu. Jangan sampai mereka berfikir jika kita ingin meninggalkan Nona Xiao Ziya saat dalam kondisi seperti ini." ucap Zu Genzi.
__ADS_1
Kedua pemuda itu berjalan dengan santai menuju ruangan Ratu Min Xunzi, setelah sampai di depan ruangan itu Zu Genzi langsung mengetuknya secara perlahan. Ratu Min Xunzi mempersilahkan orang yang mengetuk pintu ruangannya untuk masuk kedalam dan kedua pemuda itu segera masuk.
"Selamat malam Ratu Min Xunzi, maaf karna kami menganggu waktu Anda." ucap Zu Genzi dengan suara lembut karna saat ini suasana hati Ratu Min Xunzi sedang tidak baik setelah melihat kondisi keponakannya yang sedang kritis.
"Malam juga, apakah ada sesuatu yang ingin kalian berdua sampaikan?." tanya Ratu Min Xunzi dengan nada bicara yang terdengar begitu datar.
"Kami ingin kembali ke Klan Zu untuk sementara waktu, saya ingin bertanya pada orang tua saya apakah ada sebuah cara untuk memulihkan kondisi Nona Muda Xiao Ziya." jawab Zu Genzi dengan jujur.
"Baiklah kalian boleh pergi, saya tak bisa melarang kalian untuk bertemu dengan kedua orang tua kalian. Semoga saja orang tua Tuan Muda Zu Genzi memiliki sebuah cara untuk membuat keponakan saya cepat melewati masa kritisnya." ucap Ratu Min Xunzi dengan senyuman tipis. Ia melihat dengan jelas dari sorot mata kedua pemuda itu bahwa mereka sangat khawatir, karna itu Ratu Min Xunzi yakin bahwa keduanya bukan sedang mencari alasan untuk meninggalkan Xiao Ziya saat sedang dalam kondisi seperti ini.
"Terimakasih atas kepercayaan yang Ratu Min Xunzi berikan, kami berdua akan kembali secepatnya." ucap Zu Junyang dengan penuh keyakinan.
"Pergilah dan lekaslah kembali. Gerbang masuk Istana Kerajaan Bulan selalu terbuka untuk kalian berdua." ucap Ratu Min Xunzi.
Zu Junyang dan Zu Genzi keluar dari ruangan itu dan bergegas pergi meninggalkan Istana Kerajaan Bulan, akan lebih baik jika mereka segera sampai ke Klan Zu dan berhasil menemukan sebuah cara untuk memulihkan kondisi Xiao Ziya. Saat akan melintasi gerbang utama Istana Kerajaan Bulan beberapa prajurit penjaga gerbang membukakan jalan untuk mereka berdua.
"Segeralah kembali Tuan Muda, kerajaan ini akan selalu menerima kedatangan kalian berdua." ucap para prajurit penjaga gerbang masuk Istana Kerajaan Bulan.
"Kami akan segera kembali, tolong jaga istana dengan baik ya. Jangan membuat Nona Ziya merasa khawatir." ucap Zu Genzi sembari melambangkan kedua tangannya kemudian pemuda itu melesat dengan kecepatan penuh bersama dengan Zu Junyang di sisinya.
Suasana terasa lebih sunyi lagi setelah kepergian kedua pemuda itu, semua orang yang tinggal di Istana Kerajaan Bulan tak dapat memejamkan mata mereka karna terlalu khawatir dengan kondisi Xiao Ziya begitupun dengan para pelayan dan juga prajurit. Mereka semua melihat formasi pelindung yang Xiao Ziya buat untuk melindungi wilayah Kerajaan Bulan, itu adalah hal baru yang mereka saksikan. Selama Raja Anling Zee memimpin Kerajaan Bulan ia tak pernah memikirkan keselamatan penduduk saat peperangan ataupun pertarungan sedang terjadi, karna itulah banyak penduduk Kerajaan Bulan yang menjadi korban namun berbeda dengan pemimpin baru mereka saat ini yang sangat peduli dengan keselamatan penduduk yang ia pimpin.
"Apakah kita tak bisa melakukan sesuatu untuk Nona Besar Xiao Ziya? ia telah melakukan yang terbaik untuk melindungi kita semua. Sosok bernama Penguasa Agung itu pernah menghancurkan sebagian wilayah Kerajaan Bulan saat Raja Anling Zee masih memimpin namun kali ini semuanya benar benar diselamatkan oleh Nona Besar Xiao Ziya." ucap salah seorang pelayan yang masih berada di dapur, sebagian pelayan memang berkumpul di sana untuk membahas kondisi pemimpin baru mereka saat ini.
"Tanpa perlindungan dari Nona Besar Xiao Ziya kita sudah mati saat ini." ucap pelayan lain dengan sorot mata sedih.
"Sebaiknya jika kita bisa melakukan hal kecil untuk membantu meringankan fikiran Nona Besar Xiao Ziya yang sedang koma saat ini." ucap seorang pelayan yang sedang memikirkan sesuatu.
"Kita harus menjaga kebersihan Istana Kerajaan Bulan ini dan membantu menjaga keamanan istana juga, jangan sampai ada penyusup yang berhasil masuk ke dalam dan melukai Nona Besar Xiao Ziya." saran dari seorang pelayan yang langsung disetujui oleh pelayan lain, untuk saat ini hanya itu yang bisa mereka lakukan. Saat Nona Besar mereka sudah bangun nanti ia tak perlu merasa kurang nyaman dengan kondisi Kerajaan Bulan yang tak terawat dengan baik.
"Mari kita lakukan tugas kita dengan baik, jika ada orang mencurigakan diantara para pelayan dan prajurit kita harus langsung menangkapnya." ucap beberapa pelayan penuh dengan semangat.
"Tenang saja Nona Ziya kami akan membantu Anda menjaga Istana Kerajaan Bulan ini." ucap beberapa pelayan lainnya.
Setelah selesai membahas hal itu para pelayan langsung dibagi menjadi beberapa kelompok dan ditempatkan di beberapa titik rawan penyusup seperti bangunan bagian belakang Istana Kerajaan Bulan serta pintu pintu lain yang berada di bagian samping istana. Saat para pelayan sedang sibuk membagi tugas, para prajurit Kerajaan Bulan memperketat penjagaan mereka tanpa diperintah oleh siapapun.
__ADS_1
Hai hai semua author balik lagi nih, gimana kabar kalian semoga sehat selalu ya. Lebih baik kalian follow ig author jadi kalian dapat informasi kemana Novel Ratu Iblis ga update kaya kemarin lusa. Jangan lupa follow buat yang belum, vote karna wajib, gift hadiah apapun, like like like, komen buat ninggalin jejak, rate bintang lima, share juga ya.