RATU IBLIS

RATU IBLIS
Kehancuran


__ADS_3

Xiao Ziya mengeluarkan sulur hitam dari telapak tangannya, sulur hitam itu melilit tubuh Putra Mahkota Yuan Konju dengan sangat kencang hingga ia tak bisa bergerak sedikitpun. Xiao Ziya tersenyum miring setelah melihat kondisi Putra Mahkota saat ini, gadis itu menghancurkan tembok ruang kerja itu kemudian keluar dari sana dengan mata merah darahnya. Beberapa prajurit datang ke sumber kegaduhan yang mereka dengar, mata para prajurit membelalak dengan lebar karna melihat gadis yang telah membunuh raja mereka menggila di dalam Istana Kerajaan Yuan Liong.


"Lepaskan Putra Mahkota, apa yang ingin Anda lakukan padanya!." bentak salah seorang Jenderal yang ada diantara para prajurit. Jenderal itu tak bisa tinggal diam membiarkan Putra Mahkota dibawa pergi ataupun dibunuh oleh gadis bernama Xiao Ziya itu, untuk saat ini hanya Putra Mahkota Yuan Konju yang memenuhi syarat untuk naik tahta menjadi raja.


"Apakah saya perlu meminta izin pada Anda ketika ingin melakukan sesuatu? di saat para Pangeran dan Putri dari Kerajaan ini menyerang kerajaan saya, mengapa saya tak boleh melakukan hal yang sama!. Anda tidak berhak untuk melarang saya Tuan Jenderal." jawab Xiao Ziya, gadis itu menyerang para prajurit yang ingin menghadangnya, ratusan prajurit Kerajaan Yuan Liong mati di tangan Xiao Ziya dalam beberapa detik. Sang Jenderal yang melihat keganasan dari gadis itu merasa takut.


"Lebih baik Anda pergi dari sini Tuan Jenderal, apakah Anda ingin melihat istri dan anak Anda menangis karena kematian Anda?. Saya hanya ingin melampiaskan kemarahan ini pada Anggota Keluarga Kerajaan Yuan Liong, jadi bawalah pergi orang orang yang bekerja untuk kerjaan ini." ucap Xiao Ziya. Gadis itu berbaik hati membiarkan para pelayan dan prajurit yang bekerja untuk Kerajaan Yuan Liong pergi dengan syarat mereka tak boleh menghalangi apapun yang ingin dilakukan oleh gadis itu.


Tubuh sang jenderal gemetaran, spontan ia membungkukkan badan di hadapan Xiao Ziya dan berterimakasih pada gadis itu karna membiarkannya dan yang lain pergi. Dengan segera jenderal itu memberitahukan pada para pekerja untuk segera meninggalkan Istana Kerajaan Yuan Liong secepat yang mereka bisa, kegaduhan yang terjadi semakin besar Permaisuri Yuan Bianze keluar dari ruangannya dan menatap bingung ke arah para prajurit dan pelayan yang keluar dari istana.


"Berhenti, apa yang terjadi? mengapa kalian berlarian seperti ini?." tanya Permaisuri Yuan Bianze, ia berusaha untuk menghentikan beberapa pelayan namun ia diabaikan oleh para pelayan itu.


"Argh sialan, beraninya manusia rendah seperti mereka mengabaikan saya." gerutu Permaisuri Yuan Bianze, ia merasa sangat kesal sekaligus marah karna diabaikan oleh para pelayan yang berlarian dihadapannya. Karna tak mendapat jawaban apapun akhirnya Permaisuri Yuan Bianze memutuskan untuk mencari tahu sendiri apa yang sedang terjadi.


Di sisi lain saat ini Xiao Ziya sedang bertatapan langsung dengan Selir Yuan Celing dan Selir Yuan Zeina, kedua wanita itu menatap penuh kebencian ke arah Xiao Ziya, karna gadis itu mereka kini harus menjadi janda dan tak bisa menikah lagi dengan pria manapun karna itu sudah menjadi tradisi bagi Anggota Keluarga Kerajaan Yuan Liong.


"Pergilah dari sini, jangan mengacau lagi. Apakah kau belum merasa cukup setelah membunuh Raja kami. Bawa saja Putra Mahkota Yuan Konju namun pergilah dan jangan pernah datang lagi!." bentak Selir Yuan Celing dengan aura membunuh yang samar samar keluar dari tubuhnya.


Mungkin sang selir berfikir ingin menggertak Xiao Ziya menggunakan aura membunuhnya yang tak seberapa itu, bukannya merasa takut Xiao Ziya malah geli melihat tingkah sang selir. Apa apaan aura yang sangat lemah itu? Xiao Ziya mengeluarkan seperempat aura membunuh miliknya dan menatap tajam ke arah Selir Yuan Celing, seketika tubuh selir itu terjatuh ke lantai karena tak bisaa menjaga keseimbangan.


"Jangan melawak dengan mengeluarkan aura membunuh Anda yang tak seberapa itu." ucap Xiao Ziya dengan senyuman tipis.


"Mengapa Anda datang lagi ke istana ini?." tanya Selir Yuan Zeina dengan tatapan penasaran, mungkinkah ada sesuatu yang membuat gadis itu marah?.


"Tanyakan saja pada anak anak kalian yang saat ini sedang menyerang wilayah perbatasan Kerajaan Bulan." jawab Xiao Ziya dengan ekspresi datar, gadis itu yakin para pangeran dan putri telah meminta izin pada ibu mereka sebelum pergi dan bergabung dengan Yie Gu.


"Lalu mengapa Anda berada di sini? bukankah saat ini wilayah perbatasan sedang diserang oleh putra putri kami?. Ahahaha apakah Anda tak merasa takut jika wilayah Kerajaan Bulan jatuh ke tangan mereka." tanya Selir Yuan Zeina dengan tatapan meremehkan, jika Xiao Ziya berada di sini siapa yang akan membantu pada prajurit perbatasan untuk mengalahkan pasukan Kerajaan Yuan Liong.


"Mengapa saya merasa cemas? saya memiliki paman dan bibi yang sangat kuat selain itu ada beberapa saudara saya yang akan ikut membantu. Jika para prajurit Kerajaan Yuan Liong berhasil mengambil alih Wilayah Kerajaan Bulan sekalipun, Kerajaan Bintang Timur akan membalaskan dendam itu." jawab Xiao Ziya dengan santai, ia tak perlu merasa khawatir karna pasukan Kerajaan Yuan Liong hanya berjumlah enam ribu prajurit.


"Cih mengapa Kerajaan Bintang Timur membalaskan dendam atas kekalahan mu, jangan bermimpi terlalu tinggi." ucap Selir Yuan Celing sembari meludah dan hampir mengenai alas kaki yang digunakan oleh Xiao Ziya.


Xiao Ziya menatap tajam ke arah Selir Yuan Celing, seketika tubuh selir itu terangkat hingga menabrak atap Istana Kerajaan Yuan Liong kemudian Xiao Ziya menghempaskan nya ke bawah hingga Selir Yuan Celing memuntahkan darah dalam jumlah yang banyak. Selir Yuan Celing merasa beberapa tulang rusuknya patah akibat hempasan itu.

__ADS_1


"Jangan kira saya tak berani melakukan apapun pada Anda, saat ini seluruh prajurit dan pelayan telah mengungsi di tempat yang aman yang tersisa tinggallah kalian berempat." ucap Xiao Ziya.


Di sisi lain Permaisuri Yuan Bianze melihat semua yang dilakukan Xiao Ziya dari kejauhan, kaki wanita itu gemetaran. Permaisuri Yuan Bianze tak ingin mati konyol bersama dengan kedua selir dan Putra Mahkota, sebaiknya ia segera pergi dari Istana Kerajaan Yuan Liong sebelum gadis iblis itu menyadari keberadaannya.


Baru saja sang permaisuri ingin melangkah pergi, tiba tiba sesuatu melilit kedua kakinya dengan sangat kencang kemudian membuat tubuh sang permaisuri jatuh ke lantai. Beberapa saat setelah tubuh Permaisuri Yuan Bianze ditarik dengan sangat kencang hingga ia sampai di hadapan Xiao Ziya, gadis itu menatap permaisuri dengan senyuman lebar. Xiao Ziya tak akan membiarkan Anggota Keluarga Kerajaan Yuan Liong kabur dari tempat itu.


"Ah Anda ketahuan Permaisuri." ucap Xiao Ziya dengan tatapan polos.


"Lepaskan saya!." triak Permaisuri Yuan Bianze pada Xiao Ziya dengan tatapan tajam.


"Bagaimana jika saya membawa kalian semua pergi ke wilayah perbatasan Kerajaan Bulan untuk melihat bagaimana akhir dari pertarungan yang sedang terjadi, namun sebelum itu saya harus menghancurkan istana busuk ini terlebih dahulu." ucap Xiao Ziya dengan senyumannya bahagia. Perkataan gadis itu membuat Putra Mahkota Yuan Konju terkejut, ia tak menyangka gadis itu akan melakukan tindakan sejauh ini.


"Tolong jangan menghancurkan..." ucap Putra Mahkota Yuan Konju, kalimat yang ingin ia ucapkan belum selesai akan tetapi mulutnya langsung disumpal oleh sulur hitam milik Xiao Ziya.


"Permainan dimulai." ucap Xiao Ziya. Gadis itu melilit tubuh kedua selir yang masih berada dihadapannya itu, sekarang semua anggota Kerajaan Yuan Liong yang tersisa sudah berada dalam genggaman Xiao Ziya. Ini saat yang tepat untuk menghancurkan Istana Kerajaan Yuan Liong sekaligus meruntuhkan kepemimpinan yang dimiliki oleh keturunan Klan Yuan.


Aura kematian milik Xiao Ziya meledak dari dalam tubuhnya, beberapa bagian dari Istana Kerajaan Yuan Liong runtuh karna tak mempu menahan kekuatan tekanan dari gadis itu. Setelahnya Xiao Ziya melesat pergi dari dalam Istana Kerajaan bersama keempat anggota Keluarga Kerajaan Yuan Liong, setelah berada di luar gadis itu menatap ke arah istana yang perlahan lahan mulai runtuh itu.


"Inilah rasanya ketika Anda kehilangan segalanya Putra Mahkota Yuan Konju, bukankah lebih baik jika Anda memilih salah satu pilihan yang saya berikan daripada merasakan semua ini sekarang." ucap Xiao Ziya, sungguh malang nasib Putra Mahkota Yuan Konju karna harus berselisih dengan gadis gila sepertinya.


Putra Mahkota Yuan Konju meneteskan air matanya saat melihat istana tempatnya lahir dan dibesarkan lenyap menjadi debu, penduduk Kerajaan Yuan Liong menatap ke arah api aneh yang membakar istana kerajaan yang tak jauh dari tempat tinggal mereka, saat para penduduk ingin pergi untuk membantu memadamkan api tiba tiba saja ribuan prajurit menghadang mereka.


"Jangan pergi ke sana, saat ini Kerajaan Yuan Liong telah hancur di tangan Nona Muda Xiao Ziya. Kami harap kalian semua tak memprovokasi Nona Muda itu." ucap beberapa jenderal yang memberikan arahan pada para penduduk Kerjaan Yuan Liong.


"Siapa yang akan memimpin wilayah ini jika kekuasaan Kerajaan Yuan Liong berakhir? kami tak bisa menjalankan semuanya secara individu. Beberapa kerajaan yang membuat kerjasama dengan wilayah ini akan menghentikan kontrak kerjasama mereka." ucap salah seorang penduduk yang merasa cemas dengan kehidupan di masa mendatang. Hal yang paling mereka takutkan adalah kemunculan para bandit dan perampok yang akan menjarah rumah rumah mereka karna tak ada lagi prajurit yang menjaga keamanan.


"Kami akan menanyakan hal ini pada Nona Muda Xiao Ziya nanti, untuk sementara waktu sebagian prajurit akan berjaga jaga di beberapa titik wilayah." jawab salah seorang jenderal, ia berusaha untuk menenangkan penduduk yang sedang merasa panik.


Akhirnya para penduduk melanjutkan aktivitas mereka tanpa menghiraukan Istana Kerajaan Yuan Liong yang masih terbakar oleh kobaran api, satu satunya orang yang merasa paling kehilangan adalah Putra Mahkota Yuan Konju, semua anggota keluarganya telah mati di tangan Xiao Ziya.


"Baiklah ini saat yang tepat untuk membangun Kerajaan Baru." ucap Xiao Ziya dengan senyuman tipis. Gadis itu menyalakan api berwarna putih kemudian melemparkannya dan langsung menyatu dengan api hitam milik Xiao Ziya. Dalam hitungan beberapa menit istana batu dengan bentuk dan warna yang berbeda berduri dengan kokoh di sana, Putra Mahkota Yuan Konju membelalakkan matanya karna Xiao Ziya bisa membangun sebuah istana menggunakan kekuatan sihir? sungguh kemampuan yang luar biasa.


"Agar tak menganggu sebaiknya kalian masuk saja ke dalam cincin semesta." gumam Xiao Ziya dengan suara pelan. Gadis itu memasukkan Putra Mahkota Yuan Konju, Permaisuri Yuan Bianze, Selir Yuan Celing, dan Selir Yuan Zeina ke dalam cincin semesta miliknya.

__ADS_1


Setelah keempat pengganggu itu tak terlihat lagi, Xiao Ziya mengepakkan kedua sayap elang miliknya kemudian terbang ke atas langit wilayah itu.


"Dengarkanlah wahai penduduk Kerajaan Yuan Liong, Saya Xiao Ziya telah berhasil mengakhiri masa kejayaan Kerajaan Yuan Liong yang selama ini menguasai wilayah kalian." ucap Xiao Ziya menggunakan energi qi miliknya hingga semua orang yang ada di wilayah tersebut dapat mendengarnya dengan jelas. Para prajurit yang bertugas di wilayah perbatasan saja sampai terkejut saat mendengar pengumuman dari gadis itu.


"Saya mengerti saat ini kalian merasa gelisah dengan keadaan wilayah ini di masa depan, karna itulah saya akan membawakan orang orang yang dapat menjaga wilayah ini dengan baik dan menjalankan kerajaan yang baru saja saya buat. Dengan ini saya menyatakan bahwa Kerajaan Yuan Liong sudah dihapuskan dari peta Lapisan Dunia Manusia Abadi dan digantikan dengan Kerajaan Xi Anglung." ucap Xiao Ziya menggunakan energi emas miliknya, apa yang dikatakan oleh gadis itu terdengar hingga ke beberapa kerajaan tetangga. Ratu Min Xunzi dan Raja Min Lunxi yang saat itu sedang menikmati hidangan yang disiapkan oleh pelayan untuk mereka langsung merasa merinding.


"Gadis itu sungguh tak terduga, siapa yang bisa menebak apa yang akan ia lakukan selanjutnya." ucap Ratu Min Xunzi pelan, wanita itu tersenyum tipis kini tak ada lagi kerajaan lain yang mengincar wilayah wilayah di bawah perlindungan Xiao Ziya.


Para penduduk keluar dari rumah mereka kemudian menatap ke arah langit, terdengar suara sorakan dan tepuk tangan yang menyambut lahirnya kerajaan baru di wilayah mereka. Para penduduk tak merasa keberatan jika ada raja baru yang memimpin wilayah itu selama sang raja dapat membawa kedamaian dan kemakmuran.


"Hidup Nona Besar Xiao Ziya." ucap para penduduk Kerajaan Xi Anglung secara persamaan.


"Hidup Nona Besar Xiao Ziya!." ucap para penduduk mengulang kalimat yang sama.


"Hidup Kerajaan Xi Anglung." sorak para penduduk dengan senyuman hangat yang menunjukkan ketulusan mereka.


Xiao Ziya terbang ke bawah untuk menemui para prajurit dan jenderal yang sebelumnya bekerja untuk Kerajaan Yuan Liong, gadis itu ingin merekrut mereka semua untuk bekerja di dalam Istana Kerajaan Xi Anglung. Saat kami Xiao Ziya menginjak tanah semua orang yang ada di sekitar gadis itu langsung menunjukkan kepala mereka.


"Angkat kepala kalian para Jenderal dan prajurit yang ada dihadapan saya." perintah Xiao Ziya dengan tegas. Seketika semua jenderal dan prajurit mengangkat kepala mereka namun tak ada satupun yang berani menatap mata Xiao Ziya secara langsung.


"Saya meminta kalian semua untuk bekerja di wilayah Kerajaan Xi Anglung, apakah kalian semua bersedia!!." triak Xiao Ziya dengan suara lantang.


"Ya!! kami bersedia Nona Besar Xiao Ziya. Kami akan bekerja dan setia pada Kerajaan Xi Anglung, karna itulah Anda harus mencari seorang raja yang baik untuk memimpin wilayah ini." ucap para jenderal dan prajurit secara serempak. Mereka tak berharap banyak karna memimpin sebuah kerajaan baru adalah hal yang cukup sulit untuk dilakukan.


"Baiklah saya akan membawa seseorang yang pantas untuk memimpin wilayah ini. Sebelum itu saya minta salah satu Jenderal untuk maju kedepan." ucap Xiao Ziya dengan sorot mata tajam.


Seorang jenderal berjalan kedepan dan berada tepat di depan Xiao Ziya, sang jenderal menundukkan kepalanya karna ia merasa tak pantas harus menatap seorang gadis yang sangat hebat seperti Xiao Ziya. Tanpa mengatakan apapun tiba tiba Xiao Ziya mengeluarkan sebuah karung besar berisikan koin emas miliknya.


"Berapa gaji yang diberikan oleh Kerajaan Yuan Liong pada para pekerjanya?." tanya Xiao Ziya pada jenderal itu.


"Seorang jenderal akan mendapat upah seratus dua puluh koin emas perbulan, prajurit mendapatkan upah tuju puluh lima koin emas, sedangkan pelayan akan mendapatkan upah lima puluh koin emas." jawab jenderal itu dengan tangan gemetaran.


Xiao Ziya menaikkan sebelah alisnya karna ia cukup terkejut dengan upah pekerja yang diberikan oleh Kerajaan Yuan Liong, mengapa mereka memberikan upah sekecil itu pada orang orang yang sangat berjasa dalam menjalankan pemerintahan.

__ADS_1


Hai hai semua author balik lagi nih, gimana kabar kalian semoga sehat selalu ya. Jangan lupa follow buat yang belum, vote karna wajib, gift hadiah apapun makasih banget, like like like, komen buat ninggalin jejak, rate bintang lima, share juga ya.


__ADS_2