
Hawa membunuh yang cukup kental keluar dari tubuh Xiao Ziya, entah dari mana asal ketiga pemuda antah berantah yang ada di hadapannya. Meski wajah mereka lebih tampan dari para pemuda yang pernah Xiao Ziya temui sebelumnya hal itu tak membuat seorang Xiao Ziya tertarik.
"Kami datang untuk membawamu pergi." ucap salah seorang pemuda itu yang mengetahui situasi saat ini. Gadis yang ada di hadapan mereka tak bisa diajak bicara secara baik baik.
"Memangnya siapa kalian seenaknya membawa saya pergi?." ucap Xiao Ziya yang menaikan satu alisnya.
"Mau tak mau kau harus ikut bersama dengan kami." ucap pemuda yang lain. Ia memegang pergelangan tangan Xiao Ziya kemudian menariknya dengan paksa.
Xiao Ziya menghempas tangan pemuda itu kemudian menatapnya tajam, Xiao Ziya mengambil sebilah pedang berwarna biru cerah dan menodongkannya pada salah satu dari ketiga pemuda itu. Dua pemuda yang lain mengambil sebuah pistol dari jas yang mereka gunakan.
"Jangan mengancam kami atau kami akan bertindak kasar padamu." ucap salah seorang dari pemuda misterius itu yang memberi peringatan pada Xiao Ziya untuk menjatuhkan pedang yang ia todongkan.
Karna peringatan yang mereka berikan tak digubris oleh Xiao Ziya akhirnya kedua pemuda itu menembak Xiao Ziya secara bersamaan menggunakan pistol yang ada di tangan mereka. Dengan mudah gadis itu menghindar dan menangkis setiap peluru yang melesat ke arahnya.
"Ini saja yang bisa kalian bertiga lakukan?" ucap Xiao Ziya yang mencengkram kerah baju belakang pemuda yang ia todong tadi, kemudian gadis itu melemparnya dengan cukup keras hingga pemuda itu menabrak beberapa pepohonan.
"Beraninya kau melakukan hal hina seperti itu pada saudara kami." ucap kedua pemuda itu secara bersamaan, mereka kembali menembaki Xiao Ziya kali ini mereka menggunakan peluru emas namun hasilnya tetap sama.
Xiao Ziya tak memiliki banyak waktu untuk meladeni ketiga pemuda tak waras yang ada di hadapannya itu, ia memegang pedangnya dengan erat lalu menarik nafasnya dalam dalam. Xiao Ziya melesat dengan cepat ke arah kedua pemuda yang masih menembakinya ia membuat luka goresan yang cukup dalam hingga kedua pemuda itu pingsan karna melihat darah yang mengalir dari tubuh mereka sendiri.
"Datanglah lain kali saat ini saya sangat sibuk, dan katakan pada pimpinanmu kirim orang terkuat yang ia miliki karna saya tak akan meladeni seorang junior yang baru tau cara menembak." ucap Xiao Ziya yang langsung melesat pergi dari hutan itu, perkataanya di dengar dengan jelas oleh pemuda yang ia lempar karna ia satu satunya yang masih sadarkan diri.
Xiao Ziya memang sengaja tak menghabisi mereka bertiga karna gadis itu sangat penasaran darimana ketiga pumuda amatiran itu berasal, pistol bukanlah senjata yang bisa ditemukan di dunia bawah, dunia atas, dunia dewa, alam neraka, maupun dunia para peri. Jika tebakannya tak salah maka mereka bertiga berasal dari sebuah lapisan dunia yang keberadaanya belum diketahui banyak orang.
"Saat mereka datang lagi nanti maka saya akan mengikuti permainan yang mereka buat." ucap Xiao Ziya yang saat ini sudah berada di depan gerbang masuk Istana Kekaisaran Qiyu, seperti rencana sebelumnya ia akan meminjam kekuatan dari prajurit kekaisaran untuk menjaga beberapa titik yang ada di Akademi Kekaisaran Qiyu saat perta penyambutan kepala akademi yang baru dilangsungkan.
Xiao Ziya berjalan menuju ruang kerja yang digunakan oleh Kaisar Yan, gadis itu mengetuk pintu dengan lumayan kencang setelah mendapat izin masuk barulah ia masuk kedalam.
"Salam saya pada Kaisar Yan." ucap Xiao Ziya yang memberikan salam pada kakak laki lakinya itu. Pandangan Xiao Ziya teralihkan pada seorang gadis yang sedang bergelayutan manja di pangkuan kakaknya itu.
"Siapa gadis muda ini sayang? apakah dia salah satu kandidat permaisurimu?." tanya gadis itu yang menatap Xiao Ziya dengan tatapan mata merendahkan. Xiao Ziya memijat pelipisnya pelan entah mengapa kakak tertuanya itu ganpang teroga oleh gadis gadis aneh seperti itu, apakah ini sudah saatnya bagi Xiao Xun untuk menikah agar ia tak jelalatan saat melihat wanita cantik.
"Ah apakah ini gadis dari rumah bordil?." ucap Xiao Ziya dengan senyum meremehkannya yang membuat siapa saja akan merasa kesal begitupun dengan gadis yang ada di pangkuan Xiao Yan.
"Salam hormat saya pada nona Ziya." ucap Kaisar Yan, ia terlambat menjawab salam dari adik perempuannya itu karna terkejut. Kaisar Yan tak menyangka bahwa malam ini adiknya akan datang ke istana kekaisaran saat ia sedang bersama dengan gadis pujaan hatinya.
Pertengkaran antara Xiao Ziya dengan gadisnya di awal pertemuan mereka merupakan sebuah pertanda bahwa Xiao Yan akan sulit mendapatkan restu dari adik perempuan kesayangannya itu, jika sudah seperti ini tak ada cara lain selain ia memberontak ataupun menerima keputusan dari adiknya itu.
"Jelaskan pada saya siapa gadis itu." ucap Xiao Ziya dengan tatapan mata tak sukanya, ia sangat ingin mendekat ke arah gadis yang sedang bergelayutan manja pada kakak laki lakinya itu kemudian melemparnya keluar dari istana.
__ADS_1
"Dia adalah Wi Xume gadis yang saya temukan beberapa hari yang lalu saat berburu di hutan dekat istana, sepertinya ia kehilangan ingatannya karna ia tak tau siapa keluarganya karna itu saya membawanya kembali ke istana untuk perawatan. Tabib istana mengatakan bahwa ingatan Wi Xume akan kembali dalam satu tahu." ucap Xiao Yan yang memberi penjelasan pada Xiao Ziya agar adiknya itu tak asalah paham.
Namun siapa yang ingin mereka bohongi, jelas jelas gadis itu hanya berpura pura lupa ingan saja dari sorot matanya sudah terlihat jelas bahwa Wi Xume ingin tinggal di istana Kekaisaran Qiyu ini untuk selama lamanya, dan mungkin saja gadis itu sedang mengincar posisi sebagai ratu ataupu seorang permaisuri.
"Hanya untuk satu tahun setelah itu ia harus angkat kaki dari sini." ucap Xiao Ziya dengan tegas, ia tak akan bisa menerima jika gadis itu menjadi kakak iparnya.
"Baiklah gege mengerti." ucap Xiao Xun dengan pasrah, pupus sudah harapannya untuk menikah dengan gadis impiannya itu.
"Saya datang untuk meminjam beberapa prajurit kekaisaran, besok akan diadakan pesta penyambutan kepala akademi baru saya harap gege datang tanpa mengajak gadis itu." ucap Xiao Ziya yang langsung pergi dari ruang kerja Kaisar Yan, gadis itu menutup pintu dengan sangat kencang hingga beberapa pelayan yang sedang lewat merasa terkejut.
Setelah Xiao Ziya pergi dari ruang kerjanya, Kaisar Yan menatap ke arah Wi Xume yang masih ada di pangkuannya itu. Binar mata Wi Xume yang sangat jernih membuat Kaisar Yan seperti terhipnotis dan semakin jatuh hati pada gadis itu. Karna itulah Kaisar Yan bertekad untuk mendekatkan Wi Xume dengan adik perempuannya.
"Maaf saya tak tau jika gadis tadi adalah adik anda, jika saya mengetahui hal itu maka saya akan menyambutnya dengan baik. Saya hanya tak ingin melihat Yang Mulia Kaisar Yan menaruh perhatian pada gadis lain." ucap Wi Xume dengan raut wajah bersalah yang sengaja ia buat untuk menarik simpati dari Kaisar Yan.
"Ini bukan salahmu karna seharusnya saya memperkenalkanmu dengan adik Ziya dari awal." ucap Kaisar Yan, ia mengusap lembut rambut gadis itu kemudian memeluknya dengan erat.
Sedangkan saat ini Xiao Ziya sudah berada di tempat berkumpulnya para prajurit Kekaisaran Qiyu, setelah mengedarkan matanya kebeberapa sudut akhirnya gadis itu menemukan tempat dimana Jenderal Zue berada, Xiao Ziya berjalan mendekat ke arah Jenderal Zue.
"Wah lihatlah siapa yang datang." ucap salah satu jenderal lain yang saat itu sedang berbincang bincang dengan Jenderal Zue.
"Ada apa kau datang kesini adik Ziya? apakah ada hal yang bisa saya bantu?." tanya Jenderal Zue yang melihat raut wajah kesal Xiao Ziya.
"Tolong awasi pergerakan gadis antah berantah menyebalkan itu, saya tak ingin memiliki kakak ipar seperti itu." ucap Xiao Ziya yang meminja Jenderal Zue untuk mengawasi Wi Xume karna ia sangat tidak suka pada gadis itu.
Xiao Ziya berbincang bincang dengan mereka, ada banyak hal yang dapat ia simpulkan mengenai Wi Xume. Gadis itu adalah gadis yang dengan sengaja menggoda Kaisar Yan agar mendapatkan posisi yang bagus di Istana Kekaisaran Qiyu ini, beberapa prajurit dan pelayan meragukan jika Wi Xume lupa ingatan karna beberapa pelayan mendapatkan perlukan tak baik dari gadis itu.
"Kalian harus mengawasinya, jika saya punya waktu senggang maka saya akan mencarikan calon yang lebih baik dari gadis itu." ucap Xiao Ziya pada semua prajurit yang ada di sana. Semua prajurit setuju dan akan merahasiakan hal ini dari orang lain.
Setelah urusannya selesai ia meminta lima ribu prajurit kekaisaran untuk bergerak menuju Akademi dan menempati beberapa titik yang sudah ia beritau. Sedangkan Xiao Ziya melesat pergi menuju Klan Xiao karna jangan sampai ayahnya menjetujui permintaan Xiao Yan untuk meminang gadis yang tak jelas asal usulnya itu.
"Hormat kami pada nona Xiao Ziya, silahkan masuk kedalam karna saat ini para ketua sedang melakukan rapat di aula utama." ucap salah seorang prajurit penjaga gerbang yang memberitaukan bahwa saat ini para ketua klan sedang mengadakan rapat.
Xiao Ziya masuk kedalam Klan Xiao dan pergi menuju paviliun sang ayah, para pelayan yang ada di sana mempersiapkan tempat untuk Xiao Ziya beristirat.
"Kalian siapkan minuman dan camilan saja, saya akan beristirahat di kamar Zoe." ucap Xiao Ziya yang langsung masuk kedalam kamar milik adik laki lakinya itu. Terlihat Zoe yang sedang tertidur pulas di atas tempat tidurnya pelayan yang ditugaskan untuk menjaga Zoe mengatakan bahwa dari pagi hingga sore anak itu sibuk berlatih pedang bersama dengan murid kelas satu dari Klan Xiao.
"Sekarang adik laki lakiku ini sudah besar ya hingga bisa mengangkat pedang dengan tangan kecilnya itu." ucap Xiao Ziya yang duduk di pinggir ranjang kemudian mencium kening adiknya itu.
Zoe merasa ada seseorang yang sedang mencium keningnya karna itu ia membuka mata, Zoe sedikit terkejut saat melihat kakak perempuannya itu ada di hadapannya.
__ADS_1
"Zia jiejie." ucap Xiao Zoe yang langsung mengambil posisi duduk dan memeluk kakak perempuannya itu dengan erat, Zoe sudah beberapa hari tak bertemu dengan Xiao Ziya sehingga ia merindukan kakak perempuannya.
"Aaa adikku yang tampan sudah bangun." ucap Xiao Ziya yang tersenyum manis ke arah Zoe.
Sambil menunggu ayahnya kembali dari rapat Xiao Ziya bermain main dengan Zoe di halaman belakang. Zoe mengatakan bahwa ia ingin bertanding pedang dengan kakak perempuannya itu, Xiao Ziya menyanggupi tantangan yang diberikan oleh Zoe.
"Apa kita akan menggunakan pedang asli ataukah pedang kayu saja?." taya Xiao Ziya pada adik laki lakinya yang terlihat sangat bersemangat itu.
"Zoe masih kecil jadi belum diperbolehkan untuk menggunakan pedang asli." ucap Zoe yang merasa kesal karna guru yang melatihnya hanya menggunakan pedang kayu sampai umur Zoe menginjak enam tahun nanti.
"Baiklah jika begitu." ucap Xiao Ziya yang mengambil sebuah pedang kayu dari cincin semesta.
Pertandingan pedang antara Xiao Ziya dengan Xiao Zoe dimulai disaksikan oleh para pelayan dan beberapa prajurit yang bekerja di paviliun milik Xiao Cunyu, Xiao Ziya hanya menggunakan nol koma nol nol satu persen kekuatan yang ia miliki dalam pertandingan itu karna tak ingin membuat adik laki lakinya itu terluka. Xiao Zoe sangat bersemangat mengayunkan pedangnya kesana kemari hingga ia lelah dan terjatuh dengan sendirinya.
"Bagaimana bisa jiejie bisa tetap berdiri tanpa merasa lelah?." ucap Xiao Zoe yang menatap ke arah kakak perempuannya dengan tatapan keheranan.
"Karna jiejie sudah terbiasa berlarian kesana kemari sehingga tak mudah merasa lelah." ucap Xiao Ziya yang memberikan penjelasan singkat dan mudah dipahami oleh adiknya itu.
Setelah itu Xiao Ziya dan Zoe duduk di halaman depan paviliun ayah mereka, beberapa pelayan membawa camilan serta minunan segar dan saat itu Xiao Cunyu baru saja kembali dari rapat.
"Salam hormat saya pada ayah." ucap Xiao Ziya yang mengucapkan salam ketika sang ayah sudah ada di hadapannya.
"Saya trima salammu putriku, ada keperluan apa hingga kau datang menemui ayah?." tanya Xiao Cunyu yang melihat wajah cantik putrinya, ia tau saat ini putrinya itu sedang mengkhawatirkan sesuatu.
"Apa ayah sudah tau tentang gadis yang dibawa Yan gege ke Istana Kekaisaran Qiyu." ucap Xiao Ziya yang bertanya terlebih dahulu pada sang ayah.
"Ayah tidak mengerti, memangnya gadis mana yang dibawa pulang oleh kakakmu itu?." tanya Xiao Cunyu yang baru mendengar hal ini dari putrinya saja, kemarin saat Xiao Yan datang ke Klan Xiao dia hanya datang sendirian saja.
"Yan gege mengatakan bahwa ia bertemu gadis itu saat sedang berburu di hutan, saya tidak masalah jika memiliki kakak ipar yang tak memiliki keluarga namun sifat dan kelakuan gadis itu sangatlah buruk. Walaupun wajahnya begitu cantik jika kelakuannya seperti itu saya akan merasa jijik." ucap Xiao Ziya secara terbuka pada sang ayah, gadis itu bukan hanya mengkhawatirkan nasib kakak laki lakinya atau Kekaisaran Qiyu saja, namun Xiao Ziya tak bisa membiarkan rakyat kekaisaran yang sangat ia cintai akan menderita.
"Ayah percaya dengan penilaianmu putriku, lalu apa yang harus ayah lakukan?." tanya Xiao Cunyu yang ingin membantu putrinya itu.
"Jika Yan gege datang untuk meminta restu pada ayah untuk menikah dengan gadis itu saya harap ayah menolaknya karna saya akan meminta beberapa orang kepercayaan saya untuk mencari identitas gadis itu. Dan saat bertemu dengannya maka ayah akan merasa kasihan dengan kisah hidup yang ia ceritakan serta wajah polos yang ia perlihatkan, namun ayah hanya perlu menatap matanya saja agar ayah tau bahwa ada ambisi dan kebohongan yang sedang ia sembunyikan." ucap Xiao Ziya yang menjelaskan secara rinci mengenai penilaiannya terhadap Wi Xume.
Xiao Cunyu menyetujui permintaan dari putrinya itu, ia akan melihat sendiri apakah gadis bernama Wi Xume memang seburuk yang putrinya ceritakan ataukah tidak. Selain itu Xiao Cunyu sangat mengharapkan putra pertamanya menikah dengan gadis baik yang bisa membuat Xiao Yan menjadi kaisar yang hebat dan juga menyayangi rakyatkan karna dalam otoritas kekaisaran peran seorang ratu juga sangat penting.
"Kalau begitu saya kembali ke akademi terlebih dahulu ayah karna persiapan pesta penyambutan kepala akademi yang baru akan dilangsungkan esok pagi." ucap Xiao Ziya yang berpamitan pada ayahnya.
"Siapa Kepala Akademi yang baru?." ucap Xiao Cunyu yang belum mengetahui bahwa putra keduanya akan menjadi Kepala Akademi Kekaisaran Qiyu.
__ADS_1
"Xun gege." ucap Xiao Ziya kemudian melesat pergi dari halaman paviliun ayahnya, sedangkan Xiao Cunyu hanya menggelengkan kepalanya pelan semua anak anaknya sekarang memiliki jabatan yang tinggi.
Hai hai semua pembacaku tercinta author back lagi nih, jangan lupa paket lengkapnya ya guys wkwkwk. Follow buat yang belum, vote karna wajib, gift hadiah apapun, like like like, komen buat ninggalin jejak, rate, share, tips.