
Ayah dan ibu Zinren pergi dari jendela kamar Xiao Ziya mereka langsung bergegas kembali ke rumah, sedangkan pemimpin Akademi Wunyeng saat ini masih dikejar kejar oleh piton salju milik Xiao Ziya, ia tak mengira bahwa piton salju itu akan terus mengikutinya hingga sejauh ini.
"Bagaimana caraku menghindarinya." ucap Pemimpin Akademi Wunyeng yang sedang memikirkan sebuah cara untuk mengelabui piton salju itu.
Dengan cepat Pamimpin Akademi Wunyeng Melesat ksarah sebuah pohon yang sangat tinggi kemudian ia naik ke atas pohon itu, wilre kehilangan jejak orang yang telah menyerangnya ia mencari keberbagai sudut namun tak menemukannya akhirnya wilre memilih untuk kembali dan menjaga jendela kamar Xiao Ziya. Merasa situasi sudah aman pemimpin akademi langsung turun dari pohon itu dan kembali ke akademi.
Hari berjalan dengan begitu capat pagi akan segera tiba semua hewan pengikug setia milik Xiao Ziya telah kembali kedalam cincin semesta gadis itu, tak berselang lama Xiao Ziya membuka matanya dan langsung memposisikan dirinya dalam posisi duduk, setelah dirasa kantuknya telah hilang gadis itu berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya, setelah mengenakan sebuah gaun berwarna biru tua Xiao Ziyapun pergi dari kamar menuju ruang makan utama.
"Selamat pagi ayah, Zeeling gege, dan Anz gege." ucap Xiao Ziya yang menyapa ketiga pria itu, mereka bertiga sudah memulai sarapan terlebih dahulu tanpa menunggu Xiao Ziya karna mereka bertiga kira gadis itu akan bangun nanti siang karna sangat kelelahan.
"Pagi putri ayah yang cantik." ucap Raja Zeus yang menjawab sapaan dari putri angkatnya itu.
"Pagi adikku sayang." ucap Pangeran Zeeling dan Pangeran Anz secara bersamaan dengan sebuah senyuman manis.
Setelah itu Xiao Ziya duduk di sebuah kursi yang telah disediakan gadis itu mengambil beberapa roti san juga daging asap setelahnya Xiao Ziya memakan semua yang ia taruh di atas nampan. Raja Zeus dan kedua putranya selesai makan terlebih dahulu mereka bertiga berpamitan pada Xiao Ziya dan meminta maaf karna tak bisa menemani gadis itu hingga selesai makan karna banyak pekerjaan yang harus mereka lakukan. Xiao Ziya tak merasa keberatan karna ia bukan anak kecil lagi yang harus ditunggu dan diawasi saat menyantap makanan.
Setelah selesai sarapan Xiao Ziya langsung bergegas keluar dari Istana Kerajaan Hitam ia ingin pergi menuju Akademi Wunyeng dan menemui kepala akademi. Saat akan masuk dan melalui gerbang tiba tiba saja pemimpin akademi menghentikan langkah gadis itu.
"Tunggu sebentar nona Ziya, ada keperluan apa anda ingin masuk kedalam Akademi Wunyeng?." tanya Pemimpin Akademi Wunyeng pada gadis itu.
"Saya ada urusan dengan kepala akademi, permisi." ucap Xiao Ziya yang ingin pergi namun ia tetap ditahan oleh pemimpin akademi, sepertinya pria tua itu memang ingin menghalanginya masuk kedalam akademi.
"Anda harus menyelamatkan murid saya, karna semua ini adalah kesalahan anda." ucap pemimpin akademi yang memancing emosi Xiao Ziya saat dipagi hari, masalah itu sudah berlalu dan tentu saja itu bukan kesalahan Xiao Ziya.
"Apakah anda ingin mati sekarang? ditempat ini dan saat ini juga?." ucap Xiao Ziya dengan nada bicara dinginnya, gadis itu mengeluarkan sebuah pedang berwarna merah dari dalam cincin semestanya.
"Jika kau memang ingin mati sekarang juga maka saya akan kabulkan permintaan anda." ucap Xiao Ziya dengan seringai menyeramkannya. Pemimpin akademi mundur beberapa langkah karna gadis itu tampak tak sedang bermain main dengan apa yang ia katakan.
"Tidak bukan begitu maksut saya namun pertandingan tempo lalu adalah ajakan dari nona." ucap Pemimpin Akademi Wunyeng yang mencari sebuah alasan agar ia tak disalahkan.
"Saya tak ada waktu untuk meladeni orang gila." ucap Xiao Ziya yang menerobos masuk kedalam ia tak ingin meladeni kata kata pemimpin akademi yang sudah kehilangan kewarasannya itu.
Xiao Ziya menyusuri lorong lorong kelas hingga sampai ke depan ruang kerja kepala akademi, Xiao Ziya mengetuk pintu kamar kepala akademi hingga kepala akademi mempersilahkan gadis itu untuk masuk kedalam.
"Salam kepada kepala akademi." ucap Xiao Ziya yang memberikan salam pada kepala akademi tanpa membungkukkan badannya.
"Salam hormat saya kepada nona Xiao Ziya." balas kepala akademi yang langsung berdiri dan membungkukkan badannya di hadapan Xiao Ziya. Kemudian kepala akademi mempersilahkan gadis itu untuk duduk.
"Bagaimana apakah nona sudah mendapatkan semua bahan bahan obatnya?." ucap Kepala Akademi Wunyeng yang berharap Xiao Ziya berhasil menemukan bahan obat yang dapat menyelamatkan hidup putra kesayangannya.
"Saya sudah mendapatkan semua bahan bahannya mari kita pergi untuk menemui putra anda." ucap Xiao Ziya yang langsung berdiri dan berjalan menuju ruangan rahasia diikuti kepala akademi dibelakangnya.
Setelah masuk kedalam ruangan itu Xiao Ziya langsung menghampiri pemuda yang sedang tertidur di dalam peti mati, Xiao Ziya mengechek nadi pemuda itu dan berharap bahwa pemuda itu masih dapat diselamatkan.
"Bagaimana nona?." tanya Kepala Akademi Wunyeng yang cemas pada kondisi putranya itu.
"Dia masih bisa diselamatkan, mohon anda mundur beberapa langkah." ucap Xiao Ziya yang meminta pada kepala akademi agar mundur beberapa langkah.
Setelah kepala akademi mundur beberapa langkah Xiao Ziya duduk bersila di lantai ia langsung mengeluarkan semua bahan obat yang diperlukan untuk menyembuhkan pemuda itu, setelah itu Xiao Ziya menyalakan api hitam di telapak tangan sebelah kiri dan api putih di telapak tangan sebelah kanan setelah itu Xiao Ziya membakar semua bahan obat itu dengan kedua api miliknya. Semua bahan bahan obat itu mulai meleleh dan menjadi satu kemudian menggumpal menjadi beberapa bulatan bulatan kecil. Setelah cukup lama akhirnya sepuluh pil berwarna putih dengan garis merah dan emas, Xiao Ziya memasukkan sembilan pil yang lain kesebuah botol kemudian memasukkannya kedalam cincin semesta.
Xiao Ziya berjalan mendekati piti mati itu ia melihat kearah pemuda yang tergeletak lemas setelahnya Xiao Ziya memasukkan pil putih dengan garis merah dan emas kedalam mulut pemuda itu. Setelah meminumkan pil itu Xiao Ziya menatap Yunho dengan lekat setelah menunggu beberapa saat tubuh pemuda itu berubah menjadi hitam sepenuhnya.
"Apa yang terjadi pada putraku?." tanya Kepala Akademi yang cemas saat melihat kondisi putranya.
"Tenang saja ini adalah proses pengeluaran racun yang ada di dalam tubuh putramu, sebaiknya kau siapkan segelas air terlebih dahulu." ucap Xiao Ziya yang meminta kepada kepala akademi untuk mengambil air minum, setelah kepala akademi pergi Xiao Ziya menotok beberapa bagian akupuntur pemuda itu. Setelahnya Xiao Ziya merubah posisi Yunho yang tadinya tertidur menjadi duduk. Setelah beberapa saat Yunho memuntahkan seluruh racun yang mengendap di dalam tubuhnya selama bertahun tahun.
Akhirnya kesadaran Yunho pulih pemuda itu menatap keheranan ke arah Xiao Ziya, ia berfikir bahwa dirinya telah tiada dan saat ini gadis yang ada di hadapannya adalah seorang malaikat.
"Apakah aku sudah mati?." ucap Yunho yang masih merasa bingung karna setelah sekian lama tertidur ini adalah pertama kalinya ia melihat dunia lagi.
Karna gemas dengan pertanyaan pemuda itu akhirnya Xiao Ziya mencubit pipi Yunho hingga pemuda itu meringis kesakitan, Yunho pun tersadar bahwa ia sudah sadar dari komanya.
"Jadi siapa kau?." ucap Yunho yang bertanya siapa gadis yang ada di hadapannya itu lalu dimana ayahnya mengapa sang ayah tak ada di sana.
"Saya yang telah menyelamatkanmu." ucap Xiao Ziya dengan singkat dan jelas.
__ADS_1
Tak berselang lama kepala akademi masuk dan melihat putranya sedang berbincang bincang dengan dengan Xiao Ziya, dengan perasaan senang dan haru kepala akademi berjalan mendekat ke arah Yunho, meletakkan gelas berisi air itu disebuah meja yang ada di dekat peti mati itu setelahnya kepala akademi langsung memeluk putranya dengan erat.
"Akhirnya kau bangun juga putraku, ayah sangat cemas jika kau tak bisa diselamatkan lagi." ucap kepala akademi yang memeluk Yunho dengan air mata yang berlinang di pipinya.
"Iya akhirnya aku bisa melihat ayah lagi, namun siapa gadis itu?." tanya Yunho yang menunjuk ke arah Xiao Ziya sepertinya ia tak percaya dengan apa yang dikatakan Xiao Ziya kepadanya tadi.
"Dia adalah orang yang telah menyelamatkanmu putraku, setelah ratusan tabib yang gagal akhirnya nona Xiao Ziya berhsil menghilangkan racun yang ada di dalam tubuhmu." ucap Kepala Akademi Wunyen yang merasa bersyukur karna ia dipertemukan dengan Xiao Ziya sehingga gadis itu dapat menyembuhkan putranya, sesuai dengan janjinya sedari awal jika Xiao Ziya berhasil menyembuhkan putranya maka ia akan memberikan semua yang diminta oleh gadis itu.
"Trimakasih karna anda telah menyelamatkan nyawa saya." ucap Yunho yang bangun dari peti mati itu dan berjalan keluar dari dalam sana. Yunho berjalan mendekat ke arah Xiao Ziya kemudian membungkukkan badannya sebagai tanda ucapan trimakasih.
"Sama sama, lain kali jangan menyinggung putra dewa lagi." ucap Xiao Ziya yang memberi peringatan pada Yunho, karna yang memberikan racun teratai dewa pada pemuda itu adalah salah seorang putra dewa.
"Baik saya tak akan mengulang kesalahan saya lagi." ucap Yunho yang tak akan melalukan kesalahan yang sama seperti di hari lalu.
"Jadi apa ada sesuatu yang ingin nona minta sebagai ganti anda telah menyembuhkan putra saya?." tanya kepala akademi yang ingin membalas kebaikan Xiao Ziya yang telah menyembuhkan putranya itu.
"Sebaiknya Yunho pergi membersihkan dirinya terlebih dahulu, saya akan memikirkan apa yang saya inginkan." ucap Xiao Ziya yang belum menginginkan apapun sebagai balasan ia telah menyembuhkan putra kepala akademi.
Kepala akademi mengajak Xiao Ziya dan Yunho untuk pergi ke kediamannya yang masih berada di Wilayah Akademi Wunyeng, mereka berjalan melewati jalan rahasia agar tak ada yang melihat Yunho dengan keheranan dan penuh tanda tanya. Setelah beberapa saat akhirnya mereka bertiga sampai di kediaman kepala akademi, Yunho langsung masuk kedalam bersama kepala akademi sedangkan Xiao Ziya ingin menunggu mereka di halaman depan kediaman kepala akademi yang dipenuhi oleh pohon mangga, apel, delima. Xiao Ziya menatap kesekeliling ada banyak sekali mangga setengah matang yang masih bergelantungan di dahannya.
"Apa sebaiknya saya meminta mangga mangga ini." ucap Xiao Ziya yang merasa tertarik dengan buah mangga yang ada di halaman depan kediaman kepala akademi.
Karena menunggu cukup lama tanpa sadar Xiao Ziya tertidur saat ia sedang duduk bersandar di salah satu pohon mangga yang ada di sana. Saat keluar kepala akademi dan Yunho kebingungan mencari keberadaan Xiao Ziya yang tiba tiba saja menghilang, setelah mencari kesana kemari Yunho menemukan Xiao Ziya yang sedang tertidur sambil terduduk di sebuah pohon mangga.
"Ayah, nona Ziya ada sini." ucap Yunho yang memanggil sang ayah saat ia menemukan Xiao Ziya sedang tertidur di salah satu pohon mangga.
Kepala Akademi Wunyeng langsung menghampiri putranya, ia melihat Xiao Ziya yang sedang tertidur dengan lelap sepertinya gadis itu terlalu lama menunggu kedatangannya dan juga putranya.
"Apakah kita perlu membangunkannya atau tidak ayah?." ucap Yunho yang bertanya pada sang ayah apakah mereka perlu membangunkan Xiao Ziya yang sedang tertidur lelap itu ataukah tidak.
"Sebaiknya kita biarkan saja nona tidur sepertinya ia kelelahan." ucap Kepala Akademi Wunyeng yang menyarankan agar membiarkan Xiao Ziya tidur.
"Tapi nona Ziya tidur dalam posisi yang tak nyaman." ucap Yunho yang kasian melihat Xiao Ziya tertidur dan bersandar pada sebuah pohon mangga.
"Apa yang sedang kalian berdua ributkan?." ucap Xiao Ziya yang merasa keheranan dengan tingkah kepala akademi berserta putranya itu.
"Ah ternyata nona sudah bangun, maaf karna mengganggu waktu istirahat nona." ucap kepala akademi yang merasa tak enak karna ia dan putranya terlalu berisik sehingga menggangu waktu istirahat Xiao Ziya.
"Tidak apa apa saya sudah tertidur cukup lama." ucap Xiao Ziya yang tak mempermasalahkan hal itu.
"Jadi apakah ada sesuatu yang ingin nona minta sebagai imbalan?." tanya kepala akademi yang tak ingin membiarkan Xiao Ziya pulang dengan tangan kosong setelah gadis itu berhasil menyembuhkan putranya.
Xiao Ziya mengatakan bahwa ia menginginkan dua hal, mendengar hal itu membuat kepala akademi merasa sedikit cemas bagaimana jika gadis itu meminta posisinya sebagai kepala akademi diserahkan pada Xiao Ziya dan meminta kediamannya yang ada di dalam wilayah Akademi Wunyeng. Bukannya kepala akademi tak ingin menepati janjinya namun kediamannya itu menyimpan banyak kenangan antara ia dan istrinya yang telah tiada.
"Memangnya apa dua hal yang nona Ziya inginkan?." tanya kepala akademi dengan detak jantung yang berdegup kencang ia harus bisa terima apapun permintaan Xiao Ziya.
"Saya ingin semua buah mangga yang ada di sini, dan juga anda harus mentraktir saya saat makan siang nanti." ucap Xiao Ziya dengan sebuah senyuman jahil, ia tau bahwa sedari tadi kepala akademi menunggu keputusannya dengan perasaan cemas. Xiao Ziya tak menginginkan posisi sebagai Kepala Akademi Wunyeng karna gadis itu tak ingin terikat disuatu tempat dalam jangka waktu yang lama selain rumahnya sendiri.
"Jadi itu permintaan nona?." ucap Kepala Akademi yang tak habis fikir dengan permintaan gadis itu.
"Iya saya menginginkan buah buah mangga ini memangnya apa yang anda fikirkan?." tanya Xiao Ziya pada kepala akademi yang terlihat malu karna telah memikirkan sesuatu yang berlebihan.
"Apakah ayah tak ada pekerjaan sehingga dapat menemani kami dalam jangka waktu lama?." tanya Yunho pada sang ayah, kepal akademi baru ingat bahwa ada beberapa dokumen yang harus ia selesaikan hari ini juga karna nanti sore kepala keuangan akan meminta dokumen itu untuk direkap ulang. Akhirnya kepala akademi pamit pada Xiao Ziya dan juga putrnaya, ia melesat dengan kecepatan tinggi menuju ruang kerjanya.
"Baiklah kau duduklah di sini, saya akan memetik semua mangga kemudian menyimpannya." ucap Xiao Ziya yang meminta pada Yunho untuk duduk diam di sebuah bangku yang ada di halaman kediaman kepala akademi sedangkan Xiao Ziya mulai bersiap untuk memetik mangga mangga itu.
Xiao Ziya mengambil beberapa karung dari dalam cincin semestanya ia meletakkan karung karung itu di tanah, setelahnya Xiao Ziya melompat kesebuah pohon dengan cepat dan memetik setiap mangga yang ada di sana setelah tangannya penuh Xiao Ziya turun kebawah dan memasukkan mangga mangga itu kedalam karung. Xiao Ziya melakukannya dengan cepat sehingga tak diperlukan waktu lama untuk memetik semua mangga yang ada di halaman depan kediaman kepala akademi. Yunho yang melihat bagaimana gadis itu memetik mangga merasa pusing karna gerakan Xiao Ziya yang sangat cepat dan sulit ditangkap dengan mata telanjang.
"Gadis itu memang benar benar berbeda, ayah sudah menceritakan bahwa nona Ziya harus bersusah payah pergi ke dunia dewa untuk mencari beberapa bahan obat, namun imbalan yang ia minta hanyalah buah mangga dan juga mentraktirnya saat makan siang. Jika orang lain yang melakukannya mungkin mereka akan meminta jabatan ayah." ucap Yunho yang tersenyum mengingat betapa lucunya permintaan gadis itu.
Xiao Ziya telah selesai memetik mangga ada dua puluh karung mangga yang telah ia petik, setelahnya Xiao Ziya memasukkan dua puluh karung mangga itu kedalam cincin semesta miliknya. Xiao Ziya mendekat ke arah Yunho.
"Karna kau sudah lama tertidur mari ikut saya berjalan jalan di sekitar Akademi Wunyeng." ucap Xiao Ziya yang dengan antusias mengajak Yunho untuk berkeliling. Dengan senang hati Yunho menerima ajakan Xiao Ziya mereka keluar dari kediaman Kepala Akademi Yunho menggunakan jalan biasa. Saat menyusuri lorong lorong kelas murid luar senior banyak murid luar senior yang sedang berada di luar kelas mereka.
"Salam pada nona Xiao Ziya." ucap Al Zunling salah satu murid luar senior yang menyapa Xiao Ziya.
__ADS_1
"Salam pada nona muda Ziya." ucap Winzoru yang juga menyapa Xiao Ziya.
"Saya trima salam kalian, apakah hari ini sedang tak ada pelajaran?." ucap Xiao Ziya yang melihat seluruh murid sedang berada di luar kelas mereka masing masing.
"Para guru sedang mengadakan rapat." ucap Al Zunling yang menjelaskan bahwa para guru sedang rapat sehingga mereka tak ada pelajaran hingga pulang dari akademi nanti.
"Ah ternyata begitu bagaimana jika kalian ikut saya belanja ke pasar, ada banyak bahan bahan yang ingin saya beli." ucap Xiao Ziya yang mengajak Al Zunling dan Winzoru untuk ikut bersamanya kepasar. Yunho yang melihat interaksi antara Xiao Ziya dan para murid itu hanya terdiam karna ia tak mengenal mereka semua.
"Siapa pemuda yang ada di sampingmu?." tanya Winzoru yang tak pernah meihat Yunho sebelumnya.
"Ah dia adalah putra kepala akademi." ucap Xiao Ziya yang memperkenalkan Yunho pada kedua murid luar senior itu. Al Zunling dan Winzoru saling bertatapan satu sama lain, mengapa mereka baru mengetahui jika kepala akademi memiliki seorang putra yang tampan seperti pemuda itu.
"Ceritanya panjang jika kalian ingin tau kalian bisa bertanya pada kepala akademi." ucap Xiao Ziya yang tak ingin menceritakan apa yang terjadi pada Yunho karna mungkin saja kepala akademi merahasiakan hal itu dari orang banyak.
"Baiklah jika begitu kami akan bertanya pada kepala akademi nanti." ucap Al Zunling yang tak ingin terlalu banyak bertanya pada Xiao Ziya mengenai pemuda bernama Yunho itu.
Akhirnya mereka berlima keluar dari Akademi Wunyeng dan berjalan menuju pasar terdekat, setelah sampai di pasar Xiao Ziya langsung membeli alat alat dan bahan bahan yang ia butuhkan untuk membuat sesuatu.
"Selamat pagi nona apakah ada yang ingin anda beli?." salah seorang pedagang yang dihampiri oleh Xiao Ziya.
"Saya ingin membeli lima kilo gram cabai kering, satu kilo gram gula, dan garam dua bungkus, sepuluh biji buah nanas, dua kilo buah mentimun, satu kilo apel sudah itu saja yang ingin saya beli bibi." ucap Xiao Ziya ada pedagang itu. Dengan segera sang pedagang mempersiapkan semua bahan bahan yang ingin dibei oleh Xiao Ziya.
"untuk apa nona membeli itu semua?." tanya Al Zunling yang penasaran dengan apa yang akan Xiao Ziya buat.
"Kalian semua akan tau nanti." ucap Xiao Ziya dengan sebuah senyuman, gadis itu sedang malas menjelaskan.
"Ini semua bahan bahan yang nona pesan totalnya enam keping koin emas dan sepuluh keping koin tembaga." ucap penjual itu yang telah menghitung berapa yang harus dibayar oleh nona muda yang ada di hadapannya. Xiao Ziya membayar dengan delapan keping emas gadis itu mengatakan bahwa kembaliannya untuk penjual itu saja.
Ketiga pemuda yang Xiao Ziya bawa membantu gadis itu membawa barang belanjaanya, setelah itu Xiao Ziya mampir kesebuah toko yang menjual berbagai alat alat dapur. Xiao Ziya membeli banyak barang di sana setelah itu ia mengajak ketiga pemuda itu untuk kembali ke akademi. Xiao Ziya berjalan menuju ruang kelas para murid inti, melihat Xiao Ziya yang datang membuat mereka merasa senang.
"Ada apa nona Xiao Ziya datang kemari?." tanya Xiao Sunjin yang keheranan melihat ketiga pemuda yang ada di belakang Xiao Ziya, mereka sedang membawa banyak barang belanjaan.
"Mari ikut kami ke lapangan utama di dekat pohon rindang, jangan lupa panggil para murid luar senior juga." ucap Xiao Ziya yang memberitaukan pada para murid inti untuk pergi ke lapangan utama sebelum itu mereka harus memanggil para murid luar senior terlebih dahulu.
Xiao Ziya, Yunho, Al Zunling, dan Winzoru sudah sampai di lapangan utama mereka mencari tempat yang rindang dan dekat dengan pepohonan. Xiao Ziya meminta pada ketiga pemuda itu untuk meletakkan barang belanjaanya di sana.
"Baiklah kalian bisa beristirahat trimakasih karna telah membantu saya." ucap Xiao Ziya yang meminta ketiga pemuda itu untuk beristirahat.
Xiao Ziya menggelar beberapa permadani gadis itu menata piring dengan rapi di atas permadani itu. Xiao Ziya juga mengeluarkan beberapa wadah besar yang terbuat dari tanah liat. Tak berelang lama para murid inti dan murid luar jenius datang ke lapangan utama dan menghampiri Xiao Ziya.
"Ada apa nona memanggil kami semua kesini?." tanya Yue Agze yang ingin tau maksut gadis itu memanggil mereka semua.
"Jangan banyak bertanya ini waktunya kita bekerja, kupas semua buah buahan ini kita akan membuat sesuatu." ucap Xiao Ziya yang langsung mengeluarkan dua karung mangga yang ia petik dari halaman kediaman kepala akademi.
Para murid inti dan murid luar senior mengikuti perintah Xiao Ziya, mereka mengupas buah buahan yang sangat banyak untung saja Xiao Ziya membeli banyak pisau. Xiao Ziya mengambil sebuah kuali besar dan meletakkannya di atas tungku api, Xiao Ziya menghidupkannya menggunakan api merah yang ada di telapak tangannya.
Xiao Ziya memasukkan bubuk cabai dan gula yang ia beli setelah itu Xiao Ziya menambahkan garam dan juga air secukupnya, Xiao Ziya juga menambahkan gula merah yang ia simpan di dalam cincin semestanya. Gadis itu mengaduk semuanya hingga mengental, para murid inti dan murid luar senior telah selesai mengupas dan memotong semua buah sesuai dengan intruksi Xiao Ziya.
"Baikah kalian bisa duduk di permadani itu saya akan menyiapkannya." ucap Xiao Ziya yang terlihat begitu senang.
Xiao Ziya mengambil benerapa wadah dengan ukuran sedang ia mencampurkan buah buahan yang telah dipotong tadi kemudian memasukkannya kedalam wadah itu setelahnya Xiao Ziya menaruh saus pedas manis yang ia buat lalu mengaduknya hingga rata. Total ada sekitar lima ratus wadah sedang yang berisi buah buahan dengan saus pedas manis. Xiao Ziya meletakkan wadah berisi rujak buah itu di permadani.
"Apa yang nona buat itu?." tanya Al Denzi yang sedang keheranan melihat buah buahan yang disiram dengan saus cabai apakah rasanya akan enak?.
"Ini adalah rujak buah kalian makan saja agar tau bagaimana rasanya." ucap Xiao Ziya yang mengambil sebua piring dan sendok kemudian ia mengambil rujak yang ada di dalam mangkuk berukuran sedang itu, melihat Xiao Ziya yang menyantap makanan aneh itu dengan lahap membuat para murid inti dan murid luar senior juga mencobanya.
"Wah ini sangat luar biasa perpaduan asam, manis, dan pedas." ucap Xiao Sunjin yang baru saja merasakan makanan yang istimewa seperti ini.
"Jika nona menjualnya pasti banyak yang akan membeli." ucap Al Zunling yang tak berhenti mengunyak rujak buah yang dibuat oleh Xiao Ziya.
"Ini adalah cara baru dalam menikmati buah segar." ucap Yue Agze yang terpukau dengan rasa buah buahan yang ada di dalam mulutnya.
Semua menyantap rujak buatan Xiao Ziya dengan sangat lahap, karna rujak yang dibuat Xiao Ziya sangat banyak ia membagikannya pada murid lain yang tak ikut ke lapangan utama serta pada para guru Akademi Wunyeng, gadis itu tak lupa menyisihkan untuk anggota Kerajaan Hitam.
Hai hai semua gimana kabar kalian semoga baik baik aja ya, jangan lupa ya buat follow, gift hadiah apapun ya, vote itu wajib loh pembacaku tersayang, like like like, komen buat ninggalin jejak, rate bintang lima, share juga ya.
__ADS_1