
Dewa Phoenix Emas sedang memancing amarah keempat dewa yang dipanggil oleh Xiao Ziya, dari mana datangnya nyali dewa tingkat rendah seperti dirinya yang dengan lantang menyebut sang Dewi Agung sebagai gadis manusia. Jika bukan karna Xiao Ziya yang menahan keempat dewa itu agar tak melampiaskan amarah mereka mungkin Dewa Phoenix Emas dan para elf sudah berubah menjadi abu.
"Sekali lagi kau menghina nona Ziya maka akan ku buat hidupmu menderita." ucap Dewa Hiloz, sebagai dewa api tertinggi yang ada di alam dewa tentu ia tak bisa menerima penghinaan pada putri angkatnya itu.
"Mengapa kalian sangat melindungi gadis itu? kami juga pernah melakukan pemanggilan dengan ritual yang lebih layak namun mengapa kalian tak datang." ucap sang kakek tua pemimpin kelompok elf yang ada di sana. Mungkin ia tak terima setelah sekian banyak yang dikorbankan oleh bangsa elf hanya satu dewa tingkat rendah yang datang dan bersedia melindungi bangsa mereka, namun hanya dengan satu teriakan saja gadis manusia yang ada di depannya bisa memanggil tiga dewa tinggi.
"Kalian tak layak." jawab Dewa Bixu dengan singkat padat dan jelas.
"Jika kami tak layak mengapa gadis ini sangat layak untuk mendatangkan Kelian?." ucap kakek tua itu, fikirannya sangat kacau saat mengingat kejadian buruk yang menimpa bangsa elf. Jika ada seorang dewa tingkat tinggi yang mau menjadi pelindung bangsa elf maka kejadian seperti ini tak akan pernah terjadi.
"Kami tak akan mengabaikan panggilan dari nona Ziya." jawab keempat dewa itu secara bersamaan.
"Apa bagusnya gadis manusia ini? lebih baik kalian menjadi pelindung bangsa elf sama sepertiku." ucap Dewa Phoenix Emas, ia sedang membujuk keempat dewa agar membantunya melawan penyihir jahat.
"Pembangkang sepertimu tak perlu memberi nasehat pada kami." ucap Dewa Yengmu, ia mengepalkan tangan kirinya kemudian memukul Dewa Phoenix Emas dengan sangat kuat hingga Dewa Phoenix Emas jatuh tersungkur dan memuntahkan darah segar.
Para elf berlari ke arah Dewa Phoenix Emas untuk melihat bagaimana kondisi pelindung mereka itu, luka dalam yang dialami oleh Dewa Phoenix Emas cukup serius karna selisih kekuatannya dengan Dewa Yengmu sangatlah jauh. Para elf tak mengerti apa yang keempat dewa itu lihat dari seorang gadis biasa itu, hingga mereka mati matian membela dan melindunginya.
"Kalian sudah sangat keterlaluan pada dewa kami." triak para elf yang tak bisa menahan amarah lagi, meski yang akan mereka lawan adalah dewa tingkat tinggi. Tak masuk akal jika keempat dewa itu memusuhi rekan mereka sendiri yaitu sang Dewa Phoenix Emas.
"Beri kami perintah kami akan membunuhnya untuk anda." ucap keempat dewa itu, mereka sedang menunggu keputusan akhir dari Xiao Ziya.
"Sangat di sayangkan kalian bangsa elf sangat keras kepala, saya sudah berjanji pada saudara saya untuk kembali lebih awal namun kalian membuat saya tak bisa menepati janji." ucap Xiao Ziya dengan nada dan tatapan mata dinginnya. Ia sudah muak berdiskusi dengan para elf yang tak mengerti bahasa manusia dengan baik.
"Kami tak peduli dengan perkataan mu itu!." triak sang gadis elf yang masih terikat sulur hitam milik Xiao Ziya, gadis elf itu sangat memuakkan dan membuat Xiao Ziya semakin kesal saja.
"Hancurkan." ucap Xiao Ziya yang memberi perintah pada sulur hitam miliknya untuk menghancurkan tubuh gadis elf itu.
Seketika sulur sulur hitam itu mengencang secara maksimal hingga tubuh sang gadis elf meledak karna tak mampu menahan lilitan yang sangat kuat. Ayah dari gadis elf itu berteriak dan menangis dengan histeris, ia gagal melindungi putri kesayangannya.
"Dasar gadis jahat yang tak tau diri, bukankah saya sudah memintamu untuk melepaskan putriku!!." triak pria itu dengan keras, ia tak menerima kematian putrinya begitu saja.
"Seorang ayah yang gagal mendidik putrinya tak pantas meneriaki saya." ucap Xiao Ziya dengan kata kata yang sangat menyakitkan bagi pria itu.
"Dia masih sangat muda, hal itu sangatlah wajar." ucap pria elf itu, entah apa lagi yang akan menjadi kewajaran jika putrinya masih hidup.
"Menjijikkan." ucap Xiao Ziya, ia menatap pria elf itu dengan mata merah menyalanya. Seketika sang pria elf tak bisa bernafas dan mati di tempat dengan tubuh yang membiru akibat tak mendapat oksigen.
Dewa Phoenix Emas menyaksikan kematian kedua pengikut setianya ditangan gadis manusia, ia sangat marah dan ingin membunuh gadis itu namun keempat dewa masih ada di sana.
"Bangsa elf sangat menyedihkan." ucap Xiao Ziya, ia menatap para elf itu dengan tatapan membunuh. Kesabarannya tak layak ia berikan pada mereka yang tak ingin mendengar perkataanya.
"Tadinya saya ingin menitipkan bangsa elf yang tersisa ke dunia para peri namun kalian tak layak menerima kebaikan hati saya." ucap Xiao Ziya, kini keputusan akhirnya sudah berubah drastis akibat sikap para elf yang sangat menyebalkan dan tak tau terimakasih itu.
"Cih, memangnya siapa kau hingga mengenal raja dari alam peri." ucap beberapa elf yang meludah di depan Xiao Ziya dan ludah mereka mengenai sepatu yang digunakan oleh gadis itu.
"Diamlah kalian hanya bangsa elf yang tak tau malu." teriak Dewa Bixu.
"Dewi Agung kami tentu memiliki teman teman yang hebat." ucap Dewa Hiloz penuh dengan semangat, ia yakin posisi Dewi Agung memang pantas untuk Xiao Ziya.
Mendengar kata Dewi Agung membuat para elf dan Dewa Phoenix Emas diam membisu, mengapa seorang gadis dari ras manusia biasa bisa naik ke alam dewa dewie dan menjadi seorang Dewi Agung? sungguh hal yang tak bisa difikirkan dengan logika. Pantas saja keempat dewa tingkat tinggi itu sangat menghargai gadis yang mereka hina habis habisan, lalu apa yang bisa mereka lakukan sekarang untuk mendapat pengampunan dari sang Dewi Agung.
"Mohon ampun atas kebodohan kami semua." ucap Dewa Phoenix Emas, ia bersujud di hadapan Xiao Ziya.
"Mohon ampun atas kebodohan dan kejahatan yang telah kami buat." ucap para elf yang ikut bersujud di hadapan Xiao Ziya.
__ADS_1
"Berdirilah saya sudah tak membutuhkan permintaan maaf kalian." ucap Xiao Ziya dengan sangat jelas, arti dari perkataan gadis itu adalah ia tak akan memaafkan apa yang telah dilakukan oleh para elf maupun Dewa Phoenix Emas.
Merekapun berdiri dan menatap Xiao Ziya dengan tatapan kesedihan, bagaimana mungkin usaha mereka melarikan diri dari dunia para elf menjadi sia sia seperti ini. Mungkin mereka bisa kabur dari si penyihir jahat akan tetapi bagaimana cara mereka kabur dari sang Dewi Agung? ini bukanlah hal yang mudah.
"Kalian telah menyia-nyiakan kebaikan yang telah saya berikan." ucap Xiao Ziya dengan raut wajah kecewa. Ia hanya ingin pulang ke rumah sekarang dan menikmati makanan yang telah dibelikan keempat saudaranya.
"Penjarakan Dewa Phoenix Emas selama dua ratus tahun, kembalikan bangsa elf ke dunia mereka beri larangan pada seluruh lapisan dunia untuk menerima mereka. Katakan saja bahwa ini perintah langsung dari sang Dewi Agung karna kesombongan bangsa elf yang tak bisa dimaafkan. Biarkan mereka hidup dalam ketakutan karna penyihir jahat bisa datang kapanpun untuk membunuh dan menjadikan para elf sebagai bahan percobaan, selain itu cabut semua berkah yang pernah diberikan para Dewa dan Dewi untuk bangsa elf." ucap Xiao Ziya, ia memberikan hukuman yang setimpal untuk Dewa Phoenix Emas dan bangsa elf.
"Lebih baik anda bunuh kami saja Dewi Agung." ucap sang kakek tua, ia tak siap kembali ke dunia elf dan menghadapi penyihir jahat tanpa bantuan sang dewa.
"Seharusnya anda memahami situasi ini sejak awal tuan." jawab Xiao Ziya yang tak akan merubah keputusannya lagi.
"Tolong kirim kami ke dunia para peri agar kami bisa hidup dengan tenang." ucap beberapa elf yang sedang memohon belas kasih dari Xiao Ziya.
"Kalian tak pantas hidup dengan tenang. Segera lakukan perintah saya dan terimakasih telah datang, mungkin beberapa hari lagi saya akan datang ke alam dewa dan dewi untuk membahas hal penting." ucap Xiao Ziya dengan senyuman cantiknya.
"Kami akan menjalankan perintah anda, kami akan menunggu kedatangan anda Dewi Agung." ucap keempat dewa itu, mereka membungkukkan badan sebagai tanda hormat lalu pergi membawa Dewa Phoenix Emas dan para elf dari sana.
"Hah akhirnya saya bisa pulang dengan tenang." ucap Xiao Ziya yang langsung keluar dari bangunan tua itu, sebelum pergi dari sana gadis itu memasang mantra pelindung agar tak ada makhluk asing yang menempati bangunan tua itu. Karna masalah haru ini sudah selesai, Xiao Ziya langsung melesat menuju rumahnya yang berada di pinggir kota.
Xiao Yuna, dan Xiao Xinzo sedang menunggu adik sepupu mereka pulang, Xiao Bin dan Xiao Feng sudah tidak tertidur pulas di kamar mereka karna sangat lelah. Xiao Yuna khawatir jika para elf merencanakan hal buruk pada adik sepupunya, menurut apa yang pernah ia baca di sebuah buku, bangsa elf merasa bahwa bangsa mereka jauh lebih kuat daripada ras manusia karna itulah para elf memandang rendah manusia meski mereka telah menjadi kultivator yang hebat. Selain itu bangsa elf juga ahli dalam mengambil hati orang lain menggunakan kecantikan dan ketampanan yang mereka miliki, hal itu juga digunakan untuk menipu bangsa lain. Bangsa elf memiliki kemampuan sihir yang cukup mumpuni karna mereka terlahir untuk manjadi seorang penyihir, dan beberapa elf terjerumus dalam sihir hitam hingga menjadi penyihir jahat.
"Tenanglah, adik Ziya akan segera pulang." ucap Xiao Xinzo yang sedang menenangkan Xiao Yuna.
"Aku tak bisa berhenti khawatir padanya meski ia jauh lebih kuat dariku." ucap Xiao Yuna, ia tak akan bisa tenang sebum Xiao Ziya sampai ke rumah.
Tak berselang lama setelah itu terdengar suara pintu depan yang di buka oleh seseorang, Xiao Yuna dan Xiao Xinzo langsung berlari menuju ruang depan untuk melihat siapa yang datang.
"Hah ternyata kau." ucap Xiao Yuna dengan nada malas, yang datang bukanlah Xiao Ziya melainkan Hanz yang baru saja kembali dari tokonya.
"Kami sedang menunggu adik Ziya pulang." jawab Xiao Xinzo, ia tau Xiao Yuna tak akan menjawab pertanyaan pemuda itu.
"Ah kalian sendang menunggu nona muda pulang, dia ada di belakang saya." ucap Hanz yang langsung mengambil langkah ke samping agar Xiao Ziya yang sedang bersembunyi di belakangnya itu kelihatan.
"Hehehe ketauan." ucap Xiao Ziya tanpa rasa bersalah, gadis itu hanya menunjukkan cengiran khasnya kemudian lari ke dalam rumah untuk menyelamatkan diri.
"Hey adik Ziya awas saja kau ya!." teriak Xiao Yuna yang langsung mengejar adik sepupunya itu, ia kesal karna dikerjai oleh sang adik padahal saat itu Xiao Yuna benar benar khawatir.
"Maafkan saya Yuna jiejie, punggung Hanz Gege sangat lebar jadi saya bisa bersembunyi di belakangnya." ucap Xiao Ziya yang sedang kejar kejaran dengan Xiao Yuna. Mereka mengitari ruang makan yang sudah dipenuhi oleh pesanan Xiao Ziya.
"Kalian berhenti berlarian seperti itu." ucap Xiao Xinzo yang berusaha melerai pertengkaran kedua gadis itu. Hanz hanya tersenyum melihat tingkah nona mudanya yang terlihat seperti anak kecil.
"Aku lupa jika saudariku ini belum makan dari pagi tadi." ucap Xiao Yuna yang berhenti mengejar adik sepupunya. Xiao Yuna meminta pada Ziya untuk duduk dengan tenang di kursi yang telah di sediakan.
"Kalian membeli semua ini untuk saya? bagaimana saya bisa menghabiskannya?." ucap Xiao Ziya dengan akting yang sangat bagus, sebenarnya gadis itu bisa menghabiskan semua namun ia akan terlihat serakah nanti.
"Sudahlah tak perlu berpura pura di hadapan kami. Kami semua tau kau punya selera makan yang besar." ucap Xiao Xinzo, ia dengan sengaja meledek adik sepupunya itu.
Dua porsi sup iga sapi, satu porsi ikan bakar, satu porsi mie daging, dan dua gelas minuman dingin. Makan makanan itu muat jika masuk kedalam perut Xiao Ziya yang kecil itu, entah mengapa perutnya tak pernah membuncit walau makan dalam porsi kuli.
"Makanlah kami menyiapkannya hanya untukmu saja." ucap Xiao Yuna penuh dengan paksaan, jangan sampai adik nya itu pingsan akibat kelaparan dan kehausan.
"Baiklah jika kalian memaksa saya akan menghabiskannya." ucap Xiao Ziya yang langsung menyantap makanan yang sudah ada di meja makan. Kedua saudaranya dan juga Hanz melihat bagaimana gadis itu makan dengan lahap.
Setengah jam berlalu dengan cepat dan Xiao Ziya menghabiskan semua makanan yang disediakan oleh keempat saudaranya, gadis itu mengelus perutnya pelan pertanda bahwa ia sudah kenyang. Hanz, Xiao Xinzo, dan Xiao Yuna tertawa melihat tingkah Ziya yang sangat menggemaskan itu, setelah selesai makan Xiao Ziya pamit untuk masuk ke dalam kamar karna dia mengantuk.
__ADS_1
"Selamat malam adik Ziya mimpi indah." ucap Xiao Xinzo dengan senyum tampannya.
"Jangan lupa memejamkan mata saat kau ingin tidur." ucap Xiao Yuna yang sedang bercanda pada adik sepupunya.
"Saya tak tidur dalam kondisi mata yang terbuka." ucap Xiao Ziya dengan tawa renyah, gadis itu langsung pergi ke lantai dua dan masuk kedalam kamar yang ada di sana.
Sebelum tidur Xiao Ziya menyempatkan diri untuk menyerap energi qi yang ada di sekitar, ia perlu memulihkan energi qi yang sudah ia gunakan saat melawan para elf tadi. Saat Xiao Ziya sedang fokus untuk memulihkan Qi, ia merasa ada seseorang yang ingin melakukan telepati dengannya akhirnya Xiao Ziya membuka jalur telepati nya.
"Maaf telah mengganggu waktu anda nona Ziya." ucap Aron melalui telepati.
"Apa ada hal penting yang sedang terjadi?." tanya Xiao, tak biasanya Aron menghubungi lewat telepati, pasti ada hal penting yang terjadi di dunia bawah.
"Maaf karna saya gagal menjaga adik laki laki anda." ucap Aron dengan nada gemetaran sepertinya ia sedang menahan tangis.
"Apa yang terjadi pada Zoe katakan!." ucap Xiao Ziya, jantungnya berdetak dengan sangat cepat ia tak bisa berfikir jernih jika sesuatu terjadi pada Zoe walau anak laki laki itu bukan adik kandungnya.
Aron menceritakan apa yang terjadi kemarin di wilayah Kekaisaran Qiyu tiba tiba muncul orang orang dengan jubah putih lengkap dengan topeng aneh yang mereka kenakan. Orang orang bertopeng itu membuat kekacauan di wilayah Kekaisaran Qiyu dalam waktu yang sangat singkat para prajurit khusus milik Xiao Ziya berusaha melawan mereka namu ada hal aneh dari orang orang itu, mereka semua memiliki regenerasi tubuh yang sangat tak masuk akal.
"Hal tak masuk akal? seperti apa?." tanya Xiao Ziya yang ingin mencari tau siapa orang orang yang saudah menculik Zoe.
Aron menjelaskan walau kepala mereka terlepas dari tubuh kepala itu bisa menyatu lagi dalam hitungan detik, para pasukan khusus milik Xiao Ziya sudah berusaha semaksimal mungkin namun jarak kekuatan antara mereka sangatlah jauh hingga para prajurit khusus memilih untuk mundur dan menyusun rencana penyerangan kedua. Sebelum penyerangan kedua berhasil di lakukan orang orang bertopeng itu pergi Ke Klan Xiao dan menghancurkan beberapa paviliun milik ketua, mereka langsung pergi ke paviliun milik Xiao Cunyu. Aron berusaha keras menghalangi mereka bersama naga hijau miliknya, mereka memiliki sihir aneh yang dapat menahan kekuatan sang naga hijau jadi tinggal Aron dan Xiao Cunyu yang bertarung. Entah bagaimana bisa ia kecolongan saat itu dan salah satu dari mereka masuk ke dalam paviliun untuk menculik Xiao Zoe.
"Setelah adik laki laki saya di culik mereka pergi?." tanya Xiao Ziya dengan amarah menggebu gebu.
"Benar mereka langsung pergi nona." jawab Aron dengan nada lirih.
"Terimakasih sudah menjaga ayah dan yang lain, wajar jika kau tak bisa menghalangi mereka karna mereka memiliki keabadian yang tak masuk akal. Tolong jangan salahkan dirimu atas kejadian ini karna mereka hanya mengincar nyawa saya saja." ucap Xiao Ziya, ia merasa lega karna sang ayah baik baik saja begitupun dengan kedua kakak laki-lakinya yang lain.
"Saya harap nona selalu berhati hati." ucap Aron yang semakin cemas dengan keselamatan nona mudanya, kini musuh dari nonanya adalah orang orang kuat yang belum pernah Aron temui sebelumnya.
"Tolong jaga keluarga saya selama saya pergi, saya yakin kau mampu melakukannya." ucap Xiao Ziya yang mempercayakan keselamatan keluarganya pada Aron.
"Baik saya akan melaksanakan tugas sebaik mungkin." ucap Aron kemudian telepati antara mereka terputus begitu saja.
Xiao Ziya membuka mata dan bangun dari tempat tidurnya, ia tak bisa lagi berlama lama di dunia semesta tingkat rendah ini karna nyawa adik laki lakinya sedang terancam. Xiao Ziya masuk kedalam kamar mandi untuk membersihkan diri dan mengganti pakaian, ia harus segera menyelesaikan urusannya.
Tak lama setelah itu Ziya keluar dari kamar dan turun ke lantai satu, ia duduk di ruang tengah kemudian berteriak membangunkan seisi rumah yang sedang lelap dalam tidur mereka. Tentu teriakan Xiao Ziya membuat kedua puluh rekannya bangun begitupun dengan ketiga mafia bersaudara, tanpa berlama lama lagi mereka mendatangi sumber suara.
"Mengapa adik berteriak malam malam seperti ini." ucap Xiao Feng dengan mata yang masih terpejam.
"Kita harus selesaikan semuanya dalam dua hari." ucap Xiao Ziya membuat mereka semua terkejut.
"Mengapa mendadak sekali?." tanya Ruo Yogi dengan cemas.
"Orang orang dari dunia manusia abadi sudah mengambil langkah yang berani mereka telah menculik adik laki laki saya, dan saya harus segera pergi kesana untuk menyelamatkan Zoe." ucap Xiao Ziya dengan tenang, ia tau kemarahannya saat ini tak akan menyelesaikan apapun.
"Zoe diculik??." ucap Xiao Yuna yang masih tak percaya dengan hal itu.
"Lalu apa yang akan anda lakukan nona?." tanya Hanz, ia akan membantu nona mudanya itu menyelesaikan semua masalah yang ada di sini.
"Untuk sekolah seni bela diri saya minta agar kedua puluh rekan yang saya bawa dari dunia bawah untuk menyelesaikannya kalian akan dibantu oleh Tuan Anzu Zee, dan untuk masalah pemerintahan saya ingin Hanz, Kenzo, dan Zero membantu saya untuk menangani semuanya. Kalian adalah orang orang yang saya percayai tolong bantu saya untuk menyelesaikannya dengan cepat." ucap Xiao Ziya yang tak bisa menghilangkan rasa cemasnya.
"Baik kami mengerti." ucap mereka semua secara serempak.
Malam itu juga semua orang bersiap siap mengerjakan tugas mereka masing masing, Xiao Ziya dan ketiga mafia bersaudara pergi ke gedung pemerintahan untuk menyelesaikan persiapan pengumuman pemimpin baru yang akan di adakan besok pagi, sedangkan kedua puluh rekan Xiao Ziya pergi ke rumah Anzu Zee untuk meminta bantuan.
__ADS_1
Hai hai semuanya gimana kabar kalian semoga sehat selalu ya, jangan lupa follow buat yang belum, vote karna wajib, gift hadiah apapun makasih banget, like like like, komen buat ninggalin jejak, rate bintang lima, share juga ke temen temen kalian.