RATU IBLIS

RATU IBLIS
Yangrang


__ADS_3

Setelah sampai di wilayah perbatasan Kerajaan Bulan, Xiao Ziya membuka peta yang diberikan oleh kakek tua itu untuk melihat rute yang harus ia lewati untuk sampai di Desa Elnz. Xiao Ziya menaikkan sebelah alisnya ternyata ia harus pergi ke perbatasan Kerajaan Bulan di bagian yang lain, gadis itu memutar bola matanya jengah kemudian melesat menuju gerbang bagian selatan. Para prajurit penjaga gerbang bagian selatan menatap ke arah Xiao Ziya dengan tatapan heran, tak biasanya pemimpin baru mereka bepergian melalui gerbang bagian selatan.


"Kemana Nona Besar Xiao Ziya akan pergi?." tanya salah seorang prajurit penjaga gerbang dengan senyuman lebar, ia merasa senang karna bisa melihat pemimpin barunya itu.


"Saya ingin pergi ke bagian selatan, sampai jumpa." ucap Xiao Ziya yang langsung melesat pergi meninggalkan para penjaga perbatasan bagian selatan.


Xiao Ziya tak memiliki banyak waktu untuk berbincang bincang dengan para prajurit meski ia sangat menginginkannya, menjalin komunikasi yang baik adalah hal penting. Para prajurit penjaga gerbang bagian selatan menatap kepergian pemimpin baru mereka dengan tatapan bingung, untunglah salah seorang prajurit mengerti bahwa saat ini pemimpin baru mereka memiliki tugas lain yang harus dilakukan. Tujuan pertama Xiao Ziya adalah Wilayah Hutan Pasir hitam, tempat itu dapat ditempuh dalam waktu tiga hari tiga malam jika seseorang berjalan dengan kecepatan sedang namun dengan kecepatan Xiao Ziya saat ini mungkin hanya akan memerlukan waktu satu hari satu malam.


Dalam perjalanan menuju Wilayah Hutan Pasir hitam, Xiao Ziya akan singgah di beberapa desa terdekat. Saat sedang melesat dalam kecepatan tinggi Xiao Ziya sempat melihat seorang gadis seusianya yang sedang dikejar oleh beberapa orang pria dengan wajah menyeramkan, karna penasaran dengan apa yang sedang terjadi akhirnya Ziya lompat kesalahan satu pohon jati dan bersembunyi di balik dedaunan yang lebat.


"Serahkan lukisan tersebut pada kami." triak salah seorang pria dengan warna kulit hitam dan sorot mata tajam yang menyeramkan, keenam pria itu terus mengejar gadis tersebut tanpa henti.


"Saya akan membawa lukisan ini kembali ke Kerajaan Ming Tuo." ucap gadis tersebut, ia berusaha melarikan diri dari kejaran keenam bandit hutan itu dengan segenap tenaga. Jika usahanya gagal setidaknya ia tak menyerah begitu saja.


"Percuma karena kau tak akan pernah bisa pergi dari tempat ini." ucap salah seorang bandit hutan dengan suara tawa yang membuat Xiao Ziya sakit telinga.


"Setidaknya saya tak menyerahkan lukisan Dewa Hiloz ini pada orang orang seperti kalian." ucap gadis itu dengan keras kepala.


Xiao Ziya berfikir sejenak saat gadis itu menyebut tentang lukisan Dewa Hiloz, untuk apa mereka memperebutkan lukisan yang tak berguna itu? di kediaman Dewa Hiloz sendiri banyak lukisan wajahnya yang membuat Xiao Ziya sedikit muak ketika berkunjung ke sana. Bagi Xiao Ziya lukisan Dewa Hiloz bukanlah hal yang penting namun bagi gadis bernama Yangrang lukisan itu seperti nyawanya sendiri, Raja Ming Gu mempercayakan padanya untuk mengambil lukisan sang dewa dari salah seorang seniman yang tinggal di tengah hutan. Sepertinya informasi mengenai lukisan itu telah bocor pada beberapa pihak musuh sehingga mereka menyewa bandit hutan untuk merebutnya dari Yangrang.


"Berhentilah mengejar ku, mengapa kalian tak meminta seniman itu untuk membuatkan lukisan yang baru." triak Yangrang dengan kesal.


Saat sedang berlari tiba tiba gadis itu terjatuh karna tak melihat ada batang kayu besar yang tergeletak di tengah jalan, para bandit tersenyum karna buronan mereka sedang dalam kondisi yang tak menguntungkan. Salah seorang bandit mendekat ke arah Yangrang, ia berusaha merebut gulungan lukisan yang sedang dibawa oleh gadis itu. Meskipun lukisan Dewa Hiloz tak berguna bagi Xiao Ziya, gadis itu tak akan membiarkan lukisan tersebut jatuh ke tangan yang salah.


Xiao Ziya terjun bebas dari atas pohon jati hingga mengejutkan keenam bandit hutan yang sedang menjarah Yangrang, para bandit itu menatap ke arah Xiao Ziya dengan tatapan kesal karna mengira gadis itu diutus oleh orang lain untuk merebut lukisan itu juga. Mendapat tatapan sinis dari keenam pria jelek yang ada di hadapannya membuat emosi Xiao Ziya memuncak, gadis itu ingin mencongkel mata keenam bandit itu.


"Pergilah jangan ikut campur dengan urusan kami." ucap beberapa bandit yang mencoba untuk mengusir Xiao Ziya.


"Hey ini bukan hutan milik nenek kalian." jawab Xiao Ziya dengan tatapan datar.


"Cih, pergilah dari hadapan kami sebelum kami berubah fikiran." ucap salah seorang bandit hutan yang sedang mengancam Xiao Ziya. Ancaman dari bandit bandit itu tak membuat Ziya merasa takut.


"Tolong selamatkan saya nona, saya akan membalas budi Anda nanti." ucap Yangrang, ia berharap gadis asing itu mau membantunya terbebas dari keenam bandit itu.


Xiao Ziya melihat ke arah gadis yang sedang tersungkur di tanah kemudian mengulurkan tangannya untuk membantu gadis itu berdiri. Yangrang menerima uluran tangan dari Xiao Ziya kemudian berdiri kembali, ia membersihkan pakaiannya yang kotor karna jatuh ke tanah.


"Siapa nama Anda?." tanya Xiao Ziya dengan tatapan datar.


"Perkenalan saya Yangrang dari Kerajaan Ming Tuo, saya tau Anda bukanlah orang jahat yang ingin merebut lukisan Dewa Hiloz karna itu saya meminta bantuan pada Anda." ucap Yangrang yang memperkenalkan dirinya pada gadis asing yang ada di hadapannya itu, jika dilihat dari berbagai sisi sudah sangat jelas gadis asing itu sedang melintas di wilayah hutan jati dan tak sengaja bertemu dengannya yang sedang dikejar kejar oleh para bandit hutan.

__ADS_1


"Saya Xiao Ziya dari Kerajaan Bulan, senang bisa bertemu dengan Nona Yangrang." balas Xiao Ziya dengan senyuman tipis.


Keenam bandit itu merasa diabaikan oleh kedua gadis lemah yang ada di hadapan mereka, seorang bandit mengeluarkan sebuah tombak kemudian ia lemparkan ke arah gadis asing yang mengganggu perburuan mereka. Dengan sigap Xiao Ziya menangkap tombak tersebut lalu membakarnya menjadi abu menggunakan api hitam yang ia miliki, Xiao Ziya memalingkan wajahnya ke arah para bandit dan menatap mereka dengan tajam.


"Apa kalian buta hingga tak melihat saya sedang berbicara dengan Nona Yangrang!." bentak Xiao Ziya pada keenam bandit itu. Entah mengapa para bandit merasa takut hanya dengan mendengar suara dari Xiao Ziya, mereka merasakan tekanan yang sangat besar dari gadis itu.


"Anda menghalangi kami untuk merebut lukisan Dewa Hiloz dari tangan gadis itu." ucap dua orang bandit hutan secara bersamaan, jika gadis bernama Xiao Ziya itu tak datang mungkin mereka sudah mendapatkan lukisan tersebut.


Salah seorang bandit hutan tiba tiba saja menjadi linglung, tadinya ia merasa familiar dengan nama Xiao Ziya dari Kerajaan Bulan dan setelah mengingat kembali siapa gadis itu sang bandit pun merasa takut. Berita tentang seorang gadis dari dunia bawah yang berhasil mengalahkan Raja Anling Zee telah tersebar luas keseluruhan penjuru wilayah Dunia Manusia Abadi, gadis yang membantai keluarga Kerajaan Bulan dengan sangat kejam dan akhir akhir ini ia juga melakukan hal yang menggemparkan dengan memuaskan Klan Mue dari Kerajaan Yuan Liong.


"Maaf karna kami tak mengenali Nona Ziya yang agung." ucap bandit tersebut, ia meminta pada teman temannya yang lain untuk bersujud dan meminta pengampunan pada Xiao Ziya.


"Kami tak berencana untuk membunuh Nona Yangrang, kami hanya ingin merebut lukisan itu sesuai dengan perintah tuan muda." ucap bandit yang lain dengan tubuh gemetaran, sepertinya mereka berenam sudah mengingat siapa Xiao Ziya.


Yangrang menatap ke arah keenam bandit itu dan Xiao Ziya secara bergantian, gadis itu tak mengerti apa yang sedang terjadi ataupun siapa Xiao Ziya itu hingga sanggup membuat bandit hutan yang terkenal kejam dan beringas menjadi gemetaran dan rela bersujud di bawah kakinya.


"Siapa yang meminta kalian untuk melakukan kejahatan seperti ini, walaupun kalian tak ingin mengambil nyawa Nona Yangrang tindakan kalian tetap tak bisa dibenarkan." ucap Xiao Ziya dengan serius disertai tatapan tajam.


"Sebentar lagi musim kemarau akan datang dan kami perlu mencari uang lebih untuk memenuhi kebutuhan keluarga kami selama musim kemarau berlangsung." jawab salah seorang bandit hutan dengan jujur, Xiao Ziya menatap lekat mata bandit itu dan tak menemukan kebohongan di dalam manik matanya.


"Katakan siapa yang meminta kalian untuk melakukan hal ini?." tanya Yangrang, sepertinya gadis itu juga penasaran dengan orang yang ingin merebut lukisan Dewa Hiloz darinya.


Xiao Ziya melihat kesekeliling karna ia merasakan aura membunuh yang cukup kuat meskipun jaraknya lumayan jauh dari tempat mereka berada, Xiao Ziya berusaha menajamkan matanya dan menembus lebatnya hutan untuk melihat apa yang sedang terjadi di sana.


"Bawa kami ke pemukiman tempat kalian tinggal, saat ini seorang jenderal dan ribuan prajurit sedang pergi menuju tempat itu." ucap Xiao Ziya dengan raut wajah serius, keenam pria itu terpaksa menjadi bandit dan mereka baru beraksi hari ini. Dalam kehidupan sehari hari mereka adalah petani yang menanam padi serta sayur sayuran.


"Mari ikut saya." ucap seorang bandit yang langsung berlari menuju pemukiman tempatnya tinggal bersama dengan keluarga dan teman temannya yang lain.


Dengan segera Xiao Ziya menarik tangan Yangrang agar gadis itu juga pergi bersama dengannya. Yangrang hanya bisa pasrah saat tangannya ditarik oleh Xiao Ziya, gadis itu berusaha mengimbangi kecepatan Xiao Ziya. Setelah berlari cukup lama akhirnya mereka semua sampai di sebuah tempat yang terdiri dari dua puluh rumah kayu serta ladang yang cukup luas, Xiao Ziya tersenyum tipis ketika melihat pemandangan seperti itu.


"Saya harap kalian tak mengulangi kesalahan yang sama karna pada dasarnya Pangeran Yanzi yang telah memerintahkan para prajurit untuk mengepung tempat ini." ucap Xiao Ziya dengan senyuman miring ketika mendengar suara telapak kaki kuda dengan sangat jelas.


Mendengar perkataan Xiao Ziya membuat keenam pria yang baru saja bekerja menjadi bandit itu menjadi khawatir, bagaimana jika para prajurit dari Kerajaan Ming Tuo benar benar datang untuk menangkap mereka semua. Jadi inilah rencana sesungguhnya dari Pangeran Yanzi, ia ingin menyalahkan keenam pria yang ia sewa atas matinya Yangrang karna keenam pria itu ingin merebut lukisan Dewa Hiloz dari tangan Yangrang kemudian menjual lukisan itu.


"Apa yang harus kami lakukan Nona Ziya?" tanya salah seorang pria dengan raut wajah bingung, kekuatan mereka tak cukup untuk menghadapi ribuan prajurit dari Kerajaan Ming Tuo.


"Mungkin saya bisa melakukan sesuatu untuk membantu kalian, siapa pemimpin di pemukiman ini?." tanya Xiao Ziya dengan nada serius.


"Perkenalan saya Luan Yu, pemimpin di pemukiman ini." ucap salah seorang pria dari keenam bandit hutan itu.

__ADS_1


Tanpa basa basi lagi Xiao Ziya mengeluarkan sebuah gulungan kosong serta kuas dan tinta untuk menulis surat perjanjian, di dalam surat perjanjian itu Xiao Ziya akan bertanggung jawab atas wilayah pemukiman tersebut dan memenuhi kebutuhan yang mereka perlukan atas nama Kerajaan Bulan. Xiao Ziya juga memberikan beberapa syarat seperti dilarang menjarah para bangsawan ataupun para kultivator yang sedang melintas di hutan jati, dan masih banyak persyaratan lainnya. Setelah selesai menulis surat perjanjian itu Xiao Ziya memberikan cap khusus yang hanya dimiliki oleh pemimpin Kerajaan Bulan.


"Anda bisa menandatangani perjanjian ini jika Anda setuju dengan semua persyaratan yang telah saya tulis Tuan Luan Yu." ucap Xiao Ziya kemudian memberikan gulungan kertas itu pada sang pemimpin di pemukiman tersebut.


Luan Yu membaca sekilas isi perjanjian yang baru saja dibuat oleh Xiao Ziya, entah mengapa matanya terasa panas dan ingin menangis. Setelah sekian lama akhirnya ada kerajaan yang ingin menampung mereka semua serta memberikan pasokan pangan serta kebutuhan lain pada pemukiman di tengah hutan jati itu. Tanpa basa basi lagi Tuan Luan Yu menandatangani surat perjanjian tersebut.


"Terimakasih atas kebaikan Nona Besar Xiao Ziya, kami tak akan melupakan kebaikan Anda." ucap Luan Yu, pria itu membungkukkan badannya di hadapan Xiao Ziya diikuti lima pria yang lain.


"Masuklah kedalam pemukiman, masalah ini serahkan pada saya. Ingat baik baik isi perjanjian itu karna saya bisa menghancurkan pemukiman ini kapanpun saya inginkan jika kalian melanggarnya." ucap Xiao Ziya dengan tegas.


"Kami tak akan mengecewakan Anda." ucap Luan Yu kemudian mengajak kelima pria yang lain untuk masuk kedalam pemukiman penduduk.


"Mengapa nona membantu penjahat seperti mereka?." tanya Yangrang dengan tatapan bingung, seharusnya Xiao Ziya membunuh keenam bandit itu agar tak merugikan orang lain di masa depan.


"Apakah Nona Yangrang seorang bangsawan? apakah keluarga Anda selalu memberikan apa yang Anda inginkan?." tanya Xiao Ziya pada gadis itu dengan tatapan dingin.


"Bisa dibilang keluarga saya cukup kaya dan selalu memberikan apa yang saya inginkan." jawab Yangrang dengan santai karna memang itu kebenarannya.


"Karna itulah Anda tak mengerti bagaimana susahnya mereka mencari uang untuk mencukupi kebutuhan hidup, di dunia yang keras ini banyak orang yang terpaksa melakukan pekerjaan kotor untuk menghidupi keluarga mereka." ucap Xiao Ziya.


Tak berselang lama setelah itu Xiao Ziya melihat seorang pria yang menunggangi kuda berwarna coklat dengan baju perang lengkap yang ia gunakan, dibelakang pria itu terdapat seribu prajurit yang siap menghancurkan pemukiman tempat tinggal para bandit.


"Nona Yangrang baik baik saja?." tanya sang jendral yang langsung turun dari kuda yang ia tunggangi dan berjalan mendekat ke arah Yangrang.


"Saya baik baik saja, Anda tak perlu mencemaskan keselamatan saya." jawab Yangrang dengan singkat, setelah mendengar ucapan Xiao Ziya tadi ia merasa sedikit kecewa pada dirinya sendiri karna tak bisa memahami situasi dengan baik.


"Kami datang untuk menyelamatkan Anda dan membunuh para bandit yang ingin mencelakai nyawa Anda." ucap jenderal itu dengan tegas, sedangkan Xiao Ziya hanya menatap jengah ke arah jenderal tersebut.


"Tak ada bandit yang menganggu saya saat perjalanan pulang, sedari tadi saya berbincang bincang dengan nona ini." ucap Yangrang yang berbohong dihadapan sang jenderal karna ia ingin melindungi orang orang yang tinggal di pemukiman itu.


"Bagaimana mungkin tak ada bandit yang mengejar Anda saat dalam perjalanan pulang, Pangeran Yanzi melaporkan hal itu pada kami. Atau mungkin gadis ini bagian dari kelompok para bandit yang ingin mengambil Lukisan Dewa Hiloz." ucap jenderal itu yang malah menuduh Xiao Ziya.


"Anda ingin mati sekarang juga?." tanya Xiao Ziya dengan tatapan tajam dan nada bicara serius.


"Lebih sopan lah pada jendela kami!." bentak beberapa prajurit yang ada di belakang jenderal itu.


"Mengapa seorang pemimpin dari Kerajaan Bulan harus tunduk pada seorang jenderal?." tanya Xiao Ziya dengan senyuman miring yang terasa sedang mengejek para prajurit yang membela jenderal itu.


Hai hai semua author balik lagi nih, gimana kangen ga sama author??. Jangan lupa follow buat yang belum ya kalau bisa tembus 3k followers, vote karna wajib, gift hadiah apapun, like like like, komen buat ninggalin jejak, rate bintang lima, share juga ya.

__ADS_1


__ADS_2