RATU IBLIS

RATU IBLIS
Masuk Ke Akademi


__ADS_3

Xiao Ziya meminta pada prajurit untuk membukakan gembok penjara yang berisi tiga orang pemuda itu kemudian Xiao Ziya masuk kedalam dan mengulurkan tangannya pada pemuda manusia yang tengah menahan rasa sakit akibat dianiyaya oleh kedua pemuda keturunan murni bangsawan iblis. Pemuda bernama Yu Anze itu menerima uluran tangan dari Xiao Ziya kemudian ia berdiri.


"Trimakasih atas bantuannya nona muda." ucap Yu Anze sembari menundukkan kepalanya sebagai tanda bahwa ia sangat bertrimakasih karna Xiao Ziya sudah membelanya tadi.


"Tolong bawa pemuda ini ke penjara yang ada di depan sana, di sini sangatlah gelap dan pengap." ucap Xiao Ziya yang meminta pada beberap prajurit untuk memindahkan pemuda bernama Yu Anze itu ke penjara yang ada di dekat pintu masuk. Para prajurit mematuhi perintah yang diberikan oleh Xiao Ziya, mereka membawa pemuda itu pergi dari sana.


"Dan untuk mereka berdua berikan hukuman cambuk seratus kali." ucap Xiao Ziya lagi sembari menunjuk ke arah Xyunzo dan Linhun secara bergantian, kedua pemuda yang merupakan keturunan murni bangsawan iblis itu menatap Xiao Ziya dengan tatapan kebencian mereka sedang berfikir suatu saat nanti setelah keluar dari tempat terkutuk itu mereka pasti akan membalas apa yang Xiao Ziya lakukan.


"Awas saja kami akan membalas apa yang kau lakukan hari ini." triak Xyunzo, namun gertakkannya tak berarti apapun bagi Xiao Ziya.


Karna tak ingin mendengar celotehan tak jelas dari pemuda itu, Xiao Ziya memutuskan untuk kembali ke deretan sel penjara yang ada di dekat pintu masuk diikuti Raja Artur dan Yuan Zie dibelakangnya.


Xiao Ziya sampai di sebuah sel tahanan yang menjadi tempar Raja Artur menjalankan hukumannya, gadis itu meminta pada Raja Artur untuk kembali ke dalam selnya.


"Saya tau anda adalah raja penguasa alam neraka, namun saat ini anda adalah tawanan di sini. Saya harap anda bisa memahaminya Yang Mulia Raja Artur." ucap Xiao Ziya yang sekali lagi mengingatkan Raja Artur selama dalam masa hukumannya ia harus menerima tanpa melakukan protes apapun, karna bagi Xiao Ziya semuanya sama saja di mata hukum.


"Selama saya ada di sini siapa yang mengerjakan tugas tugas saya yang ada di istana?." tanya Raja Artur yang khawatir jika saat ia kembali dokumen dokumen itu akan menumpuk dan memenuhi seluruh ruangan yang ada di istana neraka.


"Saya yang mengerjakan semua itu jadi anda tak perlu khawatir." ucap Xiao Ziya dengan sebuah senyuman tulus, mendengar apa yang dikatakan oleh Xiao Ziya membuat Raja Artur merasa lega. Ia kira gadis itu tak akan mempedulikan tugas tugasnya selama ia menjalani hukuman.


"Lain kali kakek harus mengingat dengan baik apa saja yang bisa kakek lakukan sebagai penguasa alam neraka." ucap Yuan Zie dengan wajah mirisnya yang sengaja ia pasang untuk meledek Raja Artur.


"Wajar saja kakek tua itu lupa, lihatlah rambut putihnya itu." ucap Xiao Ziya yang ikut meledek Raja Artur.


"Saya masih muda dan tampan seperti ini." ucap Raja Artur yang tak terima saat dikatai bahwa ia sudah tua padahal itulah kenyataanya.


Xiao Ziya berpamitan pada Raja Artur dan Yuan Zie, ia ingin kembali ke wilayah Kerajaan Hitam karna ada benerapa hal yang harus ia lakukan, sedangkan Yuan Zie masih ingin menemani Raja Artur yang sendirian. Xiao Ziya membaca mantra teleportasi seketika ia menghilang dari hadapan semua orang.


"Pantas saja Raja Artur menuruti apa yang dikatakan oleh gadis itu, auranya saja berkali kali lipat lebih menyeramkan." ucap salah seorang tahanan yang ada di sel penjara yang ada di dekat Raja Artur. Ia adalah manusia setengah iblis yang menanyai Raja Artur kemarin.


Tiba tiba Xiao Ziya muncul di sebuah jalan setapak yang tampak sepi, untung saja tak ada orang yang melihat kemunculannya yang tiba tiba jika tidak mungkin orang itu sudah terkena serangan jantung karna mengira Xiao Ziya adalah hantu.


"Lebih baik saya berjalan jalan sebentar." ucap Xiao Ziya yang kemudian masuk kesebuah desa yang tampak padat penduduk, mereka sedang menjalankan aktivitas masing masing tanpa menghiraukan kehadiran Xiao Ziya.


Xiao Ziya berjalan menyusuri desa tersebut hingga ia sampai di sebuah tempat yang mirip dengan akademinya saat ia masih menjadi murid di Akademi Kekaisaran Qiyu. Xiao Ziya menatap gerbang masuk akademi tersebut dan membaca papan kayu yang bertuliskan Akademi Wunyeng.


"Mungkin ini salah satu akademi milik Kerajaan Hitam." ucap Xiao Ziya yang penasaran dengan bagaimana sistem pengajaran yang ada di dalam sana.

__ADS_1


Saat Xiao Ziya hendak masuk kedalam ada benerapa penjaga gerabang masuk Akademi Wunyeng yang menahannya, mereka menatap Xiao Ziya dari atas hingga bawah. Gadis itu tersa sangat asing, hari ini tak ada pendaftaran murid baru yang dibuka lalu untuk apa gadis itu datang ke Akademi Wunyeng.


"Ada keperluan apa kau datang ke akademi kami?." tanya salah seorang penjaga gerbang masuk Akademi Wunyeng.


"Saya hanya ingin melihat lihat saja, apakah saya diperbolehkan masuk?." tanya Xiao Ziya yang menjawab dengan jujur, namun seprtinya para penjaga gerbang masuk Akademi Wunyeng tak puas dengan jawaban yang diberikan oleh Xiao Ziya.


"Tempat ini bukanlah pasar atau taman bermain lebih baik kau perg saja jika hanya ingin melihat lihat." ucap salah seorang penjaga gerbang yang tampak kesal pada Xiao Ziya.


"Kau harus lebih halus padanya, lagipula selama niatnya tak buruk kepala sekolah selalu mengizinkan siapapun yang ingin masuk kedalam." ucap penjaga gerbang yang lain, ia merasa sikap rekan kerjanya itu terlalu kasar. Jika dilihat lihat gadis yang ada di hadapan mereka itu memang tak memiliki niatan buruk sedikitpun apa salahnya jika ia ingin melihat lihat bagaimana Akademi Wunyeng mendidik para muridnya.


"Cih kau selalu sok baik seperti ini." ucap panjaga gerbang yang sempat mengusir Xiao Ziya tadi.


Mendengar percakapan antara kedua penjaga gerbang itu tampaknya mereka berdua memang tak akur, yang satu sangat sombong dan congkak sedangkan yang satunya sangat ramah dan baik.


"Jika tak diizinkan saya tak akan masuk kedalam trimakasih atas keramahan paman." ucap Xiao Ziya yang tersenyum pada penjaga gerbang yang sempat membelanya.


Saat Xiao Ziya ingin pergi dari sana karna tak mendapatkan izin untuk masuk dari salah satu penjaga gerbang tiba tiba ada seseorang yang memanggilnya. Saat menoleh kebelakang ternyata orang itu adalah Al Denzi putra tertu dari Keluarga Bangsawan Algiz.


"Apa yang sedang nona Ziya lakukan di luar gerbang masuk Akademi Wunyeng?." ucap Al Denzi yang sepertinya baru kembali dari suatu tempat karna ia tak berasal dari dalam akademi.


"Ah Tuan muda Al Denzi saya ingin masuk kedalam untuk melihat lihat namun salah seorang penjaga gerbang melarang saya untuk masuk karna itu saya memilih untuk kembali." ucap Xiao Ziya yang menjawab dengan jujur, sebenarnya Xiao Ziya bisa saja memaksa untuk masuk kedalam namun ia tak ingin membuat keributan.


"Baiklah jika tak merepotkan Tuan Muda Al Denzi." ucap Xiao Ziya yang memilih untuk menerima tawaran pemuda itu. Al Denzi tampaknya sedikit risih dengan sebutan tuan muda itu, setelah menghela nafasnya cukup panjang pemuda itu berani mengatakan sesuatu.


"Saya harap nona Ziya tak memanggil saya dengan sebutan Tuan Muda lagi karna saya merasa sedikit risih." ucap Al Denzi yang mengatakan hal itu dengan seluruh keberanian yang ia miliki, bagaimanapun aura yang dimiliki Xiao Ziya cukup untuk membuat siapa saja takut padanya.


"Baiklah Denzi gege." ucap Xiao Ziya dengan sebuah senyuman manisnya yang membuat Al Denzi ingin pingsan ditempat. Bagaimana di dunia yang kejam ini ada seorang gadis kecil yang sangat manis seperti Xiao Ziya.


Akhirnya Xiao Ziya dan Al Denzi berjalan menuju gerbang masuk Akademi Wunyeng, sama seperti sebelumnya salah seorang penjaga meminta pada Xiao Ziya untuk pergi saja.


"Lebih baik kau pergi sekarang akademi ini bukan tempat untukmu bermain main." ucap penjaga gerbang itu yang membuat Al Denzi geram dan ingin memukulnya.


"Saya yang akan menjaminnya untuk masuk kedalam." ucap Al Denzi yang menunjukkan kartu identitasnya sebagai murid inti dari Akademi Wunyeng.


Prajurit itu tampak memikirkan sesuatu, sepertinya ia memang benar benar tak suka pada Xiao Ziya.


"Namun nona ini tak memiliki kartu ataupun token identitas." jawab penjaga gerbang yang tak suka pada Xiao Ziya itu.

__ADS_1


"Bukankah Tuan Muda Denzi akan menjaminnya mengapa kau masih menghalangi nona ini utuk masuk kedalam." ucap panjaga gerbang yang sedari awal memang membela Xiao Ziya.


"Tenanglah paman, trimaksih atas bantuannya." ucap Xiao Ziya, kemudian gadis itu mengambil sesuatu dari sakunya itu adalah token resmi milik Kerajaan Hitam. Disana tertera putri kesayangan raja , melihat token yang ditunjukkan Xiao Ziya membuat penjaga gerbang yang mempersulitnya merasa ketakutan.


"Apakah anda pernah mendengar tentang rumor putri angkat kesayangan Raja Zeus? itulah saya, jika anda memang tak mengizinkan saya masuk sekarang maka saya akan kembali lagi besok dengan membawa dekrit resmi dari Yang Mulia Raja Zeus." ucap Xiao Ziya dengan nada dingin dan penuh dengan penekanan, seketika penjaga gerbang yang sombong itu menundukkan kepalanya, ia langsung membukakan gerbang masuk Akademi Wunyeng.


Sebelum masuk kedalam akademi Xiao Ziya sempat mengambil sekantung koin emas yang berisi lima ribu keping koin emas ia memberikannya pada penjaga gerbang yang sudah membelanya sejak tadi, dari raut wajah pria paruh baya itu Xiao Ziya biaa menebak bahwa ia memiliki masalah ekonomi.


"Apa ini nona muda?." tanya penjaga gerbang masuk itu yang merasa kebingungan.


"Anggap saja itu koin emas yang sudah seharusnya menjadi mikikmu." ucap Xiao Ziya yang kemudian mengajak Al Denzi masuk kedalam Akademi Wunyeng.


"Trimakasih karna telah membantuku gege." ucap Xiao Ziya sambil berjalan dengan ekspresi wajahnya yang terihat sangat senang.


"Sama sama nona Ziya, tempat mana yang ingin anda kunjungi terlebih dahulu?." ucap Al Denzi yang ingin menemani Xiao Ziya saat berkeliling di sekitar Akademi Wunyeng.


Saat mereka berdua tengah asik berbincang sambil berjalan tiba tiba saja Xiao Ziya merasakan aura mengintimidasi dari sebuah balkon, dengan cepat gadis itu menoleh dan melihat seorang pria menatapnya dengan tajam. Dari penampilan pria itu mungkin saja ia adalah Kepala Akademi Wunyeng namun mengapa ia harus menatap Xiao Ziya dengan tatapan tak bersahabat itu.


"Apakah pria tua menyebalkan itu adalah kepala sekolah?." ucap Xiao Ziya yang bertanya pada Al Denzi, tak lupa gadis itu juga menunjuk ke arah pria menyebalkan yang ia maksut. Al Denzi melihat ke arah yang ditunjuk oleh Xiao Ziya, pemuda itu tampak terkejut.


"Iya dia adalah Kepala Sekolah di akademi kami, sebaiknya nona berhati hati dengan orang itu." ucap Al Denzi yang memperingatkan Xiao Ziya agar tak membuat masalah dengan kepala sekolah.


"Sebaiknya gege kembali ke kelas sekarang, saya mendengar pertanda kelas dimulai sudah berbunyi." ucap Xiao Ziya yang membuat Al Denzi kebingungan bagaimana bisa gadis itu tau tentang suara penanda kelas sudah dimulai.


"Baiklah nona berhati hatilah selama berada di sini." ucap Al Denzi yang langsung melesat pergi karna ia tak ingin ketinggalan kelas walau ia masih ingin menemani Xiao Ziya di sana.


Setelah Al Denzi pergi, Xiao Ziya kembali melihat ke arah balkon tempat pria menyebalkan itu menatapnya dan benar saja pria itu masih menatapnya bahkan matanya berubah menjadi biru cerah.


"Mengapa kau melihatku seperti itu." ucap Xiao Ziya dengan kesal, ucapan gadis itu tak terlalu keras namun dapat di dengar oleh kepala Akademi Wunyeng.


"Apa yang kau lakukan di akademiku dan bagaimana caramu masuk kedalam." ucap Kepala Akademi Wunyeng yang malah balik bertanya pada Xiao Ziya. Pria tua itu mengeluatkan sepasang ular piton berwarna merah dan juga hitam, ular piton itu menatap Xiao Ziya dengan tajam.


"Kau ingin menantangku?." ucap Xiao Ziya yang masih mendongakkan kepalanya ke atas dan melihat kearah balkon.


Xiao Ziya meminta pada Wilre sang piton salju miliknya untuk keluar dari cincin semesta, Wilrepun keluar kali ini piton salju milik Xiao Ziya memiliki sepasang sayap yang sangat indah.


"Wilre sayang antar saya ke atas sana untuk menemui kepala akademi." ucap Xiao Ziya yang langsung naik ke atas punggung Wilre. Saat ini Kapala Akademi Wunyeng menunjukkan ekspresi terkejutnya karna piton milik Xiao Ziya sudah melalui evolusi yang sempurna.

__ADS_1


Hai hai semuanya author update lagi nih, gimana kabar kalian semoga baik baik aja ya guys, jangan lupa jaga kesehatan, makan yang teratur, istirahat yang cukup ya biar kalian ga sakit. Gimana kangen ga sama author jangan lupa follow ya guys buat yang belum, terus vote juga okey, gift hadiah apapun ya, like like like, komen buat ninggalin jejak, rate bintang lima, share juga.


__ADS_2