RATU IBLIS

RATU IBLIS
Pergi Ke Kerajaan Binglin Bersama Xiao Yan


__ADS_3

Setelah itu Xiao Ziya masuk ke dalam paviliunnya untuk beristirahat sejenak sebelum pergi ke Kerajaan Binglin bersama Xiao Yan malam nanti. Xiao Ziya merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur kemudian mulai memejamkan mata. Di sisi lain saat ini Kaisar Yuzang Yanglang sedang berada di desa paling barat wilayah Kekaisaran Binzo, penampilan sang kaisar sangat lusuh seolah olah ia adalah penduduk biasa.


Kaisar Yuzang Yanglang diberhentikan oleh beberapa prajurit yang berjaga di depan gerbang perbatasan Kerajaan Binglin dan ditanyai perihal token identitas atau semacamnya. Kaisar Yuzang Yanglang tampak kebingungan, yang ia miliki hanyalah token emas sebagai tanda pengenalnya sebagai seorang kaisar dari Kekaisaran Binzo.


"Uhuk uhuk uhuk...maaf saya tidak memiliki token identitas karna biyaya pembuatannya cukup mahal dan saya hanyalah penduduk miskin." jawab Kaisar Yuzang Yanglang dengan alasan yang sangat sempurna. Dari segi penampilannya ia seperti seorang pengemis yang belum mandi selama satu minggu.


Para prajurit penjaga gerbang perbatasan saling bertatapan satu sama lain, mereka merasa bingung haruskah mengizinkan pengemis itu masuk ke dalam ataukah tidak. Yang para prajurit khawatirkan adalah si pengemis adalah seorang musuh yang sedang menyamar dan mencoba untuk membuat keributan di wilayah kerajaan mereka.


"Maaf Tuan, sepertinya Anda tidak bisa masuk ke dalam tanpa adanya token identitas. Silahkan kembali lagi di saat Anda sudah membuatnya." ucap salah seorang prajurit dengan tegas, semua ini demi kenyamanan seluruh penduduk Kerajaan Binglin.


"Saya mohon agar diizinkan untuk masuk ke dalam. Uhuk uhuk uhuk.... saya dengar di wilayah ini ada seorang tabib yang memiliki ramuan penawar wabah itu. Istri saya sedang sakit keras dan dia tertular oleh penduduk lainnya, saya tidak bisa membayangkan jika harus hidup tanpa seorang istri." akting Kaisar Yuzang Yanglang dengan sangat sempurna. Jika ia lahir di zaman modern mungkin ia sudah menjadi seorang aktor terkenal.


Para prajurit saling bertatapan satu sama lain, mereka bingung harus mengambil keputusan apa untuk pria pengemis itu. Jika dilihat dari penampilannya, ia benar benar mirip dengan seorang pengemis apalagi tubuhnya yang gemetaran dengan bahu membungkuk. Setelah para prajurit penjaga gerbang perbatasan berdiskusi cukup panjang akhirnya mereka memutuskan sesuatu.


"Baiklah kami akan mengizinkan Anda untuk masuk ke dalam, harap agar tidak membuat keributan karna wilayah ini bukan lagi bagian dari Kekaisaran Binzo melainkan Kerajaan Binglin." ucap salah seorang prajurit, ia memberikan nasehat pada Kaisar Yuzang Yanglang yang sedang menyamar.


"Salah satu dari kami akan mengantar Anda menuju rumah tabib yang Anda maksud, dengan begitu Anda tidak perlu mencarinya kesana kemari." ucap prajurit lain yang membuat Kaisar Yuzang Yanglang terkejut. Jika seperti ini maka rencana yang telah ia siapkan tidak bisa dijalankan.


"Terimakasih atas perhatiannya akan tetapi saya bisa pergi sendiri untuk mencari rumah tabib itu. Kalian tidak boleh meninggalkan tugas sebagai prajurit penjaga gerbang perbatasan hanya karna seorang pengemis tua seperti saya." ucap Kaisar Yuzang Yanglang.


"Baiklah kalau begitu, jika Anda butuh bantuan carilah kami di depan gerbang perbatasan. Sampai jumpa lagi pengemis tua." ucap para prajurit sembari melambaikan tangannya pada sang pengemis yang sudah masuk ke dalam wilayah Kerajaan Binglin.


Kaisar Yuzang Yanglang bernafas dengan lega karena penyamarannya tidak terbongkar, ia bisa masuk setelah berunding dengan beberapa prajurit tanpa menunjukkan token identitas. Untunglah prajurit yang berjaga di gerbang perbatasan adalah sekumpulan orang orang bodoh yang sangat mudah untuk ditipu, jika tidak mungkin sang kaisar akan kesulitan menyusup meski sudah melakukan penyamaran yang sempurna.


Kaisar Yuzang Yanglang berjalan menyusuri jalan jalan setapak yang menghubungkan beberapa desa dengan area Kerajaan Binglin. Saat masuk ke sebuah desa tiba tiba Kaisar Yuzang Yanglang berpapasan dengan Putri Zo Ruhi yang baru saja keluar dari sebuah rumah makan. Mata Putri Zo Ruhi menatap ke arah pengemis tua itu dari ujung rambut hingga ujung kaki kemudian memfokuskan pandangannya ke arah wajah. Samar samar Putri Zo Ruhi merasa familiar dengan wajah itu.


"Sial jangan sampai Putri Zo Ruhi mengenali penyamaran saya." batin Kaisar Yuzang Yanglang, jantung sang kaisar berdetak dengan kencang hingga ia tak bisa bergerak.


Putri Zo Ruhi memberanikan diri untuk berjalan mendekat ke arah pengemis tua itu, setelah berada di depan sang pengemis tua, Putri Zo Ruhi memberanikan lima keping emas padanya kemudiannya tersenyum hangat.


"Ambillah ini paman, Anda bisa menggunakannya untuk membeli roti dan susu." ucap Putri Zo Ruhi dengan sangat ramah.


Kaisar Yuzang Yanglang menelan ludahnya dengan susah payah, ia hanya tersenyum sembari menganggukkan kepalanya pada sang putri. Kaisar Yuzang Yanglang sengaja tak mengeluarkan suara karna takut Putri Zo Ruhi mengenali suaranya itu.

__ADS_1


"Sampai jumpa paman pengemis." ucap Putri Zo Ruhi yang berjalan menjauh dari pengemis tua itu.


Kaisar Yuzang Yanglang dengan segera pergi meninggalkan desa tersebut agar ia tidak berpapasan lagi dengan Putri Zo Ruhi, di sisi lain sang putri bersembunyi di sebuah rumah penduduk dan memperhatikan kemana pengemis tua itu pergi. Putri Zo Ruhi mengenali wajah sang pengemis tua dengan baik, dia adalah Kaisar Yuzang Yanglang. Sang putri sengaja tidak mengungkapkan identitas sang pengemis saat mereka bertatapan satu sama lain karna ia khawatir akan terjadi sesuatu yang tak terduga.


"Saya harus memberitahukan hal ini pada Ziya jiejie ketika dia kembali nanti. Kaisar Yuzang Yanglang pasti sudah merencanakan sesuatu yang tidak baik untuk mendapatkan Kerajaan Binglin dari tangan Ziya jiejie." gumam Putri Zo Ruhi dengan suara pelan.


Sebelum memberikan informasi pada Xiao Ziya, sang putri berencana untuk mengikuti pengemis tua itu secara diam diam hingga ia tau pasti apa yang sedang direncanakan oleh Kaisar Yuzang Yanglang hingga dirinya rela menyamar seperti itu. Putri Zo Ruhi berlari dengan langkah kecil dan kembali bersembunyi di balik rumah penduduk ketika jaraknya dengan sang pengemis sudah cukup dekat, sang putri terus melakukan hal itu hingga hari menjelang malam dan si pengemis berhenti tepat di sebuah desa yang menjadi perbatasan antara Istana Kerajaan Binglin dengan pemukiman para penduduk.


Mata Kaisar Yuzang Yanglang yang sedang menyamar menunjukkan binar yang sangat cerah, ia begitu kagum dengan kemewahan dinding gerbang masuk Istana Kerajaan Binglin yang sebagian terbuat dari emas murni.


"Kerajaan seindah ini sangat disarankan jika harus dipimpin oleh seorang gadis ingusan seperti Xiao Ziya. Tidak ada hal lain yang bisa ia lakukan selain menindas dan membunuh orang." ucap Kaisar Yuzang Yanglang yang mulai berkomentar mengenai sosok Xiao Ziya.


Putri Zo Ruhi dapat mendengar semua itu dan ia sedang berusaha mengendalikan amarahnya. Apakah Kaisar Yuzang Yanglang tidak pernah berkaca sehingga ia tidak menyadari bahwa sikapnya jauh lebih buruk dari Nona Muda Xiao Ziya. Lagipula jika sang kaisar menginginkan sebuah istana yang mewah dan megah, ia bisa merenovasi Istana Kekaisaran Binzo selama memiliki dana untuk melakukannya.


"Mengapa pria jahat itu selalu mengganggu kehidupan Ziya jiejie. Apakah tidak cukup dengan merebut wilayah Kekaisaran Binzo dan sekarang ingin merebut wilayah Kerajaan Binglin." batin Putri Zo Ruhi, sang putri terus menatap ke arah punggung Kaisar Yuzang Yanglang dengan tatapan tajam.


Di sisi lain saat ini Xiao Ziya masih terlelap dalam tidurnya meskipun hari sudah menjelang malam, Xiao Yan yang sedang menunggu kedatangan sang adik hanya bisa bersabar. Tidak mungkin jika Xiao Yan tiba tiba pergi ke paviliun milik Xiao Ziya dan mengganggu waktu istirahat gadis itu.


"Sepertinya dia merasa sangat lelah hingga terlelap di paviliunnya." gumam Xiao Yan dengan senyuman tipis. Xiao Ziya bukanlah tipe orang yang suka mengulur waktu kecuali saat dia sedang tidur, makan, ataupun ada hal hal yang mendesak.


Hari semakin larut, Xiao Ziya baru saja terbangun dari tidur lelapnya. Gadis itu menatap ke arah jendela kamarnya dan beberapa saat setelahnya mata Xiao Ziya membelalak dengan lebar. Ia tak sadar bahwa hari sudah larut malam dan harus segera pergi ke Istana Kerajaan Binglin bersama dengan kakak pertamanya.


Dengan segera Ziya turun dari tempat tidur dan berlari ke arah kamar mandi untuk membersihkan diri, setelah selesai mandi dan berganti pakaian ia segera keluar dari paviliun miliknya untuk menjemput Xiao Yan. Para prajurit yang bertugas untuk menjaga gerbang masuk paviliun milik Xiao Ziya hanya melihat nona muda mereka dengan tatapan bingung.


Xiao Ziya terus berlari hingga ia sampai di depan paviliun milik Xiao Yan. Beberapa prajurit menanyakan apakah gadis itu baik baik saja dan apa yang membuatnya begitu terburu buru. Bukannya menjawab pertanyaan dari para prajurit itu Xiao Ziya malah menanyakan hal lain pada mereka.


"Apakah Yan Gege ada di dalam?." tanya Xiao Ziya.


"Tuan Muda Xiao Yan ada di dalam. Silahkan masuk Nona Muda Xiao Ziya." ucap para prajurit yang mempersilahkan Xiao Ziya untuk masuk.


Setelah gerbang depan terbuka lebar Xiao Ziya bergegas berlari masuk ke dalam, ia merasa tak enak hati karna membuat sang kakak laki laki menunggu terlalu lama. Saat sampai di halaman depan paviliun itu Xiao Ziya melihat Xiao Yan yang sedang bersandar di dinding teras paviliunnya sembari menatap ke arah langit dengan mata yang hampir terpejam.


"Maaf karna saya datang terlambat. Saya tidak sadar bahwa tidur terlalu lama dan baru saja bangun beberapa saat yang lalu." ucap Xiao Ziya saat berada tepat di hadapan Xiao Yan.

__ADS_1


Xiao Yan yang awalnya sedang memandang ke arah langit malam dengan mata sayu seketika pandangannya teralihkan pada sang adik perempuan yang sedang berdiri di hadapannya. Karna terlalu lama menunggu Xiao Yan sempat berfikir bahwa Xiao Ziya sudah pergi dan lupa untuk menjemputnya, ternyata sang adik ketiduran hingga larut malam.


"Gege kira kau sudah pergi sejak tadi." jawab Xiao Yan dengan mata mengantuk.


"Saya benar benar tidak sengaja melakukannya." ucap Xiao Ziya dengan mata berkaca-kaca.


Dengan segera Xiao Yan bangkit dan memeluk adik perempuannya itu dengan erat. Xiao Yan mengusap kepala bagian belakang Ziya dengan pelan, ia tidak keberatan menunggu sang adik dalam waktu yang sangat lama sekalipun yang terpenting adiknya itu tidak sengaja meninggalnya.


"Maafkan Ziya." ucap Xiao Ziya dengan suara rendah.


"Hei sudahlah jangan menangis, berapa usia mu saat ini? kau sangat mirip dengan anak berumur lima tahun yang tidak dibelikan barang yang diinginkan." ucap Xiao Yan dengan sedikit candaan. Xiao Ziya melepaskan pelukan dari kakak laki lakinya itu kemudian memasang wajah cemberut.


"Uluh uluh wajahmu itu sangat menggemaskan adikku." goda Xiao Yan. Ia mencubit kedua pipi Xiao Ziya dengan gemas kemudian berlari menuju gerbang luar paviliunnya.


Xiao Ziya sangat kesal karna diperlukan seperti anak kecil oleh kakaknya, iapun berlari untuk mengejar sang kakak sebelum jarak diantara mereka terlalu jauh.


"Yan Gege!!." triak Xiao Ziya dengan cukup kencang sembari berlari mengejar kakaknya itu.


Xiao Yan yang mendengar suara teriakan Xiao Ziya kembali berlari untuk menyelamatkan dirinya, beberapa anggota Klan Xiao menyaksikan pertengkaran antara kakak laki laki dan adik perempuan yang sangat lucu itu. Beberapa diantara mereka juga merasa senang karna hubungan diantara Xiao Ziya dan Xiao Yan sudah membaik.


"Nona Ziya terlihat seperti anak berusia sepuluh tahun yang sedang bermain kejar-kejaran dengan kakak laki lakinya." ucap salah seorang murid Klan Xiao.


"Nona Ziya selalu menarik perhatian apapun yang ia lakukan. Siapapun yang menjadi pasangannya kelak pastilah pria paling beruntung di dunia ini." ucap Xiao Zuen dengan senyuman tipis. Xiao Zuen memiliki perasaan lebih pada Ziya namun ia sadar jarak diantara mereka terlalu jauh antara lapisan dunia bawah dengan lapisan dunia paling atas.


Setelah berlarian ke sana ke mari selama kurang lebih dua puluh menit, Xiao Yan menyerah karena ia sudah merasa lelah dan tidak sanggup lagi untuk berlari. Xiao Ziya tersenyum lebar kemudian ia mencubit pipi kanan Xiao Yan dengan sedikit lebih kencang.


"Aww sakit." ucap Xiao Yan dengan wajah kesakitan.


"Lain kali jangan mengejek saya seperti tadi. Sudahlah mari kita berangkat sekarang sebelum malam semakin larut." ucap Xiao Ziya dengan tatapan kesal.


"Baiklah mari kita berangkat." ucap Xiao Yan yang sudah siap sedari tadi.


Xiao Ziya menggenggam telapak tangan kanan kakak laki-lakinya itu kemudian dia membaca mantra teleportasi. Dalam sekejap keduanya berada dalam perjalanan melintasi dimensi ruang dan waktu dan dalam sekejap mata muncul di sebuah desa yang letaknya cukup dekat dengan Istana Kerajaan Binglin.

__ADS_1


Hai hai semua author balik lagi nih, gimana kabar kalian semoga sehat selalu ya. Jangan lupa follow buat yang belum, vote karna wajib, gift hadiah apapun makasih banget, like like like, komen buat ninggalin jejak, rate bintang lima, share juga ya guys.


__ADS_2