RATU IBLIS

RATU IBLIS
Akhir Bagi Yangrang


__ADS_3

"Pada siapa kita akan meminta bantuan? bagaimanapun juga adik Yie Munha harus selamat." ucap Yie Cinling dengan tatapan khawatir, mereka telah kehilangan sosok ibu karna ketamakan dari kakek dan nenek serta kebodohan dari ayah mereka sendiri.


"Paman Yie Fufu." ucap Yie Junghwa yang masih mengingat tatapan kebencian yang diberikan oleh Yie Fufu pada kakek dan neneknya. Menurut informasi yang mereka dapatkan Yie Fufu juga sangat dekat dengan nenek kandung Xiao Ziya, artinya ia tak ada di pihak kedua orang tua jahat itu.


"Mari kita pergi sekarang." ucap Yie Junghwa yang langsung menarik tangan Yie Cinling untuk pergi. Kedua pemuda itu berlari menuju ruang kerja wakil pemimpin Klan Yie, apapun yang mereka dengar hari ini harus tersampaikan pada Yie Fufu.


Kedua pemuda itu berlari menyusuri lorong yang ada di kastil Klan Yie, setelah beberapa saat akhirnya mereka berdua sampai di depan ruang kerja wakil pemimpin Klan Yie. Yie Junghwa mengetuk pintu dengan cukup keras namun tak ada jawaban apapun dari dalam ruangan tersebut, Yie Junghwa terus mengetuk pintu ruang kerja Yie Fufu hingga ia mendapat jawaban dari dalam sana.


"Mungkin paman Yie Fufu sedang berada di tempat lain." ucap Yie Cinling yang berusaha untuk berfikir positif. Sangat tak mungkin seorang Yie Fufu mengabaikan saat orang lain mengetuk pintu ruang kerjanya jika ia ada di dalam.


Yie Junghwa terdiam sejenak, pemuda itu ingat bahwa hari ini Klan Yie tak mengadakan rapat atau acara yang lain. Akhir akhir ini tak ada misi yang mengharuskan ketua klan untuk bepergian keluar wilayah, artinya wakil ketua ada di dalam ruang kerjanya namun tak mendengar suara ketukan pintu mereka. Yie Junghwa berinisiatif untuk mendobrak pintu tersebut dan meminta sang adik untuk menyingkir dari hadapannya.


Bruaak.


Suara pintu ruang kerja Yie Fufu yang di tendang dengan kencang oleh Yie Junghwa, setelah pintu terbuka dengan lebar mata pemuda itu menunjukkan ekspresi terkejut seperti melihat sesuatu di dalam. Karna penasaran akhirnya Yie Cinling mengintip untuk memastikan apa yang membuat kakaknya sampai terkejut seperti itu, setelah melihat apa yang dilihat oleh kakaknya, Yie Cinling langsung terjatuh kebelakang.


"Bagaimana bisa? bagaimana bisa paman Yie Fufu meninggal dengan keadaan semengerikan itu." ucap Yie Cinling dengan tubuh gemetaran setelah melihat jasad Yie Fufu yang sudah membusuk.


"Siapa yang telah melakukan hal ini pada paman, sebaiknya kita pergi melapor pada ketua klan yang lain." ucap Yie Junghwa, kejadian ini pasti ada sangkut pautnya dengan rencana yang tengah dijalankan oleh kakek dan nenek mereka.


Yie Junghwa menarik tangan Yie Cinling agar segera berdiri dan tak terus menatap ke arah mayat yang telah membusuk itu, mereka berdua berlari dengan secepat mungkin untuk sampai di ruang kerja ketua pertama yang tak jauh dari ruang kerja wakil pemimpin klan. Yie Junghwa mengetuk pintu dengan sangat kencang hingga membuat Yie Jungmin yang sedang membaca beberapa laporan baru menjadi terkejut, pria itu keluar dan melihat siapa orang yang mengganggu waktu kerjanya.


"Tolong kami paman tolong kami." ucap Yie Cinling dengan nafas tersengal sengal.


"Apa yang terjadi pada kalian berdua? mengapa wajah kalian sangat pucat seperti itu?." tanya Yie Jungmin dengan tatapan khawatir, mungkin ada sesuatu yang terjadi pada Xiao Ziya ataupun Yie Munha?.


"Kami menemukan mayat paman Yie Fufu di dalam ruang kerjanya. Kondisinya sangat mengenaskan, tangan, kaki, dan kepalanya terpisah dari badan selain itu mayat paman Yie Fufu sudah membusuk." jelas Yie Junghwa dengan tubuh gemetaran, mengapa kakek dan neneknya bertindak sejauh ini hingga mengorbankan nyawa orang lain. Apa yang harus mereka lakukan untuk menyelamatkan nyawa adik perempuan mereka.


Yie Jungmin menunjukkan ekspresi terkejut dengan wajah yang tiba tiba menjadi pucat, ruang kerja pria itu tak jauh dari ruang kerja wakil pemimpin Klan Yie namun ia tak mendengar suara teriakan atau suara lainnya dari ruangan itu. Yie Jungmin menatap ke arah Yie Junghwa dan Yie Cinling secara bergantian, hal pertama yang harus ia lakukan adalah menyelamatkan kedua pemuda itu.


"Kalian cepatlah berkemas dan pergi dari Klan Yie, saat ini kakek dan nenek kalian sudah tak bisa dikendalikan lagi. Pergilah secepat mungkin karna kalian satu satunya harapan kami." ucap Yie Junghwa dengan suara pelan dan ekspresi ketakutan. Mungkin hal yang pernah terjadi puluhan tahun yang lalu akan terulang kembali, entah apakah para ketua Klan Yie dapat menahan Yie Gu dan Yie Weinje saat keduanya menggila.


"Kemana kami harus pergi?." tanya Yie Cinling dengan tatapan bingung.


"Pergilah ke Kerajaan Bulan temui adik kalian, apapun yang terjadi jangan sampai Yie Munha jatuh ke tangan kakek dan nenek kalian." ucap Yie Jungmin dengan tatapan serius, selama jiwa Yie Munha tak di tumbalkan pada sosok yang selalu disembah oleh Yie Gu dan Yie Weinje maka kondisi wilayah Klan Yie dan keluarga sekitarnya akan tetap aman.

__ADS_1


"Baik kami akan pergi sekarang juga, tolong jaga diri paman dengan baik." ucap Yie Junghwa yang langsung pergi dari ruang kerja ketua pertama.


Yie Junghwa dan Yie Cinling berjalan dengan santai menuju kamar mereka masing masing, keduanya tak ingin tampak mencurigakan bagi orang orang yang berada di pihak kakek dan nenek mereka. Setelah masuk ke dalam kamar mereka berdua langsung mengemasi barang masing masing kemudian keluar melalui jendela belakang, setelah berhasil keluar dari jendela belakang mereka berdua langsung keluar melalui gerbang belakang kastil Klan Yie.


"Mari kita pergi sekarang." ucap Yie Junghwa yang langsung melesat pergi dari bagian belakang kastil Klan Yie disusul oleh adik laki lakinya.


Di sisi lain saat ini Xiao Ziya dan yang lain telah sampai di halaman depan tempat tinggal Yangrang, gadis itu adalah putri tunggal dari Keluarga Bangsawan Wiyangrang karna hal itu ia sangat dimanjakan oleh kedua orangtuanya. Mendengar suara ribut dari halaman belakang membuat ayah dari gadis itu mengintip dari jendela ruang kerjanya, mata Tuan Zuyangrang langsung melebar ketika melihat putri yang ia cintai bergelantungan dengan kaki yang terikat.


"Sialan apa yang mereka lakukan pada putri kecilku." ucap Zuyangrang yang langsung bergegas keluar dari ruang kerjanya dan berlari menuju halaman belakang. Pria itu terlihat sangat marah dan menatap tajam ke arah Raja Ming Gu, ia ingin meminta penjelasan pada sang raja mengenai kondisi putrinya saat ini.


"Lepaskan putriku, apa yang telah kalian lakukan padanya. Lalu siapa gadis sombong yang sedang mengikat kaki putri kesayangan ku itu!!!." triak Zuyangrang dengan emosi yang meluap luap.


Xiao Ziya hanya tersenyum tipis menanggapi kemarahan dari ayah Yangrang, Ziya menggerakkan tangannya kedepan kemudian tubuh Yangrang terlempar dengan kencang dan membentur tanah dengan sangat keras. Yangrang mengerang kesakitan, ia rasa ada beberapa tulangnya yang patah karna ulah Xiao Ziya.


"Putriku." ucap Zuyangrang yang langsung menghampiri putri kesayangannya itu, ia melihat dan memastikan bagaimana konsisi Yangrang saat itu.


"Gadis itu telah menyiksa saya ayah, tolong balaskan semua rasa sakit yang saya rasakan." ucap Yangrang dengan mata berkaca-kaca seperti ingin menangis.


"Akan ku bakar seluruh tubuhmu itu dasar gadis sialan." triak Zuyangrang. Pria itu berlari ke arah Xiao Ziya dengan kecepatan tinggi, pria itu mengeluarkan api dari kedua telapak tangannya.


"Saya mencabut berkat sihir api pada pria ini." ucap Dewa Hiloz kemudian tubuh Zuyangrang melemas, keluar beberapa benang berwarna merah dari tubuh Zuyangrang dan benang benang itu terserap oleh telapak tangan Dewa Hiloz. Zuyangrang menatap ke arah Dewa Hiloz dengan tubuh gemetaran, bagaimana ia tak melihat kehadiran Dewa Agung yang telah memberikan berkat padanya.


"Mohon ampun atas kesalahan yang telah saya lakukan. Saya tak menyadari kehadiran Dewa Hiloz yang sangat Agung. Izinkan saya untuk memberi pelajaran pada gadis yang telah menyakiti putri saya, tanpa bantuan dari Anda saya tak bisa melakukan apapun." ucap Zuyangrang sembari bersujud dihadapan Dewa Hiloz.


"Gadis yang ingin kau beri pelajaran adalah Dewi Agung yang sangat saya hormati." jawab Dewa Hiloz dengan tatapan dingin.


"Terbakar lah." ucap Xiao Ziya dengan senyuman miring. Dalam sekejap api hitam milik Xiao Ziya membakar tubuh Zuyangrang dengan kobaran api yang sangat besar. Zuyangrang menjerit dengan histeris karna merasakan sakit yang teramat sangat sedangkan Yangrang menangis sejadi jadinya melihat ayah yang sangat ia cintai dibakar langsung dihadapannya.


"Argh hentikan!!! cepat matikan api itu, matikan api itu, MATIKAN!!!!." ucap Yangrang dengan jeritan yang sangat histeris, gadis itu tak bisa membiarkan sang ayah mati begitu saja. Yangrang meminta para pekerja di rumahnya untuk mengambil air sebanyak banyaknya kemudian menyiramkan air tersebut ke tubuh Tuan Zuyangrang yang sedang terbakar dengan hebat. Bukannya padam api berwarna hitam itu semakin membesar dan membuat semua orang menjadi panik.


"Jangan melakukan sesuatu yang sia sia, bukankah ini yang Anda inginkan Nona Yangrang?." ucap Xiao Ziya dengan senyuman jahat.


"Ayah....ayah." ucap Yangrang dengan air mata yang membasahi wajahnya.


Raja Ming Gu dan Putra Mahkota Ming Zu hanya bisa melihat dan menyaksikan salah seorang anggota Keluarga Bangsawan Wiyangrang mati terbakar karna putrinya telah menyinggung orang yang salah. Seharusnya Yangrang sadar bahwa Xiao Ziya bukanlah gadis yang akan mentolerir kesalahan kecil ataupun kesalahan besar yang dilakukan dengan sengaja apalagi sampai merendahkan harga dirinya. Nyonya Jiangrang ibu dari gadis itu keluar dari dalam rumah, ia berlari ke arah suaminya dan ingin memeluk suaminya itu. Dengan segera Yangrang berdiri kemudian menarik ibunya agat tak melakukan hal yang dapat membayangkan nyawanya sendiri.

__ADS_1


"Hari ini saya sudah kehilangan sosok ayah, jangan sampai saya kehilangan sosok seorang ibu juga." ucap Yangrang sembari memeluk sang ibu dengan sangat erat. Nyonya Jiangrang hanya bisa menangis di pelukan sang anak, ia tak tau ada kekacauan sebesar itu di luar rumahnya. Tadinya Nyonya Jiangrang sedang berada di dapur dan memasak bersama dengan pelayan yang lain, Nyonya Jiangrang sering memasak sendiri karna hanya ia yang tau makanan kesukaan anak dan suaminya.


"Katakan pada ibu siapa yang telah melakukan hal itu pada ayahmu?." tanya Nyonya Jiangrang pada anak perempuannya.


"Maafkan saya ibu, karna kesalahan yang saya lakukan ayah harus menanggung akibatnya." ucap Yangrang yang meminta maaf pada sang ibu. Ia melirik ke arah Xiao Ziya yang sedang tersenyum lebar padanya, Yangrang tak menyangka bahwa gadis itu tak memiliki hati sama sekali.


"Jadi siapa selanjutnya?." tanya Xiao Ziya dengan nada santai, apakah ia harus menghabisi seluruh Keluarga Bangsawan Wiyangrang? ataukah cukup dengan kematian kepala keluarga mereka saja?.


"Mohon maaf Nona Besar Xiao Ziya, kami harus kembali ke Alam Dewa Dewi karna banyak hal yang harus kami lakukan." ucap Dewa Yengmu yang meminta izin pada Xiao Ziya agar mereka bertiga kembali ke Alam Dewa Dewi.


Xiao Ziya menoleh kebelakang dan menatap ke arah ketiga dewa itu, dengan segera Xiao Ziya menganggukkan kepalanya sebagai pertanda bahwa ia mengizinkan Dewa Hiloz, Dewa Agni, dan Dewa Yengmu untuk kembali ke Alam Dewa Dewi.


"Terimakasih karna telah datang memenuhi panggilan saya." ucap Xiao Ziya dengan senyuman manis yang menghiasi wajah cantiknya itu.


"Sekali lagi saya minta maaf atas tindakan yang dilakukan mantan pengikut saya." ucap Dewa Hiloz sembari membungkukkan badan di hadapan Xiao Ziya sebagai tanda permintaan maaf yang tulus pada gadis yang telah menjadi Dewi Agung itu.


"Jangan sampai masalah seperti ini terulang lagi, kalian bisa kembali sekarang." ucap Xiao Ziya dengan senyuman tipis. Ketiga Dewa itu segera pergi sebelum Xiao Ziya berubah fikiran dan semakin marah pada Dewa Hiloz, selepas kepergian tiga dewa itu Nyonya Jiangrang melepas pelukan putrinya kemudian berdiri dan menatap Raja Ming Gu dengan tajam.


"Apa yang terjadi pada suami saya haru ini adalah tanggung jawab Anda Yang Mulia Raja Ming Gu." ucap Nyonya Jiangrang yang ingin meminta pertanggungjawaban dari Raja Ming Gu, dengan kematian sang suami ia akan menjadi seorang janda. Para wanita bangsawan yang menjanda mendapat banyak tanggapan negatif dari bangsawan yang lain, beberapa wanita bangsawan akan mulai menjauhi mereka karna takut sang suami akan direbut.


"Pertanggungjawaban seperti apa yang Anda inginkan Nyonya Jiangrang?." tanya Raja Ming Gu dengan tatapan serius, jika harus mengganti rugi dengan harta atau sebuah desa kecil mungkin sang raja bisa melakukannya.


"Nikahi saya setelah upacara kematian suami saya." ucap Nyonya Jiangrang dengan tegas, secara terang terangan dihadapan banyak orang ia meminta untuk dinikahi oleh Raja Ming Gu.


"Saya tak bisa mengabulkan permintaan Anda karna hanya Ratu Ming Luqi saja satu satunya wanita yang ingin saya nikahi hingga akhir hidup saya nanti." jawab Raja Ming Gu mengenai permintaan dari wanita yang ada di hadapannya itu, meski saat ini Ratu Ming Luqi sedang dalam kondisi mati suri namun sang raja tak memiliki niatan untuk menikah dan memiliki seorang selir.


"Saya tak ingin menjadi janda dan karna gadis asing itu saya kehilangan suami yang sangat saya cintai. Sebagai seorang Raja, Anda hanya diam dan menyaksikan salah seorang penduduk Kerajaan dibunuh begitu saja!." bentak Nyonya Jiangrang pada Raja Ming Gu. Jika ia kehilangan suami yang ia cintai karna ketidak tegasan dari sang raja, maka raja juga harus sanggup menodai kesetiaannya pada sang ratu.


Xiao Ziya menatap ke arah Nyonya Jiangrang dengan sorot mata dingin, baru kali ini ia melihat wanita gila jenis baru seperti Nyonya Jiangrang itu. Saat suaminya mati seharusnya ia segera melangsungkan upacara kematian dan mendoakan sang suami, setelah itu Nyonya Jiangrang masih harus melakukan beberapa hal lain seperti berdiam diri di dalam rumah selama satu minggu penuh namun wanita itu malah meminta pertanggungjawaban dari Raja Ming Gu untuk menikahinya? artinya Nyonya Jiangrang sengaja memanfaatkan situasi tersebut untuk kepentingannya sendiri. Tanpa ragu ragu Xiao Ziya mengeluarkan pedang hitam miliknya, ia memiringkan sedikit kepalanya ke kiri kemudian tersenyum pada Yangrang dengan senyuman yang bisa membuat seseorang berhenti bernafas.


Xiao Ziya dengan cepat melesat ke arah Nyonya Jiangrang kemudian memenggal kepala wanita itu menggunakan pedang hitam miliknya, karna terlalu sibuk berdebat dengan Raja Ming Gu wanita itu sampai tak sadar jika ada bahaya yang mendatanginya. Dalam hitungan tiga detik kepala Nyonya Jiangrang terlepas dari badan serta mengeluarkan darah dalam jumlah sangat banyak.


"Kau membunuh ibuku!!! bagaimana kau bisa dengan mudahnya membunuh ibuku!." triak Yangrang yang langsung berlari ke arah Xiao Ziya namun kakinya tersandung sesuatu hingga jatuh ke tanah.


"Wanita itu terlalu bersisik, apa yang terjadi pada keluarga ini tak ada sangkut pautnya dengan Raja Ming Gu." jawab Xiao Ziya dengan tatapan datar, gadis itu sama sekali tak merasa bersalah atas kemalangan yang menimpa Yangrang.

__ADS_1


Hai semua author minta bantuannya ya, klik profil author lalu lihat trending yang baru author buat. Author lagi butuh banget bantuan kalian, buat yang berkenan silahkan dibantu sesuai dengan instruksi yang ada di sana. Jangan lupa follow buat yang belum, vote karna wajib, gift hadiah apapun, like like like, komen buat ninggalin jejak, rate bintang lima, share juga ya.


__ADS_2