
Saat ini Xiao Ziya sedang dalam perjalanan mengantar Yoe menuju rumahnya, saat sedang melintas di sebuah toko yang menjual berbagai macam tanaman herbal gadis itu melihat seorang pelayan dari Istana Kerajaan Bintang Timur sedang membeli sesuatu di sana.
"Kenapa kita berhenti jiejie?." tanya Yoe dengan tatapan bingung, rumahnya tak jauh lagi dari tempat ini akan tetapi tiba tiba nona muda yang sedang menggendongnya berhenti di tengah jalan.
"Jiejie harap Yoe diam untuk beberapa saat." ucap Xiao Ziya tanpa menjelaskan apapun pada anak itu.
Yoe langsung terdiam dan melakukan apa yang diinginkan oleh Xiao Ziya, sebenernya anak itu penasaran apa yang sedang diamati oleh sang nona muda. Pelayan dari Istana Kerajaan Bintang Timur membeli beberapa herbal kering yang memiliki efek racun bila digunakan dalam jumlah yang cukup banyak, melihat hal itu Xiao Ziya langsung menaikkan satu alisnya.
"Tolong berpegangan lah dengan kuat." ucap Xiao Ziya yang langsung menunjukkan wajah serius pada Yoe. Yoe pun memegang kerah baju Xiao Ziya dengan kencang dan beberapa detik setelahnya Xiao Ziya melesat menggunakan ilmu meringankan tubuh.
Dalam beberapa kedipan mata Yoe sudah sampai di depan rumah tua usang tempat ia tinggal bersama dengan sang adik, Yoe turun dari gendongan Xiao Ziya dan mengucapkan terimakasih pada nona muda itu. Mendengar suara yang familiar, Yue langsung berlari keluar dari rumah menyambut kepulangan kakaknya dengan senyuman lebar. Yue merasa tenang karna kakak laki lakinya kembali dengan selamat, kakak beradik itu ingin mengajak Xiao Ziya masuk kedalam rumah mereka namun Ziya harus menolak karna ada urusan lain yang lebih penting.
"Maaf karna jiejie belum bisa mampir ke rumah kalian, Yang Mulia Raja Yongling Zu meminta jiejie untuk segera kembali ke istana." jawab Xiao Ziya dengan raut wajah sedih, ia merasa lebih nyaman berada di dekat Yoe dan Yue daripada harus bertemu dengan Keluarga Kerajaan Bintang Timur.
"Baiklah jika begitu, lain kali jiejie harus mampir." ucap Yoe yang mengerti situasi saat ini.
"Terimakasih banyak karna telah menyelamatkan kakak Yue, saat jiejie datang nanti saya akan memasak banyak makanan." ucap Yue dengan senyuman lebar.
"Kalau begitu jiejie pergi dulu, kalian jaga diri baik baik dan segera temui jiejie jika terjadi sesuatu." ucap Xiao Ziya kemudian pergi meninggalkan kedua anak laki laki itu. Yoe dan Yue saling bertatapan satu sama lain kemudian mereka berdua masuk ke dalam rumah.
Saat berada di dalam rumah tua tersebut Yoe dan Yue berubah menjadi dua pemuda dengan paras yang tampan. Yoe dan Yue masuk kesebuah ruangan besar dengan perlengkapan mewah di dalamnya, sebenarnya rumah tua yang hampir rubuh itu tak separah kelihatannya.
"Bagaimana menurut gege tentang gadis itu?." tanya Yue sembari memakan buah apel yang disediakan di meja.
"Dia memang layak untuk menjadi yang terpilih, namun ada beberapa hal yang perlu dipertimbangkan lagi." jawab Yoe dengan raut wajah serius, pemuda itu sangat tampan dengan mata tajam dan rambut berwarna hitam legam.
"Apalagi yang perlu dipertimbangkan, dia cukup baik dibandingkan dengan beberapa kandidat lain."
"Untuk saat ini saja dia sudah jauh lebih kuat daripada kita berdua, di masa depan dia akan tumbuh menjadi gadis yang lebih kuat lagi. Sebaiknya kita membuat laporan terlebih dahulu mengenai Nona Xiao Ziya." ucap Yoe penuh dengan pertimbangan, mereka tak boleh salah dalam menilai seseorang yang terpilih menjadi kandidat jika tidak maka kerusakan tatanan alam semesta akan terjadi.
Di tempat lain saat ini Xiao Ziya berusaha secepat mungkin untuk sampai di Istana Kerajaan Bintang Timur, ia ingin tau apa yang dilakukan oleh pelayan tersebut dengan herbal herbal berbahaya itu. Xiao Ziya hanya khawatir jika sang pelayan berencana untuk meracuni ibunya, menurut informasi yang ia dapatkan Raja Yongling Zu memiliki seorang selir yang berpotensi besar iri dengan Ratu Junyi Zu.
"Tunggu sebentar nona, mengapa anda kembali?." tanya seorang penjaga gerbang Istana Kerajaan Bintang Timur yang menghentikan laju Xiao Ziya.
"Saya tamu dari Kerajaan Bulan yang diundang khusus oleh Yang Mulia Raja Yongling Zu, ini undangan saya." ucap Xiao Ziya yang langsung menunjukkan surat undangan yang ia terima beberapa hari yang lalu.
Menyadari gadis yang ada di hadapan mereka adalah pemimpin baru dari Kerajaan Bulan membuat para penjaga gerbang merinding, gadis semuda itu memiliki keberanian untuk berperang dengan Kerajaan besar.
__ADS_1
"Maafkan kami karna telah menyinggung perasaan anda." ucap para prajurit penjaga gerbang dengan membungkukkan badan di hadapan Xiao Ziya.
"Itu bukan masalah besar, bisakah saya masuk sekarang?." tanya Xiao Ziya dengan nada yang tak santai.
"Silahkan masuk Nona Ziya." ucap para prajurit penjaga gerbang.
Xiao Ziya masuk kedalam Istana Kerajaan Bintang Timur, ia pergi menuju dapur untuk melihat apakah pelayan tersebut sudah memulai aksinya atau belum. Saat sampai di dapur terlihat beberapa koki dan pelayan sedang sibuk menyiapkan berbagai macam makanan, jamuan makan malam yang diadakan oleh Yang Mulia Raja Yongling Zu cukup besar hanya untuk menyambut seorang gadis muda saja. Mata Xiao Ziya tek henti henti melihat ke berbagai arah, akhirnya gadis itu menemukan sang pelayan yang membeli tanaman herbal beracun.
"Cepat pergi ke kamar utama berikan teh ini pada Ratu Junyi Zu, kita semua sibuk mengurus jamuan makan malam hingga lupa memberikan teh dan beberapa camilan pada sang ratu." ucap pelayan itu dengan tegas, samar samar Ziya melihat senyuman licik dari si pelayan.
"Baik kami akan mengantarnya ke kamar ratu." ucap beberapa pelayan lain yang langsung membawa teh serta camilan itu menuju kamar utama.
Xiao Ziya meremas bajunya dengan kuat, apa yang ia takutkan benar benar terjadi. Pelayan rendahan itu dengan berani ingin meracuni sang ibu, hal seperti ini tak bisa dibiarkan begitu saja. Xiao Ziya dengan segera melesat menuju beberapa pelayan yang sedang berjalan menuju kamar utama, dengan sengaja gadis itu menabrak para pelayan hingga menjatuhkan teh serta camilan yang mereka bawa.
"Apa yang kau lakukan!! ini semua untuk Yang Mulia Raja!." triak seorang pelayan yang sedang memarahi Xiao Ziya.
"Ah maaf karna saya kurang berhati hati." ucap Xiao Ziya dengan senyuman tipis.
"Darimana datangnya gadis liar sepertimu, di istana ini tak semua orang bisa berbuat sesuka hati mereka." triak para pelayan, mereka terlihat begitu marah pada Xiao Ziya.
"Saya memiliki janji dengan Raja Yongling Zu karna itu saya harus berjalan dengan cepat." jawab Xiao Ziya dengan raut wajah sedih, gadis itu bertindak seolah oleh apa yang ia lakukan terjadi secara tidak sengaja.
Xiao Ziya menundukkan kepalanya dan melihat ke lantai, teh yang tumpah dan mengenai ubin lantai menimbulkan bekas yang cukup mencurigakan. Gadis itu mengangkat kepala dan mulai menatap tajam ke arah pelayan Istana Kerajaan Bintang Timur yang berada di hadapannya, perubahan sikap dari Xiao Ziya membuat para pelayan merasa bingung sekaligus ketakutan.
"Kalian ingin meracuni Ratu Junyi Zu!!!." triak Xiao Ziya menggunakan tenaga dalam hingga terdengar ke berbagai penjuru istana. Kata kata gadis itu membuat para prajurit dan beberapa pangeran datang.
"Apa yang sedang terjadi di sini? dan siapa yang berteriak begitu kencang." ucap Putra Mahkota Yunzo Zu, ia menatap ke arah para pelayan seperti sedang meminta penjelasan pada mereka.
"Nona ini berlari ke arah kami saat kami akan mengantar makanan serta teh ke kamar Yang Mulia Ratu Junyi Zu, entah mengapa tiba tiba ia menuduh kami ingin meracuni Ratu." jelas seorang pelayan dengan keringat dingin yang menetes di keningnya, ia sama sekali tak mengerti dengan maksud Xiao Ziya mengatakan hal itu.
"Siapa kau? mengapa kau berada di istana ini." tanya Putra Mahkota Yunzo Zu dengan tatapan penuh selidik. Gadis muda yang ada di hadapannya itu memiliki paras yang cantik dan sangat mirip dengan sang ibu, mungkinkah gadis itu adik tirinya?.
"Maaf karna telah membuat keributan di tempat ini, saya Xiao Ziya datang memenuhi undangan jamuan makan malam dari Yang Mulia Raja Yongling Zu. Saya menuduh para pelayan itu ingin meracuni sang ratu bukan tanpa sebab, anda bisa melihat sendiri bekas teh yang tumpah ke ubin lantai. Terlihat dengan jelas warna hitam pekat yang semakin melebar dan menimbulkan kerak yang sangat tebal." ucap Xiao Ziya dengan tenang, sang putra mahkota langsung menundukkan kepala dan melihat ke bawah.
Apa yang dikatakan oleh Xiao Ziya merupakan sebuah kebenaran, jadi para pelayan itu benar benar ingin meracuni Yang Mulia Ratu Junyi Zu. Putra Mahkota terlihat sangat marah, ia meremas tangannya dengan kuat hingga membuat otot otot tangan terlihat begitu jelas.
"Beraninya kalian!!." triak Putra Mahkota Yunzo Zu ia ingin menampar para pelayan itu namun langsung dihentikan oleh Xiao Ziya.
__ADS_1
"Mengapa kau menahan ku!." triak Putra Mahkota Yunzo Zu.
"Jika anda ingin menemukan pelaku sebenarnya dari kejadian ini, anda harus bersikap sedikit tenang. Dan kalian para pelayan bersikaplah seolah olah tak terjadi apapun, katakan saja pada pelayan lain bahwa kalian telah mengantar teh serta camilan itu ke kamar utama. Saya tau kalian hanyalah kambing hitam dalam masalah kali ini." ucap Xiao Ziya dengan tenang serta tatapan tajam, ia ingin para pelayan mengikuti rencananya dengan baik.
"Baiklah kami mengerti nona, terimakasih karna telah percaya pada kami." ucap para pelayan itu yang langsung pergi menuju dapur.
"Mari ikut saya sebentar." ucap Xiao Ziya yang langsung menarik tangan Putra Mahkota Yunzo Zu menuju taman belakang Istana Kerajaan Bintang Timur. Setelah sampai taman, Xiao Ziya langsung melepas genggaman tangannya dan meminta Putra Mahkota duduk.
"Mengapa kau malah menarik ku kesini?." tanya Putra Mahkota Yunzo Zu dengan tatapan bingung dan rasa kesal yang muncul dihatinya. Selama ini belum ada anggota keluarga Kerajaan Bintang Timur yang berani memperlakukannya seperti itu kecuali sang ayah.
"Anda cukup bodoh dengan gelar sebagai Putra Mahkota." ejek Xiao Ziya dengan wajah datarnya. Gadis itu tak mengerti apakah Kerajaan Bintang Timur tak memiliki kandidat yang lebih baik dari pemuda arogan ini.
"Apa maksud mu mengatakan hal seperti itu!." bentak Putra Mahkota yang tak menerima penghinaan dari Xiao Ziya.
"Seharusnya anda bisa lebih tenang menyikapi masalah seperti ini, saya tau siapa pelayan yang telah meletakkan herbal beracun itu kedalam teh Yang Mulia Ratu Junyi Zu akan tetapi pernahkan anda berfikir ada orang lain yang memintanya untuk melakukan hal tersebut?. Seorang pelayan tak akan memiliki keberanian sebesar itu tanpa dukungan orang lain dibelakangnya, jika kita menangkap pelayan itu sekarang maka nyawa Ratu Junyi Zu tetap dalam bahaya. Kita perlu mengumpulkan bukti yang lebih kuat lagi untuk menyeret pelaku tersebut." jelas Xiao Ziya dengan suara pelan agar tak ada orang lain yang mendengar percakapan diantara mereka berdua.
"Maaf karna saya terlalu emosional, saya sangat membenci mereka yang ingin melukai ibu." jawab Sang Putra Mahkota Yunzo Zu, ia merasa bersalah karna beberapa kali telah membentak gadis di hadapannya itu.
"Saya juga tak akan membiarkan hal buruk terjadi pada ibu saya, sebenarnya saya bisa langsung membunuh sang pelaku namun akan ada keributan besar di istana ini." ucap Xiao Ziya dengan sorot mata serius, ia bisa saja membunuh Selir Mue Zu beserta para pelayan yang berada di pihaknya.
"Memangnya siapa dalang dibalik semua ini?." tanya Putra Mahkota Yunzo Zu.
"Siapa lagi yang memiliki rasa kebencian yang begitu dalam lada Ratu Junyi Zu selain Selir Mue Zu." jawab Xiao Ziya dengan singkat, padat, dan jelas.
"Lalu apa rencana kita selanjutnya?." tanya Putra Mahkota Yunzo Zu, ia ingin tau apa yang sedang direncanakan oleh adik tirinya itu.
"Kita tak sedekat itu hingga saya harus berbagi rencana dengan anda." jawab Xiao Ziya dengan wajah kesal yang membuat Putra Mahkota Yunzo Zu merasa gemas.
"Ya kau benar, kita memang belum sedekat itu. Jika kau membutuhkan bantuan ku katakan saja kapanpun." ucap Putra Mahkota Yunzo Zu dengan senyuman tipis yang ia tunjukkan pada Xiao Ziya.
Putra Mahkota Yunzo Zu pergi meninggalkan Xiao Ziya sendirian di taman belakang, pemuda itu ingin membiarkan adik tirinya memiliki watu untuk memikirkan sebuah rencana demi keselamatan ibu mereka. Saat berjalan menuju istana utama sang Putra Mahkota berpapasan dengan Raja Yongling Zu.
"Ayah sempat mendengar keributan di sekitar sini, apa kau tau apa yang sedang terjadi?." tanya Raja Yongling Zu dengan raut wajah cemas.
"Anda bisa menanyakan hal itu pada adik Ziya, saya harus kembali ke ruang kerja saya." jawab Putra Mahkota Yunzo Zu dengan nada dingin, ia memiliki sifat seperti sang raja saat masih muda.
"Ada apa dengan anak itu?." tanya Raja Yongling Zu pada dirinya sendiri. Sang raja bergegas pergi menuju taman belakang untuk mencari Xiao Ziya dan untunglah gadis itu masih ada di sana.
__ADS_1
Hai hai semua author balik lagi nih, gimana kabar kalian semoga sehat selalu ya. Jangan lupa follow buat yang belum, vote karna wajib, gift hadiah apapun, like like like, komen buat ninggalin jejak, rate bintang lima, share juga ya.