
Kedua roh penguji itu benar benar tersiksa, Xiao Ziya tak pernah main main dengan apa yang ia katakan. Siapapun yang mengganggu, menghina, ataupun menyerupai sosok orang orang yang ia sayang maka petakalah sebagai hadiahnya. Kedua roh penguji itu lenyap beserta alam buatan yang mereka ciptakan kini semuanya menjadi gelap tak ada apapun atau siapapun di sana, dengan kondisi seperti itu Xiao Ziya tetap tenang.
"Jika ada yang berani menyerupai wujud orang orang terdekat saya lagi maka saya tak akan sungkan untuk menghabisinya." ucap Xiao Ziya di dalam batin. Untuk naik ke tahap selanjutnya Xiao Ziya harus melewati tiga ujian lagi, namun para roh penguji yang seharusnya menguji gadis itu merasa takut bagaimana jika nasib mereka sama dengan kedua rekan mereka yang baru saja lenyap.
"Siapa yang ingin mengujinya terlebih dahulu." ucap sesosok roh penguji dengan kekuatas sihir angin, ia bertanya pada kedua rekannya karna ia tak berani menguji Xiao Ziya terlebih dahulu. Karna pada awalnya ujian yang ia siapkan juga hampir sama dengan ujian yang diberikan oleh kedua rekannya yang telah lenyap.
"Entahlah saya merasa takut saat ingin mengujinya." jawab sesosok roh penguji dengan kekuatan sihir tanah ujian yang akan ia berikan tak begitu sulit namun rasa takut membuatnya tak yakin.
"Sebaiknya roh tanah terlebih dahulu yang memberikan ujian, karna kami berdua sedang mencari ide baru untuk menguji Xiao Ziya." ucap sang roh penguji dengan sihir tanaman. Karna ujian yang akan ia berikan juga memiliki bagian dimana ia akan menyerupai sosok Xiao Yuna, jika ia tak memikirkan ide baru sudah bisa dipastikan bahwa dirinya akan lenyap.
"Baiklah saya akan mengujinya terlebih dahulu." ucap roh penguji dengan sihir tanah, ia hanya bisa pasrah karna kedua rekannya tak mungkin melakukan ujian dengan ide segila itu.
Xiao Ziya sedang menunggu ujian selanjutnya ia tau ujiannya untuk masuk ke tingkatan dewa tahap menengah pertama belum selesai karna belum terjadi ledakan energi pada tubuhnya, lalu dimana ujian lain yang harus ia lewati jangan jangan sisa roh penguji yang seharusnya menguji dirinya kabur karna merasa takut.
"Ini sangat lama jika sudah tak ada ujian lagi mengapa saya tak naik tingkat." ucap Xiao Ziya yang sudah cukup bosan untuk menunggu lama.
Tiba tiba ruang batinnya yang semula hitam kelam berubah menjadi hamparan padang rumbut yang sangat indah, banyak bunga dan pohon yang tumbuh dengan subur dan cantik. Xiao Ziya terlihat begitu senang ketika ia melihat pemandangan yang indah, namun ini adalah ujian kenaikan tingkat mengapa hanya seperti ini? mungkin saja di balik keindahan yang menyenangkan ada sebuah bahaya yang sedang mengintai.
"Ada yang tidak beres di sini." ucap Xiao Ziya yang mulai memandangi sekelilingnya dengan tatapan tajam. Benar saja ia melihat ribuan golem tanah dengan ukuran kecil sedang menggelinding kearahnya. Xiao Ziya tersenyum ternyata pemandangan indah yang ia lihat adalah sebuah pengalihan, dengan cepat gadis itu melompat kesalah satu pohon yang paling tinggi, golem golem tanah itu semakin dekat dengan pohon yang dijadikan tempat berpijak Xiao Ziya. Karna dihantam oleh ribuan golem tanah dengan ukuran kecil pohon tinggi yang dipijak Xiao Ziya mulai goyah dan akhirnya ambruk.
Untung saja sebelum ambruk Xiao Ziya pindah ke pohon lainnya, gadis itu terus melompat dari satu pohon ke pohon yang lain hingga semua pohon yang ada di sana habis karna tumbang terhantam golem.
"Sayap garuda emas." ucap Xiao Ziya yang mengeluarkan salah satu kemampuannya. Kini gadis itu tengah terbang di atas langit dengan sepasang sayap emas yang indah.
Golem golem kecil itu merasa telah dipermainkan oleh Xiao Ziya, kini pohon pohon yang menjadi tempat tinggal mereka telah tumbang dan semua itu adah kesalahan Xiao Ziya, para golem kecil ingin membalas dendam mereka mulai melemparkan badan mereka ke atas agar bisa mengenai Xiao Ziya.
"Kalian ingin bermain lempar lemparan denganku baiklah." ucap Xiao Ziya yang menciptakan ratusan bola api disekitarnya dengan warna yang berbeda beda.
Para golem kecil itu merasakan ancaman yang sangat besar dari bola bola api yang ada di atas langit itu, namun mereka yakin dengan jumlah mereka yang lebih banyak maka para golem lah yang akan menang. Xiao Ziya mengambil sebuah bola api berwarns merah dan Xiao Ziya bersiap untuk melempar bola api itu.
"Tangkaplah bola bola api yang ku lempar jika kalian bisa." ucap Xiao Ziya yang melempar sebuah bola api kearah para golem.
Duaaar
Terdengar ledakan yang cukup besar ketika bola api merah itu menghantam tubuh para golem, satu bola api merah dapat menghancukan 100 golem kecil dalam seketika kini siapa yang akan menang?.
"Gadis kecil itu sangat berbahaya." ucap sebuah golem pada rekannya yang lain.
__ADS_1
"Bola api yang ia buat juga sangat kuat." ucap golem lain yang melihat keatas agar ia tau jika ada serangan mendadak yang dilakukan oleh Xiao Ziya.
"Bagaimana masih ingin dilanjut?." ucap Xiao Ziya dengan sebuah senyuman yang membuat siapa saja merinding.
Para golem melakukan serangan balasan namun tak ada satupun yang berhasil mengenai Xiao Ziya, karna serangan mereka gagal sekarang saatnya Xiao Ziya membalas gadis itu mengambil dua buah bola api kemudian melemparnya ke bawah begitupun seterusnya hingga bola api milik Xiao Ziya habis tak tersisa dan di bawah terlihat sekumpulan asap yang tercipta dari bola bola api yang hampir puasa. Saat asap itu hilang dapat dilihat dengan jelas bahwa para golem kecil itu telah musnah.
Tanah mulai bergetar Xiao Ziya merasakan ada sebuah bahaya yang akan datang, mungkin itu adalah golem raksasa yang marah karna ia telah memusnahkan para golem kecik. Benar saja ada sebuah golem yang sangat besar keluar dari retakan tanah itu.
"Siapa yang telah menbunuh para golem kecil yang menjadi pengikutku." ucap sang golem besar dengan nada yang tinggi. Merasa bahwa golem besar itu mencari dirinya dengan segera Xiao Ziya mengangkat tangannya.
"Saya yang telah memusnahkan para golem kecil." ucap Xiao Ziya dengan santai tanpa ada perasaan bersalah karna golem golen kecil itulah yang memulainya terlebih dahulu.
"Beraninya kau, aku akan menghabisimu." ucap sang golem raksasa yang mulai menyerang Xiao Ziya dengan tangan raksasanya yang terbuat dari tanah.
Serangan demi serangan golem itu layangkan hingga tanah bergetar namun Xiao Ziya terbang sangat tinggi hingga sang golem raksasa tak bisa menggapainya. Xiao Ziya mengeluarkan sebuah pedang berwarna keemasan.
"Permainan ini sungguh membosankan mari kita akhiri saja." ucap Xiao Ziya kemudian ia terbang kebawah dengan kecepatan tinggi tak lupa pedang yang ia pegang ia arahkan pada kepala sang golem raksasa.
Dengan satu kedipan mata golem raksasa itu terbelah menjadi dua bagian, kini tinggal dua ujian lagi yang harus Xiao Ziya lalui namun roh penguji sihir angin dan roh penguji sihir tanaman belum siap untuk melakukannya sehingga Xiao Ziya harus menunggu lagi.
"Yah, mereka sangat lambat bila kalian takut maka loloskan saja saya." ucap Xiao Ziya yang mulai kesal karna harus menunggu cukup lama, kedua roh penguji itu tampak bingung dan sedang mempertimbangkan apa yang dikatakan oleh Xiao Ziya. Kedua roh penguji itu memang takut pada Xiao Ziya namun jika mereka berdua meloloskannya begitu saja berarti mereka melanggar peraturan yang diciptakan Pemilik Alam Semesta.
"Jadi kalian dua roh penguji terakhir?." tanya Xiao Ziya pada kedua sosok cantik yang ada dihadapannya, kedua roh penguji itu menganggukkan kepala mereka secara serempak.
"Jadi ujian apa yang harus kulakukan dengan tubuh kalian yang gemetaran seperti itu?." ucap Xiao Ziya yang tersenyum miring bagaimana kedua roh penguji itu memberikan ujian terakhirnya jika mereka ketakutan seperti itu.
"Kami tidak tau harus mengujimu dengan apa, jujur saat ini kami berdua sedang ketakutan setengah mati." ucap roh penguji dengan sihir angin yang berkata jujur pada Xiao Ziya.
Tentu saja Xiao Ziya menghargai kejujuran kedua roh penguji itu, biasanya saat lawan atau musuh dari Xiao Ziya merasa takut mereka akan berpura pura kuat dan mulai menyerang secara berutal hasilnya mereka akan kalah ataupun mati. Xiao Ziya tampak sedang berfikir ia sedang memikirkan ujian apa yang tak akan melukai kedua roh penguji itu. Setelah berfikir cukup lama gadis itu menemukan cara yang tepat.
"Baiklah saya telah memikirkannya dengan matang." ucap Xiao Ziya yang membuat kedua roh penguji itu melihat kearahnya.
"Apa yang harus kita lakukan?." tanya roh penguji dengan sihir tanaman ia berharap gadis yang ada di hadapannya itu tak sedang memikirkan sebuah ide gila.
"Baiklah kita mulai dari roh penguji angin, angin memiliki sifat yang tenang dan juga ganas. Ujian kali ini kita berdua harus berdiam diri di dalam pusaran angin topan siapa yang bisa bertahan paling lama dialah pemenangnya." ucap Xiao Ziya yang memberikan sebuah ide bagus, sebagai roh dengan sihir angin tentu saja itu bukan hal yang sulit untuk dilakukan.
Xiao Ziya dan juga roh angin berdiri di posisi mereka masing masing, Xiao Ziya mulai membentuk sebuah pusaran angin yang sangat kencang begitupun dengan roh penguji sihir angin kekuatan pusaran angin mereka berdua sama sama besar. Xiao Ziya masuk kedalam pusaran angin miliknya kemudian gadis itu duduk tapat di titik tengah pusaran angin, roh penguji dengan sihir angin juga melakukan hal yang sama namun baru saja ia masuk kedalam pusaran angin sang roh penguji hampir kehilangan keseimbangannya.
__ADS_1
"Hah ini tak semudah apa yang ku bayangkan." ucap roh penguji angin yang menyesal karna telah meremehkan ide yang diberikan Xiao Ziya, ujian kali ini sangat sulit untuknya kepalanya saja sudah terasa pusing saat ia menengok ke arah Xiao Ziya ia menemukan gadis itu tengah duduk santai seperti tak berada di dalam pusaran angin.
"Gadis itu memang luar biasa." ucap sang roh penguji angin yang ingin menyerah karna rasa pusing di kepalanya semakin menjadi jadi.
Roh penguji angin berteriak ia mengatakan bahwa ia menyerah dalam ujian kali ini dan Xiao Ziyalah pemenangnya, Xiao Ziya menghentikan pusaran angin miliknya saat ini ia sedang menatap ke arah roh penguji dengan kekuatan sihir tanaman.
"Jadi ujian apa yang akan kita lakukan?." tanya roh penguji dengan sihir tanaman yang ingin segera menyelesaikan ujiannya kemudian beristirahat dengan tenang tanpa berurusan kembali dengan Xiao Ziya.
"Karna kau adalah roh penguji dengan sihir tanaman maka kita akan bertanding seberapa banyak tanaman berharga yang kita miliki." ucap Xiao Ziya yang telah memikirkan sebuah ujian yang sangat sederhana dan mudah, roh penguji dengan sihir tanaman menyetujui ide dari Xiao Ziya.
Kini Xiao Ziya dan roh penguji tanaman saling berhadap hadapan, roh penguji tanaman mengeluarkan sebuah ginseng berusia seribu tahun Xiao Ziya mengeluarkan ginseng seribu tahun juga, roh penguji tanaman mengeluarkan buah dewa seratus tahun dan Xiao Ziya mengeluarkan buah yang sama. Roh penguji tanaman mengeluarkan buah persik biru yang sangat langka dan jarang ditemukan dimanapun namun sayangnya Xiao Ziya juga memilikinya.
"Mengapa kau memiliki semua apa yang tak kau miliki." ucap roh penguji tanaman yang hampir saja frustasi karna Xiao Ziya terlampau hebat untuk ukuran kultivator muda.
"Bagaimana jika saya yang mengeluarkan jenis tanamannya terlebih dahulu kemudian anda mengeluarkan jenis yang sama." ucap Xiao Ziya yang memberikan sebuah saran dan langsung disetujui begitu saja.
Xiao Ziya mengeluarkan setangkai teratai dengan kelopak bunga yang memiliki tuju warna, bunga terartai pelangi ini adalah hasil dari uji coba yang Xiao Ziya lakukan dan gadis itu yakin bahwa di berbagai lapisan dunia hanya dirinya yang memiliki tetatai pelangi. Roh penguji tumbuhan melihat teratai iti dengan seksama kemudian ia mengangkat kedua tangannya sebagai pertanda bahwa roh penguji tanaman telah menyerah.
"Baiklah tugas kami berdua telah selesai, trimakasih karna masih memberi kami kesempatan dan selamat atas keberhasilan nona muda." ucap kedua roh penguji itu kemudian menghilang begitu saja.
Setelah kedua roh penguji itu hilang terjadi ledakan energi dalam tubuh Xiao Ziya ledakan energi yang terjadi sampai menggemparkan dunia dewa karna tiba tiba saja muncul tujuh pelangi disertai pusaran angin yang besar.
"Seorang dewi yang hebat telah muncul." ucap Dewa Bixu kemunculan pelangi menandakan kelahiran atau kemunculan seorang dewi. Namun kali ini ada tuju pelangi apakah itu menandakan ada tuju dewi?.
Saat para dewa dan dewi yang ada di alam dewa sedang kebingungan dengan fenomena aneh itu tiba tiba ketuju pelangi menyatu dan membentuk sebuah pelangi yang sangat besar itu artinya hanya muncul satu dewi dengan kemampuan yang luar biasa.
"Adik Ziya telah berhasil sampai di tahap ini." ucap Ziloz yang sudah menebak bahwa dewi yang dimaksut adalah Xiao Ziya.
Ziloz sudah bisa menerima bahwa sampai kapanpun perasaanya pada Xiao Ziya tak akan terbalas, gadis itu terlalu luar biasa untuk seorang anak dewa sepertinya. Dari Ziloz lahir ia sudah menyandang gelar sebagai putra dewa dan ketika ia dewasa nanti ia juga akan menjadi dewa sedangkan Ziya adalah gadis biasa ia berjuang untuk sampai di titik seperti sekarang karna itulah gadis itu begitu hebat dan juga tangguh.
"Mungkin kita memang ditakdirkan menjadi saudara." ucap Ziloz yang tersenyum senang apapun statusnya ia hanya ingin bisa melihat Xiao Ziya menemukan sesosok pemuda yang setara dengannya.
Saat ini Xiao Ziya adalah kultivator dewa tingkat menengah tingkat pertama, sebuah pencapaian yang sangat luar biasa untuk seorang gadis berusia dua belas tahun. Setelah pertapaan mendalamnya selesai Xiao Ziya membersihkan diri kemudian keluar dari kamar untuk mencari udara segar. Paviliun milik Xiao Minzo tampak kosong mungkin orang orang sedang sibuk dengan urusan mereka masing masing, Xiao Ziya memutuskan untuk pergi ke pasar terdekat dan membeli beberapa camilan.
Saat gadis itu berjalan ia merasakan ada yang sedang mengikutinya, Xiao Ziya tetap tenang agar sang penguntit tak kabur karna gerak geriknya telah diketahui oleh Xiao Ziya. Xiao Ziya mampir kesebuah kedai yang menjual pangsit kuah pedas ia memesan dua porsi karna sangat kelaparan.
"Semoga saja nona Ziya tak menyadari keberadaanku." ucap seorang pemuda yang mengikuti Xiao Ziya sedari tadi.
__ADS_1
Hai hai semua akhirnya author update lagi, jangan lupa vote, gift, like, komen, rate, share ya