
Setelah mengikat pergelangan tangan dan kaki Dewa Agung Yun Xiao Ziya mengambil sebuah cambuk dan juga belati dari dalam cincin semestanya, setelah itu Xiao Ziya menatap ke arah Dewi Yin Yuer dan Lunzie Xu yang sedang terdiam diri sepertinya mereka berdua ingin membalaskan dendam.
"Kalian berdua kemarilah." ucap Xiao Ziya yang memanggil Dewi Yin Yuer dan Lubzie Xu untuk mendekat ke arahnya. Mereka berdua mematuhi perintah Xiao Ziya dan langsung mendekat.
"Mengapa nona muda memanggil kami kemari?." tanya Dewi Yin Yuer yang kebingungan mengapa nona mudanya itu memanggil saat ia ingin menghukum Dewa Agung Yun.
"Peganglah cambuk ini, dan kau Tuan Lunzie Zu pangang belati ini buatlah Dewa Agung Yun lumpuh hingga ia tak bisa berjalan jalan untuk melihat dunia lagi." ucap Xiao Ziya yang ingin pasangan kekasih itulah yang mengeksekusi Dewa Agung Yun. Dewi Yin Yuer dan Lunzie Xu merasa sangat senang.
Dewi Yin Yuer mulai melayangkan cambuknya ke kaki Dewa Agung Yun sedangkan Lunzie Xu melukai tangan sang dewa agung. Para dewa dan dewi yang melihat betapa sadisnya hukuman yang diberikan oleh Xiao Ziya baru pertama kali mereka melihat seorang dewa agung dipermalukan.
"Apakah semua ini benar?." ucap Dewa Hiloz yang menatap ke arah Dewa Agung Yun yanh sedang mendapatkan hukuman.
"Jika kita ikut campur maka nasib kita akan sama, lagipula banyak penduduk wilayah dewa yang mendukung gadis itu." ucap Dewa Bixu yang merasa bahwa para penduduk wilayah dewa selama ini sudah menahan kekesalan mereka pada pasangan ayah dan anak yang telah menjadi dewa agung itu. Jadi jika para dewa dan dewi ingin membantu dewa agung maka para penduduk pasti akan membantu Xiao Ziya.
"Mereka berdua memang pantas mendapatkannya." ucap Ziloz yang percaya pada adik angkatnya itu, tindakan yang dilakukan oleh Xiao Ziya memanglah benar.
Xiao Ziya berjalan ke arah kubus pelindung yang ia gunakn untuk mengurung Dewa Agung Arzil, gadis itu menghapus sihirnya sehingga kubus itu menghilang. Terlihat Dewa Agung Arzil sedang terduduk di tanah dengan lutut yang gemetaran. Melihat Xiao Ziya sedang menatapnya dengan tajam membuat pemuda itu semakin ketakutan.
"Hari ini adalah hari terakhir kau bisa berjalan menggunakan kedua kakimu itu." ucap Xiao Ziya yang tersenyum dengan sangat mengerikan, aura membunuh yang sangat kuat keluar dari tubuh gadis itu. Dewa Agung Arzil yang tadinya ingin berdiri dan kabur kini tak bisa melakukan apapun kakinya terasa sangat lemas dan tak memilki tenaga untuk berjalan.
"Aku adalah dewa agung meski kau dewi kau tak bisa melakukan hal ini padaku." ucap Dewa Agung Arzil yang bersikeras bahwa statusnya jauh lebih tinggi daripada Xiao Ziya sehingga gadis itu tak bisa memberikan hukuman padanya.
"Ahahaha apakah kau sedang membuat lelucon, kau kira saya tak tau statusmu sebagai dewa agung adalah sebuah kecurangan?." ucap Xiao Ziya yang menemukan sebuah kebenaran bahwa status pemuda itu sebagai dewa agung tak ia dapatkan dengan cara yang jujur.
"Jangan bicara sembarangan, aku mendapatkannya dengan kemampuanku sendiri." ucap Dewa Agung Arzil yang berusaha untuk menyangkal apa yang dikatakan oleh Xiao Ziya, gadis itu benar benar menyebalkan.
Xiao Ziya mendekat ke arah Dewa Agung Arzil kemudian melayangkan sebuah tamparan yang sangat keras pada pemuda itu hingga ia berteriak kesakitan. Tatapan tajam yang mematikan membuat Dewa Agung Arzil ingin pingsan.
"Kau kira saya tak tau tentang penyuapan yang terjadi beberapa tahun yang lalu?." ucap Xiao Ziya yang mendapatkan informasi dari seorang mata mata rahasia yang ia miliki. Tak ada yang tau gadis itu melakukan hal hal yang tak terduga.
"Apakah kau punya bukti bahwa aku melakukan hal itu?." ucap Dewa Agung Arzil yang meminta sebuah bukti jika ia memang melakukan hal yang dituduhkan oleh Xiao Ziya. Sang dewa agung baru yakin bahwa gadis itu tak memiliki bukti apapun.
Xiao Ziya menarik beberapa orang yang juga ada di sana menurut informasi yang Xiai Ziya dapatkan dua orang pria dan seorang wanita mereka adalah para dewa dan dewi senior yang menjadi juri dalam pemilihan dewa agung, mereka mendapatkan suap dari Dewa Agung Yun dan Dewa Agung Baru Arzil sehingga mereka berdua mendapatkan posisi sebagai dewa agung. Melihat para juri itu membuat Dewa Agung Arzil ketakutan ia tak menyangka bahwa Xiao Ziya memiliki banyak bukti.
"Jadi apa ada alasan yang lain?." ucap Xiao Ziya yang menendang lutut sebelah kanan Dewa Agung Arzil hingga ia berteriak kesakitan, sepertinya tulang sang dewa agung baru patah akibat tendangan Xiao Ziya itu.
Setelah menendang lutut sebelah kanan gadis itu menendang lutut sebelah kiri. Setelah memastikan Dewa Agung Arzil tak bisa berdiri menggunakan kedua kakinya Xiao Ziya menarik kerah baju pemuda itu lalu menyeretnya mendekat ke arah Dewa Agung Yun yang masih dicambuki oleh Dewi Yin Yuer sepertinya sang dewi memiliki dendam yang cukup dalam sehingga ia tak berhenti mencambuki kaki dan tangan pria itu.
Brug
Xiao Ziya melemparkan tubuh Dewa Agung Arzil kesamping tubuh ayahnya yang sudah berlumuran darah, beberapa bagian tulang kaki milik Dewa Agung Yun terlihat karna cambukan Dewi Yin Yuer sangatlah keras dan kadang terkena di tempat yang sama.
"Jadi apakah mereka berdua masih pantas menjadi dewa agung?." ucap Xiao Ziya yang membalikkan badannya kemudian menatap kearah para dewa dan dewi secara bergantian. Dengan serempak mereka semua menggelengkan kepala dan memiliki pendapat bahwa Dewa Agung Arzil dan Dewa Agung Yun tak pantas menjadi dewa agung lagi.
"Ganti saja dengan dewa agung yang baru." ucap para penduduk dewa yang setuju jika pasangan ayah dan anak itu dilepaskan dari jabatan mereka saat ini jika tidak maka dunia dewa akan sangat kacau karna dipimpin oleh dewa agung yang tak bermoral seperti mereka berdua.
__ADS_1
Para dewa dan dewi sempat berbincang bincang sebentar mereka membuat keputusan tentang diturunkannya Arzil dan Yun dari posisi mereka sebagai Dewa Agung. Dewa Hiloz dan Dewa Agni maju kedepan kemudian mereka berdu mengumumkan bahwa Arzil dan Yun sudah dilepaskan dari jabatan mereka sebagai dewa agung. Setelah itu Xiao Ziya dapat menghukum mereka berdua dengan mudah, kini status mereka hanyalah dewa biasa sama seperti yang lainnya.
"Siapa yang akan menyelamatkanmu sekarang? bukankah kemarin saya susah berbaik hati dengan tidak membunuhmu setelah apa yang kau lakukan pada saya di kehiduan yang lalu?." ucap Xiao Ziya yang tersenyum ia mengambil belati dari tangan Lunzie Xu, Xiao Ziya menancapkan belati itu pada kaki Dewa Arzil kemudian menariknya ke bawah sehingga tercipta luka yang sangat lebar serta darah yang mengalir dengan deras, gadis itu melakukan hal yang sama pada bagian kaki dan tangan pemuda itu. Para dewa yang menyaksikan hal itu sebagian sudah memuntahkan isi perut mereka, adegan ini sungguh mengerikan.
"Untung saja kita dulu tak membuatnya semarah ini." ucap Xiu yang merasa beruntung karna tak membuat Xiao Ziya membunuhnya dan teman temannya.
"Arrrghh hentikan ini sangat menyakitkan dasar wanita kejam." triak Dewa Arzil yang merasakan rasa sakit di sekujur tubuhnya ia ingin mati saja daripada di siksa seperti itu.
"Saya kejam, ini belum sepadan dengan apa yang kau lakukan pada saya." ucap Xiao Ziya yang mulai dikuasai oleh emosinya bagaimana bisa pemuda itu mengatakan bahwa Xiao Ziya adalah gadis yang jahat setelah semua yang telah pemuda itu lakukan padanya.
"Jangan banyak bicara." ucap Xiao Ziya yang kesal kemudian ia mengangkat pemuda itu lalu melemparnya sekuat mungkin.
Hari ini ia belum bisa membunuh pemuda yang telah menghancurkan hidupnya paling tidak ia sudah membuat pemuda itu lumpuh dan menderita. Xiao Ziya berjanji jika di masa depan pemuda itu kembali muncul di hadapannya dan membuat masalah baru maka ia akan menghabisinya tanpa ampun.
"Semuanya sudah selesai, kalian berdua masuklah kembali kedalam." ucap Xiao Ziya yang memasukkan Dewi Yin Yuer dan Lunzie Xu kedalam cincin semesta miliknya. Mata dan rambut Xiao Ziya mulai kembali kewarna semula. Lautan yang membeku juga menghilang daerah khusus para dewa dan dewi kembali dalam posisi semula.
Xiao Ziya menatap kearah penginapan yang telah habis terbakar, gadis itu menyalakan api hitam dan api putih yang ada di dalam tubuhnya kemudian membakar kembali sisa penginapan itu. Sebuah bangunan penginapan yang baru terbentuk, bahkan lebih mewah daripada penginapan yang sebelumnya. Semua orang terkejut melihat kemampuan luar biasa yang dimiliki oleh gadis itu.
"Saya hanya bisa menggantikan penginapan anda yang hangus terbakar dengan bangunan ini, maaf karna telah melibatkan kalian dalam masalah pribadi saya." ucap Xiao Ziya yang menundukkan kepalanya sebagai permintaan maaf dari Xiao Ziya, seharusnya Xiao Ziya tak melibatkan orang lain dalam masalah pribadinya.
"Tidak apa apa nona, berkat anda tak ada lagi dewa agung yang tak bermoral seperti mereka." ucap pemikik penginapan yang sepertinya tak merasa masalah jika gadis itu tak menggantikan penginapan miliknya yang telah hangus terbakar.
"Karna semuanya telah selesai saya pamit, trimakasih semuanya karna menerima saya dengan baik di alam dewa ini." ucap Xiao Ziya yang berpamitan pada semua orang yang kenal dengannya.
"Lain kali datanglah kesini lagi, kami akan menyambutmu dengan lebih baik." ucap Dewa Hiloz yang ingin putri angkatnya itu agar berkunjung kembali ke dunia dewa.
Sedangkan kedua dewa agung yang telah turun jabatan menjadi dewa biasa itu mereka berdua dipenjara dalam jangka waktu yang tak menentu, mereka mendapatkan hukuman dari para dewa atas semua hal buruk yang telah mereka berdua lakukan.
"Jika bukan karna gadis sialan itu nasibku tak akan seburuk ini." ucap Dewa Arzil yang merasa kesal, seharusnya ia tak perlu bertemu lagi dengan gadis yang telah ia bunuh itu sehingga ia bisa menjalani hidup barunya dengan baik.
"Apa kau mengenal gadis itu sebelumnya putraku?." tanya Dewa Yun yang dapat melihat bahwa putranya itu mengenal Xiao Ziya sejak lama padahal jika difikir fikir mereka berdua baru saja bertemu.
"Ya dia adalah kekasih yang kulenyapkan di kehidupan sebelumnya." ucap Dewa Arzil yang menceritakan sedikit kisahnya pada sang ayah. Akhirnya Dewa Yun mengerti mengapa Xiao Ziya memiliki tatapan penuh amarah dan dendam saat melihat ke arah putranya itu.
Sedangkan saat ini Xiao Ziya sudah membersihkan dirinya dan berganti gaun, karna pertarungannya tadi gadis itu kini merasa lelah sehingga ia memutuskan untuk merebahkan dirinya sejenak di atas ranjang sebelum pergi ke ruang rahasia yang ada di Akademi Wunyeng, ia harus membuatkan obat untuk putra kepala akademi.
Sedangkan di aula utama Kerajaan Hitam saat ini sedang kedatangan tamu tak diundang mereka adalah kepala akademi wunyeng dan orang tua Zinren, sejak benerapa hari terakhir mereka memang sering datang ke Istana Kerajaan Hitam untuk mencari Xiao Ziya, namun Raja Zeus selalu mengatakan bahwa putrinya itu sedang tak berada di istana dan melakukan perjalanan dalam jangka waktu yang cukup lama. Kondisi Zinren semakin memburuk tak ada tabib yang mempu menyembuhkannya hanya Xiao Ziya saja yang dapat menyembuhkan pemuda itu sehingga mereka bertiga datang setiap hari untuk melihat apakah Xiao Ziya sudah pulang ataukah belum.
"Apakah nona Ziya sudah kembali?." tanya pemimpin Akademi Wunyeng pada Raja Zeus.
"Saya belum nelihatnya." ucap Raja Zeus yang belum pergi ke kamar putrinya sedari pagi tadi, sekarang hari sudah sore entah putrinya itu sudah kembali ataukah belum.
"Biarkan kami saja yang melihat apakah nona Ziya sudah kembali atau belum." ucap ibu dari Zinren yang ingin pergi ke kamar Xiao Ziya dan melihat apakah gadis itu sudah kembali ataukah belum.
"Jangan merusak privasi orang lain." ucap Pangeran Zeeling yang tak suka jika ada orang lain yang masuk kedalam kamar sang adik tanpa izin langsung dari adiknya itu.
__ADS_1
"Jangan jangan selama ini kalian menutup nutupi kepulangan nona Xiao Ziya." ucap ayah Zinren yang mulai menuduh Raja Zeus dan kedua putranya yang telah menyembunyikan nona Ziya. Mereka sengaja melakukan hal itu karna nona Ziya tak ingin bertanggung jawab atas apa yang mereka lakukan.
Di dalam ruang cincin semesta milik Xiao Ziya para binatang setia pengikut gadis itu sedang berdiskusi. Mereka sedikit cemas karna nona muda mereka saat ini sedang kelelahan namun sepertinya akan ada orang yang mengganggu waktu istirahat nona mereka.
"Biarkan kami berdua yang mejajaga pintu masuk kamar nona muda." ucap srigala api dan srigala es yang akan menjaga pintu masuk kamar Xiao Ziya.
"Saya akan menjaga di dalam kamar nona." ucap Zier yang ingin menjaga Xiao Ziya dari dalam kamar karna mungkin saja ada orang jahat yang masuk kedalam dan mengganggu waktu istirahat nona muda mereka.
"Saya akan menjaga nona dari jendela bagian luar." ucap Wilre yang akan menjaga Xiao Ziya dari jendela belakang kamar Xiao Ziya. Sedangkan hewan pengikut setia Xiao Ziya yang lain akan menjaga gadis itu dari dalam cincin semesta jika ada masalah yang lebih serius mereka baru akan keluar dari cincin semesta milik Xiao Ziya.
Setelah selesai membagi tugas mereka masing masing akhirnya para hewan pengikut setia Xiao Ziya keluar dari cincin semesta gadis itu mereka langsung menempati posisi yang telah disepakati sebelumnya.
Saat ini pemimpin akademi dan orang tua Zinren memaksa Raja Zeus agar mereka bisa masuk ke kamar Xiao Ziya untuk memastikan apakah gadis itu sudah kembali ataukah belum. Raja Zeus dan kedua putranya menyetujui dengan syarat mereka bertiga juga ikut karna tak ada yang tau apa yang ingin dilakukan oleh pemimpin Akademi Wunyeng dan kedua orang asing itu pada kamar Xiao Ziya.
Akhirnya mereka berenam sampai di depan pintu kamar Xiao Ziya namun pintu itu dijaga oleh srigala es dan srigala api yang sedang menatap mereka semua dengan tajam.
"Nona kami baru saja kembali saat ini ia sedang beristirahat, tak ada satu orangpun yang boleh mengganggunya." ucap Mongi yang mengatakan bahwa Xiao Ziya sedang tak biasa diganggu saat ini, siapapun yang memaksa untuk masuk mereka harus melawan kedua srigala kembar itu.
"Kami ingin bertemu dengan nona Xiao Ziya tolong izinkan kami untuk masuk kedalam." ucap pemimpin akademi yang meminta pada serigala es dan serigala api itu agar mereka diizinkan untuk masuk kedalam dan bertemu dengan Xiao Ziya.
"Nona kami sedang kelelahan kalian tidak diizinkan untuk menggangu waktu istirahatnya." ucap Yoongi sang serigala api yang tetap tak membiarkan mereka mengganggu waktu istirahat Xiao Ziya.
Pemimpin Akademi Wunyeng dan orang tua Zinren kebingungan bagaimana caranya agar mereka bisa bertemu dengan Xiao Ziya hari itu juga untuk meminta gadis itu menyembuhkan Zinren yang saat ini sedang kritis.
"Jika kalian memang ada keperluan dengan nona kami sebaiknya kalian menemuinya esok pagi." ucap Mongi sang serigala es yang memberikan sebuah saran agar mereka kembali lagi besok pagi setelah nona muda mereka cukup beristirahat.
"Baiklah jika begitu kami pamit." ucap pemimpin akademi yang langsung menarik tangan orang tua Zinren untuk pergi dari sana.
"Mengapa kau membawa kami pergi, kami belum bertemu dengan nona Ziya." ucap ibu Zinren yang bersikeras ingin bertemu dengan Xiao Ziya hari itu juga bagaimanapun caranya.
"Sebaiknya kita mencoba masuk melewati jendela kamarnya saja." ucap Pemimpin Akademi Wunyeng yang memberikan sebuah saran pada kedua orang tua Zinren karna percuma jika mereka memaksa masuk lewat pintu kamar gadis itu.
Akhirnya mereka bertiga berjalan menuju sisi samping Istana Kerajaan Hitam mereka mulai mencari cari dimana jendela kamar Xiao Ziya berada hingga mereka menemukan sebuah jendela yanh dijaga oleh seekor ular piton putih. Pemimpin Akademi Wunyeng bisa mengingat dengan jelas bahwa piton putih itu adalah milik Xiao Ziya. Jadi bagaimana caranya agar mereka bisa masuk kedalam sana dan bertemu dengan Xiao Ziya jika jendela kamarnya saja dijaga oleh seekor piton putih.
"Aish bagaimana ini? jendela kamar nona Ziya dijaga oleh piton putih miliknya?." ucap pemimpin akademi yang sedang memikirkan sebuah cara agar mereka bisa masuk kedalam sana.
Akhirnya pemimpin akademi menemukan sebuah cara agar orang tua Zinren dapat masuk kedalam kamar Xiao Ziya. Pemimpin akademi membisikkan sesuatu pada ayah dan ibu Zinren setelah itu ia melesat pergi dan mendekati piton putih milik Xiao Ziya. Pemimpin akademi menyerang piton itu dengan elemen angin miliknya, wilre yang saat itu sedang berjagapun terkejut dan langsung mengejar orang yang telah menyerangnya itu.
Setelah sang ular piton putih itu pergi dari sana ayah dan ibu Zinren mendekat ke atah jendela kamar Xiao Ziya, ayah Zinren berusaha membuka jendela kamar itu dengan perlahan setelah itu mereka berdua masuk kedalam kamar gadis itu. Ayah dan Ibu Zinren terlalu awal merasa senang karna bisa masuk ke kamar Xiao Ziya mereka tak menyadari seekor harimau sedang menatap mereka dengan tajam.
"Apa yang sedang kalian lakukan dengan menerobos kamar nona mudaku?." ucap Zier sang harimau kesayangan Xiao Ziya yang membuat orang tua Zinren terkejut dan jatuh kebelakang.
"Kami ingin menemui nona Xiao Ziya untuk meminta tolong padanya." ucap ayah Zinren yang mencoba menjelaskan pada harimau itu bahwa ia tak berniat jahat pada Xiao Ziya.
"Kembalilah esok pagi, nona sedang beristirahat." ucap Zier yang memberi peringatan pada kedua orang asing itu. Dengan terpaksa orang tua Zinren pergi karna mereka tak ingin dimakan oleh harimau.
__ADS_1
Hai hai semua author balik lagi nih gimana kabar kalian semoga baik baik aja ya, jangan lupa ya follow buat yang belum, vote ya guys itu wajib, gift hadiah apapun oke, like like like, komen buat ninggalin jejak, rate bintang lima, sahre juga ta