RATU IBLIS

RATU IBLIS
Rencana Yang Gagal


__ADS_3

Xiao Ziya dan keempat prajurit itu memutar bola mata mereka dengan jengah, para prajurit tak peduli dengan bagaimana perasaan pelayan itu yang mereka tau hanyalah sang pelayan tampak mencurigakan dengan memaksa Nona Besar mereka memakan makanan yang telah ia buat, bahkan diantara keempat prajurit itu berpendapat ada racun di dalam makanan tersebut. Xiao Ziya tersenyum miring dan menatap pelayan itu dengan tatapan penuh arti, gadis itu memiliki sebuah rencana untuk membuat Ratu Jinha Zee yang sedang menyamar menjadi pelayan itu tak mengganggunya untuk sementara waktu.


"Bagaimana hukum di Kerajaan ini? perintah dari pemimpin bersifat?." ucap Xiao Ziya yang sedang bertanya pada keempat prajurit yang sedang berjaga di depan pintu kamarnya.


"Mutlak." jawab keempat prajurit itu dengan tegas.


"Apapun yang diperintahkan oleh sang pemimpin wajib untuk?." tanya Xiao Ziya lagi dengan senyuman lebar.


"Dilaksanakan." jawab keempat prajurit itu lagi penuh dengan semangat.


Entah mengapa perasaan Ratu Jinha Zee menjadi cemas setelah mendengar kata kata yang dilontarkan oleh Xiao Ziya, sepertinya gadis itu memiliki maksud tersembunyi dari setiap pertanyaan yang ia tanyakan pada keempat prajurit. Karna merasa posisinya kurang aman, Ratu Jinha Zee memilih untuk pamit pada Xiao Ziya dan segera kembali ke dapur. Sangat disayangkan Ziya bukanlah gadis yang akan melepas mangsanya dengan mudah, setidaknya Ratu Jinha Zee harus merasakan sedikit hukuman dari gadis itu.


"Siapa yang memintamu untuk pergi?." tanya Xiao Ziya dengan alis yang sedikit terangkat ke atas.


"Masih banyak tugas yang harus saya laksanakan di dapur, saya harus segera kembali." ucap Ratu Jinha Zee yang sedang menyamar menjadi pelayan itu.


"Tetaplah di sini, ini sebuah perintah." ucap Xiao Ziya dengan tegas. Melihat sorot mata tajam dari gadis yang ingin ia racuni membuat Ratu Jinha Zee merasa takut. Mungkinkah gadis itu sudah mengetahui identitasnya dan berputa pura polos seperti tak mengetahui apapun?.


"Baik saya mendengar perintah dari Nona Ziya." ucap Ratu Jinha Zee yang tak bisa berkutik lagi.


"Makan semuanya." ucap Xiao Ziya dengan senyuman manis yang mematikan.


Ratu Jinha Zee gelagapan ketika mendengar perintah dari Xiao Ziya, bagaimana bisa ia masuk kedalam jebakannya sendiri?. Makanan yang wanita itu bawa telah ditaburi dengan racun yang cukup mematikan, setidaknya seorang kultivator tingkat tinggi akan terus menerus buang air besar dalam satu minggu kedepan tanpa henti. Ratu Jinha Zee berfikir keras agar ia bisa keluar dari situasi yang membahayakan nyawanya itu, sang ratu mencoba melihat kesana kemari untuk meminta bantuan dari pelayan lain.


"Makanlah sekarang." ucap Xiao Ziya penuh dengan penekanan, gadis itu tak suka perintahnya dibantah apalagi oleh seorang pelayan. Siapa yang menyuruh sang ratu berperan sebagai pelayan? padahal masih banyak posisi yang lebih bagus di Istana Kerajaan Bulan ini.


"Saya sudah makan terlalu banyak pagi tadi, saat ini perut saya tak bisa menampung makanan apapun." ucap Ratu Jinha Zee dengan alasan bahwa ia sudah kekenyangan. Sangat disayangkan tiba tiba perut wanita itu berbunyi dengan cukup keras seperti ia sedang lapar, Xiao Ziya hanya bisa menahan tawanya agar tak pecah dihadapan wanita licik itu.


"Sudah sangat jelas bawah kau sedang kelaparan, mungkinkah ada racun di dalam makanan itu?." tanya Xiao Ziya dengan tatapan curiga. Beberapa prajurit lain yang berada di dekat sana mulai berjaga jaga jika pelayan itu benar benar berniat meracuni pimpinan baru mereka.


"Mengapa saya harus melakukan hal itu pada Anda? bukankah saya sudah mengatakan saat ini perut saya kekenyangan." ucap Ratu Jinha Zee dengan sangat keras kepala.


Karna tak ingin menyita banyak waktu hanya untuk mengurusi wanita seperti Ratu Jinha Zee, Xiao Ziya meminta dua prajurit untuk menahan tubuh sang ratu, satu prajurit memegan nampan, dan satu prajurit yang tersisa harus membuka mulut Ratu Jinha Zee yang sedang berperan sebagai pelayan. Sang ratu berusaha menutup mulutnya dengan rapat, ia tak boleh memakan makanan yang telah tercampur dengan racun meskipin misinya kali ini gagal ia tak boleh mati begitu saja di tangan Xiao Ziya.


"Buka mulutnya." perintah Xiao Ziya dengan tegas.


Seorang prajurit berusaha membuka mulut Ratu Jinha Zee dengan paksa, lama kelamaan sang ratu merasa sakit dibagian bibirnya karna terus ditarik ke atas secara paksa. Rahang wanita itu terasa seperti ingin retak karna dipukul beberapa kali oleh sang prajurit, semua itu terjadi karna Ratu Jinha Zee tetap keras kepala menutup mulut rapat rapat. Setelah perjuangan yang cukup panjang akhirnya wanita itu membuka mulutnya, dengan segera Xiao Ziya memasukkan makanan kedalam mulut wanita itu. Agar makananya segera di telan, Ziya menjepit hidung Ratu Jinha Zee hingga kesulitan untuk bernafas dan terpaksa menelan makanan beracun itu.

__ADS_1


Adegan itu terus berlangsung hingga semua makanan yang dibawa oleh Ratu Jinha Zee habis tak terisa, setelah selesai Xiao Ziya meminta pada keempat prajurit untuk melepas pelayan palsu itu.


"Terimakasih atas bantuan kalian, kalian bisa kembali ke tempat masing masing." ucap Xiao Ziya dengan senyuman tulus.


"Apapun akan kami lakukan untuk Nona Besar Xiao Ziya." ucap keempat prajurit itu secara bersamaan.


Saat ini Ratu Jinha Zee tergeletak di lantai istana dengan kondisi yang cukup mengenaskan, mulut wanita itu terus menerus mengeluarkan busa dalam jumlah banyak, Ratu Jinha Zee juga merasa sakit pada bagian perutnya. Xiao Ziya berlutut di samping wanita itu kemudian membisikkan sesuatu.


"Selamat datang kembali Ratu Jinha Zee." ucap Xiao Ziya di telinga sang ratu dengan suara pelan. Setelahnya gadis itu pergi meninggalkan Ratu Jinha Zee yang sedang menahan kekesalan, ternyata kecurigaannya selama ini benar. Xiao Ziya sudah mengetahui identitas aslinya namun terus berpura pura tak mengetahui apapun.


"Uhuk uhuk... sialan gadis itu telah menipuku." ucap Ratu Jinha Zee dengan suara pelan, wanita itu memuntahkan darah beberapa kali.


Di sisi lain saat ini Xiao Ziya beejalan menuju ruang makan utama Istana Kerajaan Bulan untuk sarapan bersama dengan yang lain, saat membuka pintu ruang makan semua orang telah duduk rapi di kursi mereka masing masing sembari menunggu kedatangan Xiao Ziya.


"Selamat pagi adik Ziya." sapa Min Xome dan Min Wungi secara bersamaan. Kedua pemuda itu tersenyum manis pada adik sepupu mereka.


"Selamat pagi semuanya." jawab Xiao Ziya, gadis itu memilih duduk di samping Yie Munha. Mungkin setelah selesai sarapan Ziya akan menanyakan beberapa hal pada gadis itu.


Tak lama setelahnya para pelayan datang dengan membawakan berbagaimacam hidangan, mereka menatanya dengan rapi di meja makan. Setelah selesai para pelayan itu langsung kembali ke dapur untuk mengerjakan tugas yang lain.


"Selamat makan semuanya." ucap Xiao Ziya yang langsung mengambil satu ekor ikan bakar saus manis, beberapa potong daging dan juga nasi. Xiao Ziya menyantap makanan yang ia ambil dengan sangat lahap.


"Sebelumnya saya ingin menanyakan beberapa hal pada Anda." ucap Xiao Ziya sembari menatap ke arah Yie Munha.


"Silahkan untuk menanyakan apapun, saya akan menjawabnya." ucap Yie Munha dengan tenang.


"Waktu itu saya berjanji untuk memberikan pil darah untuk kesembuhan nenek Anda dan membiarkan Anda bersaing dengan Ratu Jinha Zee untuk memperebutkan tahta Kerajaan Bulan, saya akan menepati janji saya itu." ucap Xiao Ziya dengan serius, gadis itu selalu menepati janji yang telah ia buat.


Yie Munha cukup terkejut karna Xiao Ziya masih mengingat perjanjian yang telah mereka buat namun Yie Munha tak menginginkan semua itu. Entah mengapa ia menjadi enggan kembali ke Klan Yie dan bertemu dengan kakek neneknya setelah mengetahui fakta bahwa sang kakek dan nenek hanya memanfaatkannya saja. Saat ini Yie Munha ingin menjadi lebih kuat dan membalaskan dendamnya pada Yie Gu dan Yie Weinje menggunakan tangannya sendiri, ia juga ingin membuktikan bahwa dirinya bisa hidup tanpa belas kasih sang kakek dan nenek. Samar samar Xiao Ziya melihat sorot mata penuh dengan rasa dendam dari Yie Munha, ia tau tujuan hidup gadis itu telah berubah sepenuhnya dan Yie Munha akan terus memihak padanya hingga akhir nanti.


"Saya tak menginginkan semua itu Nona Ziya, ada hal lain yang ingin saya minta dari Anda." ucap Yie Munha dengan penuh keyakinan.


"Katakanlah saya akan mengabulkan permintaan mu itu." jawab Xiao Ziya dengan santai.


"Tolong latih saya, setidaknya saya bisa lebih kuat dari pria tua sialan itu. Saya akan membalas dendam dengan tangan saya sendiri." ucap Yie Munha dengan kemarahan yang meluap luap.


"Datanglah ke tempat latihan para prajurit bersama dengan Zu Junyang dan Zu Genzi. Saya akan melatih kalian bertiga sebelum berangkat mencari sisa jiwa nenek." ucap Xiao Ziya dengan penuh semangat, setelah sekian lama akhirnya ia bisa melatih kedua pemuda itu.

__ADS_1


"Baiklah saya mengerti Nona Ziya." ucap Yie Munha dengan raut wajah bahagia.


"Saya permisi terlebih dahulu." ucap Xiao Ziya yang langsung pergi dari ruang makan menuju kamar untuk mengganti pakaiannya. Gadis itu akan menggunakan seragam Master Akademi Kekaisaran Qiyu karna seragam itu sangar nyaman meski Xiao Ziya melakukan banyak gerakan bela diri.


Di sisi lain saat ini Yang Zu baru saja terbangun setelah pingsan cukup lama, pemuda itu melihat kesekelilingnya dan mencoba mengingat kembali apa yang telah terjadi semalam. Setelah mengingat semuanya Yang Zu terdiam beberapa saat, pemuda itu mengepalkan tangannya dengan erat kemudian memukul tanah dengan kencang hingga menciptakan lubang kecil di sana. Yang Zu membaca sebuah mantra, lalu dalam waktu beberapa detik pemuda itu sudah menghilang entah kemana. Tak ada yang tau secara pasti identitas pemuda itu, karna hal itu Lee Brian terus mengawasi Xiao Ziya dari alam kematian.


Saat ini Xiao Ziya telah sampai di tempat latihan para prajurit, gadis itu sedang menunggu kedatangan Yie Munha dan kedua pemuda dari Klan Zu. Sembari menunggu ketiganya datang Xiao Ziya mengambil sebuah pedang dari dalam cincin semesta miliknya kemudian ia melakukan beberapa gerakan dengan pola yang cukup rumit. Para prajurit yang berada di tempat itu langsung menghentikan latihan mereka dan melihat Xiao Ziya melatih beberapa gerakan pedang.


"Saya tak bisa mengikuti gerakan Nona Besar sedikitpun." ucap salah seorang prajurit dengan frustasi.


"Nona Besar sangatlah cepat, kultivator rendahan seperti kita tak akan pernah bisa berlatih gerakan itu." ucap prajurit lain. Sepertinya para prajurit ingin melatih gerakan pedang yang sama dengan milik Xiao Ziya.


"Gerakan ini sangat beresiko, untuk saat ini kalian belum bisa melakukannya. Saya akan menunjukkan sebuah jurus yang cocok untuk kalian latih." ucap Xiao Ziya, gadis itu menyadari ketertarikan para prajurit untuk berlatih ilmu pedang yang lain. Dilain sisi para prajurit terkejut karna Nona Besar Xiao Ziya tak marah setelah mengetahui mereka sedang mengintipnya berlatih secara diam diam.


"Perhatikan baik baik, saya akan memperlambat gerakannya." ucap Xiao Ziya yang mulai menggunakan beberapa gerakan yang ada dalam jurus pedang tiga langkah dewa.


Xiao Ziya mengayunkan pedangnya dengan stabil, setiap gerakan menunjukkan ketajaman dari langkah pedang yang dilakukan oleh gadis itu, Xiao Ziya juga mundur beberapa langkah kemudian mengambil sebuah langkah maju dengan menodongkan pedangnya kedepan. Para prajurit yang menyaksikan jurus itu merasa terkesima, baru kali ini mereka melihat gerakan yang sangat indah dan tajam dalam sebuah jurus pedang.


"Apa kalian kesulitan untuk mengingatnya?." tanya Xiao Ziya pada para prajurit yang masih menatap kagum kearahnya itu.


"Kami bisa mengingat semuanya dengan jelas. Terimakasih karna Nona Besar bersedia membagikan ilmu pedang dengan kami." ucap para prajurit itu, mereka semua membungkukkan badan di hadapan Xiao Ziya sebagai ucapan terimakasih.


"Latihlah dengan sungguh sungguh Jurus Tiga Langkah Dewa ini. Saya harap kalian bisa menjaga kedamaian Wilayah Kerajaan Bulan ketika saya tak ada di sini." ucap Xiao Ziya dengan senyuman tipis, gadis itu tak bisa selamanya tinggal di Lapisan Dunia Manusia Abadi karna ada keluarga yang sedang menunggu di dunia bawah.


"Baik kami mengerti Nona Ziya, kami sangat berharap Anda mencarikan pemimpin pengganti ketika Anda pergi." ucap para prajurit yang tak menginginkan perebutan tahta antara para petinggi kerajaan terjadi hanya karna kekosongan tahta.


"Saya sudah memiliki seorang calon pemimpin yang baik." jawab Xiao Ziya dengan senyuman lebar.


Di tempat lain tepatnya Klan Yie, Yie Gu dan Yie Weinje sedang berada di ruang kesehatan. Keduanya sedang memikirkan rencana untuk menarik kembali Yie Munha ke sisi mereka, tanpa keberadaan gadis itu mereka akan dianggap buruk oleh penduduk wilayah Klan Yie ditambah lagi dengan kondisi Yie Gu saat ini.


"Akankah gadis itu kembali percaya pada kita?." tanya Yie Gu dengan ragu ragu.


"Bukankah selama ini ia sangat menyayangi neneknya, ia akan kembali jika saya yang memintanya." ucap Yie Weinje dengan senyuman yang memuakkan. Mengapa wanita tua itu tak kunjung sadar juga, banyak hal yang telah dikorbankan oleh Yie Munha hanya untuknya saja.


"Gadis itu telah mendapatkan tempat yang lebih nyaman dan lebih aman dari Klan Yie, bagaimana jika ia tak akan kembali ke tempat ini? mungkin Xiao Ziya telah berhasil mengambil hatinya." ucap Yie Gu penuh dengan pertimbangan.


"Mintalah Yie Laingfu untuk menuliskan surat untuk putrinya itu, mintalah seseorang untuk mengirimkannya ke Istana Kerajaan Bulan." ucap Yie Weinje dengan rasa percaya diri yang tinggi.

__ADS_1


Keduanya masih berharap Yie Munha akan kembali lagi ke Klan Yie, jika gadis itu tak ingin kembali dengan cara baik baik maka mereka akan menggunakan kekerasan untuk membawanya kembali. Sebenci apapun Yie Munha pada nenek dan kakeknya, mereka berdua tetap anggota keluarga kandung dari Yie Munha, itulah yang ada di fikiran Yie Weinje saat ini.


Hai hai semua author balik lagi nih, gimana kabar kalian? jangan lupa jaga kesehatan ya guys. Follow buat yang belum, vote karna wajib, gift hadiah apapun makasih banget, like like like, komen buat ninggalin jejak, rate bintang lima, share juga ya.


__ADS_2