RATU IBLIS

RATU IBLIS
Serangan Mendadak (1)


__ADS_3

Setelah sampai di markas utama Xiao Ziya pergi untuk menemui Raja Artur, Ziya harus berkeliling markas untuk menemukan kakek tua itu. Dengan sikap aneh dari Raja Artur, tentu akan sulit untuk menemukannya karna kakek tua itu bisa muncul dan pergi sesuka hati. Xiao Ziya tak menemukan Raja Artur di dalam markas, mungkin kakek tua itu sedang pergi keluar untuk suatu masalah atau sekedar menikmati suasana di siang hari.


"Saat dibutuhkan ia malah menghilang." ucap Xiao Ziya dengan senyuman tipis, gadis itu masuk ke dalam gudang di sana ada Putri Jifana dengan kondisi terikat.


Putri Jifana menatap tak suka ke arah gadis yang sedang berdiri di hadapannya itu, ia ingin pulang dan memberitahukan pada ayah bahwa pasukan yang dimiliki Xiao Ziya berjumlah lima ratus lima puluh ribu. Tentu dengan informasi akurat seperti itu sang ayah akan memujinya, sangat disayangkan tali yang mengikat kaki dan tangan Putri Jifana bukanlah tali biasa. Dibutuhkan seorang kultivator alam dewa tingkat pertama untuk membukanya.


"Kakakmu saat ini sedang terluka parah, bukankah ini saat yang tepat untukmu membunuhnya?." ucap Xiao Ziya dengan senyuman miring, mengapa Ziya berfikir Putri Jifana bisa membunuh kakak laki lakinya sendiri?.


"Bagaimana aku bisa melakukan hal itu, apa matamu buta sampai tak bisa melihat bahwa kedua tangan dan kakiku sedang diikat." ucap Putri Jifana dengan kasar. Ia sangat membenci Pangeran Yozan Zee yang selalu dibanggakan oleh sang ayah, jika pangeran busuk itu mati dalam peperangan ini ia akan merasa sangat senang.


"Saya lupa, tikus kecil seperti mu tak akan bisa melepas ikatan itu. Nikmati saja waktumu sebelum Kerajaan Bulan benar benar hancur." ucap Xiao Ziya kemudian pergi meninggalkan Putri Jifana, gadis itu merasa puas setelah memprovokasi sang putri yang pernah menghianatinya itu.


Putri Jifana menggenggam tangannya dengan erat, ia memaksakan diri untuk melepaskannya tali yang sedang mengikatnya namun ia malah merasa kesakitan. Di sisi lain Raja Anling Zee mendapat kabar bahwa pasukan utama telah berhasil kabur dari medan perang, kini mereka tinggal menunggu kabar dari para penyihir. Walaupun para penyihir itu tak bisa mengalahkan pasukan Xiao Ziya, setidaknya mereka memiliki informasi secara mendetail tentang jumlah pasukan dan formasi yang digunakan gadis itu saat berperang. Seorang prajurit datang dan ingin bertemu dengan Raja Anling Zee, prajurit itu mendapat tugas untuk melihat kondisi medan perang saat ini.


"Salam hormat saya pada Yang Mulia Raja Anling Zee." ucap prajurit itu sembari membungkukkan badannya di hadapan sang raja.


"Saya terima salam mu, bagaimana kondisi di medan perang saat ini?." tanya Raja Anling Zee dengan rasa penasaran tinggi, ia ingin turun langsung ke medan perang jika Pangeran Yozan Zee tak dapat mengatasi Xiao Ziya.


"Tak ada siapapun di sana, hanya ada bekas bekas pertarungan saja. Anehnya para penyihir yang anda kirim menghilang begitu saja, mereka tak ada di markas utama ataupun di sekitar wilayah perbatasan. Kemungkinan besar mereka kalah dari pasukan milik Xiao Ziya, dan jasad para penyihir itu dibakar." ucap sang prajurit dengan badan gemetaran, sepuluh ribu penyihir telah gugur dalam peperangan ini. Betapa mengerikannya gadis bernama Xiao Ziya itu, sampai kapan peperangan akan berlangsung.


"Sialan gadis itu sangat merepotkan." ucap Raja Anling Zee, terlihat ekspresi wajahnya yang begitu kesal.


"Siapkan empat ratus ribu prajurit, saya akan turun langsung dalam peperangan yang kedua." ucap Raja Anling Zee, ia tak bisa membiarkan situasi semakin rumit. Bagaimana jika Kerajaan Bintang Timur ikut menyerang mereka nantinya.


Prajurit itu pergi dari aula utama Kerajaan Bulan untuk memberitahukan pada beberapa jenderal agar menyiapkan pasukan dengan jumlah yang sesuai dengan permintaan Raja Anling Zee. Seandainya saja Xiao Ziya setuju menjadi sekutu dari Kerajaan Bulan, mungkin mereka telah berhasil mengalahkan Kerajaan Bintang Timur, namun akan sangat sulit untuk membagi wilayah kekuasaan secara adil. Mungkin Raja Anling Zee akan membuat sebuah alasan agar Kerajaan Bintang Timur yang telah jatuh menjadi miliknya sendiri.


Di tempat lain, Yie Gu memberitahu pada sang istri bahwa Xiao Ziya tak bersedia memberikan pil darah itu dengan alasan apapun. Tentu Yie Weinje sangat marah mendengarnya, mengapa gadis itu sangat keras kepala.


"Cucumu itu memang tak bisa diandalkan." ucap Yie Weinje, ia melimpahkan semua kesiapannya itu pada Xiao Ziya dan Yie Gu.


"Mengapa kau tak meminta pil darah pada cucu kesayanganmu? bukankah dia lebih tak berguna karena tak bisa melakukan apapun." ucap Yie Gu dengan sorot mata tajam. Sudah jelas semua ini salah istrinya sendiri, andai saja sang istri bersikap adil pada anak anaknya dan cucu cucunya maka semua ini tak akan pernah terjadi.


"Mengapa kau malah menyalahkan ku." triak Yie Weinje.


"Siapa yang akan memberikan barang berharga miliknya pada seseorang yang pernah mengincar nyawanya. Kau hanya perlu mengingat semua kejadian belasan tahun yang lalu." ucap Yie Gu, pria tua itu pergi dari ruang kesehatan ia sangat jengah berbicara dengan sang istri.


Entah Yie Weinje terlalu bodoh untuk menyadari semua kesalahannya, ataukah ia tak meu tau dengan apa yang telah ia lakukan pada orang lain. Wanita itu masih saja menyalahkan Xiao Ziya yang tiba tiba datang ke Dunia Manusia Abadi, karna setelah kedatangan gadis itu semuanya menjadi berubah.


"Semoga gadis itu terbunuh dalam peperangan." ucap Yie Weinje, ia akan mengambil pil darah itu dari jasad Xiao Ziya.


Raja Artur sedang mengintai di sekitar markas milik Kerajaan Bulan, ia ingin tau seberapa ketat penjagaan yang mereka miliki. Raja Artur ingin tertawa setelah melihat empat orang prajurit berjaga di bagian depan markas, dan tiga prajurit yang berjaga di bagian belakang markas. Ini terlalu banyak celah, malam nanti mereka bisa menyerang dari sisi manapun dengan sangat mudah.


"Apa yang sedang mereka fikiran, menjaga markas adalah hal yang penting." ucap Raja Artur bergegas kembali ke markas utama untuk bertemu dengan Xiao Ziya.

__ADS_1


Raja Artur melesat dengan kecepatan tinggi, tak butuh waktu lama untuknya sampai di markas utama. Setelah tiba di markas utama, Raja Artur mencari Xiao Ziya.


"Akhirnya anda kembali." ucap Xiao Ziya dengan wajah mengantuk nya yang terlihat sangat lucu.


"Kau sedang menungguku bocah nakal?." tanya Raja Artur pada penerusnya itu.


"Nama saya Ziya bukan bocah nakal." ucap Xiao Ziya dengan tatapan datar, kakek tua yang ada di hadapannya memang sangat menyebalkan.


"Aku akan memberitahu sesuatu padamu." ucap Raja Artur dengan senyuman menyebalkan, Xiao Ziya hanya bisa bersabar menghadapi sikap kakek tua itu.


"Anda ingin memberitahukan tentang penjagaan di markas utama musuh?." tanya Xiao Ziya, gadis itu hanya menebak saja.


"Bagaimana kau bisa mengetahuinya?. Jangan bilang kau mengikuti ku." ucap Raja Artur dengan tingkat kepercayaan diri yang tinggi. Untuk apa Xiao Ziya mengikutinya, seperti orang yang tak memiliki pekerjaan saja.


"Saya hanya menebaknya saja." ucap Xiao Ziya dengan nada datar.


"Wah kau memang hebat, penjagaan di markas musuh sangatlah lucu. Mereka hanya menempatkan empat prajurit di depan dan tiga prajurit di belakang." ucap Raja Artur yang tertawa dengan cukup keras. Xiao Ziya hanya diam melihat tingkah konyol kakek tua itu, wajar jika penjagaan di markas musuh sangatlah lemah. Mereka semua bukan orang berpengalaman dalam perang, entah pasukan macam apa yang Raja Anling Zee turunkan ke medan perang.


"Kita akan menyerang mereka sore nanti, jangan sisakan satu prajurit pun." ucap Xiao Ziya dengan tatapan tajam kemudian gadis itu pamit untuk masuk kembali kedalam rumah kayunya.


Raja Artur hanya tersenyum melihat kepergian gadis itu, ia tau Xiao Ziya ingin tidur sebelum melakukan penyerangan. Gadis itu tak pernah berubah, ia selalu memakai waktu senggangnya untuk tidur dengan puas ataupun makan dengan banyak.


"Dia memang gadis yang sangat muda, wajar menginginkan waktu istirahat yang cukup banyak." ucap Raja Artur, ia pergi ke rumah kayu tempat para pemimpin pasukan berkumpul untuk menyampaikan informasi itu.


"Selamat sore semuanya, senang bisa melihat kalian kembali. Saya sangat bersyukur karna dalam peperangan kemarin pihak kita tak ada yang mati, mereka hanya mengalami luka luka ringan saja dan beberapa yang mengalami luka berat sedang dalam masa pengobatan." ucap Xiao Ziya, gadis itu memberitahukan bagaimana hasil peperangan kemarin kepada sekutunya, dengan begitu sekutu Xiao Ziya yakin dengan tingkat keberhasilan dalam peperangan kali ini.


"Kami senang bisa berperang bersama dengan anda." ucap seluruh pasukan sekutu milik gadis itu secara bersamaan. Berperang bersama dengan gadis muda itu memberikan banyak pengalaman baru bagi mereka, setelah sekian lama mereka semua mengetahui satu hal tentang kelemahan para manusia abadi itu.


"Sore ini kita akan menyerang langsung ke markas utama Kerajaan Bulan, membutuhkan waktu lama jika kita menunggu mereka untuk siap berperang lagi. Satu hal yang perlu kalian ingat, meski saat ini pihak kita lebih unggul dari mereka, tak menutup kemungkinan Raja Anling Zee akan turun langsung ke medan perang. Karna hal itu saya harap kalian semua berhati hati, jika kondisi tak memungkinkan segera kembali ke markas utama." ucap Xiao Ziya, gadis itu memberikan sedikit arahan agar pasukan sekutunya tak merasa menang di awal peperangan ini. Tak ada yang tau hal apa yang sedang direncanakan oleh Raja Anling Zee, yang Xiao Ziya ketahui hanyalah Raja Anling Zee seorang pria licik.


"Baik kami akan mendengar arahan anda." ucap para pasukan sekutu Xiao Ziya secara serempak.


"Pasukan dengan kemampuan berpedang akan menyerang secara langsung dari sisi depan markas, pasukan dengan kemampuan memanah akan menyerang dari sisi belakang, dan untuk para penyihir kalian akan mengitari area markas musuh pastikan tak ada yang kabur. Jika ada bala bantuan dari Kerajaan Bulan yang datang, segera buat perisai terkuat yang bisa kalian buat setidaknya Pangeran Yozan Zee harus menjadi tawanan perang kita kali ini." ucap Xiao Ziya, gadis itu sudah memikirkan semua hal yang harus mereka lakukan.


"Baik kami mengerti nona Ziya." triak semua pasukan sekutu penuh dengan semangat.


"Mengapa anda yakin Kerajaan Bulan akan mengirim bala bantuan?." tanya Ratu Rexuca dengan tatapan bingung, Raja Anling Zee memiliki banyak hal yang harus ia urus. Seharusnya sang raja sudah merasa cukup dengan mengirim Pangeran Yozan Zee ke medan perang.


"Mungkin ini pertama kalinya bagi Pangeran Yozan Zee turun langsung ke medan perang, awalnya pihak musuh memprediksi jumlah pasukan sekutu yang saya miliki hanya seratus ribu prajurit saja. Namun setelah mengetahui kenyataan bahwa pasukan saya lebih dari jumlah itu, Raja Anling Zee akan turun langsung ke medan perang." jawab Xiao Ziya dengan tenang, banyak kemungkinan buruk yang akan terjadi dan gadis itu mempersiapkan banyak hal untuk menghadapinya.


"Saya mengerti." ucap Ratu Rexuca dengan senyuman bangga, seorang gadis semuda Xiao Ziya bisa memikirkan semua kemungkinan yang akan terjadi saat peperangan masih berlangsung, sungguh hal yang hebat.


"Baiklah kita akan berangkat sekarang, jalankan rencana sesuai dengan yang saya katakan." ucap Xiao Ziya. Gadis itu melesat menuju gerbang keluar dari markas utama, para Prajurit Iblis membukakan gerbang dengan lebar.

__ADS_1


"Kami akan menjaga markas selama nona besar pergi, percayakan keamanan markas utama ini pada kami." ucap para Prajurit Iblis, mereka mengantar kepergian Xiao Ziya bersama pasukan sekutu yang lain.


Akhirnya pasukan Xiao Ziya mulai bergerak menuju markas Kerajaan Bulan, pasukan dari Kerajaan Bulan pasti terkejut dengan serangan mendadak seperti ini. Di sisi lain Raja Anling Zee sudah siap dengan empar ratus ribu pasukan miliknya, ia akan berangkat malam nanti ke medan perang untum melawan pasukan sekutu Xiao Ziya.


"Sebelum pergi ke medan perang, kalian harus mempersiapkan mental dengan baik. Tak ada yang akan menjamin keselamatan kalian selama di medan perang." ucap Raja Anling Zee pada empat ratus ribu pasukan yang berkumpul di lapangan utama wilayah Kerajaan Bulan.


"Baik kami mengerti Yang Mulia Raja." jawab para pasukan itu secara serempak.


"Malam nanti kita akan berperang melawan para pemberontak itu, untuk harga diri Kerajaan Bulan kita harus memenangkan peperangan ini. Jangan mengecewakan para leluhur yang sudah bekerja keras membangun Kerajaan Bulan yang kita tempati sekarang ini." ucap Raja Anling Zee dengan penuh semangat. Sorakan dari empat ratus ribu pasukan Kerajaan Bulan terdengar sangat nyaring, mereka yakin akan memenangkan peperangan ini. Setidaknya ada lebih dari enam ratus ribu anggota pasukan Kerajaan Bulan saat mereka bergabung dengan pasukan yang berada di markas utama.


Raja Anling Zee memberikan waktu pada pasukannya, sang raja harus kembali ke Istana Kerajaan Bulan untuk mengambil beberapa perlengkapan. Raja Anling Zee merasa heran, sejak pagi tadi ia tak melihat Putri Jifana dimanapun, mungkinkah gadis itu sedang merencanakan sesuatu yang konyol lalu tertangkap oleh Xiao Ziya.


"Jika sesuatu terjadi padanya, istriku akan sangat marah." ucap Raja Anling Zee, saat ini Ratu Jinha Zee sedang berada di rumah kedua orang tuanya karena pertengkaran yang terjadi beberapa bulan yang lalu.


"Haruskah aku menceraikan wanita pemarah itu? hah sungguh menyebalkan." ucap Raja Anling Zee, pria itu masuk ke dalam istana dan langsung pergi ke kamar untuk mengenakan amor perang miliknya.


Markas utama Kerajaan Bulan terlihat sangat tenang, terdapat beberapa prajurit yang sedang berjaga dan mengawasi keadaan sekitar. Mereka akan kembali ke Kerajaan Bulan setelah kondisi Pangeran Yozan Zee membaik, untuk saat ini sang pangeran belum sadarkan diri. Tabib istana berusaha sekuat mereka untuk mempercepat penyembuhan Pangeran Yozan Zee, tabib istana hanya takut pihak musuh akan melakukan serangan secara diam diam.


Dalam peperangan hal seperti itu sudah wajar, seharusnya Raja Anling Zee turun langsung ke medan perang karna putranya sangat tak bisa diandalkan. Bagaimana Kerajaan Bulan bisa berkembang jika memiliki seorang Putra Mahkota yang lemah seperti ini, para tabib istana sangat kecewa pada Pangeran Yozan Zee.


"Menurutmu kapan pangeran tak berguna ini akan sadar?." tanya seorang tabib istana pada tabib lain yang ada di sebelahnya.


"Lukanya sangat parah, dengan lemahnya tubuh pangeran memerlukan waktu yang cukup lama untuk pulih." jawab sang tabib.


"Dia tak bisa melakukan apapun dengan benar, mengapa Raja Anling Zee mempercayakan peperangan sebesar ini pada seorang bocah ingusan." ucap tabib istana itu, ia memandang ke arah Pangeran Yozan Zee dengan tatapan tak suka.


"Sudahlah, ini keputusan langsung dari Yang Mulia Raja. Jika kau menentangnya, kau akan dihukum pancung." ucap tabib itu, ia tau rekannya sedang sangat kesal.


Pasukan milik Xiao Ziya sudah sangat dekat dengan markas utama Kerajaan Bulan, sesuai dengan rencana pasukan pemanah bergerak perlahan menuju sisi belakang, para penyihir mulai melingkari area markas musuh mereka, sedangkan Xiao Ziya dan yang lain bersiap untuk menyerang dari depan.


"Haruskah saya menggila?." ucap Raja Artur yang ingin membunuh secara brutal.


"Bukankah anda memang sudah gila?." tanya Ratu Rexuca dengan senyuman mengejek.


"Anda benar, kakek tua ini memang sudah sangat gila." saut Xiao Ziya dengan tawa pelan agar tak terdengar oleh pihak musuh.


"Kalian sungguh kejam." ucap Raja Artur yang mulai merajuk itu.


"Baiklah semuanya bersiap, SERANG!!!!." triak Xiao Ziya dengan kencang agar di dengar oleh pasukan berpedang yang ada di belakangnya itu.


Ratusan ribu prajurit berlari ke arah markas utama Kerajaan Bulan, prajurit yang sedang berjaga langsung di bunuh tanpa melakukan perlawanan apapun. Pasukan sekutu Xiao Ziya yang menyerang dari belakang sudah berhasil membunuh para prajurit penjaga juga, karna suara ribut dari luar markas beberapa Jenderal Kerajaan Bulan keluar untuk melihat apa yang sedang terjadi.


Hai hai semua author balik lagi nih, gimana kabar kalian semoga sehat selalu ya guys. Jangan lupa follow buat yang belum, vote karna wajib, gift hadiah apapun, like like like, komen buat ninggalin jejak, rate bintang lima, share juga ya.

__ADS_1


__ADS_2