
Xiao Ziya mendatangi ruang kerja Pangeran Jongsu Zu, belum sempat mengetuk pintu tiba tiba sang pengeran membuka pintu. Xiao Ziya menatap ke arah sang pangeran karna membuatnya terkejut sedangkan Pangeran Jongsu Zu malah tersenyum pada gadis itu seperti tak memiliki kesalahan apapun.
"Apa Anda merindukan saya hingga datang menemui saya secara pribadi seperti ini." ucap Pangeran Jongsu Zu dengan sangat percaya diri.
Xiao Ziya tak mengatakan apapun, gadis itu mengeluarkan sebuah kotak kayu dari cincin semesta miliknya kemudian diberikan pada Pangeran Jongsu Zu. Tanpa mengatakan apapun Xiao Ziya langsung meninggalkan pangeran itu yang sedang menatap ke arahnya dengan tatapan bingung.
"Nona Ziya memberikan saya hadiah? wah sangat luar biasa." ucap Pangeran Jongsu Zu yang langsung masuk ke dalam ruang kerjanya untuk membuka hadiah dari Xiao Ziya.
Saat ini Xiao Ziya sudah berada di dalam ruang kerja Putra Mahkota Yunzo Zu, untung saja sang putra mahkota tak memiliki kebiasaan serta sikap aneh seperti Pangeran Jongsu Zu. Xiao Ziya sengaja meninggalkan pangeran gila itu tanpa mengatakan hal apapun karna ia sedang menahan kekesalan agar tak menonjok wajah pangeran itu. Saat berada di ruang kerja Putra Mahkota Yunzo Zu, Xiao Ziya menunjukkan wajah masam yang membuat Putra Mahkota bingung apa yang telah terjadi pada gadis itu.
"Ada keperluan apa hingga nona Ziya datang menemui saya?." tanya Putra Mahkota Yunzo Zu yang masih duduk dengan tenang di kursi tempatnya bekerja.
"Sore nanti saya akan kembali ke Kerajaan Bulan, saya ucapkan terimakasih atas segala hal yang saya dapat ketika berada di tempat ini. Ada sesuatu yang ingin saya berikan pada Anda sebagai hadiah pertemuan sekaligus perpisahan, terimakasih karna memperlakukan saya dengan baik." ucap Xiao Ziya yang langsung memberikan kotak kayu besar pada Putra Mahkota Yunzo Zu. Sang putra mahkota menatap ke arah kotak kayu itu dengan senyuman tampannya.
Putra Mahkota Yunzo Zu mengambil sesuatu di laci meja tempatnya bekerja, ia memberikan sebuah kotak kecil berwarna biru tua kepada Xiao Ziya sebagai hadiah pertemuan mereka. Sudah lama sang putra mahkota ingin memberikan hadiah itu namun belum menemukan waktu yang tepat, karna Xiao Ziya sudah ingin kembali ke Kerajaan Bulan mau tidak mau Putra Mahkota Yunzo Zu harus memberikannya sekarang.
"Baiklah saya akan menerima hadiah dari Anda, saya permisi karna harus menemui Yang Mulia Raja Yongling Zu dan Ratu Junyi Zu." ucap Xiao Ziya yang ingin pergi dari ruang kerja Putra Mahkota Yunzo Zu.
Saat gadis itu ingin menarik gagang pintu dan membuka pintu tersebut, tiba tiba Putra Mahkota Yunzo Zu menarik tangan Xiao Ziya dan membawa gadis itu ke dalam pelukannya. Xiao Ziya cukup terkejut dengan apa yang dilakukan oleh sang putra mahkota namun di sisi lain ia juga merasa nyaman seperti dipeluk oleh gege gegenya yang ada di dunia bawah. Putra Mahkota Yunzo Zu mengusap rambut panjang Xiao Ziya perlahan, ia juga mengatakan beberapa hal pada gadis itu.
"Maaf karna kami tak bisa mengembalikan ingatan ibumu, walaupun begitu Istana Kerajaan Bintang Timur akan selalu menyediakan tempat jika kau ingin tinggal." ucap Putra Mahkota Yunzo Zu dengan suara lembut. Gadis yang ada di dalam pelukannya itu adalah adik perempuannya juga meski mereka memiliki ayah yang berbeda.
"Kembalilah jika kau merindukan ibu." ucap Putra Mahkota Yunzo Zu.
Xiao Ziya tak bisa mengatakan apapun, sebagai seorang anak tentu ia merasa sangat kesakitan menahan semuanya sendirian. Gadis itu juga ingin merasakan kasih sayang yang sama dengan para pangeran dan putri yang lahir dari rahim ibunya, Xiao Ziya bisa melihat sendiri betapa sang ibu menyayangi Putri Beiling Zu yang ia anggap sebagai anak perempuan satu satunya yang ia miliki.
"Saya akan kembali jika memang takdir menghendaki, tak akan baik jika saya terlalu lama berada di sini." jawab Xiao Ziya dengan jujur. Ziya melepas paksa pelukan Putra Mahkota, setelah berhasil ia langsung pergi meninggalkan Istana Pangeran dan kembali ke Istana Utama.
Xiao Ziya berjalan menuju ruang kerja Yang Mulia Raja Yongling Zu, saat ingin mengetuk pintu beberapa prajurit yang berjaga di depan ruangan tersebut mengatakan bahwa saat ini sang raja sedang berada di ruang rapat bersama dengan beberapa jenderal dan mentri untuk membahas hubungan antara Kerajaan Bintang Timur dengan Klan Mue, karna kemungkinan besar hubungan antara keduanya akan segera berakhir. Mendengar hal itu Xiao Ziya langsung pergi menuju ruang rapat, gadis itu mengetuk pintu untuk memastikan apakah ia diizinkan masuk ke dalam ataukah tidak.
"Nona sedang mencari siapa?." tanya seorang menteri sembari menatap ke arah Xiao Ziya.
"Saya ingin bertemu dengan Yang Mulia Raja Yongling Zu sebentar saja." ucap Xiao Ziya dengan nada datar, gadis itu hanya ingin menyerahkan hadiah perpisahan yang telah ia persiapkan untuk sang raja.
"Baiklah Anda bisa menunggu sebentar." ucap mentri itu yang masuk kembali ke dalam ruang rapat untuk memanggilkan Raja Yongling Zu.
__ADS_1
Tak berselang lama sang raja keluar dengan raut wajah khawatir, ia segera menghampiri Xiao Ziya untuk menanyakan apa yang sedang terjadi hingga gadis itu mencarinya siang siang seperti ini. Dengan segera Xiao Ziya menggelengkan kepala sebagai pertanda bahwa ia datang bukan karna ada sebuah masalah yang serius, Ziya memberikan kotak kayu dengan ukuran lebih besar daripada yang lain kepada Raja Yongling Zu.
"Saya akan kembali ke Kerajaan Bulan, saya ucapkan terimakasih untuk sambutan baik semua anggota Kerajaan Bintang Timur. Mungkin ini terlalu mendadak namun saya tak bisa tinggal lebih lama lagi. Saat saya sudah pergi Anda bisa membebaskan Zu Minze yang sedang di kurung di istana putri." ucap Xiao Ziya yang masih mengingat bahwa ada pemuda dari Klan Zu yang masih terkurung karna tak ingin mendengar perkataannya.
"Anda tak bisa tinggal lebih lama lagi Nona Ziya?." tanya Raja Yongling Zu, sepertinya sang raja masih belum bisa melepas kepergian Xiao Ziya. Bagaimanapun anggota Keluarga Kerajaan Bintang Timur sangat senang dengan kehadiran gadis itu di tengah tengah mereka, Xiao Ziya juga gadis yang sangat cerdas bisa menyelesaikan banyak masalah dengan waktu singkat.
"Sudah terlalu lama saya tinggal di sini, banyak hal lain yang harus saya lakukan di luar sana." jawab Xiao Ziya dengan wajah tanpa ekspresi, ya karna pria yang ada di hadapannya itu sang ibu tak dapat mengingat apapun tentangnya akan tetapi Xiao Ziya bisa menerima hal itu sekarang.
"Baiklah jika itu keinginan Anda, biarkan kami mengantar Anda sampai di perbatasan." ucap Raja Yongling Zu yang ingin mengantar kepergian Xiao Ziya hingga ke wilayah perbatasan.
"Anda tak perlu melakukan hal itu Yang Mulia Raja, saya akan pergi sendiri tanpa siapapun yang mengantar kepergian saya." balas Xiao Ziya, ia tak ingin langkahnya menjadi berat jika kepergiannya diantar oleh sang ibu dan Putri Beiling Zu.
"Kami akan menghargai setiap keputusan Anda. Kembalilah kapanpun karna istana ini selalu menyambut kedatangan Nona Ziya." ucap Raja Yongling Zu, awalnya ia berfikir bahwa Xiao Ziya akan tinggal lebih lama lagi setidaknya sampai ibunya sedikit mengingat hal tentangnya.
"Baiklah saya permisi Yang Mulia Raja Yongling Zu, maaf karna telah mengganggu rapat Anda." ucap Xiao Ziya yang langsung pergi meninggalkan Raja Yongling Zu.
Gadis itu berjalan dengan langkah pelan, tinggal Ratu Junyi Zu dan Putri Beiling Zu yang belum mendapatkan hadiah perpisahan dari gadis itu. Karna Putri Beiling Zu masih belum sadar dan sedang dalam masa penyembuhan Xiao Ziya menyiapkan kado sang putri di dalam kamar. Xiao Ziya merasa ragu saat ingin mengetuk pintu kamar utama untuk bertemu dengan Ratu Junyi Zu, entah apakah dia akan menangis lagi kali ini.
Tok tok tok..
"Hari ini saya akan kembali ke Kerajaan Bulan, saya berharap Anda bisa menjaga diri dengan baik. Saya sangat iri dengan putra dan putri Anda yang mendapat banyak kasih sayang dari Anda. Terimakasih karna telah memperlakukan saya dengan baik selama berada di tempat ini, jangan biarkan seseorang menyakiti Anda Yang Mulia Ratu Junyi Zu." ucap Xiao Ziya dengan senyuman yang ia paksakan.
Entah mengapa Ratu Junyi Zu membenci senyuman dari gadis yang ada di hadapannya itu, ia merasa sangat kesal ketika Xiao Ziya tersenyum kepadanya. Tiba tiba saja raut wajah sang ratu berubah menjadi sangat marah, ia menampar Xiao Ziya dengan kencang hingga membuat para pelayan dan prajurit yang melihat kejadian itu terkejut. Beberapa pelayan menghampiri Ratu Junyi Zu untuk menahannya dan sang ratu terus memberontak dan ingin menyakiti Xiao Ziya lagi.
"Pergi dari sini, kau bukanlah putriku pergilah!!!." triak Ratu Junyi Zu dengan suara kencang, wanita itu benar benar mengamuk saat melihat Xiao Ziya.
Xiao Ziya hanya diam, ia tak mengerti apa yang sedang terjadi saat ini namun dengan jelas Xiao Ziya melihat kilatan cahaya berwarna putih masuk ke dalam tubuh Ratu Junyi Zu sebelum sang ratu mengamuk seperti itu.
"Lalu saya ini putri siapa?." tanya Xiao Ziya dengan raut wajah sedih.
"Wanita itu wanita itu telah menitipkan mu pada rahimku. Wanita itu.... Aaaaaaaaaaa." triak Ratu Junyi Zu dengan histeris. Raja Yongling Zu dan para pangeran datang setelah mendengar kabar tersebut dari para pelayan.
"Jadi ini alasan mengapa Anda tak mengenal siapa saya?." ucap Xiao Ziya lagi.
"Kau bukan putriku, pergilah dari sini. Meskipun aku yang melahirkan mu tapi kau bukanlah putriku. Tanyakan saja pada wanita tua itu." ucap Ratu Junyi Zu kemudian ia tak sadarkan diri. Xiao Ziya diam membeku beberapa saat, gadis itu sedang berfikir keras mengenai siapa ibu kandungnya jika wanita yang melahirkannya menolak menjadi ibu kandung gadis itu.
__ADS_1
"Sepertinya istana ini memang bukan tempat saya, sampai jumpa semua." ucap Xiao Ziya yang langsung melesat pergi meninggalkan Istana Kerajaan Bintang Timur, Raja Yongling Zu dan yang lain tak bisa menahan gadis itu karna mereka mengerti se hancur apa Xiao Ziya saat ini. Raja Yongling Zu juga bingung mengapa istrinya mengatakan bahwa Xiao Ziya bukanlah putri kandungnya meskipun istrinya lah yang telah melahirkan gadis itu ke dunia.
"Apakah ayah mengetahui sesuatu tentang hal ini?." tanya Putra Mahkota Yunzo Zu dengan tatapan penuh selidik.
"Ayah tak tau apapun, Xiao Ziya benar benar lahir dari rahim ibu kalian." ucap Raja Yongling Zu dengan sorot mata sedih.
"Mengapa ibu mengatakan hal seperti itu? bukankah saat ini sebagian ingatannya sudah tersegel." tanya Pangeran Honzi Zu, entah Xiao Ziya itu adik tirinya atau bukan namun sang pangeran tetap menganggapnya sebagai seorang adik.
"Ayah akan menanyakan hal ini ketika ibu kalian sadar nanti." ucap Raja Yongling Zu yang meminta pada ketiga putranya untuk kembali ke Istana Pangeran dan mengerjakan tugas tugas mereka.
Di sisi lain saat ini Xiao Ziya masih melesat dengan kecepatan tinggi menuju perbatasan Kerajaan Bintang Timur dengan kerajaan lain, air mata gadis itu terus mengalir dengan deras setelah mendengar penolakan dari wanita yang telah melahirkannya. Setelah hampir dekat dengan wilayah perbatasan, Xiao Ziya menghentikan langkahnya karna ia perlu menunggu Zu Junyang dan Zu Genzi untuk ikut ke Kerajaan Bulan.
"Jika dia bukan ibu saya, lalu siapa ibu saya?." tanya Xiao Ziya dengan suara pelan pada dirinya sendiri. Tak mungkin ia bisa ada di dunia ini tanpa adanya seorang ibu, mungkinkah Ratu Junyi Zu membencinya karna ia adalah anak yang tak pernah diinginkan oleh sang ratu?. Saat ini Xiao Ziya sedang sibuk bertarung dengan isi kepalanya sendiri, ia belum bisa memahami kata kata dari Ratu Junyi Zu yang mengatakan bahwa ia bukan anak kandung sang ratu.
Di tempat lain saat ini Mue Linzong dan Mue Sanron sudah sampai di wilayah Kerajaan Yuan Liong, mereka masuk dengan sangat mudah karna pasukan pemanah sudah mengenal keduanya dengan sangat baik. Pasangan suami istri itu berjalan menuju Klan Mue, namun ketika sampai di wilayah kekuasaan Klan Mue mereka mendapatkan tatapan aneh dari para penduduk sekitar.
"Mengapa mereka menatap dengan sorot mata tajam seperti itu?." tanya Mue Sanron yang merasa tak nyaman, ia ingin segera sampai di Klan Mue dan menanyakan hal ini pada ketua klan yang lain.
"Lebih baik kita segera menemui yang lain." ucap Mue Linzong yang mengabaikan tatapan dari penduduk sekitar.
Akhirnya keduanya melanjutkan perjalanan, mereka berdua pun sampai di sebuah reruntuhan bangunan yang seharusnya menjadi tempat Klan Mue berada. Mue Sanron melihat kesekeliling untuk memastikan apakah mereka datang ke tempat yang salah ataukah reruntuhan itu adalah Klan Mue. Saat Mue Sanron masih merasa kebingungan dengan apa yang ia lihat, Mue Linzong sudah terduduk lemas di tanah. Pria tua itu tak sanggup menyaksikan Klan Mue yang telah leluhurnya bangun dengan susah payah dan telah ia jaga dengan sekuat tenaga hancur begitu saja, lalu dimana pada ketua klan serta murid murid Klan Mue? mengapa ia tak melihat siapapun di sana.
"Kalian kemarilah dan katakan apa yang telah terjadi pada Klan Mue ku ini!." bentak Mue Linzong pada beberapa penduduk yang melintas di belakangnya.
Tak ada seorangpun yang ingin mendekat dan menceritakan apa yang telah terjadi pada Klan Mue karna mereka tau emosi Mue Linzong saat ini sedang ada di puncaknya, bisa bisa mereka di bunuh oleh pria tua itu untuk melampiaskan amarah yang terbendung. Karna tak ada seorangpun yang berniat menceritakan hal itu pada Mue Linzong, ia pun menyeret paksa seorang perempuan yang sedang berlari melintasinya.
"Katakan apa yang telah terjadi pada Klan Mue, bukankah kau salah satu penduduk yang tinggal di wilayah Klan Mue." tanya Mue Linzong dengan mencekik kerah baju wanita malang itu.
"Saya tak mengetahui apapun yang terjadi pada Klan Mue, saya penduduk Klan Chi yang sedang melintas di wilayah kekuasaan Anda." jawab wanita itu dengan jujur, mendengar sang wanita adalah penduduk Klan Chi membuat Mue Linzong langsung melepaskannya.
"Argh sialan, siapapun katakan apa yang telah terjadi pada Klan Mue." triak Mue Linzong dengan suara yang sangat kencang, pria tua itu sangat ingin tau apa yang telah terjadi selama ia pergi.
"Sebaiknya kita bertanya pada Yang Mulia Raja Yuan Monzi, percuma kita tetap berada di sini karna mereka tak akan membuka mulut." ucap Mue Sanron dengan sorot mata tajam saat ia melihat ke arah para penduduk di wilayah kekuasaan Klan Mue.
Hai semuanya author balik lagi nih. Ada yang mau ngasih thr ga wkwkwk. Jangan lupa follow buat yang belum, vote karna wajib, gift hadiah apapun, like like like, komen buat ninggalin jejak, rate bintang lima, share juga ya.
__ADS_1