
Xiao Ziya berjalan dengan santai, ia tak ingin terlalu terburu buru pergi ke luar wilayah Kekaisaran Qiyu karna bisa saja hal itu akan menarik perhatian dari para musuh yang masih berada di dalam wilayah Kekaisaran Qiyu. Saat Xiao Ziya sampai di sebuah desa yang tampak ramai gadis itu merasakan ada beberapa orang yang sedang mengikutinya gadis itu hanya tersenyum saat merasakan kehadiran beberapa penguntit.
"Permisi paman apakah di sini ada kedai yang menjual roti kering?." tanya Xiao Ziya pada seorang pria paruh baya yang sedang duduk di depan halaman rumahnya.
Pria paruh baya itu terkejut ketika melihat wajah gadis yang sedang bertanya padanya itu, siapa sangka Xiao Ziya yang sangat terkenal dan hanya ia lihat dari sebuah seketsa wajah yang ada di rumah kepala desa saat ini berada di hadapannya. Jika dilihat dari dekat gadis bernama Xiao Ziya itu lebih cantik dari apa yang ia bayangkan selain itu gadis yang ada di hadapannya memancarkan aura tak biasa.
"Salam hormat saya pada nona Xiao Ziya, suatu kehormatan bagi saya bisa melihat nona secara langsung. Jika nona mencari kedai yang menjual roti kering anda tinggal berjalan lurus kedepan di sana ada sebuah toko roti yang cukup terkenal." ucap pria paruh baya itu yang memberitaukan dimana tempat yang menjual roti kering.
"Trimakasih informasinya paman." ucap Xiao Ziya yang tersenyum kemudian ia pergi menuju toko roti yang diberitaukan oleh pria tadi. Sepertinya beberapa penguntit itu masih mengikuti Xiao Ziya.
"Hah para pengganggu itu memang sangat menyebalkan." ucap Xiao Ziya dengan lirih gadis itu berjalan dengan sedikit cepat. Setelah sampai di depan toko roti Xiao Ziya langsung masuk kedalam dan melihat lihat roti apa yang mereka jual. Setelah menentukan pilihan roti mana yang ingin ia beli Xiao Zuyapun menggambil sebuah nampan dan mengisinya penuh dengan roti.
"Ini saja yang ingin nona beli?." tanya sang pemilik toko roti.
"Jika ada tolong tambahkan beberapa toples selai." ucap Xiao Ziya yang ingin menikmati roti kering dan berbagai roti lainnya dengan selai yang manis.
Pemilik toko roti itu pergi mengambil beberapa toples selai berbagai rasa, setelah itu Xiao Ziya membayar semua roti dan selai yang ia pilih. Gadis itu bertanya pada pemilik toko roti apakah ada kamar mandi yang bisa pelanggan gunakan, pemilik toko roti mengantar Xiao Ziya kebelakang.
"Saya tinggal kedepan lagi, karna banyak pelanggan lain." ucap pemilik toko roti yang kembali kedepan untuk melayani pengunjung yang lain.
Setelah masuk kedalam bilik kamar mandi, Xiao Ziya memasukkan roti dan selai yang ia beli kedalam cincin semesta setelah itu ia membaca mantra teleportasi agar segera sampai di wilayah Kekaisaran Binzo, rencananya untuk menggunakan teleportasi saat berada di hutan perbatasan harus gagal karna para penguntit itu akan terus mengikutinya.
Saat ini Xiao Ziya sedang melintasi dimensi ruang dan wakti, beberapa orang yang mengikuti Xiao Ziya masih menunggu di luar toko roti karna sudah cukup lama dan gadis yang mereka ikuti tak kunjung keluar akhirnya beberapa dari mereka masuk kedalam toko roti.
"Apa ada yang biasa saya bantu?." tanya pemilik toko roti itu dengan ramah.
"Kami sedang menunggu teman kami yang membeli roti di toko anda, namun setelah lama menunggu teman kami tak kunjung keluar." ucap salah seorang penguntit yang menyebut Xiao Ziya sebagai temannya, jika Xiao Ziya mendengar hal ini secara langsung mungkin saja ia akan menamar para penguntit tak tau diri itu.
"Banyak pelanggan yang datang ke toko roti saya, bagaimana ciri ciri teman kalian?." tanya pemilik toko roti yang merasa bingung karna malam ini banyak pengunjung yang keluar masuk toko rotinya.
"Seorang gadis berusia tiga belasan tahun, dengan paras yang cantik dan imut. Ia menggunakan gaun panjang berwarna biru cerah." ucap salah seorang penguntit yang menyebutkan bagaimana ciri ciri dari Xiao Ziya. Pemilik toko seperti sedang mengingat ingat apakah ada pengunjung dengan ciri ciri yang mereka sebutkan.
Akhirnya ia ingat dengan gadis yang membeli banyak sekali rotinya, saat ia ingin memberitaukan dimana gadis itu pemilik toko tampak curiga pada kedua pemuda yang ada di hadapannya itu mereka berdua seperti orang jahat yang ingin menculik gadis cantik. Karna ia tak ingin salah satu pengunjung toko rotinya mendapatkan masalah pemilik toko itupun berbohon pada kedua pemuda mencurigakan itu.
"Sepertinya nona yang anda cari sudah pergi bersama teman temannya yang lain, karna ia datang bersama beberapa pemuda." ucap pemilik toko yang masih ingat dengan jelas bahwa Xiao Ziya masuk kedalam toko rotinya bersama beberapa orang pemuda walau dari arah yang lain.
"Ah ternyata begitu trimakasih informasinya bibi." ucap kedua orang penguntit yang langsung keluar dari toko roti tersebut.
Para penguntit itu merasa sangat kesal karna kehilangan jejak Xiao Ziya, karna rencana mereka untuk membalaskan dendam harus gagal, ya para penguntit itu adalah teman teman Muyen yang bersikeras ingin membunuh Xiao Ziya dengan cara apapun. Setelah beberapa orang mencurigakan yang ada di luar tokonya pergi pemilik toko roti pergi ke kamar mandi untuk melihat apakah gadis itu masih ada di sana ataukah tidak. Saat ia membuka bilik kamar mandi tak ada siapapun di sana.
"Sepertinya nona itu memang sengaja menghindari mereka, untung saja ia sudah pergi." ucap pemilik toko roti yang merasa lega.
Sedangkan saat ini Xiao Ziya berada di sebuah lorong jalan yang cukup gelap, gadis itu sudah sampai di dalam Wilayah Kekaisaran Binzo ia tak perlu repot repot melewati perbatasan karna kemungkinan besar perbatasan dan benteng masuk wilayah Kekaisaran Binzo dijaga oleh para bandit seperti yang dilaporkan oleh Aron.
__ADS_1
"Sebaiknya saya mencari penginapan terlebih dahulu." Xiao Ziyapun berjalan menuju tempat yang lebih ramai, ia menyusuri setiap sudut Kekaisaran Binzo dan mencari penginapan yang aman untuk ia tinggali.
Saat berjalan di sebuah pasar yang cukup ramai perhatian Xiao Ziya teralihkan kesebuah restoran bertingkat ia merasakan aura membunuh yang cukup kental dari sana. Sepertinya salah satu dari sepuluh kelompok bandit itu adalah penguasa di sekitar restoran tersebut. Karna penasaran Xiao Ziyapun masuk kedalam restoran itu sebagai pelanggan biasa, saat gadis itu baru masuk kedalam ada beberapa pasang mata yang menatapnya dengan tajam.
"Siapa gadis yang baru saja masuk kedalam restoran?." tanya seorang wanita cantik dengan bola mata merah khas miliknya.
"Entahlah saya juga belum pernah melihat gadis itu sebelumnya." ucap wanita lain yang juga tak kalah cantik.
Wanita bermata merah itu memberikan intruksi pada pelayan di restoran untuk melayani gadis cantik yang baru saja memilih tempat duduk. Beberapa pelayan wanita datang menghampiri Xiao Ziya dengan tangan yang sedikit gemetaran.
"Makanan apa yang ingin nona muda pesan?." tanya seorang pelayan yang memberikan daftar menu pada Xiao Ziya.
"Berikan makanan dan minuman terbaik yang kalian punya, namun jangan sajikan arak karna saya belum cukup umur untuk itu." ucap Xiao Ziya yang memesan makanan terbaik yang reatoran itu miliki, karna jika seseorang baru pertama kali mendatangi sebuah tempat makan mereka akan bingung saat memilih menu dan meminta pelayan untuk menyiapkan makanan terbaik yang ada di restoran itu.
Akhirnya kedua orang pelayan itu pergi kedapur untuk meminta juru masak membuatkan makanan yang dipesan oleh Xiao Ziya, lima wanita yang sedari tadi memperhtikan Xiao Ziya masih melakukan aktivitas yang sama.
"Saya benci gadis muda yang sangat cantik." ucap salah satu dari kelima wanita itu yang menatap Xiao Ziya dengan tajam.
Xiao Ziya mengingat ingat setiap nama kelompok bandit dan kemampuan apa saja yang mereka miliki, jika tebakannya benar maka kelima wanita yang sedang memperhatikannya adalah anggota dari kelompok bandit Rubah Putih karna mereka hanya beranggotakan wanita cantik saja. Terkadang mereka yang memiliki paras cantik merasa tak terima ketika ada seseorang yang lebih cantik dari mereka.
"Dia hanyalah gadis biasa jangan terlalu galak." ucap salah seorang wanita anggota bandit rubah putih yang tak dapat merasakan aura seorang kultivasi dari gadis yang sedang duduk dengan tenang itu.
"Jika ketua bertemu dengannya maka nasib gadis itu akan sangat malang." ucap wanita lain yang tersenyum remeh ke arah Xiao Ziya, ketua mereka adalah seorang wanit cantik yang sangat membenci orang yang lebih cantik darinya. Di Kekaisaran Binzo saja sudah ada lima gadis yang mati di tangan pemimpin bandit rubah putih kesalahan kelima gadis itu karna mereka lebih cantik dari ketua mereka.
"Apa aku salah melihat?." ucap salah satu wanita anggota bandit rubah putih yang tak percaya dengan apa yang ia lihat.
"Tubuh gadis itu akan melebar jika maka terlalu banyak." ucap wanita lain yang mulai mengomentari bagainana cara Xiao Ziya makan.
Setelah cukup lama akhirnya Xiao Ziya menghabiskan semua makanan yang disajikan, gadis itu memanggil beberapa pelayan karna ia ingin membayar. Saat kedua pelayan restoran itu datang mereka sangat terkejut karna seorang gadis dengan tubuh yang mungil bisa menghabiskan makanan sebanyak itu.
"Nona menghabiskan semuanya sendirian?." tanya salah seorang pelayan yang merasa penasaran.
"Iya saya menghabiskannya sendirian." jawab Xiao Ziya dengan santai karna ia sudah terbiasa makan dengan porsi besar seperti itu.
"Bukankah para gadis selalu menjaga tubuh mereka, mengapa nona bisa mengabiskan semuanya sendirian?." tanya pelayan itu lagi yang merasa heran akan sangat disayangkan jika tubuh nona muda yang ada di hadapnnya menjadi membesar karna makan terlalu banyak.
"Saya selalu makan sebanyak itu, karna saya memiliki sebuah moto hidup yaitu hidup untuk makan bukan makan untuk hidup." ucap Xiao Ziya yang akan merasa puas ketika ia bisa menikmati hidangan lezat dengan santai dan tanpa gangguan sedikitpun.
"Lalu bagainana nona masih memiliki tubuh yang ideal?." tanya pelayan itu yang ingin tau bagaimana cara nona muda di hadapannya menjaga tubuhnya agar selalu sehat dan indah.
"Entahlah saya juga tidak tau." ucap Xiao Ziya yang juga merasa heran mengapa tubuhnya hanya bertambah tinggi saja dengan berat badan yang normal.
"Pasti anda sangat suka berolahraga." ucap sang pelayan dengan nada sedikit kesal, ia mengira bahwa nona muda yang ada di hadapannya itu tak ingin membagikan rahasianya.
__ADS_1
"Tidak karna hobi saya adalah tidur." ucap Xiao Ziya dengan datar ia sedikit rish dengan pertanyaan pertanyaan yang para pelayan itu ajukan. Akhirnya Xiao Ziya mengambil sekantung koin emas dan meletakkannya di atas meja setelah itu ia pergi dari restoran itu karna tak ingin mendengar pertanyaan aneh dari para pelayan restoran.
Melihat kepergian Xiao Ziya yang sedikit menyebalkan membuat kelima anggota bandit rubah putih menggertakkan gigi mereka, jika mereka bertemu lagi dengan gadis menyebalkan itu maka mereka akan membuatnya sengasara namun siapa yang mampu melakukan hal itu pada seorang Xiao Ziya yang terkadang lebih kejam daripada iblis.
Saat ini Xiao Ziya masih berkeliling dan mencari penginapan yang aman, setiap ia melewati beberapa penginapan dengan fasilitas yang memadai gadis itu merasakan aura membunuh yang artinya penginapan tersebut menjadi tempat tinggal para bandit.
"Hah sangat sulit mencari penginapan yang aman." ucap Xiao Ziya yang menghela nafas panjang, para kelompok bandit itu memang sangat mengganggu terlihat para penduduk Kekaisaran Binzo selalu menunduk setiap kali mereka berjalan.
Xiao Ziya berkeliling kesana kemari namun tak ada penginapan yang tak ditinggali oleh kelompok bandit, ia sangat kesal hingga ingin membakar semua penginapan itu untung saja Xiao Ziya dapat menahan amarahnya dengan baik. Xiao Ziya duduk di sebuah kursi panjang yang diletakkan di sebuah kedai, ia beristirahat dan menatap langit malam. Tiba tiba saja ada seseorang yang menepuk pundak Xiao Ziya, dengan segera Xiao Ziya menoleh kebelakang.
"Ah ternyat bibi." ucap Xiao Ziya yang tersenyum saat meihat bibi penjual roti isi daging yang ada di belakangnya.
"Masuklah nona, ini adalah rumah saya." ucap bibi penjual roti isi daging yang mempersilahkan Xiao Ziya untuk masuk kedalam rumahnya, ia tau bahwa gadis itu sedang kesulitan mencari penginapan.
Xiao Ziyapun masuk kedalam rumah bibi penjual roti isi daging, rumah sederhana namun sangat rapi dan bersih. Sang bibi mempersiahkan Xiao Ziya untuk duduk di salah satu kursi yang ada di ruang tamu, bibi itu masuk kedapur untuk mengambil minuman.
"Saya hanya minuman ini nona." ucap bibi penjual roti isi yang menyajikan satu gelas teh hangat pada Xiao Ziya.
"Ini sudah lebih dari cukup bibi, saya merasa sedikit lelah karna berkeliing cukup lama." ucap Xiao Ziya yang bersyukur karna bertemu dengan bibi penjual roti isi daging.
Sang bibi mulai menceritakan apa saja yang terjadi di Kekaisaran Binzo beberapa bulan terakhir ini, para penduduk dan pedagang merasa sangat tersiksa karna mereka diminta membayar pajak pada para bandit yang menduduki beberapa tempat di Kekaisaran Binzo. Xiao Ziya mendengarkan keluh kesah dari bibi penjual roti isi daging ternyata penduduk Kekaisaran Binzo sangat menderita.
"Saya harap bibi bisa merahasiakan kedatantan saya ke kekaisaran ini, saya akan mencari sebuah cara bagaimana agar bisa membereskan masalah ini." ucap Xiao Ziya yang akan memikirkan sebuah cara untuk memberantas para bandit itu.
"Saya merasa bersyukur karna nona sudah datang ke Kekaisaran Binzo, jika nona memerlukan tempat tinggal nona bisa tinggal di rumah saya." ucap bibi penjual roti daging yang mengizinkan Xiao Ziya untuk tinggal di rumahnya selam gadis itu berada di Kekaisaran Binzo.
"Trimakasih atas kebaikan bibi." ucap Xiao Ziya yang tersenyum senang.
Bibi penjual roti daging mengantarkan Xiao Ziya kesebuah kamar kosong yang ada di rumahnya, bibi itu hanya tinggal berdua bersama dengan suaminya sedangkan kedua anak mati saat berada di medan perang.
"Nah nona bisa tinggal di sini semau nona." ucap sang bibi.
Xiao Ziya masuk kedalam kamar yang ditunjuk oleh bibi penjual roti isi daging, kamar yang tak terlalu luas namun sangat nyaman. Sekarang Xiao Ziya tak perlu khawatir memikirkan dimana ia akan tinggal selama ada di Kekaisaran Binzo. Gadis itu duduk di atas tempat tidur dan mulai masuk kedalam alam bawah sadarnya di dekat lautan spiritualnya ada seorang pria berambut hitam panjang yang diurai jika dilihat dari auranya pria itu adalah wujud dari buku tengkorak milik Xiao Ziya.
"Bukankah kau tinggal di dantian saya? mengapa sekarang kau ada di dalam alam bawah sadar saya?." tanya Xiao Ziya yang bertanya pada pria berambut hitam legam itu.
Sang pria membalikkan tubuhnya dan melihat ke arah Xiao Ziya, ia melihat Xiao Ziy dari ujung rambut hingga ujung kaki kemudian tersenyum.
"Ternyata nona yang saya layani adalah seorang gadis yang sangat cantik." ucap pria yang merupakan wujud manusia dari buku bersampul tengkorak milik Xiao Ziya.
"Hais saya bertanya apa namun kau menjawab apa." ucap Xiao Ziya yang menepuk jidatnya pelan, mengapa ia selalu dikelilingi oleh para pemuda dan pria pria tampan. Untung saja gadis itu sudah terbiasa jika tidak ia sudah terkena serangan jantung.
Hai hai pembacaku yang ku rindukan, akhirnya author kembali lagi. Jangan lupa follow buat yang belum, vote ya guys, gift hadiah apapun, like like like, komen buat ninggalin jejak, rate bintang lima, share juga ya.
__ADS_1