
Xiao Ziya beranjak pergi dari Lembah Kehidupan menuju tempat selanjutnya, anehnya di dalam peta yang diberikan oleh kakek tua itu hanya tertulis sebuah hamparan padang gandum yang luas tanpa tertulis ada yang tinggal di tempat itu. Karna itulah Xiao Ziya akan lebih berhati hati di tempat terkahir yang harus ia lalui sebelum sampai di Desa Elnz, kemungkinan besar ada bahaya yang mengintai saat ia baru saja menginjakkan kaki di tempat itu. Di sisi lain saat ini Yie Gu dan Yie Weinje sedang berada di sebuah ruangan tersembunyi yang ada di lantai bawah kamar mereka, keduanya telah pergi dari ruang kesehatan beberapa jam yang lalu.
"Sebaiknya kita memanggil Penguasa Agung sekarang juga, kita sudah punya sepuluh gadis muda seperti yang ia inginkan." ucap Yie Gu yang sudah tak sabar bertemu dengan Penguasa Agung yang selama ini membantunya.
"Baiklah aku akan menyiapkan semuanya." ucap Yie Weinje yang langsung membuat sebuah pola sihir besar kemudian ia meletakkan kesepuluh gadis muda di tempat yang telah disediakan.
Yie Weinje menggores pergelangan tangan kesepuluh gadis itu hingga mereka semua ingin menjerit karna merasa sakit, perlahan lahan kesadaran kesepuluh gadis itu mulai hilang dan pingsan. Persiapan telah siap dan kini saat yang tepat bagi Yie Gu dan Yie Weinje untuk membaca mantra pemanggil secara bersamaan, pasangan suami istri itu mengelilingi pola sihir yang telah dibuat sembari merapalkan mantra yang terdengar seperti sebuah lantunan lagu. Setelah sepuluh menit berlalu pola sihir itu berubah warna yang tadinya berwarna putih berubah menjadi hitam kemerahan, muncul kabut yang sangat pekat keluar dari pola sihir itu kemudian muncul seorang pemuda dengan paras yang cukup tampan sedang menatap Yie Gu dan Yie Weinje dengan tatapan tajam.
"Sembah kami pada Penguasa Agung." ucap Yie Gu dan Yie Weinje yang langsung bersujud di hadapan pemuda itu.
"Mengapa hanya kesepuluh gadis ini saja? mana cucu kalian yang cantik itu!." bentak Penguasa Agung yang merasa tak puas dengan persembahan yang diberikan oleh Yie Gu dan Yie Weinje. Yufenzu atau lebih dikenal dengan sebutan Penguasa Agung, ia sangat menyukai wajah serta sikap Yie Munha dan memiliki rencana untuk menikah dengan gadis itu nantinya.
"Kami memanggil Anda kesini untuk membantu kami merebut Yie Munha kembali." ucap Yie Gu dengan tatapan serius seolah oleh Yie Munha telah diculik ataupun diambil paksa oleh seseorang.
Penguasa Agung menaikkan sebelah alisnya, siapa yang berani menculik calon pengantinnya itu? cukup lama waktu yang dihabiskan oleh Penguasa Agung hanya untuk menunggu Yie Munha tumbuh menjadi gadis dewasa dan sekarang adalah waktu yang tepat untuk menikah dengannya.
"Katakan, siapa yang telah menculik calon pengantin ku itu!!." bentak Penguasa Agung dengan nada tinggi, ia benar benar marah saat ini.
Suasana di wilayah kekuasaan Klan Yie tiba tiba menjadi sangat suram, langit yang tadinya berwarna biru cerah kini berubah menjadi hitam pekat disertai hujan badai yang membuat para penduduk menjadi bingung. Tak biasanya cuaca berubah secepat dan seekstrim itu, para penduduk yang tinggal di wilayah kekuasaan Klan Yie langsung menghentikan aktivitas mereka dan masuk ke dalam rumah.
"Xiao Ziya telah membawa calon pengantin mu pergi dari Klan Yie, sepertinya gadis itu tak senang melihat Penguasa Agung bahagia dan hidup bersama dengan Yie Munha." ucap Yie Weinje dengan sorot mata sedih. Wanita itu memang sangat pandai membuat sebuah skenario yang membuat posisi Xiao Ziya menjadi terpojok. Andai saja Penguasa Agung itu tau bahwa pasangan suami istri yang telah memanggilnya berencana untuk membunuh Yie Munha.
"Kalian harus segera membawa Yie Munha kembali bagaimanapun caranya!." ucap Penguasa Agung dengan tubuh yang diselimuti dengan kemarahan meluap luap.
"Kami ingin meminta bantuan Anda untuk melakukan hal itu, bisakah Anda menyembuhkan kami berdua ?." tanya Yie Gu yang berharap Penguasa Agung dapat menumbuhkan kembali organ tubuhnya yang terpotong oleh pedang milik Xiao Ziya.
Penguasa Agung melihat ke arah Yie Gu dan Yie Weinje dengan tatapan bingung, siapa yang bisa melukai mereka berdua hingga separah itu? tak mungkin jika para ketua Klan Yie berani membangkang pemimpin mereka. Mungkinkah gadis yang telah menculik calon pengantinnya itu yang telah melukai keduanya?. Penguasa Agung mengeluarkan asap berwarna hitam dari telapak tangannya kemudian asap itu menutupi tubuh Yie Gu dan Yie Weinje, keduanya menjerit dengan sangat kencang kemudian perlahan lahan kabut hitam menghilang dan luka keduanya telah sembuh total.
__ADS_1
"Terimakasih karna Penguasa Agung berkenan membantu kami." ucap Yie Gu dan Yie Weinje secara bersamaan.
"Sekarang pergilah dan jemput calon pengantin ku untuk pulang, jangan kembali sebelum kalian berhasil melakukannya." ucap Panguasa Agung yang meminta Yie Gu dan Yie Weinje untuk menjemput Yie Munha kembali ke Klan Yie.
"Baiklah kami pergi sekarang juga." ucap Yie Gu dan Yie Weinje yang langsung pergi dari tempat rahasia itu kemudian bergegas melesat keluar dari Klan Yie.
Di sisi lain saat ini Xiao Ziya telah sampai di wilayah hamparan gandum yang siap untuk dipanen, gadis itu menoleh ke kanan kiri untuk melihat apakah ada orang yang tinggal di tempat itu. Setelah mengamati cukup lama Xiao Ziya tak melihat satu orang pun yang berjalan di ladang gandum itu kecuali dirinya, akhirnya gadis itu memutuskan untuk menyusuri setiap sudut dari ladang tersebut. Saat Xiao Ziya sedang berjalan dengan santai tiba tiba ia mendengar suara beberapa langkah kaki yang bergerak mengitarinya, dengan segera gadis itu melompat dengan tinggi bersamaan dengan kemunculan beberapa tombak yang hendak menusuk tubuhnya. Saat ini Xiao Ziya berada di atas udara menggunakan energi qi yang ia miliki, gadis itu menundukkan kepalanya ke bawah dan melihat beberapa manusia dengan telinga runcing sedang mencari keberadaannya.
"Mengapa kalian menyerang orang lain secara tiba tiba seperti itu?." tanya Xiao Ziya dengan tatapan tajam, ini kedua kalinya ia bertemu dengan bangsa elf dan mereka memiliki sikap sangat arogan dan tak ramah pada manusia biasa sepertinya.
"Orang luar dilarang masuk ke dalam wilayah ladang gandum kami, sebaiknya Anda pergi sebelum kami bertindak lebih jauh lagi." ucap beberapa elf yang meminta Xiao Ziya untuk pergi dari tempat itu, kehadiran manusia asing sepertinya membuat para elf yang tinggal di sana merasa cemas.
"Bangsa elf tak seharusnya tinggal di tempat ini, mengapa kalian mengusir orang lain dengan seenak hati." ucap Xiao Ziya yang tak akan pergi dari ladang gandum itu, ia hanya ingin lewat bukan mencuri apa gandum milik para elf.
"Jika Anda bersikeras tak ingin pergi, jangan salahkan kami karna bertindak kasar." ucap salah seorang elf dengan sorot mata tajam. Elf itu mengangkat tangannya tinggi tinggi kemudian menunjuk ke arah Xiao Ziya. Ziya hanya tersenyum karna ia ingin melihat serangan seperti apa yang akan mereka berikan padanya.
Muncul ratusan elf yang tersebar di ladang gandum tersebut, mereka membawa busur beserta panah yang sudah siap ditembakkan ke arah Xiao Ziya. Dalam hitungan detik ratusan anak panah melesat ke arah gadis itu namun sangat disayangkan tak ada satu anak panah pun yang berhasil menggores tubuh Xiao Ziya ataupun mengenai ujung bajunya.
"Kami tak pernah mempercayai perkataan manusia karna mereka makhluk yang sangat serakah." ucap para elf yang berseru secara bersamaan, mereka mengatakan bahwa manusia adalah makhluk serakah padahal tak ada satupun manusia yang ingin menginjakkan kakinya ke dunia tempat para elf tinggal, jadi siapa yang serakah sekarang ini?.
"Saya harap kalian berkaca terlebih dahulu sebelum menghina ras manusia seperti kami. Dalam sejarah belum pernah ada manusia yang menginjakkan kaki ataupun datang ke tempat asal kalian, sedangkan kalian sendiri menyebar membentuk beberapa kelompok dan mulai menempati berbagai macam lapisan dunia. Bangsa kalian jauh lebih serakah dari bangsa manusia, tolong sedikit pupuk rasa malu di dalam hati kalian itu." jawab Xiao Ziya dengan seratus persen akurat hingga para elf yang tadinya begitu semangat menghina manusia menjadi diam seribu bahasa.
"Diamlah karna saat ini kau sedang berada di wilayah kami, tunggu sampai Raja kami datang dan memberi pelajaran padamu." ucap beberapa elf yang kini sedang meminta perlindungan pada raja mereka.
Xiao Ziya hanya memutar bola matanya malas, entah kemana perginya otak ratusan elf yang ada di bawahnya itu. Mengapa mereka tak menyerang Xiao Ziya menggunakan sihir? padahal dalam catatan sejarah bangsa elf hampir setara dengan para penyihir tingkat tinggi. Jika mereka menggunakan sihir untuk menjatuhkan Xiao Ziya yang saat ini sedang melayang di atas udara mungkin mereka akan menang.
"Siapa yang datang dan mengacau di wilayah kekuasaan ku ini?." ucap seorang laki laki dari kejauhan. Xiao Ziya menoleh ke samping kemudian menyipitkan matanya untuk memperjelas sosok yang sedang berbicara itu.
__ADS_1
"Mengacau? siapa yang dia katakan sedang mengacau. Orang buta pun tau kalau saya hanya melintas di wilayah ini saja." gumang Xiao Ziya dengan kesal, gumang gadis itu masih bisa didengar oleh Raja Elf meski jarak diantara keduanya cukup jauh. Semua itu berkat telinga runcing dan sensitif yang mereka miliki.
"Manusia rendahan sepertimu berani berbicara kasar pada raja kami!!." triak para elf yang sedang marah pada Xiao Ziya.
"Manusia rendahan? manusia rendahan? manusia rendahan?. Apakah kedudukan bangsa elf sangatlah tinggi hingga mereka harus mengungsi di berbagai lapisan dunia tempat manusia tinggal?. Jangan membuat saya merasa geli dengan keangkuhan yang kalian miliki." balas Xiao Ziya yang tak terima dengan perkataan para elf mengenai manusia.
"Menunduk lah di hadapan raja kami maka kami semua akan memaafkan kesalahan mu." ucap beberapa elf yang meninta Xiao Ziya untuk menundukkan kepalanya.
Xiao Ziya turun dari atas langit kemudian gadis itu berjalan mendekat ke arah Raja Elf, bukannya menundukkan kepala gadis itu malah membuat sebuah senyuman yang sangat menyebalkan. Raja Elf menggenggam tangannya dengan erat kemudian hendak memukul Xiao Ziya namun tangannya di tahan oleh Xiao Ziya, gadis itu dengan mudah menghempaskan tangan Raja Elf.
"Jauhkan tangan Anda dari saya." ucap Xiao Ziya dengan tatapan tajam, belum sempat merendam kemarahannya akibat ulah Harimau Ying dan Elang Api yang memancing kemarahannya.
Raja Elf menatap Xiao Ziya dengan tatapan terkejut, gadis manusia itu memiliki kemampuan dan keberanian melebihi manusia manusia yang pernah ia temui sebelumnya, pantas saja ia sangat berani menentang kata kata para elf yang mengatakan berbagaimacam keburukan dari bangsa manusia.
Di tempat lain saat ini Yie Gu dan Yie Weinje telah sampai di perbatasan Kerajaan Bulan, para prajurit penjaga perbatasan berusaha untuk menahan mereka berdua dengan sekuat mungkin. Karna perbedaan kekuatan diantara mereka sangatlah jauh akhirnya para prajurit penjaga perbatasan kalah telah dan tak bisa menahan kedua orang itu lagi. Para penyihir hitam yang berjaga di atas gerbang masuk wilayah Kerajaan Bulan menajamkan mata mereka saat melihat musuh dari Nona Besar Xiao Ziya datang untuk membuat keributan.
"Kalian pergilah ke Istana Kerajaan Bulan dan laporkan hal ini pada Ratu Min Xunzi dan Raja Min Lunxi." ucap beberapa penyihir hitam yang meminta empat rekannya untuk pergi ke istana Kerajaan Bulan untuk melapor apa yang sedang terjadi di wilayah keluar masuk Kerajaan Bulan.
"Semuanya bersiap, perkuat dinding pertahanan jangan sampai kedua orang itu bisa masuk ke dalam wilayah Kerajaan Bulan." ucap salah seorang penyihir hitam yang memimpin para penyihir yang lain.
Para penyihir hitam membaca mantra secara bersamaan, dinding sihir yang melapisi gerbang perbatasan bagian luar diperkuat. Yie Gu dan Yie Weinje tak bisa masuk ke dalam karna terhalang oleh dinding sihir itu, Yie Gu mengambil pedang miliknya kemudian mencoba untuk memecahkan dinding sihir itu dengan sekuat tenaga.
"Argh sialan para penyihir itu sangatlah menganggu." ucap Yie Gu dengan kesal, keberadaan penyihir hitam pasukan milik Min Xunzi membuat Yie Gu dan Yie Weinje tak bisa masuk ke dalam wilayah Kerajaan Bulan.
Di sisi lain saat ini keempat penyihir hitam melesat dengan cepat menuju istana Kerajaan Bulan, setelah sampai mereka segera pergi untuk menemui Raja Min Lunxi dan Ratu Min Xunzi.
"Salam hormat saya kepada Yang Mulia Raja Min Lunxi dan Ratu Min Xunzi. Saat ini Yie Gu dan Yie Weinje sedang berusaha untuk menerobos pertahanan di perbatasan. Kami para penyihir berusaha sekuat tenaga untuk menahan mereka berdua." ucap salah satu dari keempat penyihir itu yang sedang melapor pada pemimpin mereka.
__ADS_1
"Mari pergi sekarang." ucap Ratu Min Xunzi dengan kemarahan meluap luap yang terlihat dari sorot matanya, mengapa kedua orang tua itu tak berhenti membuat masalah.
Hai hai semuanya author balik lagi nih gimana kabar kalian semoga sehat selalu ya. Jangan lupa follow buat yang belum, vote karna wajib, gift hadiah apapun, like like like, komen buat ninggalin jejak, rate bintang lima, share juga ya guys, love you all.