
Xiao Ziya menatap rendah ke arah kedua pangeran yang saat ini berada di hadapannya, gadis itu memberikan isyarat kemudian kedua jenderal iblis langsung menendang kaki bagian belakang Pangeran Yuzang Xin dan Pangeran Yuzang Zuno hingga keduanya bersimpuh di hadapan Xiao Ziya. Ziya merasa senang dan tersenyum lebar, ia menjadikan kedua pangeran itu sebagai tumpuan kakinya saat sedang duduk.
"Lihatlah seluruh pasukan yang kalian bawa telah kalah, mereka mati di medan perang dengan cara yang sangat mengenaskan. Andai saja kalian tak bersikeras untuk berperang melawan saya pasti ribuan nyawa bisa di selamatkan." ucap Xiao Ziya dengan seringai yang mengerikan. Gadis itu tak ingin terjadi pertumpahan darah ketika ia baru kembali ke Dunia Bawah namun ada saja manusia yang menyulut emosinya dan menyebabkan kekacauan sebesar ini.
"Mereka mati dengan terhormat, bukankah wajar jika seorang prajurit dan jenderal mati membela tanah kelahiran mereka sendiri." jawab Pangerang Yuzang Xin, ia merasa acuh tak acuh dengan nyawa pasukan Kekaisaran Binzo yang telah gugur.
"Tidak, para prajurit hanya bertugas untuk mengamankan dan membela kerajaan ataupun kekaisaran tempat mereka bekerja. Kalah atau menang dalam sebuah peperangan ditentukan oleh panglima perang masing masing, sejak awal pasukan saat berjumlah lima ratus prajurit dan lima orang jenderal. Kami telah melalui banyak peperangan entah itu dalam skala besar ataupun kecil, apakah saya meminta mereka untuk mati di medan perang?. Saya selalu mengatakan mundur saja jika situasinya tidak memungkinkan dan sebisa mungkin bantu rekan kalian yang sedang terpojok, saya juga selalu menegaskan kemenangan adalah bonus dari perjuangan yang kita lakukan namun kembali dengan hidup hidup adalah prioritas utama." ucap Xiao Ziya yang sedang menjelaskan bagaimana seorang panglima perang seharusnya bersikap.
"Jika menerapkan cara yang Anda katakan tadi maka besar kemungkinan Anda telah mengalami banyak kekalahan." ucap Pangeran Yuzang Zuno dengan menahan tawanya. Ia tak bisa membayangkan bagaimana ekspresi Xiao Ziya saat menerima kekalahan telak.
"Kami selalu memenangkan peperangan itu, apakah kalian berdua terkejut?. Saya selalu meminta mereka kembali dengan selamat meskipun sedang terluka parah sekalipun, mereka tidak pernah menghadiahkan kekalahan pada Nona Mudanya ini. Memperlakukan pasukan dengan baik, meminta mereka untuk saling menjaga satu sama lain, turun langsung untuk membantu mereka yang sedang terhimpit. Ya seorang panglima perang seperti itu selalu disegani oleh pasukannya, karna itulah tanpa saya minta mereka selalu bertekad memenangkan setiap pertarungan dan peperangan." ucap Xiao Ziya sembari menekan telapak kakinya dengan cukup kuat di punggung kedua pangeran itu hingga mereka meringis kesakitan.
Para penduduk dan prajurit yang sedang bersembunyi di rumah rumah dapat mendengar perkataan Xiao Ziya dengan sangat jelas, awalnya mereka mengira Xiao Ziya terlalu santai dalam menghadapi tantangan perang yang diajukan oleh pihak Kekaisaran Binzo ternyata pemikiran mereka salah. Xiao Ziya sangat yakin lima ratus lima masukan yang ia miliki sudah cukup untuk mengatasi pasukan dari Kekaisaran Binzo tanpa perlu turun langsung ke medan perang.
"Lalu apa yang akan Anda lakukan pada kami? apakah Anda akan menjadikan kami sebagai tahanan perang?." tanya Pangeran Yuzang Zuno, ia ingin tau akan berakhir seperti apa nasibnya nanti.
"Terserah saya ingin melakukan apa pada kalian berdua, saya bisa menjadikan kalian sebagai budak ataupun mencabut nyawa kalian berdua sekarang juga. Mari kita lihat bagaimana cara kalian bersikap untuk terus bertahan hidup." jawab Xiao Ziya dengan aura membunuh yang menyeruak keluar dari dalam tubuhnya.
Pangeran Yuzang Xin dan Pangeran Yuzang Zuno merasa sangat lemas, akhirnya mereka berdua pingsan. Xiao Ziya menatap ke arah kedua pangeran yang sangat lemah itu, mungkin Kaisar Yuzang Yanglang tak pernah melatih ketahanan fisik kedua putranya? sungguh disayangkan mereka terlahir di keluarga gila. Xiao Ziya memasukkan kedua pangeran itu ke dalam cincin semesta miliknya, bukankah sangat menarik jika keduanya bertemu dengan ibu mereka yang ada di dalam sana.
"Terimakasih untuk kerja keras kalian semua, silahkan beristirahat. Kalian bisa menggunakan persediaan arak yang ada di dalam jika ingin mengadakan pesta. Jangan lupa masukkan kedua pangeran itu ke dalam penjara khusus yang telah disiapkan." ucap Xiao Ziya sembari menatap ke arah pasukan iblis miliknya dengan tatapan bangga.
"Kami senang dapat menjalankan perintah dari junjungan muda dengan baik, jika Anda memerlukan bantuan kami maka kami selalu siap untuk membantu. Sampai jumpa junjungan kami Nona Muda Xiao Ziya." jawab ke lima ratus lima pasukan iblis milik Xiao Ziya.
Setelah itu Ziya langsung memasukkan mereka semua ke dalam cincin semesta miliknya, kini situasi di perbatasan antara wilayah bagian barat dan wilayah bagian selatan aman terkendali. Para prajurit yang menjaga gerbang wilayah Kekaisaran Binzo bagian barat hanya bisa diam dan tak berkutik, mereka tak berani melapor pada Yang Mulia Kaisar Yuzang Yanglang karna takut akan menyinggung Xiao Ziya dan membuat gadis itu marah.
"Peperangan telah berakhir kalian bisa melanjutkan aktivitas seperti biasanya, saya akan pergi ke desa sebelah untuk mencari penginapan dan beristirahat." ucap Xiao Ziya yang langsung berdiri dari posisi nyamannya kemudian memasukkan kembali sofanya itu ke dalam cincin semesta. Setelah selesai ia langsung melesat pergi meninggalkan desa yang berada di dekat perbatasan menuju desa tempat Putri Zo Ruhi berada.
Setelah kepergian Xiao Ziya para penduduk dan prajurit yang sedang bersembunyi segera keluar dari tempat persembunyiannya mereka. Kini mereka semua tak perlu khawatir lagi jika sang kaisar melakukan tindakan nekat demi mendapatkan dukungan lebih. Semua penduduk dan para prajurit menghadap ke arah Xiao Ziya pergi kemudian membungkukkan tubuh secara serempak.
__ADS_1
"Terimakasih banyak atas perlindungannya Nona Muda Xiao Ziya, kami kan selalu berada di sisi Anda apapun yang terjadi di masa depan. Tetaplah sehat dan memiliki umur panjang agar Anda bisa terus melindungi orang orang yang berharga bagi hidup Anda." ucap seluruh penduduk desa dan para prajurit. Beberapa diantara mereka menegaskan air mata sebagai tanda rasa bahagia yang tak bisa diutarakan.
Di sisi lain ketiga anggota pasukan khusus yang diminta Xiao Ziya untuk pergi ke Kekaisaran Binzo telah sampai di depan gerbang utama istana kekaisaran, saat ini mereka sedang dihentikan oleh para prajurit penjaga gerbang yang sedang bertugas. Para prajurit merasa ragu untuk mengizinkan ketiga orang itu masuk ke dalam, saat ini kondisi di dalam istana cukup kacau karna hari hampir pagi sedangkan kedua pangeran bersama pasukan yang dibawa belum kembali juga.
"Sebaiknya kalian bertiga kembali esok pagi, saat ini Yang Mulia Kaisar Yuzang Yanglang sedang beristirahat." ucap salah seorang prajurit penjaga gerbang. Ia memberitahu ketiga utusan Xiao Ziya itu dengan sopan.
"Baiklah jika begitu kami akan menunggu di sini hingga diizinkan masuk ke dalam untuk bertemu Sang Kaisar." jawab Xin Mu yang langsung duduk bersila di depan gerbang utama istana Kekaisaran Binzo.
Melihat apa yang dilakukan oleh rekan mereka tentu saja Xu Ho dan Zuren melakukan hal yang sama. Percuma jika mereka bertiga pergi untuk mencari penginapan karna semua tempat sudah tutup. Kini para prajurit penjaga gerbang utama semakin kebingungan, mereka tau siapa ketiga pria itu. Mereka adalah orang orang yang sering datang untuk melakukan kontrak kerjasama dalam bidang suplai makanan pokok, jika memperlakukan mereka bertiga seperti ini apakah tidak akan berpengaruh dengan kerjasama yang sedang berlangsung antara kedua belah pihak?.
"Bagaimana ini? tidak mungkin jika kita masuk ke dalam dan memberitahu pada kaisar bahwa ada tamu yang datang untuk menemuinya." bisik salah seorang prajurit penjaga gerbang pada rekannya.
"Kaisar memiliki tempramen yang buruk, jika kita mengganggu waktu istirahatnya maka kita akan mendapat hukuman berat." jawab prajurit penjaga gerbang yang lain.
"Yasudah biarkan ketiga pria itu menunggu hingga esok pagi, tak ada lagi pilihan lain yang bisa kita lakukan. Semoga saja hal ini tak mempengaruhi kontrak kerjasama pihak Kekaisaran Binzo dengan pihak pensuplai makanan." tambah prajurit penjaga gerbang yang lain.
Kini suasana kembali menjadi hening, para prajurit sibuk menjalankan pekerjaan mereka masing masing sedangkan ketiga ketua kelompok pasukan khusus milik Xiao Ziya masih menunggu di depan gerbang dengan sabar. Mereka tak terburu buru menemui sang kaisar, lagipula mereka bertiga sudah terbiasa beristirahat di tempat terbuka seperti ini.
Ini masih terlalu pagi untuk seseorang melakukan aktivitasnya, apa yang ingin dilakukan oleh Xiao Yungha sepagi ini?. Gadis itu terlihat mengendap endap keluar dari paviliun milik Xiao Ciyun dengan membawa sebuah buntalan berukuran cukup besar. Setelah berhasil keluar dari paviliun milik ayah tirinya itu Xiao Yungha bergegas pergi menuju bagian belakang Klan Xiao, di sana ia telah membuat jalan keluar tersembunyi yang hanya diketahui oleh dirinya sendiri.
Xiao Yungha memindahkan beberapa papan kayu yang tersembunyi di balik pepohonan yang rimbun, setelah berhasil ia langsung keluar dari Klan Xiao dan bergegas pergi menuju sebuah tempat. Setelah berjalan cukup lama akhirnya Xiao Yungha sampai di sebuah ladang yang sepi, di sana ada seorang wanita yang sedang menatapnya dengan senyuman lebar.
"Mengapa kau lama sekali, ibu telah menunggu mu sejak petang tadi." ucap wanita itu dengan tatapan kesal. Wanita itu adalah ibu kandung dari Xiao Yungha dan selama ini gadis itu telah menipu Xiao Ciyun saat ia mengatakan seorang yatim piatu.
"Maaf ibu, hari ini ayah tidur cukup larut karna harus menyelesaikan beberapa berkas. Saya tidak bisa pergi sebelum beliau tidur terlebih dahulu." jawab Xiao Yungha dengan menundukkan kepalanya.
Wanita yang berstatus sebagai ibu dari gadis itu menatap putrinya dengan tatapan penuh amarah, ia memukul kepala Xiao Yungha dengan cukup kencang hingga membuat gadis itu harus menahan rasa sakit. Bukan hanya sampai disitu saja, wanita itu juga memberikan beberapa pukulan pada tubuh Yungha dan setelah merasa puas iapun berhenti.
"Mana barang yang seharusnya kau bawa." ucap Ibu Xiao Yungha dengan tatapan sinis.
__ADS_1
Xiao Yungha memberikan buntalan yang ia bawa pada sang ibu, dengan segera wanita itu membuka buntalan tersebut dan melihat apa sisi di dalamnya. Ternyata Xiao Yungha membawakan beberapa gaun baru, perhiasan baru, serta beberapa keping koin emas yang ia dapatkan dari Xiao Ciyun. Ibu Yungha tersenyum dengan lebar, ia mendapatkan banyak barang dan koin emas kali ini.
"Bagus lain kali bawalah uang lebih banyak lagi. Kedua adik perempuan serta kedua kakak laki laki mu membutuhkan dana untuk kebutuhan mereka seharu hari." ucap Ibu Xiao Yungha tanpa ada rasa bersalah sedikitpun.
"Kedua kakak laki kaki sudah sangat dewasa, mengapa mereka tidak mencari pekerjaan untuk memenuhi kebutuhan masing masing?." tanya Yungha yang merasa bahwa perlakuan sang ibu sangatlah tidak adil.
"Jangan membantah pada ibu, sekarang ini sangat susah mencari pekerjaan dengan upah yang layak. Bukankah sekarang kau menjalani hidup dengan lebih baik dari sebelumnya, kau harus tetap berbakti pada yang lain." ucap Ibu Xiao Yungha, setelah mengatakan hal itu ia langsung pergi meninggalkan putrinya untuk kembali ke rumah.
Xiao Yungha menatap ke arah punggung ibunya itu dengan tatapan penuh kemarahan, mengapa ia selalu mendapat perlakuan buruk dari keluarganya sendiri? dan sekarang ia merasa sangat iri dengan kehidupan yang dijalani oleh Xiao Ziya. Gadis itu dapat menghasilkan uang secara mendiri, memiliki seorang ayah yang sangat menyayanginya, memiliki banyak kakak laki laki yang selalu melindungi dan memberikan perhatian padanya, serta mendapatkan penghormatan dari banyak orang.
"Argh mengapa hidup sangat tidak adil pada gadis lemah seperti ku ini." ucap Xiao Yungha dengan suara yang cukup keras. Gadis itu membalikkan badan dan berjalan kembali menuju Klan Xiao sebelum ada yang curiga padanya.
Tak ada yang tau bagaimana nasib Xiao Yungha selanjutnya, apakah gadis itu akan tetap bertahan dan tinggal di Klan Xiao ataukah suatu hari semua kebohongannya itu akan diketahui oleh sang ayah angkat kemudian ia di tendang keluar dari Klan Xiao. Yang pasti Xiao Ziya tak akan peduli seberat apa kehidupan yang dijalani oleh gadis itu, selama Xiao Yungha mengambil jalan yang salah untuk mendapat kehidupan yang lebih baik maka ia akan terus menerus menjadi musuh bagi Xiao Ziya.
Pergantian hari pun tiba kini gelapnya malam telah tergantikan oleh cerahnya suasana pagi. Sinar matahari mulai masuk melalui celah celah kamar penginapan yang ditempati oleh Xiao Ziya, gadis itu mengganti posisi tidurnya beberapa kali untuk menghindari pantulan sinar matahari karna ia masih ingin beristirahat.
Di sisi lain Putri Zo Ruhi sudah bangun dan berganti pakaian, anak perempuan itu turun ke lantai dasar penginapan dan memesan beberapa makanan untuknya sarapan. Sebelum pergi meninggalkan Istana Kekaisaran Binzo sang putri membawa semua uang yang ia miliki, ia berfikir untuk melarikan diri dan tak pernah lagi kembali dari tempat mengerikan itu namun untunglah Nona Xiao Ziya memberikannya tempat untuk berlindung.
Seorang pekerja di penginapan membawa pesanan sang putri berupa susu hangat dan juga beberapa potong roti selai kacang, Putri Zo Ruhi menikmati sarapannya itu dengan lahap tanpa ada gangguan.
"Bukankah Anda Tuan Putri Zo Ruhi, apa yang Anda lakukan di sini? bagaimana jika Yang Mulia Kaisar menyadari Anda pergi dari istana?." ucap seorang pria tua dengan tatapan khawatir. Ia adalah kepala desa tempat Xiao Ziya dan Putri Zo Ruhi singgah saat ini.
"Ah selama pagi Tuan, saya berada di sini atas perintah Nona Muda Xiao Ziya." jawab Putri Zo Ruhi dengan ekspresi tenang.
"Baguslah jika Nona Muda bersedia untuk melindungi Anda. Pasti sangat sulit bagi Tuan Putri untuk bertahan hidup di dalam istana setelah kepemimpinan Kaisar Yuzang Yanglang. Saya sempat mendengar kabar bahwa Anda diperlakukan sangat buruk oleh mereka." ucap sang kepala desa dengan tatapan kasihan.
"Saat ini saya susah menjalani kehidupan yang lebih baik, saya tidak menyalahkan siapapun atas kemalangan yang menimpa saya." ucap Putri Zo Ruhi dengan senyuman tulus.
"Semoga Sang Pencipta selalu memberkati Anda. Hiduplah dengan baik Tuan Putri, pasti Anda tau tempat paling aman yang bisa dituju saat ini." ucap kepala desa. Ia duduk di sebuah meja yang cukup jauh dari tempat Putri Zo Ruhi berada.
__ADS_1
Hai hai semua author balik lagi, gimana kabar kalian semoga sehat selalu ya. Jangan lupa follow buat yang belum, follow juga ig author ya. Gift hadiah apapun makasih banget, like like like, vote karna wajib, komen buat ninggalin jejak, rate bintang lima, share juga ya.