
Setelah urusannya dengan ketiga pemuda dari Klan Zu selesai Xiao Ziya bergegas menuju ruang makan untuk sarapan bersama anggota Kerajaan Bintang Timur yang lain. Setelah sampai di dalam ruang makan Ziya duduk di sebuah kursi yang ada di dekat Putri Beiling Zu, sang putri tersenyum ke arah adik tirinya itu.
"Tidur mu nyenyak malam tadi?." Tanya Putra Mahkota Yunzo Zu pada Xiao Ziya dengan senyuman tipis yang menghiasi wajahnya. Pemuda itu tampak bingung harus berekspresi seperti apa saat berada di hadapan Xiao Ziya, dia juga takut bila perkataan atau sikapnya secara tak sengaja menyinggung Xiao Ziya.
"Saya tidur dengan baik malam tadi, saya harap Anda juga." jawab Xiao Ziya dengan senyuman polos seakan akan tak pernah terjadi apapun di hari kemarin.
Beberapa pelayan masuk menyajikan beberapa menu sarapan, semua orang mengambil makanan yang ingin mereka makan begitupun dengan Xiao Ziya. Suasana hening menyelimuti ruang makan utama Istana Kerajaan Bintang Timur, hanya terdengar suara dentingan sendok saja karna itu sudah menjadi sebuah tradisi. Di sisi lain saat ini kedua orang tua Selir Mue Zu sudah sampai di depan gerbang masuk wilayah Kerajaan Bintang Timur, beberapa prajurit penjaga perbatasan membukakan gerbang untuk kedua orang itu. Siapa yang tak mengenal Mue Linzong dan Mue Sanron, sepasang suami istri dari Klan Mue yang pernah membantu Kerajaan Bintang Timur saat berperang dengan Kerajaan tetangga puluhan tahun yang lalu.
"Selamat datang di wilayah Kerajaan Bintang Timur, kami akan memandu Tuan Linzong dan Nyonya Sanron menuju istana kerajaan." ucap empat prajurit yang membungkukkan badan mereka di hadapan kedua orang itu.
"Baiklah kami akan berjalan di belakang kalian." jawab Mue Sanron dengan nada datar, saat sampai di Kerajaan Bintang Timur nanti ia akan memarahi menantunya karna membiarkan anak perempuan yang sangat ia sayangi disakiti oleh orang lain tanpa ada pembelaan.
Mereka berjalan menuju Istana Kerajaan Bintang Timur dengan santai, berapa penduduk menyambut kedatangan Mue Linzong dan Mue Sanron dengan baik sedangkan yang lain memilih untuk tak melihat ke arah pasangan suami istri karna merasa sangat muak. Saat Klan Mue membantu Kerajaan Bintang Timur dalam peperangan ada sebuah rumor yang beredar di sekitar pemukiman penduduk Kerajaan Bintang Timur, kabarnya Klan Mue juga memprovokasi pihak kerajaan sebelah untuk berperang dengan Kerajaan Bintang Timur. Setelah peperangan berlangsung mereka bisa memihak pada Kerajaan Bintang Timur, dengan begitu sang raja akan berhutang budi pada pemimpin Klan Mue.
"Anak wanita itu tak pantas dibandingkan dengan Ratu Junyi Zu." ucap seorang wanita yang sedang duduk di sebuah kedai makanan, ia mengatakan hal itu pada temannya yang duduk di sebelah.
"Kabarnya Selir Mue Zu dulu sangat senang pergi ke rumah bordil." ucap wanita lain dengan senyuman mengejek.
Untung saja Mue Linzong dan Mue Sanron tak mendengar perkataan mereka, jika hal itu sampai terjadi maka sudah di pastikan keduanya akan mati. Setelah beberapa saat akhirnya mereka sampai di depan gerbang masuk Istana Kerajaan Bintang Timur, dalam beberapa detik saja gerbang sudah terbuka dengan lebar serta beberapa prajurit yang berbaris rapi untuk menyambut keduanya. Di sisi lain ada seorang prajurit yang masuk ke Istana Utama dan berlari menuju ruang makan untuk memberitahukan kedatangan Mue Linzong dan Mue Sanron pada Keluarga Kerajaan Bintang Timur.
Seorang prajurit masuk ke dalam ruang makan setelah mendapatkan izin dari Raja Yongling Zu, saat itu anggota keluarga kerajaan yang lain masih sibuk dengan makanan di piring mereka masing masing.
"Maaf karna mengganggu waktu sarapan Anda Yang Mulia Raja Yongling Zu, saat ini Tuan Mue Linzong dan Nyonya Mue Sanron berada di ruang tamu Istana Kerajaan Bintang Timur." ucap prajurit itu dengan nafas tersengal sengal. Ibu Suri Yanhua Zu dan Tuan Yonzan Zu sampai tersedak makanan mereka karna sangat terkejut dengan kunjungan yang terjadi secara mendadak.
"Baiklah saya akan pergi ke sana, silahkan kalian lanjutkan sarapannya." ucap Raja Yongling Zu yang langsung pergi dari ruang makan menuju ruang tamu istana utama. Xiao Ziya selesai makan terlebih dahulu, gadis itu keluar dari ruang makan tanpa mengatakan apapun. Sepertinya Xiao Ziya penasaran dengan identitas tamu dari Raja Yongling Zu itu, karenanya Xiao Ziya pergi ke ruang tamu untuk mendengarkan apa yang sedang mereka bahas.
"Salam saya pada ibu dan ayah mertua." ucap Raja Yongling Zu dengan menundukkan kepalanya.
__ADS_1
"Salam pada Yang Mulia Raja Yongling Zu." jawab Mue Linzong, sedangkan sang istri hanya menatap tajam ke arah menantunya itu.
"Maaf saya tak menyambut kedatangan kalian dengan baik karna ini sangat mendadak, jika saya boleh tau mengapa ayah dan ibu mertua datang berkunjung tanpa memberitahu terlebih dahulu?." tanya Raja Yongling Zu dengan wajah penasaran, mungkinkah keduanya sudah mendapat kabar mengenai Selir Mue Zu dan kedua anaknya itu?.
"Kami datang karna mendapat kabar bahwa anak kami sedang dalam kondisi buruk, sebagai orang tua tentu kami mencemaskan keadaanya." ucap Mue Linzong dengan senyuman sinis yang ia tujukan pada Raja Yongling Zu, jika bukan untuk tahta ratu masa depan mungkin pria tua itu tak akan menikahkan putri tercantik nya dengan Raja Yongling Zu.
"Benar ada beberapa insiden yang tak bisa saja jelaskan pada ibu dan ayah mertua." ucap Raja Yongling Zu dengan santai karna apa yang diterima oleh Selir Mue Zu dan kedua anaknya setimpal dengan perbuatan yang mereka lakukan.
"Seharusnya Anda membela istri Anda saat dalam kondisi sulit, seorang Raja yang tak bisa menjaga istrinya sendiri tak akan mampu mengelola kerajaan sebesar ini." cemooh Mue Sanron pada menantunya itu, ia sudah muak dengan sikap Raja Yongling Zu yang sering mengabaikan keberadaan Selir Mue Zu dan lebih memilih Ratu Junyi Zu.
"Anda harus memperlakukan anak kami seperti Anda memperlakukan Ratu Junyi Zu, mereka berdua sama sama istri Anda." ucap Mue Linzong, pria itu sedang menceramahi Raja Yongling Zu tanpa tau apa yang sebenarnya terjadi.
Xiao Ziya yang sedari tadi mendengan pembicaraan mereka bertiga langsung mengerutkan keningnya, ini semua pasti ulah Selir Mue Zu yang mengadu pada orang tuanya bahwa ia ditindas oleh anak tiri dari Raja Yongling Zu. Parahnya lagi sang selir hanya menuliskan bahwa ia korban dalam kejadian ini tanpa menjelaskan bahwa ia mencoba untuk meracuni Ratu Junyi Zu bersama dengan Xiao Ziya. Mendengar kata kata dari orang tua Selir Mue Zu membuat telinga Xiao Ziya menjadi panas, gadis itu ingin sekali menghampiri mereka kemudian memukul satu persatu karna telah gagal mendidik anak perempuannya menjadi wanita sekaligus istri yang baik.
Tangan Mue Sanron terangkat cukup tinggi, sepertinya wanita itu ingin menampar Raja Yongling Zu dengan cepat Xiao Ziya melesat ke arah mereka bertiga dan menahan tangan dari wanita tua menyebalkan itu. Mue Sanron menatap tajam ke arah gadis asing yang sedang menghentikan aksinya itu, siapa gadis itu hingga sangat berani melawannya?.
"Lepaskan tangan saya." ucap Mue Sanron yang berusaha melepas tangannya dari cengkraman gadis asing itu.
"Kalian sedari tadi menceramahi Yang Mulia Raja Yongling Zu seperti kalian adalah orang orang dengan hati yang baik." kecam Xiao Ziya dengan perkataan tajam, gadis itu menatap sinis kearah Mue Linzong dan Mue Sanron.
"Jadi kau menguping pembicaraan kami? sungguh tindakan yang tak terpuji." balas Mue Sanron dengan tatapan puas, ia menemukan celah untuk membalikkan perkataan gadis itu.
"Pintu ruangan ini sedari tadi terbuka dan siapapun boleh masuk ke dalam, bukan hanya saya yang mendengar pembicaraan kalian bahkan para prajurit yang sedang berjaga juga mendengarnya." jawab Xiao Ziya dengan senyuman tipis dan ekspresi wajah menyebalkan.
"Siapa gadis ini? mengapa Anda membiarkannya ikut campur dengan urusan Keluarga Kerajaan Bintang Timur." ucap Mue Linzong yang sedang mempertanyakan sikap Raja Yongling Zu pada gadis aneh itu.
"Saya adalah gadis yang telah membuat kondisi anak serta cucu Anda menjadi seperti itu, tentu saya berkaitan dengan pembicaraan kalian." jawab Xiao Ziya lagi, gadis itu meminta Raja Yongling Zu untuk tenang dan duduk di kursi yang telah disediakan.
__ADS_1
Raja Yongling Zu melihat ke arah Xiao Ziya, ternyata anak tirinya sangat peduli dengannya. Baru kali ini Raja Yongling Zu merasakan dibela oleh seseorang, rasanya sangat menyenangkan.
"Jadi kau gadis liar yang telah melukai putri serta cucuku!" bentak Mue Linzong dengan suara cukup tinggi, ekspresi wajahnya menunjukkan bahwa ia sangat marah pada Xiao Ziya.
"Jika saya adalah gadis liar maka putri Anda adalah wanita terbodoh yang pernah saya kenal." balas Xiao Ziya dengan tatapan datar, gadis itu merasa tak masalah mendapat julukan gadis liar karna itu terdengar cukup keren.
"Sialan kau!." ucap Mue Linzong yang ingin melepas pedang miliknya dari sarung pedang.
Mue Linzong mengarahkan pedangnya itu pada leher Xiao Ziya, ia sangat ingin menebas kepala gadis yang ada di hadapannya itu. Xiao Ziya hanya tersenyum miring, apakah pedang milik Mue Linzong mampu melukainya? tentu saja tidak. Xiao Ziya menggenggam ujung pedang tersebut sangat erat hingga darah mulai keluar dari telapak tangannya. Darah merah dari telapak tangan Xiao Ziya jatuh kelantai dan berubah warna menjadi hitam pekat, seketika aura di ruang tamu Istana Kerajaan Bintang Timur menjadi mencekam.
Roh roh jahat yang ada di sekitar wilayah Kerajaan Bintang Timur berkumpul di ruangan tersebut karna mencium bau darah dari pemimpin alam neraka, mereka adalah roh roh yang patuh dengan aturan dan hanya mengganggu orang orang tertentu saja. Mue Linzong merasa bahwa situasi saat ini tak menguntungkan baginya maupun sang istri, ia terus melihat ke arah mata pedang miliknya. Tiba tiba saja pedang milik Mue Linzong meleleh tanpa sebab yang jelas, pria tua itu juga merasakan ada ribuan mata tak terlihat yang sedang menatap ke arahnya dengan tajam.
Apa yang sedang kau lakukan gadis sialan, hentikan itu." ucap Mue Linzong yang mulai merasa takut, badannya mengeluarkan keringat dingin dan melemas. Sedangkan Mue Sanron dan Raja Yongling Zu tak merasakan apa yang pria tua itu rasakan hingga mereka berdua merasa keheranan.
"Saat ini Anda sangat dekat dengan kematian." ucap Xiao Ziya dengan suara pelan, anehnya suara gadis itu hanya bisa di dengar oleh Mue Linzong saja.
"Apa yang terjadi padamu suamiku? mengapa kau
ketakutan melihat gadis liar itu?." tanya Mue Sanron yang merasa cemas pada suaminya, mungkinkah gadis liar itu telah memberikan kutukan pada sang suami.
"Anda perlu mengetahui alasan mengapa saya melakukan hal itu pada anak serta cucu Anda, tak ada masalah yang muncul tanpa sebab. Selir Mue Zu secara sengaja meletakkan racun di minuman milik saya dan Ratu Junyi Zu, untunglah saya mengetahuinya dengan cepat kemudian menukar minuman itu dengan milik kedua anak sang selir. Jika kalian berdua merasa tak terima dengan apa yang saya lakukan, jangan salahkan Yang Mulia Raja Yongling Zu. Tuan dan Nyonya bisa mengirim surat tantangan perang ke Kerajaan Bulan, saya akan menunggu waktu untuk menghancurkan kalian semua." ucap Xiao Ziya dengan sorot mata berwarna merah darah, tekanan yang sangat besar keluar dari tubuh gadis itu hingga membuat Mue Linzong dan Mue Sanron terjungkal kebelakang, mereka berdua juga kesulitan bernafas dengan normal.
Xiao Ziya berbalik badan dan menghampiri Raja Yongling Zu yang sedang duduk menyaksikan aksinya.
"Saya akan berjalan jalan di sekitar Istana Kerajaan, jika Anda diganggu lagi oleh dua orang tua ini silahkan beritahu saya. Dalam masalah ini sayalah yang harus bertanggung jawab." ucap Xiao Ziya pada Raja Yongling Zu, meski tatapan gadis itu sangat dingin namun sang raja percaya bahwa Xiao Ziya sangat tulus melakukannya.
"Baiklah terimakasih atas bantuan Anda nona Xiao Ziya." ucap Raja Yongling Zu dengan senyuman tampannya.
__ADS_1
Xiao Ziya keluar dari ruang tamu istana utama menuju halaman depan Istana Kerajaan Bintang Timur, di sisi lain saat ini Mue Linzong dan Mue Sanron sudah bisa bernafas dengan lega. Mereka berdua sangat terkejut dengan kekuatan yang dimiliki oleh Xiao Ziya, darimana gadis sepertinya mendapat kekuatan sebesar itu? mungkinkah ia diberkati oleh sang Dewa Agung?.
Hai hai semua gimana kabar kalian semoga sehat selalu ya. Maaf kemarin ga up novel ini karna capek dan ga bisa mikir, jadi author bantu bantu emak sama bapak di sawah panen padi guys. Yang pernah ngerasain pasti tau lah capeknya kayak gimana. Jangan lupa follow buat yang belum, vote karna wajib, gift hadiah apapun, like like like like, komen buat ninggalin jejak, rate bintang lima, share juga ya.