RATU IBLIS

RATU IBLIS
Sarapan Bersama Para Prajurit


__ADS_3

Setelah sampai di depan gerbang masuk paviliun milik Xiao Ziya, Xiao Ciyun dihadang oleh puluhan prajurit penjaga gerbang yang melarangnya masuk ke dalam meskipun pria itu menekankan posisinya sebagai pemimpin Klan Xiao. Karna merasa kesal akhirnya ia mengeluarkan pedang dan mulai menyerang beberapa prajurit hingga terluka cukup parah, Mongi dan Yoongi yang saat itu sedang berjaga di area halaman depan bergegas keluar saat mendengar keributan dari arah gerbang. Mereka menatap beberapa prajurit dengan luka sayatan serta tusukan pedang pada beberapa bagian tubuh mereka, mata Yoongi terarah lada Xiao Ciyun yang sedang memegang pedangnya dengan erat.


"Ini sudah malam, apakah Anda tidak tau etika ketika ingin mengunjungi tempat tinggal orang lain?. Selain itu Anda telah mengganggu kedamaian tempat tinggal Nona Muda kami." ucap Yoongi dengan tatapan tak suka.


"Suruh gadis sialan itu untuk keluar, saya ingin memberinya pelajaran." jawab Xiao Ciyun dengan tatapan marah.


"Jaga ucapan Anda, saat ini Nona Ziya sedang beristirahat dan kami tidak akan membiarkan orang seperti Anda mengganggunya." tegas Mongi.


"Baiklah jika itu keinginan kalian, jangan menyesal jika pada akhirnya kalian berdua akan bernasib sama seperti para prajurit itu." ucap Xiao Ciyun dengan angkuh.


Mongi dan Yoongi segera berubah wujud menjadi serigala api dan serigala es dengan tingkat kultivasi yang jauh berada di atas Xiao Ciyun, tekanan yang mereka berdua berikan membuat nyali Xiao Ciyun menciut dan gemetaran saat memegang pedangnya. Mongi mencakar punggung Xiao Ciyun hingga mengeluarkan darah dalam jumlah yang banyak, saat Yoongi ingin menyerangnya juga tiba tiba ayah dari nona mudanya datang untuk menghentikan pertarungan itu.


"Sudah cukup, akan sangat merepotkan jika dia mati di depan paviliun putri saya." perintah Xiao Cunyu dengan tatapan mata tajam.


Mongi dan Yoongi kembali dalam wujud manusia mereka kemudian memberikan salam pada Xiao Cunyu. Mereka hampir saja bertindak berlebihan karna berniat menghabisi pemimpin Klan Xiao yang telah mengganggu waktu istirahat Xiao Ziya.


"Maaf karna kami sangat kesal pada pria ini, dia telah menyerang para prajurit yang bekerja untuk Nona Ziya dan merusak suasana damai yang ada di sini." ucap Mongi yang meminta maaf atas tindakan mereka berdua.


"Tidak buruk juga jika paman Ciyun menghilang dari dunia akan tetapi nama baik adik Ziya akan tercoreng jika pria ini mati di depan paviliunnya." ucap Xiao Xun dengan tatapan dingin, tak ada rasa belas kasih meskipun ia melihat punggung Xiao Ciyun terluka parah.


"Sialan kalian semua, saya ingin bertemu dengan gadis itu untuk meminta pertanggungjawabannya. Jika bukan karna ulahnya maka putri saya akan baik baik saja." ucap Xiao Ciyun dengan ekspresi kesal, saat ini tak ada satupun anggota Klan Xiao yang berada di pihaknya Semenjana kepulangan Xiao Ziya ke Dunia Bawah.


Sebuah pedang melesat dari arah dalam paviliun milik Xiao Ziya dan hampir mengenai Xiao Ciyun, beberapa saat setelahnya Xiao Ziya keluar dengan mata setengah terpejam dan aura membunuh yang telah meluap luap dari dalam tubuhnya. Xiao Ciyun menelan ludahnya dengan kasar, ia hampir saja mati jika pedang itu mengenai kepalanya tadi.


"Waktu tidur saya sangatlah berharga karna itu jangan mengganggu untuk hal hal yang tidak penting seperti kejadian yang menimpa putri angkat Anda itu. Meskipun ia mati ataupun diserang oleh sekelompok penjahat saya tidak akan peduli." ucap Xiao Ziya dengan nada dingin, perlahan lahan gadis itu mulai membuka matanya dan menatap langsung mata Xiao Ciyun.


"Tapi dia adalah saudari Anda Nona Xiao Ziya." tegas Xiao Ciyun dengan keras kepala.


"Lebih baik tutup mulut Anda yang busuk itu, saya tidak akan mengakui keberadaannya sebagai anggota Klan Xiao. Jika Anda tidak terima dengan keputusan saya maka mari bertarung hingga salah satu diantara kita ada yang mati." jawab Xiao Ziya dengan senyuman miring, ia sangat yakin pamannya itu tidak akan berani menerima tantangan hidup dan mati.


"Anda banyak berubah setelah berpergian ke dunia lain, kesombongan Anda semakin meningkat." gerutu Xiao Ciyun dengan tatapan kesal.


"Berkacalah sebelum mengomentari orang lain, apakah Anda jauh lebih baik daripada saya?. Ah iya tolong berikan lebih banyak koin emas pada putri angkat Anda itu, dia mengemis pada saya untuk dibelikan beberapa gaun baru dan tentu saja saya tidak akan melakukan hal bodoh itu. Silahkan pergi jika masih ingin melihat sinar matahari esok pagi!." triak Xiao Ziya pada kalimat terakhir yang ia ucapkan.

__ADS_1


Xiao Ciyun segera melesat meninggalkan gerbang depan paviliun milik Xiao Ziya, di sisi lain saat ini Xiao Cunyu, Xiao Yuza, dan Xiao Xun menatap ke arah Ziya dengan tatapan bingung. Mereka bertiga tidak tau harus mengatakan apa pada gadis itu dan suasananya menjadi canggung.


"Kalian ingin masuk ke dalam?" tanya Xiao Ziya yang mengalihkan pandangannya pada ayah, paman, serta kakak keduanya itu.


"Tidak kami akan kembali untuk beristirahat, sebaiknya kau juga tidur lagi putriku." ucap Xiao Cunyu dengan senyum lebar, pria itu menarik tangan Xiao Yuza dan Xiao Xun untuk pergi dari sana.


Setelah kekacauan itu berlalu Xiao Ziya berjalan kembali masuk ke dalam paviliunnya sedangkan Mongi dan Yoongi berjaga di halaman depan. Malam berlalu dengan sedikit lebih lama dari biasanya, semua orang masih terlelap dalam tidur masing masing. Saat ini Xiao Yungha sedang berada di dalam kamar, gadis itu menatap ke arah jendela kamarnya dengan ekspresi wajah yang sulit untuk diartikan.


"Argh bagaimana caranya agar pria itu memberikan ku uang yang lebih banyak, ibu terus saja mendesak untuk memberikan uang tambahan." gumam Xiao Yungha dengan suara pelan agar tidak di dengar oleh orang lain.


Saat bertemu dengan Xiao Ciyun, Yungha mengatakan bahwa ia tinggal sebatang kara dan tak memiliki keluarga karna itulah Xiao Ciyun bersedia mengangkat gadis itu menjadi putrinya. Selama tinggal di Klan Xiao Yungha mendapatkan uang bulanan seperti putra putri dari ketua klan yang lain, selain itu ia masih mendapatkan uang tambahan dari Xiao Ciyun sebanyak seribu koin emas setiap bulannya. Dengan semua yang ia dapatkan tentu saja Yungha tak ingin pergi meninggalkan klan tersebut, namun ia masih memikirkan apa yang dikatakan oleh Xiao Ziya pada pemimpin klan saat terjadi perselisihan antara dirinya dan kelompoknya Xiao Zuen.


"Haruskah saya menyingkirkan gadis itu namun bagaimana caranya." ucap Xiao Yungha dengan fikirannya yang sangat dangkal.


Malam semakin larut, lambat laun matahari mulai menunjukkan cahayanya. Gelapnya malam telah tergantikan oleh cahaya matahari yang sangat cerah, semburat cahaya berwarna merah kekuningan masuk melalui celah celah jendela Xiao Ziya. Gadis yang awalnya terlelap dalam tidur mulai terusik dengan cahaya itu, Xiao Ziya mengubah posisi tidurnya dan mulai membuka mata perlahan.


"Hoaaam, hah mengapa pagi cepat sekali datang." ucap Xiao Ziya dengan wajah mengangguk. Xiao Ziya bangun dari tempat tidurnya kemudian berjalan menuju kamar mandi untuk menyegarkan diri.


Setelah selesai membersihkan diri dan berganti pakaian Xiao Ziya bergegas menuju dapur untuk membuat sarapan, Ziya mengeluarkan beberapa sayur serta daging segar yang ia beli kemarin. Xiao Ziya mulai menunjukkan keterampilan memasaknya, kali ini Ziya membuat menu iga asap, sayur asam, dan juga daging asam manis. Perlu waktu kurang lebih satu jam untuk Xiao Ziya menyelesaikan seluruh makanan yang ia buat, kini ia telah menata makanan itu di beberapa piring kemudian membawanya menuju halaman depan.


"Biarkan kami yang membawakannya untuk Anda." ucap Yoongi dengan tatapan memohon, ia khawatir nona mudanya akan kelelahan jika membawa makanan seberat itu.


"Ah baiklah tolong pegang ini sebentar saya akan menggelar beberapa tikar di sini." ucap Xiao Ziya. Gadis itu meminta Yoongi untuk membawa nampan itu sedangkan ia dan Mongi menggelar beberapa tikar di bawah pohon persik yang sangat rindang.


"Ambil semua makanan yang ada di dapur, kita akan sarapan bersama para prajurit yang bekerja seharian di paviliun ini." perintah Xiao Ziya pada kedua serigala itu. Tanpa menanyakan apapun Mongi dan Yoongi langsung berlari menuju dapur untuk mengambil makanan yang telah di buat nona muda mereka.


Setelah selesai menata beberapa piring makanan Xiao Ziya berdiri kemudian berjalan menuju gerbang depan paviliunnya untuk memanggil para prajurit yang sedang bertugas.


"Tolong panggilkan para prajurit khusus yang bekerja untuk saya agar masuk ke dalam, kita akan sarapan bersama." ucap Xiao Ziya yang saat itu berada di ambang gerbang masuk paviliunnya.


Para prajurit menatap ke arah Nona Muda mereka dengan tatapan bingung, apakah Nona Ziya serius ingin mengajak mereka untuk sarapan bersama? bukankah biasanya orang orang besar tak ingin makan di meja yang sama dengan prajurit biasa seperti mereka. Karna para prajurit penjaga paviliunnya hanya diam sembari menatap ke arahnya saja, Xiao Ziya mengulang kembali kalimat yang baru saja ia katakan dengan lebih tegas.


"Baik kami akan segera mengumpulkan prajurit yang lain, Nona Ziya masuk saja ke dalam." jawab prajurit itu secara serempak.

__ADS_1


Akhirnya para prajurit yang bekerja untuk paviliun Xiao Ziya berpencar mencari rekan mereka yang lain sedangkan Ziya berjalan menuju halaman depan dengan santai, gadis itu tersenyum tipis saat melihat Mongi dan Yoongi sedang sibuk menata makanan di atas tikar. Xiao Ziya menghampiri keduanya kemudian mengeluarkan beberapa jenis buah buahan seger untuk pencuci mulut mereka nanti. Tak butuh waktu lama sekitar lima puluh prajurit masuk ke dalam halaman paviliun milik Xiao Ziya, mereka membungkukkan kepala secara serempak dan mengucapkan salam pada gadis itu.


"Salam hormat kami pada Nona Muda Xiao Ziya, kami datang sesuai dengan perintah Anda." ucap para prajurit itu. Mereka terus menundukkan kepala dan tak ada yang berani melihat langsung ke arah Xiao Ziya.


"Kalian duduklah, saya telah menggelar banyak tikar di sini. Buatlah diri kalian nyaman sebelum sarapan bersama dimulai." ucap Xiao Ziya dengan nada bicara yang terdengar sangat ramah.


Tanpa membantah perintah itu semua prajurit langsung duduk di tikar yang telah di siapkan oleh Xiao Ziya, beberapa diantara mereka memberanikan diri untuk mengangkat kepala dan melihat menu apa saja yang telah dipersiapkan oleh Nona Muda mereka.


"Selamat pagi semuanya." sapa Xiao Ziya pada para prajurit itu.


"Pagi Nona Muda." jawab mereka.


"Maaf karna saya mengganggu aktivitas kalian di pagi yang cerah ini, saya sengaja mengumpulkan kalian semua untuk sarapan bersama sebagai bentuk rasa terimakasih karna selama ini kalian telah menjaga paviliun ini dengan baik. Cukup lama saya pergi dsn tidak pernah mengunjungi Klan Xiao, awalnya saya mengira paviliun tempat saya tinggal akan sangat kotor dan dipenuhi oleh rumput liar karna saya tidak memiliki pelayan namun alangkah terkejutnya saya ketika melihat kondisi paviliun yang sangat rapi dan terawat." jelas Xiao Ziya mengenai alasannya mengumpulkan semua prajurit di halaman paviliunnya.


"Sudah menjadi kewajiban kami menjaga kebersihan paviliun Nona Ziya. Kami bekerja untuk Anda dan mendapat upah dari Anda, bagaimana bisa kami semua membiarkan paviliun ini menjadi kotor dan tidak terawat." jawab salah seorang prajurit dengan tegas.


"Karna itulah saya sangat berterimakasih pada kalian semua. Silahkan dinikmati hidangan sederhana yang telah saya buat, semoga cukup untuk kalian semua." ucap Xiao Ziya yang mempersilahkan semua prajurit untuk makan terlebih dahulu.


Saat Xiao Ziya sedang sibuk menjamu para prajurit yang bekerja untuknya di sisi lain saat ini Xiao Yungha sedang berjalan di sekitar tempat berlatih para murid Klan Xiao. Hari ini Xiao Yungha meminta izin pada guru yang mengajar untuk tidak mengikuti latihan karna dirinya kurang enak badan, saat ia sibuk melihat temannya yang lain sedang berlatih tiba tiba mata Xiao Yungha tertuju pada Xiao Xun yang baru saja melintas di hadapannya.


Terlihat senyuman cerah dari bibir gadis itu, dengan segera ia berlari untuk menyusul Xiao Xun yang sudah cukup jauh darinya. Setelah berada di samping Xiao Xun tiba tiba Yungha menggandeng tangan pemuda itu dengan gelagat manja yang menggelikan.


"Tolong lepaskan tangan saya, orang lain bisa salah faham jika Nona Yungha bersikap seperti itu." ucap Xiao Xun. Pemuda itu memberikan peringatan dengan nada halus.


"Mengapa jika orang lain salah faham dengan hubungan kita berdua? saya tidak peduli dengan hal itu. Saya ucapkan terimakasih karan Tuan Muda Xiao Xun bersedia mengantar saya kembali ke Klan Xiao dengan selamat, tanpa bantuan Anda mungkin saat ini saya masih berada di luaran sana. Ah iya apakah benar Anda saudara tiri dari Nona Xiao Ziya? saya dengar kalian lahir dari ibu yang berbeda. Pantas saja sikap Anda dan Nona Ziya bertolak belakang." ucap Xiao Yungha dengan panjang lebar. Ia berusaha mencari topik pembicaraan yang menarik agar bisa berlama lama bersama dengan Xiao Xun.


"Apa maksud Anda dengan menanyakan hal itu. Ini masalah keluarga kami dan orang luar tidak perlu mengetahuinya." jawab Xiao Xun dengan ekspresi dan nada bicara datar.


"Saya tau Tuan Muda Xiao Xun tertarik dengan saya, mengapa Anda tidak menyatakan perasaan secara langsung?." tanya Xiao Yungha dengan percaya diri. Jika tidak tertarik padanya mana mungkin Xiao Xun mau membantunya semalam.


Xiao Xun mengangkat sebelah alisnya, ada apa dengan gadis ulat bulu ini? apakah ia mulai merasa gatal hingga menunjukkan sikap yang sangat menggelikan itu. Karna tak tahan dengan tingkah laku Xiao Yungha akhirnya Xiao Xun menepis dengan kasar tangan Yungha yang masih menggandeng tangannya.


"Saya tidak pernah tertarik pada gadis seperti Anda." ucap Xiao Xun dengan tegas dan sorot mata tajam.

__ADS_1


Hai hai semua author balik lagi nih, gimana kabar kalian semoga sehat selalu ya. Jangan lupa follow buat yang belum, vote karna wajib, gift hadiah apapun makasih banget, like like like, komen buat ninggalin jejak, rate bintang lima, share juga ya.


__ADS_2