
Serangan demi serangan dari Xiao Ziya menimbulkan luka di beberapa bagian tubuh Tuan Yonzan Zu, suara dentingan pedang yang saling beradu terdengar sangat nyaring hingga tiba tiba pedang emas milik pria tua itu berbelah menjadi dua bagian. Tuan Yonzan Zu sangat marah karna pedang itu pemberian dari salah satu dewa sebagai hadiah keberhasilannya mencapai kultivasi alam dewa tingkat menengah beberapa tahun yang lalu, Tuan Yonzan Zu mengambil sebuah kertas emas berisikan mantra kuno untuk memanggil seorang dewa yang sudah mengikat janji dengannya.
Dewa Hiloz malam itu sedang mencatat beberapa hal penting mengenai perubahan umat manusia akhir akhir ini, tiba tiba saja Dewa Hiloz merasakan ada seseorang yang memanggilnya menggunakan kertas emas. Dengan sangat amat terpaksa sang dewa pergi menuju Dunia Manusia Abadi untuk melihat apa yang terjadi pada manusia yang telah mengikat janji dengannya itu. Dengan kemampuan yang ia miliki Dewa Hiloz dapat menembus pertahanan di lapisan luar Dunia Manusia Abadi, kini sang dewa telah sampai di hadapan Tuan Yonzan Zu dengan tatapan wajah terkejut karna melihat ada Xiao Ziya di sana.
"Ada perlu apa hingga kau memanggilku?." tanya Dewa Hiloz dengan tatapan jengah, meskipun ia dan pria tua dihadapannya sudah terikat dengan sebuah janji namun tak sepantasnya pria tua itu memanggil sang dewa dengan sembarang seperti ini.
"Pedang emas yang Anda berikan telah dipatahkan oleh gadis ini, saya ingin Anda memberikan hukuman padanya." ucap Tuan Yonzan Zu seperti sedang mengadu pada Dewa Hiloz.
Sontak Dewa Hiloz menoleh ke arah yang ditunjuk oleh Yonzan Zu, ia semakin tak mengerti harus berbuat apa karna yang mematahkan pedang pemberian darinya adalah Sang Dewi Agung. Daripada harus berurusan dengan Xiao Ziya dan membuat gadis itu marah lebih baik Dewa Hiloz memarahi pengikutnya saja, memancing amarah dari Xiao Ziya sama saja dengan bunuh diri.
"Salam hormat saya pada Dewi Agung, maaf karne pengikut saya yang tak berbakti ini berani menyinggung Anda." ucap Dewa Hiloz yang memberikan salam serta meminta maaf pada Xiao Ziya dengan membungkukkan badan.
"Ajari pengikut mu agar bisa membedakan mana yang benar dan mana yang salah, dilain hari jika hal seperti ini terulang lagi akan saya porak porandakan kediaman Anda." ucap Xiao Ziya dengan senyuman tipis dengan aura dingin yang kuat.
"Baik saya akan mengingat dengan baik perkataan Anda, saya serahkan pengikut saya ini pada Anda. Saya pamit undur diri." ucap Dewa Hiloz yang melesat kembali ke dunia dewa. Tuan Yonzan Zu dan yang lain menatap bingung ke arah Xiao Ziya, bagaimana bisa gadis itu menjadi Dewi Agung?.
"Pertarungan ini belum selesai." ucap Xiao Ziya yang semakin mengejutkan semua orang, jika ini terus berlanjut maka Yonzan Zu akan benar benar kehilangan nyawanya.
"Saya meminta maaf atas kesalahan yang dilakukan oleh suami saya." ucap Ibu Suri Yanhua Zu yang bersujud menghadap ke arah Xiao Ziya. Meski ia tak menyukai gadis itu, Ibu Suri Yanhua Zu tak ingin kehilangan suami yang sangat ia sayangi.
"Serahkan ketiga pemuda itu pada saya, dan biarkan saya menghukum mereka. Jika orang tua dari ketiga pemuda itu marah maka saya yang akan bertanggungjawab." ucap Xiao Ziya dengan tatapan serius, Tuan Yonzan Zu dan Ibu Suri Yanhua Zu mengalah pada Ziya dan menyerahkan ketiga pemuda itu.
"Baiklah saya akan menyerahkan mereka bertiga pada Nona Ziya." ucap Ibu Suri Yanhua Zu yang sudah pasrah karna tak bisa melakukan apapun untuk membantu ketiga keponakannya itu.
Masalah hari ini selesai dengan pertarungan yang cukup mengejutkan semua orang, Raja Yongling Zu dan ketiga anak laki lakinya tak tau lagi bagaimana cara mereka harus bersikap di hadapan Xiao Ziya yang memiliki status sebagai Dewi Agung. Di saat yang lain sedang bertarung dengan fikiran mereka sendiri, Xiao Ziya langsung pergi dengan membawa ketiga pemuda yang telah menyakiti Putri Beiling Zu. Xiao Ziya menyeret ketiga pemuda itu menuju halaman belakang Istana Utama, di sana Xiao Ziya melempar tubuh ketiganya hingga membentur gerbang belakang, para prajurit yang sedang berjaga hanya bisa melihat apa yang akan dilakukan oleh Xiao Ziya.
"Tolong lepaskan kami, lagipula kami belum melakukan apapun pada Putri Beiling Zu." ucap Zu Junyang, perkataan pemuda itu membuat Xiao Ziya menaikkan sebelah alisnya. Jika ketiga pemuda itu sudah melakukan sesuatu pada Putri Beiling Zu maka mereka akan kehilangan nyawa dalam beberapa detik saja.
"Diamlah! jika kalian sudah menyentuhnya maka saya akan menebas kepala kalian tanpa berfikir panjang dari mana asal usul kalian." ucap Xiao Ziya dengan tatapan tajam.
"Lalu apa yang ingin kau lakukan pada kami? meski paman dan bibi tak bisa menyelamatkan kami bertiga namun orang tua kami akan membalas dendam atas apa yang telah kau lakukan." ucap Zu Minze yang ingin menakut nakuti Xiao Ziya, sedangkan gadis itu hanya menunjukkan ekspresi datar.
"Kalian fikir saya perduli?." tanya Xiao Ziya, beberapa saat setelahnya gadis itu mengeluarkan tiga prajurit iblis dari dalam cincin semesta.
Ketiga prajurit iblis itu menatap ke arah junjungan mereka dengan tatapan bingung, mengapa hanya mereka bertiga saja yang dipanggil keluar oleh junjungan muda? mungkinkah ada tugas khusus yang harus mereka lakukan?. Membayangkan hal itu membuat ketiga prajurit iblis merasa senang, mereka langsung berbaris dengan rapi di hadapan Xiao Ziya.
__ADS_1
"Salam hormat kami pada Nona Besar Xiao Ziya." ucap ketiga prajurit iblis itu dengan membungkukkan badan mereka. Kemunculan tiga orang aneh dengan armor hitam secara tiba tiba membuat tiga pemuda dari Klan Zu semakin tak mengerti, sebenarnya siapa gadis yang sedang mereka hadapi itu?.
"Saya ingin kalian bertiga mencambuk ketiga pemuda ini hingga pagi datang." ucap Xiao Ziya dengan senyuman miring yang terlihat menyeramkan. Saat ini hari masih malam dan butuh waktu yang lama untuk pagi datang, entah berapa ratus ataupun ribu cambukan yang akan diterima oleh ketiga pemuda itu.
"Jika kami mencambuknya hingga pagi nanti kemungkinan besar mereka akan kehilangan nyawa." ucap salah seorang prajurit iblis, ia ingin tau lebih detail tentang rencana dari junjungan mudanya.
"Tuang ramuan ini kebagian tubuh mereka yang mengalami luka parah, setelah luka luka itu sembuh lanjutkan kembali untuk mencambuk ketiganya." jawab Xiao Ziya dengan santai sembari memberikan masing masing prajurit iblis sebuah ramuan penyembuh tingkat tinggi.
"Baik, kami akan menjalankan tugas dari Nona Besar Xiao Ziya dengan sepenuh hati." jawab ketiga prajurit iblis itu secara bersamaan.
Setelah urusannya selesai Xiao Ziya langsung meninggalkan mereka di halaman belakang Istana Utama, Ziya berjalan menuju Istana Putri untuk kembali ke kamar Putri Beiling Zu dan melihat bagaimana kondisi saudari tirinya sekarang. Setelah masuk ke dalam kamar Ziya melihat Putri Beiling Zu yang tertidur dengan sangat pulas, Xiao Ziya tersenyumlah tipis kemudian membaringkan tubuh diatas kasur dan memejamkan matanya.
Semua orang di Kerajaan Bintang Timur sibuk dengan urusan mereka masing masing, Tuan Yonzan yang dan Ibu Suri Yanhua Zu akan mengirim surat untuk orang tua ketiga keponakan mereka yang sedang mendapat hukuman dari Xiao Ziya. Tuan Yonzan yang dan Ibu Suri Yanhua Zu tak bisa membayangkan bagaimana reaksi orang tua dari ketiga pemuda itu, kemungkinan besar mereka akan sangat marah pada Tuan Yonzan yang dan Ibu Suri Yanhua Zu karna tak bisa menjaga anak anak mereka dengan baik.
"Aku khawatir mereka akan menuntut kita nanti." ucap Ibu Suri Yanhua Zu dengan raut wajah cemas.
"Bukankah gadis itu mengatakan bahwa ia yang akan bertanggungjawab?." ucap Tuan Yonzan Zu, pria tua itu tak ingin pusing memikirkan bagaimana reaksi orang tua dari ketiga pemuda sialan itu. Andai saja mereka bertiga bisa menahan diri dan tak melakukan hal tercela pada Putri Beiling Zu maka ia tak perlu repot repot melawan Xiao Ziya hingga pedang emas kebanggannya patah.
"Kau terlihat begitu kesal suamiku, apa ini karna pedang emas mu?." tanya Ibu Suri Yanhua Zu, seharusnya ia tak perlu menanyakan hal yang sudah jelas jawabannya.
"Ini semua ulah Xiao Ziya, mengapa kau malah menyalahkan ketiga keponakan kita." ucap Ibu Suri Yanhua Zu, sebagai bibi yang baik ia tak akan membiarkan ketiga keponakannya itu disalahkan oleh sang suami.
"Sepertinya kau semakin naif saja." balas Tuan Yonzan Zu, pria tua itu memilih pergi dari dalam kamar dan meninggalkan sang istri sendirian di sana. Meskipun istrinya bukan wanita yang baik namun baru kali ini Tuan Yonzan Zu melihat sang istri melakukan banyak kebodohan yang tak berguna.
Di sisi lain surat yang di kirim oleh Selir Mue Zu sudah sampai di Klan Mue beberapa saat yang lalu, pemimpin Klan Mue telah menerima surat dari putrinya. Mue Linzong membuka surat itu dan mulai membacanya perlahan, raut wajah dari pria paruh baya tersebut terlihat tak baik baik saja karna mendengar anak perempuan beserta kedua cucunya mengalami luka yang cukup parah karna seorang gadis asing.
Mue Linzong meremas surat itu dengan rasa kesal yang menyelimuti hatinya, ia tak bisa diam saja melihat putrinya tertekan seperti itu. Mue Linzong bergegas pergi menuju kamar untuk memberitahu sang istri mengenai kabar buruk itu.
"Ada hal buruk yang harus saya sampaikan padamu istriku." ucap Mue Linzong dengan tatapan serius.
"Katakan suamiku, kabar buruk apa yang ingin kau sampaikan?." tanya Mue Sanron dengan cemas.
"Anak perempuan kita yang saat ini berada di Kerajaan Bintang Timur sedang dalam kondisi yang buruk, ia dan kedua anaknya ditindas oleh anak tiri dari Raja Yongling Zu." ucap Mue Linzong, sebenarnya apa yang diinginkan oleh anak tiri Raja Yongling Zu hingga melukai putri dan juga cucunya.
"Anak tiri?." tanya Mue Sanron yang belum mengetahui bahwa Ratu Junyi yang memiliki seorang putri dengan pria yang berasal dari dunia bawah.
__ADS_1
"Ya, Raja Yongling Zu memiliki seorang anak tiri dari ratunya. Belasan tahun yang lalu saat Ratu Junyi Zu hilang dari dunia manusia abadi ia jatuh ke dunia bawah dan kehilangan ingatan. Karna itulah sang ratu menikahi seorang pria dari dunia bawah dan dikaruniai seorang anak perempuan." ucap Mue Linzong, pria paruh baya itu berusaha menjelaskan pada istrinya mengenai apa yang terjadi di Kerajaan Bintang Timur belasan tahun lalu.
"Sialan, anak haram itu berani berani menyakiti Putri kesayangan kita." gerutu Mue Sanron dengan tatapan penuh emosi. Keduanya akan bersiap malam itu juga untuk berkunjung ke Kerajaan Bintang Timur dan memberi pelajaran pada gadis bernama Xiao Ziya itu.
Entah apa yang akan terjadi jika kedua orang tua Selir Mue Zu bertemu dengan Xiao Ziya, mungkin mereka akan memiliki nasib yang sama dengan Tuan Yonzan Zu dan Ibu Suri Yanhua Zu atau berakhir buruk seperti anak dan kedua cucunya. Waktu terus berjalan dan suara jeritan dari ketiga pemuda yang sedang dicambuk oleh prajurit iblis milik Xiao Ziya sangat mengganggu para pelayan yang sedang tidur karna kamar para pelayan berada di bangunan paling belakang Istana Utama.
"Aaaaaa tolong hentikan itu sangat menyakitkan." jerit Zu Junyang dengan air mata yang membasahi wajahnya.
"Ampuni kami, kami sudah tak sanggup lagi." ucap Zu Minze dengan nada lemas, punggungnya terasa perih dan juga sakit mungkin saat ini kondisi punggung ketiga pemuda itu benar benar mengenaskan.
Di saat dua pemuda lain berteriak kesakitan, Zu Genzi sudah pingsan satu jam yang lalu karna tak tahan dengan rasa sakit yang ia rasakan. Zu Genzi merupakan seorang pemuda yang sangat dimanjakan oleh kedua orang tuanya karna ia anak tunggal, selama ini Zu Genzi tak pernah dimarahi ataupun dipukul oleh orang lain karna kedua orang tua pemuda itu sangat melindungi dirinya. Ketiga prajurit iblis meneteskan cairan penyembuh tingkat tinggi untuk menghilangkan luka di punggung pemuda pemuda itu, setelah luka mereka sembuh ketiga prajurit iblis kembali mencambuk dengan lebih keras daripada sebelumnya.
"Itu sangat mengerikan, Raja Yongling Zu dan orang tuanya saja tak sanggup melawan Nona Ziya. Sebaiknya selama gadis itu berada di Kerajaan Bintang Timur kita harus memperlakukannya dengan hormat." ucap salah seorang prajurit yang bertugas menjaga gerbang belakang.
"Saya mendengar bahwa ketiga pemuda itu berusaha menodai Putri Beiling Zu, saya juga melihat Nona Xiao Ziya hanya dekat dengan sang putri saja." ucap prajurit lain yang beberapa hari terakhir ini memperhatikan sikap Xiao Ziya pada anggota Kerajaan Bintang Timur.
"Anak dari Ratu Junyi Zu adalah gadis yang tegas dan cukup kejam. Mungkin semua ini terjadi karna ia tak mendapat kasih sayang dari ibunya." balas prajurit lain.
Pagi pun datang, terdengar suara kicauan burung yang menyambut hari yang sangat cerah ini, Xiao Ziya terbangun dari tidurnya lebih awal daripada Putri Beiling Zu. Gadis itu berjalan menuju kamar mandi dan membersihkan dirinya kemudian mengganti pakaian dengan sebuah gaun berwarna biru langit. Setelah selesai berganti pakaian Xiao Ziya langsung keluar dari Kamar Putri Beiling Zu, Ziya berjalan menuju halaman belakang Istana Utama Kerajaan Bintang Timur untuk melihat bagaimana kondisi ketiga pemuda yang sedang menerima hukuman darinya.
Setelah sampai di halaman belakang istana utama Xiao Ziya melihat segerombol pelayan dan prajurit yang sedang mengerumuni ketiga pemuda itu beserta tiga prajurit iblis milik Xiao Ziya. Karna penasaran dengan apa yang sedang terjadi Ziya pun melesat menerobos kerumunan itu, Ziya menatap datar ke arah Zu Junyang, Zu Minze, dan Zu Genzi yang sedang menangis dan berteriak histeris.
"Mengapa kalian menangis seperti anak kecil?." tanya Xiao Ziya dengan tatapan datar, mungkinkah hukuman yang ia berikan masih kurang?.
"Ampuni kami Nona Ziya, kami tak akan mengulang kesalahan yang sama." ucap Zu Minze dengan tatapan memohon.
Xiao Ziya melihat ke arah punggung ketiga pemuda itu, kulit mereka bertiga robek dan menimbulkan luka yang sangat parah. Xiao Ziya tersenyum dan puas melihat ketiga pemuda itu merasa jera dengan apa yang telah mereka lakukan. Xiao Ziya meminta pada ketiga prajurit iblis miliknya untuk menghentikan hukuman itu, Xiao Ziya memasukkan ketiga prajurit itu kedalam cincin semesta miliknya.
"Bawa ketiga pemuda ini ke istana putri karna saya sendiri yang akan merawat mereka." ucap Xiao Ziya yang memberi perintah pada beberapa prajurit yang ada di sana.
"Dan kalian tolong siapkan sebuah ruangan kosong di istana putri dengan tiga ranjang di dalamnya, mereka bertiga akan tinggal di ruangan itu untuk sementara waktu." ucap Xiao Ziya pada para pelayan yang berada di belakangnya.
"Baik kami mengerti nona Ziya, silahkan Anda keruang makan terlebih dahulu biarkan kami yang mengurus ke tiga pemuda ini." ucap para prajurit dan pelayan yang langsung mematuhi perintah dari Xiao Ziya. Mereka tak ingin menyinggung perasaan gadis itu karna akan berakibat fatal.
Hai hai semua maaf author bisanya up malam karna pagi sampe sore ada banyak aktivitas. Gimana puasa kalian lancar kan?. Jangan lupa follow buat yang belum, vote karna wajib, gift hadiah apapun, like like like, komen buat ninggalin jejak, rate bintang lima, share juga ya.
__ADS_1