
Yie Munha tak tau harus melakukan apa lagi pada Xiao Ziya, gadis itu sangat sulit untuk ia hadapi. Akhirnya Yie Munha memilih pergi dari sana sebelum dipermalukan lebih jauh lagi. Xiao Ziya hanya tersenyum tipis melihat gadis angkuh itu pergi tanpa mendapatkan apapun, ini baru permulaannya saja karna di lain waktu Xiao Ziya akan membuat kehidupan Yie Munha semakin hancur.
"Anda membiarkan pergi begitu saja nona besar?." tanya salah seorang prajurit iblis, sang prajurit memiliki pendapat gadis seperti Yie Munha pantas mati dengan sia sia.
"Saya perlu bermain main dengan gadis itu terlebih dahulu sebelum mengambil hidupnya." ucap Xiao Ziya dengan tatapan serius.
Gadis itu pergi dari markas utama menuju Klan Yuang Yie, Xiao Ziya ingin melihat bagaimana kondisi Yie Weinje setelah mendapat tusukan di kedua lututnya. Selain itu ada beberapa hal yang perlu Ziya lakukan di sana, entah seperti apa reaksi Yie Munha nanti. Di sisi lain Yie Gu sedang melakukan penyelidikan terhadap penyerangan yang dilakukan oleh seseorang pada istrinya, Yie Gu ingin tau motif orang tersebut.
"Apa kalian menemukan saksi mata?." tanya Yie Gu pada Yie Fufu.
"Saya sudah bertanya pada penduduk sekitar tempat itu, namun mereka tak mengetahui apapun mengenai orang yang telah melukai Nyonya Weinje." ucap Yie Fufu dengan tatapan malas, ia tak mengerti dalam kasus kali ini mengapa dirinya yang di tunjuk untuk menemukan sang pelaku?. Yie Fufu tak akan peduli meskipun wanita bernama Yie Weinje itu mati sekalipun, mungkin hal yang sama ada di fikiran penduduk Klan Yuang Yie.
"Apa kau ada saran mengenai penyelidikan ini?." tanya Yie Gu.
"Lebih baik anda bertanya pada istri anda terlebih dahulu, apa yang ia lakukan di sana malam itu. Tak mungkin seorang Yie Weinje rela membuang waktu untuk mencari udara segar di luar klan." ucap Yie Fufu, pria itu langsung pergi dari ruang kerja Yie Gu tanpa mengucapkan apapun. Sebagai wakil pemimpin Yie Fufu memiliki banyak urusan lain yang harus diselesaikan, biarkan Yie Gu melakukan penyidikan sendiri.
Saat ini Xiao Ziya telah sampai di gerbang masuk Klan Yuang Yie, para prajurit penjaga gerbang mempersilahkan nona muda mereka masuk ke dalam. Sebelum masuk ke dalam Xiao Ziya sempat bertanya mengenai keadaan Yie Weinje, apa yang sebenarnya terjadi pada wanita tua itu.
"Mengapa Nyonya Weinje bisa ditemukan dalam kondisi seperti itu?." tanya Xiao Ziya dengan wajah sedih dan ekspresi bingung.
"Kami juga tak tau apa yang sebenarnya terjadi pada nyonya. Sepertinya Nyonya Weinje menyinggung orang yang salah." ucap salah seorang penjaga gerbang yang sedang memperkirakan apa yang terjadi malam itu.
"Nyonya Weinje memang suka melakukan hal buruk pada orang lain, anggap saja hal ini sebagai balasan atas perbuatannya. Kalau begitu saya masuk ke dalam terlebih dahulu." ucap Xiao Ziya yang segera masuk kedalam kastil Klan Yuang Yie.
Xiao Ziya berjalan menuju ruang kesehatan, saat melewati sebuah lorong yang cukup panjang ia bertemu dengan sang paman. Sepertinya pamannya juga ingin melihat kondisi Yie Weinje saat ini.
"Selamat pagi paman." ucap Xiao Ziya dengan senyuman cerah seperti matahari yang baru saja terbit.
"Pagi keponakanku, sejak kapan kau datang?." tanya Yie Laingfu, pria itu tak merasakan hawa keberadaan Xiao Ziya sebelumnya.
"Saya baru saja datang, saya ingin menjenguk ketua kelima." ucap Xiao Ziya dengan sopan.
"Bukankah kau berada di markas? bagaimana kau bisa tau tentang keadaan ibuku saat ini?." tanya Yie Laingfu, pria itu menatap Xiao Ziya penuh dengan selidik. Bisa jadi gadis polos yang ada di hadapannya ini adalah pelaku penusukan dari sang ibu, bukan rahasia lagi jik Xiao Ziya dan Yie Weinje memiliki hubungan yang cukup buruk.
"Beberapa saat yang lalu putri anda datang ke markas saya, ia mengatakan bagaimana kondisi neneknya saat ini. Selain itu putri anda menganggap sayalah yang telah melukai neneknya. Sepertinya putri anda berfikiran sangat sempit, saat ini saya sedang sibuk dengan persiapan perang dan tak memiliki waktu melakukan hal hal tak berguna seperti ini." ucap Xiao Ziya dengan tatapan dingin namun bibirnya masih tersenyum.
Yie Laingfu hanya diam tak menanggapi perkataan keponakannya itu, ia tau semua kemungkinan bisa saja terjadi. Namun alasan yang diberikan oleh Xiao Ziya sangatlah logis, sebentar lagi gadis itu akan memulai peperangan dengan Kerajaan Bulan. Artinya Xiao Ziya harus mempersiapkan banyak hal dan tak memiliki waktu untuk menyusun rencana menyerang ibunya.
"Paman mengerti bagaimana kesulitan mu saat ini. Tolong maafkanlah sikap putri paman." ucap Yie Laingfu dengan senyuman hangat.
Mereka berdua akhirnya sampai di depan ruang kesehatan, Yie Laingfu langsung masuk kedalam untuk bertemu dengan sang ibu sedangkan Xiao Ziya menunggu diluar. Tabib wanita yang ada di ruang kesehatan tersenyum lembut pada Xiao Ziya, ia tau perselisihan yang terjadi antara nenek dan cucu jauhnya itu. Mungkin Xiao Ziya menunggu mendapat izin dari Yie Weinje untuk masuk kedalam karna gadis itu tak ingin membuat keributan.
"Bagaimana keadaan ibu saat ini?." tanya Yie Laingfu pada Yie Weinje, pria itu duduk di sebuah kuris yang telah disediakan.
"Ibu baik baik saja, hanya perlu beristirahat beberapa minggu." ucap Yie Weinje dengan nada dingin, ia masih memiliki kekesalan pada putranya itu.
"Apakah ibu mendengar suara orang yang telah menyerang mu malam itu?." tanya Yie Laingfu, walau sang ibu tak melihat wajah dari sang pelaku setidaknya ia sempat mendengar suaranya.
"Dia seorang pemuda, memiliki postur tubuh yang cukup tinggi." ucap Yie Weinje, hanya itu yang diingat olehnya.
"Ada seseorang yang ingin bertemu denganmu." ucap Yie Laingfu, pria itu melihat ke arah pintu masuk ruang kesehatan. Di sana ada Xiao Ziya yang sedang berdiri sembari menyandarkan tubuhnya ke pintu.
"Gadis itu, untuk apa kau datang kemari. Pergilah aku tak ingin melihat sampah sepertimu berada di sekitarku." triak Yie Weinje dengan sangat keras, ia memiliki dendam tersendiri dengan Xiao Ziya.
__ADS_1
"Ternyata saya di usir." ucap Xiao Ziya dengan senyuman miring.
"Pergilah aku tak ingin melihat wajah busuk mu itu !!!!!." triak Yie Weinje dengan mata melotot, wanita tua itu ingin turun dari tempat tidur dan menampar Xiao Ziya. Namin Yie Weinje terjatuh, lutut kedua kakinya terasa sangat nyeri. Dengan segera sang tabib wanita dan Yie Laingfu menenangkan wanita itu.
"Bisakah anda pergi dari sini nona muda, biarkan Nyonya Weinje beristirahat terlebih dahulu." ucap sang tabib wanita pada Xiao Ziya dengan tutur kata lembut dan sopan.
"Saya hanya datang untuk melihat kondisinya dan memberi bantuan, sangat disayangkan ia malah mengusir saya." ucap Xiao Ziya dengan tatapan kecewa.
Xiao Ziya mengeluarkan sebuah pil berwarna merah darah dengan dua garis emas dan tiga garis perak. Pil itu bernama pil darah yang sangat terkenal di kalangan para dewa, pil ini dapat menyembuhkan luka separah apapun selama orang itu masih hidup dan mendapat perawatan yang tepat. Sang tabib wanita melebarkan matanya, ia berfikir darimana Xiao Ziya mendapatkan pil langka itu.
"Saya akan menerima pemberian anda dengan baik." ucap sang tabib wanita dengan senyuman lebar, dengan pil darah itu kelumpuhan Yie Weinje dapat disembuhkan secara singkat.
"Maaf, saya tak memiliki niatan lagi untuk memberikan pil ini pada ketua kelima. Sampai jumpa, saya harus pergi dari sini karna ada hal lain yang harus saya selesaikan." ucap Xiao Ziya, gadis itu melesat keluar dari kastil Klan Yuang Yie menuju markasnya.
"Pil apa yang dibawa oleh gadis itu?." tanya Yie Laingfu yang merasa penasaran.
"Itu sebuah pil darah yang sangat sulit untuk didapatkan, dengan pil darah tersebut luka di lutut Nyonya Weinje akan sembuh dalam satu hari." ucap sang tabib wanita.
Yie Weinje terkejut bukan main, ternyata ia telah melewatkan sebuah kesempatan emas untuk mendapatkan kesembuhan dalam waktu singkat. Yie Weinje memiliki sebuah rencana, ia akan meminta pada putranya yaitu Yie Laingfu untuk memintakan pil darah itu pada Xiao Ziya.
"Kau harus mendapatkannya demi ibu." ucap Yie Weinje dengan sorot mata sedih, kemudian wanita tua itu mulai berakting menangis di hadapan Yie Laingfu.
"Sangat sulit membujuk gadis itu." ucap Yie Laingfu, ia tak yakin Xiao Ziya bersedia untuk memberikan pil darah itu secara cuma cuma.
"Apa kau tak merasa kasihan pada ibumu ini?." ucap Yie Weinje lagi, wanita itu seperti ular berbisa saja.
"Baiklah saya akan mencoba untuk mendapatkannya." ucap Yie Laingfu dengan nada pasrah. Bagaimanapun wanita tua yang sedang terbaring lemah itu adalah ibu kandungnya sendiri.
Xiao Ziya sudah sampai di markas utamanya, gadis itu sampai lupa jika ia memiliki niatan untuk melihat lihat di tempat peperangan akan berlangsung, semua itu karna kegaduhan yang di buat oleh Yie Munha. Akhirnya Xiao Ziya mengurungkan niatnya, jika pihak musuh memasang formasi peledak atau hal hal semacamnya maka Ziya akan membuat sihir pelindung yang akan melindungi pasukan sekutunya. Xiao Ziya berjalan ke arah dapur untuk melihat apakah semua makanan sudah siap, waktu sarapan hampir tiba dan semua pasukan sekutunya sedang menunggu makanan disajikan.
"Kami sudah hampir siap nona." ucap pria itu dengan bangga, ini pertama kalinya ia memasak untuk orang sebanyak ini.
"Baiklah, lakukan semuanya dengan baik. Saya permisi." ucap Xiao Ziya yang langsung pergi dari dapur.
Pihak yang akan berperang malam nanti mempersiapkan semuanya dengan baik, Pangeran Yozan Zee sudah mengatur dua ratus ribu pasukan terbaik yang akan turun ke medan perang. Pemuda itu juga menyiapkan seratus ribu pasukan cadangan bila pihak musuh menambah jumlah pasukan, selain itu Pangeran Yozan Zee menyewa para penyihir hitam untuk menahan Xiao Ziya dan para jenderalnya agar tak menerobos pertahanan utama pasukan Kerajaan Bulan. Ini peperangan pertama yang di pimpin langsung oleh Pangeran Yozan Zee, sang pangeran merasa sangat puas dengan semua rencana yang telah ia siapkan. Saat sang pangeran sibuk menyiapkan peperangan pertamanya, Putri Jifana sibuk memikirkan bagaimana nasibnya nanti. Ia telah gagal menjadi sekutu dari Xiao Ziya, ia gagal membuat prestasi yang membanggakan agar sang ayah lebih memperhatikannya, jika dalam peperangan kali ini kakak laki lakinya berhasil maka posisi penerus Kerajaan Bulan akan benar benar jatuh di tangan Pangeran Yozan Zee.
"Sial apa lagi yang biasa aku lakukan." ucap Putri Jifana, sang putri mondar mandir di sekitar kamar.
"Jika aku bisa menyusup masuk ke markas gadis itu, mungkin ayah akan memujiku nanti." ucap Putri Jifana, sang putri mulai membuat rencana licik agar bisa masuk kedalam markas utama pasukan sekutu Xiao Ziya.
Pagi itu juga Putri Jifana berangkat ke wilayah Klan Yuang Yie, gadis itu yakin Xiao Ziya akan membuat markas utama di sekitar klan itu. Putri Jifana akan masuk ke dalam markas setelah ia menyamar menjadi penduduk biasa dari Klan Yuang Yie, karna hal itu sang putri pergi menggunakan baju yang cukup lusuh. Saat keluar dari kamar Putri Jifana berpapasan dengan Pangeran Yozan Zee yang baru saja kembali dari tempat tinggal para prajurit Kerajaan Bulan, sang pangeran menatap adik perempuannya itu penuh dengan selidik.
"Apa yang akan kau lakukan, dengan menggunakan baju lusuh seperti itu?." tanya Pangeran Yozan Zee dengan tatapan tajam. Pangeran Yozan Zee tak ingin Putri Jifana melakukan hal yang akan merusak rencananya, ia hanya mencegah sang adik melakukan hal hal konyol.
"Itu bukan urusanmu, aku akan pergi kemanapun sesuai dengan keinginanku." ucap Putri Jifana yang langsung meninggalkan kakak laki lakinya tanpa mengucapkan apapun. Sang pangeran hanya bisa menatap kepergian adiknya itu, ia harus memberitahukan hal ini pada sang ayah.
"Sungguh gadis yang merepotkan." gerutu Pangeran Yozan Zee.
Saat ini markas utama pasukan sekutu Xiao Ziya terlihat sangat ramai, semua prajurit yang ada di sana sedang antri untuk mengambil sarapan mereka. Xiao Ziya keluar dari salah satu rumah kayu, gadis itu sedang memperhatikan keadaan di sekitar markas, gadis itu sudah memasang dinding pembatas antara markasnya dan dunia luar.
"Bagaimana keadaanmu selama berada di tempat ini?." tanya Ratu Min Xunzi, dunia manusia abadi adalah tempat yang sangat memuakkan. Karna hal itu Ratu Min Xunzi dan juga Lee Brian memutuskan hubungan mereka dengan semua hal yang berkaitan dengan dunia manusia abadi, namun kali ini Ratu Min Xunzi harus kembali ke tempat itu untuk membantu keponakan kesayangannya.
"Tidak lebih baik dari dunia bawah, sangat sulit beradaptasi dengan kebiasaan dan sifat orang orang yang ada di sini." jawab Xiao Ziya dengan jujur. Dunia bawah adalah tempat paling nyaman untuk ia tinggali, meskipun di sana Xiao Ziya memiliki banyak musuh setidaknya gadis itu mempunyai keluarga yang sangat menyayanginya.
__ADS_1
"Kau sudah bertemu dengan kakek dan nenekmu?." tanya Ratu Min Xunzi, ia merindukan sang ayah yang sangat baik padanya.
"Kakek menerima kedatangan saya dengan baik, sedangkan nenek hanya menyayangi satu cucu perempuannya saja yaitu Yie Munha." ucap Xiao Ziya dengan senyuman miris, ia terlalu banyak berharap sebelum datang ke tempat itu.
"Ya, ibu selalu bersikap seperti itu. Diantara kelima anaknya, hanya Yie Laingfu yang mendapat perhatian lebih dari ibu. Saya dan yang lain diperlakukan seperti pembantu dan sering mendapat perlakuan kasar, pasti gadis bernama Yie Munha itu putri dari Yie Laingfu." ucap Ratu Min Xunzi yang menceritakan sedikit pengalaman pahitnya ketika masih menjadi bagian dari Klan Yuang Yie.
"Saya akan segera bertemu dengan ibu, bagaimana reaksi ibu nanti." ucap Xiao Ziya dengan raut wajah gelisah, ia hanya takut sang ibu tak bisa menerima kehadirannya di sana.
"Entahlah bibi juga tidak tau, setelah peperangan ini berakhir bibi akan mengantarmu ke Kerajaan Bintang Timur." ucap Ratu Min Xunzi, ia akan mengantar keponakan kesayangannya itu bertemu dengan ibu kandungnya.
"Yang lain sedang makan dan bersenda gurau di sana, bibi bergabunglah dengan mereka. Saya harus menyambut tamu yang akan datang." ucap Xiao Ziya yang meminta pada Ratu Min Xunzi untuk bergabung dengan Raja Artur, Raja Zeus, Ratu Rexuca, dan yang lainnya.
"Jangan melewatkan sarapan mu." ucap Ratu Min Xunzi sebelum pergi meninggalkan Xiao Ziya.
Xiao Ziya berjalan ke pintu masuk markas utamanya itu, di sana sudah ada Yie Laingfu yang menunggu mendapat izin dari para penjaga untuk bertemu dengan keponakan. Yie Laingfu merasa bingung karna ia tak bisa melihat apa yang ada di dalam markas Xiao Ziya, mungkinkan gadis itu memasang sebuah pembatas sihir?.
"Salam saya pada paman Yie Laingfu, ada apa paman datang menemui saya." ucap Xiao Ziya yang kini berada di luar markasnya. Ia menatap ke arah Yie Laingfu dengan tatapan bingung.
"Bolehkan saya meminta pil darah milikmu?." tanya Yie Laingfu dengan gugup, aura dari keponakannya berbeda dengan biasanya.
"Pil ini milik saya, dan saya tak akan memberikannya pada anda meskipun anda paman saya." jawab Xiao Ziya dengan singkat padat dan jelas. Pil darah sangatlah mahal, kastil Klan Yuang Yie tak akan cukup untuk membayar satu butir pil itu.
"Kasihanilah nenekmu yang sedang terbaring sakit itu." ucap Yie Laingfu, pria itu masih membujuk Xiao Ziya dengan berbagai cara.
"Wanita itu adalah ibu anda, dia juga ibu dari ibu saya. Namun saya tak pernah menganggapnya sebagai nenek saya." jawab Xiao Ziya lagi dengan santai, ia mengatakan semua kalimat itu tulus dari hatinya.
"Bukankah saya pernah membantumu untuk menemukan Zoe." ucap Yie Laingfu penuh dengan harapan.
"Saya telah membalas hutang budi itu ketika membantu menyembuhkan anda dan putra anda. Saya tak akan lupa bahwa putri anda hampir membunuh saya." jawab Xiao Ziya lagi, di sini ia tak dekat dengan siapapun kecuali sang kakek.
Yie Laingfu sudah kehabisan kata kata, pria itu memikirkan sebuah cara agar Xiao Ziya mau membantu ibunya kali ini. Jika ia kembali ke Klan Yuang Yie dengan tangan kosong maka sang ibu akan menangis dan tak akan makan dalam beberapa hari kedepan.
"Saya tau mengapa anda begitu keras kepala untuk mendapatkan pil darah ini. Jangan kira saya tak tau bagaimana ibu saya menjalani hari harinya selama tinggal di Klan Yuang Yie." ucap Xiao Ziya dengan nada dingin. Gadis itu mengeluarkan pedang hitam miliknya dan ia arahkan pada Yie Laingfu.
"Ibu selalu memperlakukan anak anaknya dengan baik." jawab Yie Laingfu dengan gelagapan. Ia tak tau darimana Xiao Ziya mengetahui hal yang telan terjadi puluhan tahun yang lalu itu.
"Jangan membicarakan omong kosong dengan saya." ucap Xiao Ziya sembari mengangkat pedang hitamnya kemudian membuat sebuah luka goresan di wajah Yie Laingfu.
"Mengapa kau melakukan hal ini pada pamanmu sendiri!!." triak Yie Laingfu yang merasa terkejut dengan tindakan Xiao Ziya.
"Anak perempuan mu adalah cucu kesayangan dari wanita itu, dan kau adalah anak kesayangan. Bukankah begitu paman Yie Laingfu, anda sengaja mengajak saya datang ke Klan Yuang Yie karna anda merasa bersalah pada saudara anda yang lain, bukankah begitu paman." triak Xiao Ziya dengan cukup keras hingga membuat Raja Artur, Raja Zeus, Ratu Min Xunzi, dan yang lainnya terkejut.
Raja Artur, Raja Zeus, dan Ratu Rexuca ingin pergi melihat apa yang sedang terjadi, mengapa Xiao Ziya semarah itu. Ratu Min Xunzi meminta mereka bertiga untuk kembali ke tempat duduk masing masing, kali ini biarkan Ratu Min Xunzi yang melihat di luar markas karna ia lumayan mengenal orang orang Klan Yuang Yie.
"Jika hal yang tak baik terjadi pada gadis itu, kau pukul saja lawan bicaranya." ucap Ratu Rexuca dengan penuh semangat.
"Jika dia seorang pria maka tendang hingga pingsan." ucap Raja Artur yang tak ingin kalah memberikan masukan yang cukup gila.
"Kalian tunggulah di sini, jangan ada yang keluar demi keberhasilan rencana Xiao Ziya." ucap Ratu Min Xunzi memperingatkan teman temannya yang lain.
"Apa dia se galak itu?." tanya Raja Zeus pada suami Ratu Min Xunzi.
"Terkadang dia memang seperti itu." jawab Raja Min Lunxi dengan senyuman lebar.
__ADS_1
Hai hai semua author balik lagi nih, gimana kabar kalian semoga sehat selalu ya. Jangan lupa follow buat yang belum, vote karna wajib, gift hadiah apapun, like like like, komen buat ninggalin jejak, rate bintang lima, share juga ya.