RATU IBLIS

RATU IBLIS
Dia Datang


__ADS_3

Penguasa Agung menatap ke arah Yie Gu dengan tatapan penuh kemarahan, jika pria tua itu tak dapat menjemput calon pengantinnya maka ia akan pergi sendiri ke Kerajaan Bulan untuk menjemput paksa Yie Munha. Saat Penguasa Agung ingin pergi tiba tiba kakinya dipegang dengan erat oleh tangan Yie Weinje yang saat itu masih terikat, sang Penguasa Agung langsung menginjak tangan Yie Weinje kemudian ia berjalan keluar dari ruang bawah tanah itu.


Yie Weinje menatap ke arah sang suami dan memberi isyarat agar ikatannya itu dilepas, dengan segera Yie Gu melepas ikatan di kaki dan tangan serta mulut Yie Weinje yang sedang disumpal sebuah kain. Yie Weinje menarik nafas beberapa kali dan berusaha menenangkan dirinya, ia segera bangun dan menarik tangan Yie Gu untuk pergi dari ruang bawah tanah dan segera menyusul Penguasa Agung yang ingin pergi ke wilayah Kerajaan Bulan.


"Cepat mati kita susul Penguasa Agung, jika sampai semua ketua Klan Yie melihatnya mereka pasti berusaha untuk menahan Penguasa Agung." ucap Yie Munha dengan raut wajah panik. Meski saat ini para ketua Klan Yie tak berdiri di pihak mereka berdua, setidaknya para ketua Klan Yie masih sangat berguna untuk menjalankan klan ini.


"Tak ada yang bisa menghentikan Penguasa Agung jika ia sudah memutuskan sesuatu, akan lebih baik para ketua klan bodoh itu tak ikut campur dalam masalah kali ini. Penguasa Agung bukanlah sosok baik yang akan memaklumi tindakan mereka, bisa bisa wilayah Klan Yie juga ikut hancur." ucap Yie Gu sembari berlari secepat yang ia bisa.


Di sisi lain saat ini sosok yang disebut dengan Penguasa Agung itu sudah sampai di ruangan utama Klan Yie, ia sedang menyusuri lorong lorong kastil itu untuk mencari jalan keluar kemudian segera pergi ke wilayah Kerajaan Bulan. Saat dalam perjalanan mencari jalan keluar dari Kastil Klan Yie Penguasa Agung berpapasan dengan Yie Laingfu yang baru saja keluar dari kamarnya, Yie Laingfu menatap bingung ke arah pemuda asing itu. Samar samar ia mengingat sesuatu, pemuda itu adalah pemuda yang sama yang telah membawa jiwa istrinya pergi.


"Apa yang sedang Anda lakukan di sini?." tanya Yie Laingfu dengan tatapan sinis.


"Menyingkir lah dan jangan halangi jalan saya. Meski sebentar lagi Anda akan menjadi ayah mertua saya namun saya akan membawa putri Anda pergi jauh dari tempat busuk ini." ucap Yufenzu nama dari Penguasa Agung.


Yie Laingfu menaikkan sebelah alisnya, mengapa ia akan menjadi ayah mertua dari pemuda kasar ini? jangan bilang ayah dan ibunya ingin menikahkan Yie Munha dengan Sang Penguasa Agung?. Yie Laingfu tak akan pernah menerima pernikahan itu, meski sosok yang disebut dengan Penguasa Agung sangatlah kuat namun ia belum tentu bisa membahagiakan putrinya. Saat ini putrinya tinggal dengan nyaman di Istana Kerajaan Bulan, ia juga diperlukan dengan baik oleh orang orang yang ada di sana karna itu Yie Laingfu tak akan membiarkan Penguasa Agung merusak kebahagiaan putrinya.


"Saya tak pernah setuju untuk menjadi ayah mertua Anda, masih banyak gadis cantik yang ada di dunia ini. Mengapa Anda memilih untuk menikahi putri saya?." tanya Yie Laingfu dengan tatapan tajam.


"Saya tak membutuhkan persetujuan Anda untuk menikah dengan Yie Munha. Hanya ada dua pilihan untuk gadis itu, apakah ia ingin menjadi pengantin saya ataukah menjadi tumbal untuk saya. Dia sudah dewasa dan bisa memilih jalan hidupnya sendiri, jadi menyingkir lah." ucap Yufenzu yang berteriak menggunakan kekuatan yang ia miliki hingga Yie Laingfu terpental beberapa meter dan menabrak dinding hingga dinding tersebut runtuh.


Yuzeng melanjutkan perjalanannya, pemuda itu keluar dari Klan Yie kemudian berjalan melalui gerbang utama klan itu. Para prajurit yang bekerja untuk Klan Yie hanya bisa diam sembari menundukkan kepala mereka, aura yang dikeluarkan oleh pemuda itu sangatlah kuat hingga tak ada yang berani untuk menatapnya secara langsung.


"Tunggu Yang Mulia Penguasa Agung, biar kami yang pergi untuk menjemput Yie Munha." ucap Yie Weinje yang baru saja keluar dari pintu utama kastil Klan Yie. Wanita itu bernafas dengan tak teratur karna harus berlari dengan cepat, jika Panguasa Agung tak dihentikan maka akan ada kekacauan besar yang terjadi nanti.


"Kalian hanyalah sepasang suami istri yang tak berguna, tetaplah berada di sini." ucap Yufenzu dengan kilauan berwarna hitam dari matanya. Pemuda itu membacakan sebuah mantra sihir hitam kuno untuk melapisi Kastil Klan Yie dengan dinding pembatas sehingga tak ada orang yang bisa keluar ataupun masuk dari sana.


"Tolong dengarkan kami terlebih dahulu Tuan Panguasa Agung, Yie Munha akan salah faham dengan maksud baik Anda jika Anda hanya pergi sendiri." ucap Yie Gu.


"Saya tak peduli dengan hal itu, jika Yie Munha menolak pernikahan ini maka Klan Yie akan saya ratakan dengan tanah." ucap Penguasa Agung dengan nada dingin.


Saat ini pagi telah tiba dan semua penduduk Kerajaan Bulan sedang sibuk dengan aktivitas mereka masing masing, tak ada yang tau bencana sebesar apa yang akan terjadi saat sosok bernama Penguasa Agung sampai ke wilayah itu. Di sisi lain Yie Munha baru saja keluar dari kamar tamu yang ia tempati bersama dengan kedua tuan muda, gadis itu berjalan menuju kamarnya sendiri untuk mandi dan berganti pakaian.


Saat ini para penyihir hitam yang sedang berjaga di gerbang perbatasan melihat pergerakan yang sangat cepat dari arah daerah perbatasan, mereka menyadari bahwa itu pergerakan dari seorang manusia yang menggunakan kekuatan sihir hitam yang telah mengorbit banyak jiwa untuk membangkitkan nya.


"Cepat laporkan hal ini pada Ratu Min Xunzi dan Raja Min Lunxi, kemungkinan sosok itu adalah Panguasa Agung." ucap salah seorang penyihir hitam yang meminta beberapa rekannya untuk pergi ke istana dan melaporkan apa yang sedang terjadi.

__ADS_1


"Baiklah kami akan segera kembali, usahakan jangan sampai sosok itu berhasil masuk melalui gerbang perbatasan sampai kami datang." ucap seorang penyihir hitam yang langsung melesat pergi bersama beberapa rekannya menuju Istana Kerajaan Bulan.


"Perkuat sihir pertahanan kalian, kali ini musuh yang kuat datang untuk menerobos masuk!." perintah salah seorang penyihir pada rekannya yang lain. Mereka mulai mengeluarkan mana dalam jumlah yang cukup banyak untuk membuat perisai pelindung yang kuat.


Dari arah hutan perbatasan antara Klan Yie dan Kerajaan Bulan terlihat Penguasa Agung terus melesat dengan kecepatan tinggi, pemuda itu sampai di depan gerbang perbatasan Kerajaan Bulan dalam waktu yang sangat singkat. Para prajurit yang sedang berjaga di bagian depan diminta untuk mundur oleh para penyihir yang saat ini berada di atas dinding gerbang perbatasan, para penyihir itu memperingatkan bahwa musuh kali ini akan sangat sulit untuk dihadapi.


"Cepat kalian mundur lah dan jangan membantah, kami akan berusaha untuk menahannya sekuat tenaga." ucap para penyihir hitam yang sudah mempersiapkan formasi menyerang.


"Baik kami mengerti." para prajurit penjaga perbatasan langsung mundur dan berada di dalam perisai pelindung yang telah dibuat.


Yufenzu menatap tak senang ke arah para penyihir rendahan itu karna mereka sangat berani merusak kesenangannya, awalnya Yufenzu ingin membunuh semua prajurit dan penduduk yang tinggal di dekat wilayah perbatasan semua itu ia lakukan sebagai hadiah penyambutan untuknya sendiri. Yufenzu semakin dekat dengan perisai pelindung yang dibuat oleh para penyihir hitam dan sangat disayangkan ia tak dapat menembusnya dengan mudah.


"Argh sialan, dinding apa yang kalian buat di sekitar sini." ucap Yufenzu dengan berdecak kesal. Sebagai seorang Penguasa Agung ia merasa dipermainkan oleh para penyihir sialan itu, Yufenzu juga tak pernah menyangka wilayah Kerajaan Bulan memiliki sekelompok penyihir dengan kemampuan yang cukup untuk menahannya beberapa menit.


Di sisi lain saat ini empat orang penyihir kegelapan sedang melesat secepat yang mereka bisa menuju Istana Kerajaan Bulan, karna melesat terlalu cepat mereka sampai menabrak beberapa penduduk yang sedang melakukan aktivitas di pagi hari. Setelah beberapa saat akhirnya mereka sampai di depan gerbang masuk Istana Kerajaan Bulan.


"Cepat buka gerbangnya ini kondisi darurat!!." triak salah seorang penyihir dengan sangat kencang, prajurit penjaga gerbang istana langsung membukakan jalan untuk para penyihir itu masuk ke dalam.


Saat ini seluruh anggota Kerajaan Bulan sedang menikmati sarapan mereka di ruang makan, tiba tiba saja pintu ruang makan dibuka dengan paksa hingga menimbulkan suara benturan yang cukup keras. Ratu Min Xunzi, Raja Min Lunxi, Min Xome, Min Wungi, Yie Munha dan kedua pemuda dari Klan Zu menatap ke arah pintu masuk ruang makan. Terlihat empat penyihir dengan nafas tersengal sengal sedang menunjukkan raut wajah khawatir, Ratu Min Xunzi menghampiri keempat penyihir hitam itu dan menanyakan apa yang sedang terjadi.


"Saat ini sosok yang disebut dengan Penguasa Agung sudah berada di gerbang perbatasan. Semua rekan kami berusaha untuk menahannya, sepertinya Penguasa Agung bukanlah orang yang mudah untuk dikalahkan." ucap salah seorang penyihir hitam yang menjelaskan maksud kedatangan mereka dengan tak sopan ke dalam Istana Kerajaan Bulan.


"Dia sudah sampai di sini? sepertinya ia sangat marah karna kakek dan nenek gagal membawa saya kembali ke Klan Yie." ucap Yie Munha sembari meremas tangannya dengan kuat, semua ini sudah terlewat batas. Mengapa Panguasa Agung tak bisa melepaskannya begitu saja.


"Apa dia datang sendirian?." tanya Raja Min Lunxi dengan penasaran.


"Sepertinya ia datang sendirian karna kami tak melihat siapapun selain sosok itu." jawab salah seorang penyihir hitam.


"Kakek dan nenek saat ini pasti sedang di tahan di kastil. Mereka telah gagal menjalankan tugas dan mereka akan segera mendapatkan hukuman dari Penguasa Agung itu." ucap Yie Junhwa dengan tatapan tajam, ia berharap tak ada ketua klan yang menjadi korban dari kakek neneknya lagi.


"Sebaiknya kita pergi sekarang." ucap Ratu Min Xunzi yang langsung melesat keluar dari ruang makan dan melalui gerbang utama istana dengan begitu saja.


Semua orang yang ada di ruang makan pergi menyusul Ratu Min Xunzi, mereka akan berusaha sekuat mungkin untuk menahan Panguasa Agung agar tak masuk ke dalam wilayah Kerajaan Bulan. Di sisi lain saat ini Xiao Ziya masih dalam perjalanan pulang, ia meminta pada Mokuzo untuk mempercepat laju terbangnya. Perasaan Xiao Ziya saat ini sedang tak karuan, ia khawatir ada hal buruk yang sedang terjadi di wilayah Kerajaan Bulan saat ia pergi dalam waktu yang cukup lama.


"Kita akan segera sampai, saya harap Nona Besar Xiao Ziya bisa sedikit bersabar." ucap Mokuzo yang terbang sepanjang malam dengan kecepatan maksimal yang ia miliki. Perjalanan yang seharusnya ditempuh selama satu minggu penuh dapat disingkat menjadi setengah hari, kecepatan ini memang sangat luar biasa namun hati Xiao Ziya sudah tak karuan rasanya.

__ADS_1


"Bersabarlah Nona, semoga tak terjadi apapun dengan keluarga Anda yang berada di Istana Kerajaan Bulan." ucap Lunx yang ikut menenangkan Xiao Ziya.


"Firasat ku tak pernah meleset, sepetinya ada sesuatu yang sedang terjadi di sana." ucap Xiao Ziya dengan nada dingin.


Saat ini Ratu Min Xunzi dan yang lainnya telah sampai di luar gerbang perbatasan Kerajaan Bulan, mereka menatap tajam kearah seorang pemuda yang terus menangkis bola bola api dari para penyihir hitam dengan sangat mudah. Sepertinya pemuda itu adalah sosok yang sering disebut dengan Penguasa Agung, dari cerita Zu Genzi seharusnya Penguasa Agung berumur puluhan tahun atau bahkan ratusan tahun seperti Raja Artur.


"Jangan mengacau di wilayah kami, kehadiran Anda tak diinginkan di tempat ini." ucap Ratu Min Xunzi dengan tatapan tak suka, saat ini kekuatannya belum pulih sepenuhnya setelah melawan Yie Gu dan Yie Weinje beberapa waktu yang lalu.


"Dimana calon pengantin saya? saya datang kesini untuk menjemputnya. Serahkan dia kemudian saya akan pergi dari tempat ini tanpa melukai siapapun." ucap Yufenzu dengan sorot mata tajam. Pemuda itu mulai memancarkan tekanan yang sangat kuat hingga membuat perisai pelindung yang dipasang oleh para penyihir hitam retak sedikit demi sedikit kemudian pecah dan mengakibatkan banyak penyihir yang pingsan karna kehabisan mana.


"Hentikan omong kosong Anda itu, adik kami bukanlah calon pengantin siapapun. Ia masih sangat muda untuk menikah sekarang ini, lebih baik Anda mencari orang lain." ucap Yie Junghwa yang sudah bersiap dengan pedang di tangannya, ia tak akan membiarkan Penguasa Agung membawa adik perempuannya pergi.


"Begitu kah? apa kau mampu untuk menyelamatkan adik mu?." tanya Penguasa Agung dengan senyum meremehkan. Pemuda itu mengambil sebuah ranting kayu yang ada di bawah kakinya kemudian ia siap untuk melawan Yie Junhwa yang bersenjatakan pedang sungguhan.


Yie Junghwa berlari ke arah Yufenzu kemudian menyerang pemuda itu menggunakan pedangnya, anehnya pedang milik Yie Junghwa patah saat bertabrakan dengan ranting kayu milik Yuzeng. Beberapa saat setelahnya Yie Junghwa dipukul dengan sangat keras oleh Yufenzu hingga hingga ia tak sadarkan diri. Yie Cinling, Zu Junyang dan Zu Genzi maju secara bersamaan untuk menghadapi Panguasa Agung itu, mereka bertiga tau mereka akan kalah dengan cepat jika maju satu persatu.


"Wah beginikah cara bertarung para kultivator dari Lapisan Dunia Manusia Abadi." ucap Yufenzu dengan suara tawanya yang membuat mereka bertiga merasa sangat kesal.


"Kami diperintahkan untuk menjaga Nona Yie Munha karna itu kami akan melawan mu." ucap Zu Junyang dan Zu Genzi yang maju secara bersama, mereka berdua menyerang dari depan sedangkan Yie Cinling mencari kesempatan untuk menyerang dari belakang.


"Mari kita gunakan jurus yang diajarkan oleh Nona Muda." ucap Zu Junyang yang langsung mundur beberapa langkah karna serangan mereka dari tadi tak berhasil mengenai Yufenzu.


"Baiklah mari kita lakukan sekarang." ucap Zu Genzi yang ingin mencoba jurusnya juga, meskipun jurus mereka berdua tak mampu membunuh Panguasa Agung, mereka sangat berharap jurus itu mempu meninggalkan luka yang cukup serius.


"Jurus pedang enam mata angin langkah terakhir." ucap Zu Junyang dengan sorot matanya yang berubah bekali kali lipat menjadi lebih tajam, Zu Junyang melesat dengan sangat cepat kemudian menyerang Yufenzu dari berbagai sisi. Sang Penguasa Agung sedikit kerepotan menghadapi jurus pemuda itu, ia langsung melapisi tubuhnya dengan kabut berwarna hitam dan melakukan serangan balasan hingga Zu Junyang terpelanting kebelakang dan mengalami luka yang cukup parah.


"Pedang Dewi Yuzang langkah ketiga." ucap Zu Genzi yang membuat sebuah gerakan seperti tarian pedang kemudian muncul ratusan pedang diatas langit yang langsung terjun menghujani Yufenzu hingga beberapa bagian tubuhnya terluka.


"Argh sialan, beraninya kau melukai ku." triak Yufenzu yang ingin menyerang Zu Genzi namun tiba tiba ada sebuah perang yang menembus perutnya.


Yie Cinling berhasil menemukan sebuah celah dan langsung menusukkan pedangnya pada Panguasa Agung, namun membunuh Sang Penguasa Agung bukanlah hal yang mudah. Pedang milik Yie Cinling meleleh dengan sendirinya dan tak ada bekas luka pada perut pemuda itu.


"Kalian fikir trik murahan seperti ini akan membunuh ku? jangan mimpi." ucap Yufenzu dengan senyuman lebar yang sangat mengerikan.


Hai hai semua author balik lagi nih, gimana kabar kalian semoga sehat selalu ya. Jangan lupa follow buat yang belum, vote karna wajib, gift hadiah apapun makasih banget, like like like, komen buat ninggalin jejak, rate bintang lima, share juga ya.

__ADS_1


__ADS_2