RATU IBLIS

RATU IBLIS
Berjuanglah Yie Munha!


__ADS_3

Setelah kepergian sang selir dan anak anaknya, Yang Mulia Raja Yongling Zu bertepuk tangan dengan cukup kencang ia merasa puas dengan bagaimana cara Xiao Ziya melawan wanita licik itu.


"Berkat anda saya tersadar bahwa kedua anak selir itu tak mirip dengan saya ataupun anggota keluarga kerajaan yang lain, selama ini saya menyimpan rasa khawatir sendirian karna takut tak ada yang percaya pada saya. Saya harap anda bisa membantu saya menyelesaikan masalah ini Nona Ziya." ucap Raja Yongling Zu yang menaruh harapan besar pada anak tirinya itu, kedatangan Xiao Ziya membawa banyak hal baik baginya dan anggota keluarga Kerajaan Bintang Timur.


"Saya akan melakukannya bukan demi anda tapi untuk ibu saya." jawab Xiao Ziya dengan ekspektasi datar, ditempat ini ia belum bisa menaruh kepercayaan pada siapapun. Perubahan dari kakeknya tempo lalu cukup membuat pukulan yang besar bagi gadis itu.


"Saya mengerti anda belum bisa mempercayai kami, suatu hari anda akan menyadari bahwa kami semua juga bagian dari keluarga anda." ucap Yang Mulia Raja Yongling Zu, ia harus pamit karna ingin menemani Ratu Junyi Zu beristirahat.


Para pangeran dan putri yang ada di sana saling memandang satu sama lain, Putri Beiling Zu langsung menarik tangan Xiao Ziya dan mengajaknya keluar dari ruang makan utama. Sepertinya sang putri menyadari bahwa para pangeran ingin mengajak saudara tirinya itu untuk menginap di Istana Pangeran karna hal itu dengan segera Putri Beiling Zu menyelamatkan Xiao Ziya.


"Kita harus berlari dengan cepat agar segera sampai di istana putri." ucap Putri Beiling Zu pada Xiao Ziya dengan nafas tersengal sengal.


"Mengapa kita harus melakukannya Tuan Putri?." tanya Xiao Ziya yang ikut berlari meski ia tak mengerti untuk apa mereka melakukan hal itu.


"Para pangeran jelek itu ingin membawamu ke istana pangeran, tenang saja aku akan menyelamatkan mu." ucap Putri Beiling Zu dengan sangat serius, melihat wajah serius dari sang putri membuat Xiao Ziya tak bisa menahan tawanya.


"Baiklah Tuan Putri pegang tangan saya erat erat." ucap Xiao Ziya, gadis itu melesat menggunakan ilmu meringankan tubuh sehingga mereka berdua sampai di dalam istana putri dalam beberapa detik.


Para pangeran yang tadinya hampir menyusul Putri Beiling Zu dan Xiao Ziya merasa keheranan karna secara tiba tiba mereka berdua menghilang begitu saja, karna kalah dan tak bisa merebut Xiao Ziya dari Putri Beiling Zu akhirnya para pangeran kembali ke istana mereka dengan wajah kesal dan kecewa. Di sisi lain Putri Beiling Zu tak mengerti apa yang terjadi hingga ia bisa sampai di dalam istana putri dengan sangat cepat, mungkinkah adik tirinya merapalkan sebuah mantra hebat?.


"Wah, bagaimana kita bisa sampai secepat ini?." tanya Putri Beiling Zu dengan rasa penasaran yang tinggi.


"Saya menggunakan ilmu meringankan tubuh Tuan Putri." jawab Xiao Ziya dengan singkat, ia lebih nyaman bersama dengan Putri Beiling Zu daripada harus menemani para pangeran itu.


"Bisakah kau mengajarkannya padaku? aku bisa kabur dari les etika bila memiliki ilmu hebat seperti ini." ucap Putri Beiling Zu dengan tatapan mata berkaca kaca. Mengikuti les etika dengan yang ada di Istana Kerajaan Bintang Timur sangatlah melelahkan ditambah gurunya yang sangat galak dan kejam.


"Saya akan mengajarkannya pada anda di lain hari, ini sudah malam sebaiknya Tuan Putri Beiling Zu beristirahat." ucap Xiao Ziya dengan senyuman tipis.


"Hei jangan memanggilku dengan sebutan tuan putri karna itu terdengar sangat tak nyaman bagiku, bukankah kita terlahir dari ibu yang sama?. Karna aku lebih tua darimu kau harus memanggilku Beiling Jiejie." ucap Putri Beiling dengan mata melotot, ia ingin menakut nakuti Xiao Ziya agar gadis itu mau memanggilnya dengan sebutan jiejie.


"Apakah kita sedekat itu?." tanya Xiao Ziya dengan ragu ragu, ia takut Putri Beiling hanya akan memanfaatkannya saja.


"Kita memang sangat dekat, kau adalah adikku yang manis." ucap Putri Beiling yang mengingatkan Xiao Ziya dengan Xiao Xun yang selalu mengatakan hal seperti itu.


"Saya hanya takut akan dikhianati suatu hari nanti." ucap Xiao Ziya dengan jujur, wajah gadis itu berubah menjadi sedikit murung. Xiao Ziya merasa senang saat ia memiliki banyak orang yang ada di sisinya namun ia juga merasa takut suatu hari mereka akan meninggalkan dan mengkhianati Xiao Ziya.


"Aku bersumpah atas nama dewa tak akan pernah melakukan hal buruk pada adik Ziya." ucap Putri Beiling yang langsung melakukan sebuah sumpah sakral agar Xiao Ziya percaya padanya. Putri Beiling selama ini menginginkan seorang adik perempuan yang bisa ia ajak untuk berbelanja bersama, meski Putri Ming Zu juga adik tirinya namun hubungan mereka berdua sangatlah buruk.


Xiao Ziya cukup terkejut dengan tindakan Putri Beiling Zu, baru kali ini ada seseorang yang rela mengucapkan sumpah dengan nyawa mereka yang akan menjadi taruhannya. Sumpah kepada dewa adalah salah satu sumpah yang cukup sakral, dengan mengucapkan kata kata itu saja maka Putri Beiling menyerahkan nyawanya pada para dewa dan siap mendapat hukuman apapun saat melanggar apa yang telah ia ucapkan. Disitulah hati Xiao Ziya benar benar tersentuh, mungkin ia harus mencoba untuk menerima Putri Beiling sebagai jiejienya.

__ADS_1


"Terimakasih Beiling Jiejie." ucap Xiao Ziya yang langsung memeluk Putri Beiling Zu dengan erat, sang putri merasa senang karna adik kecilnya tak takut lagi padanya.


"Sebaiknya kita tidur sekarang adikku, jangan sampai kecantikan luar biasa yang kita miliki ini luntur." ucap Putri Beiling dengan sangat percaya diri. Sang putri memang memiliki sisi humor yang sulit dimengerti oleh orang lain, akan tetapi Xiao Ziya tau apa yang dimaksud oleh kakak perempuannya itu.


Akhirnya mereka berdua pergi menuju kamar utama yang ada di istana putri, kamar itu biasanya ditempati oleh Putri Beiling sendiri namun sekarang ia memiliki teman untuk tidur. Kedua gadis itu berbaring di atas ranjang yang sangat lebar kemudian mulai memejamkan mata mereka.


Hari semakin malam dan Yie Munha terbangun dari tidurnya, ia merasa sangat gelisah setelah kejadian beberapa waktu yang lalu. Yie Munha selalu berfikir bagaimana jika para penjahat itu kembali untuk mencarinya? di Klan Yuang Yie ini tak ada lagi yang bisa menjaganya. Sang ayah tak memiliki kemampuan apapun karna dantiannya hancur, kedua kakak laki lakinya akan lebih percaya pada perkataan sang kakek daripada dirinya, sang nenek juga sedang dalam kondisi yang kurang baik jadi kemana Yie Munha bisa pergi untuk menyelamatkan diri?. Gadis itu merasa sangat terpuruk, ia menangis di atas kasur dan teringat dengan kata kata Xiao Ziya mungkin benar di dunia ini tak ada yang bisa kita percaya kecuali diri kita sendiri.


"Sepertinya tak ada cara lain untuk selamat dari masalah ini." ucap Yie Munha yang mulai menguatkan hatinya.


Perlahan lahan Yie Munha membuka pintu kamar kemudian melihat keberbagai arah, setelah dirasa situasi aman ia langsung berlari menuju ruang kerja wakil ketua Klan Yuang Yie. Entah mengapa hati Yie Munha mempercayai bahwa Yie Fufu akan bersedia untuk membantunya, Yie Munha juga berjanji pada dirinya sendiri setelah mengetahui siapa nenek dari Xiao Ziya ia tak akan meminta untuk dijadikan Ratu Kerajaan Bulan ia hanya ingin pil darah saja.


Tok tok tok, suara pintu ruang kerja Yie Fufu yang diketuk oleh Yie Munha. Pria yang ada di dalam ruang kerjanya menoleh ke arah pintu, ia merasa heran karna ada orang yang bertamu malam malam seperti ini. Dengan segera Yie Fufu membukakan pintu ruang kerjanya, ia melihat wajah pucat dari Yie Munha.


"Cepat masuklah kedalam." ucap Yie Fufu yang meminta gadis itu untuk segera masuk sebelum ada orang lain yang melihat mereka.


"Terimakasih paman Yie Fufu, maaf karna mengganggu pekerjaan anda malam ini." ucap Yie Munha dengan wajah ketakutan, keringat dingin mulai menetes di keningnya.


"Apa yang terjadi padamu?." tanya Yie Fufu dengan rasa penasaran.


"Beberapa waktu lalu ada dua orang yang terus mengetuk pintu kamar saya, saat saya menanyakan siapa meraka tak ada jawaban dari luar. Hal itu terjadi beberapa kali hingga saya tertidur, entah mengapa saya yakin bahwa mereka adalah orang jahat. Tolong selamatkan saya, saya hanya ingin mencari tau siapa nenek kandung Xiao Ziya untuk mendapatkan pil darah darinya." ucap Yie Munha dengan mata berkaca kaca dan tubuh gemetaran. Gadis itu sedikit trauma dengan berbagai kejadian baru baru ini.


"Tunggulah sebentar saya akan mengambilkan sesuatu untukmu." ucap Yie Fufu yang masuk kedalam sebuah ruangan gelap di sisi lain ruang kerjanya.


Yie Munha menunggu dengan perasaan gelisah, ia takut Yie Fufu berada di pihak sang kakek dan pria itu sedang melapor pada kakeknya. Setelah beberapa menit Yie Fufu kembali dengan membawa sebuah gulungan surat usang yang penuh dengan bercak darah, selain itu Yie Fufu membawa buku harian entah milik siapa.


"Mungkin ini sudah waktunya semua kebenaran harus dibongkar, berikan ini pada Xiao Ziya karna ini satu satunya peninggalan dari nenek gadis itu yang saya miliki." ucap Yie Fufu yang mempercayakan gulungan usang serta buku harian itu pada Yie Munha.


"Saya tak akan bisa membawa benda ini keluar dari Klan Yuang Yie tanpa terlihat oleh mata mata kakek." ucap Yie Munha dengan suara isak tangisnya.


"Ambilah cincin ruang ini, simpanlah dan sampaikan amanah pada Xiao Ziya. Anggap saja kau sedang menebus dosa yang telah dibuat oleh kakek dan nenekmu." ucap Yie Fufu dengan suara pelan agar tak terdengar oleh orang lain.


"Apa yang sebenarnya terjadi pada nenek gadis itu?." tanya Yie Munha dengan rada penasaran tinggi.


"Nenek nona Ziya sudah meninggal satu bulan setelah melahirkan Tuan Lee Brian. Wanita malang itu dibunuh oleh Yie Gu dan Yie Weinje, kedua orang itu ingin menguasai Klan Yuang Yie sendiri. Kami para ketua Klan Yuang Yie ingin mengungkapkan hal ini sejak lama akan tetapi Yie Gu telah menanamkan kutukan pada kami sehingga tak bisa mengatakannya pada siapapun." ucap Yie Fufu dengan wajah yang mulai membiru, sepertinya kutukan yang diberikan oleh Yie Gu mulai bereaksi.


"Apa yang terjadi padamu paman, saya akan memanggilkan tabib jadi tunggulah sebentar." ucap Yie Munha dengan panik saat melihat perubahan pada tubuh Yie Fufu.


"Paman percaya kau gadis yang baik hanya saja didikan dari orang di sekitarmu yang salah. Kutukan ini sudah menjalar di tubuh paman dan sebentar lagi paman akan tiada, cepatlah pergi dari tempat ini sebelum Yie Gu mengetahuinya. Paman percayakan amanah ini padamu Yie Munha." ucap Yie Fufu yang semakin kesakitan, pria itu berusaha untuk tak berteriak dan menimbulkan keributan di sana.

__ADS_1


Yie Munha segera keluar dari ruang kerja Yie Fufu, gadis itu kembali menuju kamarnya dan mengemasi beberapa barang untuk kabur dari Klan Yuang Yie. Yie Munha masih belum mengerti apa yang sebenarnya terjadi, satu hal yang ada di otak gadis itu ternyata kakek dan neneknya selama ini hanya memanfaatkan dirinya saja.


"Aku harus segera pergi." ucap Yie Munha, ia memasukkan semua barang barangnya ke dalam cincin ruang yang diberikan oleh Yie Fufu. Setelah semuanya siap gadis itu keluar melewati jendela kamarnya, Yie Munha berlari dengan kencang menuju perbatasan Klan Yuang Yie.


Kedua pembunuh bayaran yang disewa oleh Yie Gu melihat target mereka sedang berlari menuju perbatasan klan, melihat pergerakan semacam itu membuat mereka berdua merasa curiga dan langsung mengikuti Yie Munha. Saat akan melewati perbatasan Klan Yuang Yie dengan hutan yang berada di Kerajaan Bulan beberapa prajurit penjaga perbatasan menghentikan langkah gadis itu.


"Apa yang anda lakukan malam malam sepeti ino Nona Yie Munha?." tanya seorang prajurit penjaga perbatasan dengan tatapan bingung. Tak bisanya gadis manja itu berkeliaran malam hari, mungkinkah ada hal buruk yang sedang terjadi di Kastil Klan Yuang Yie.


"Saya harus pergi ke Kerajaan Bulan untuk meminta obat untuk kesembuhan nenek saya, saat ini kondisi nenek saya benar benar kritis." jawab Yie Munha dengan ekspresi panik, ia mencari sebuah alasan yang sangat tepat hingga para prajurit penjaga perbatasan mempercayainya.


"Baiklah hati hati di jalan Nona Yie Munha." ucap para penjaga perbatasan yang mempersilahkan Yie Munha untuk pergi dari wilayah Klan Yuang Yie menuju Kerajaan Bulan.


Kedua pembunuh bayaran itu menatap kepergian Yie Munha, mereka tak tau jika kondisi Yie Weinje saat ini sedang kritis. Karna penasaran dengan apa yang sedang terjadi di Klan Yuang Yie akhirnya kedua pembunuh bayaran pergi untuk menemui Yie Gu.


Di sisi lain Xiao Ziya merasa tak nyaman saat tidur seperti ada yang mengganggunya, akhirnya Xiao Ziya membuka mata dan mencoba untuk menenangkan diri.


"Apa yang sedang terjadi." ucap Xiao Ziya dengan bingung.


Kenzo sang buku tengkorak yang berada di dalam dantian Xiao Ziya terbangun, Kenzo merasakan rasa cemas yang sedang menyelimuti perasaan dari nona mudanya itu. Kenzo berusaha berkonsentrasi dan melihat apa yang sedang terjadi pada orang orang yang dikenal oleh nona mudanya, dan Kenzo melihat Yie Munha sedang berlarian dari hutan Kerajaan Bulan menuju gerbang masuk wilayah Kerajaan Bulan.


"Nona muda saya menemukan sesuatu yang sangat mencurigakan." ucap Kenzo yang sedang melakukan interaksi batin dengan Ziya.


"Apa yang kau lihat?." tanya Xiao Ziya dengan ekspresi cemas, jangan sampai ada hal buruk yang terjadi pada orang orang di dekatnya.


Kenzo menjelaskan pada Xiao Ziya bahwa ia melihat Yie Munha yang sedang berlari dari hutan perbatasan antara Klan Yuang Yie dan Kerajaan Bulan, sepertinya gadis itu ingin pergi ke gerbang masuk wilayah Kerajaan Bulan. Menurut Kenzo kemungkinan besar Yie Munha sudah mengetahui siapa nenek kandung dari nona mudanya akan tetapi gadis itu dikejar oleh beberapa orang yang sedari dulu merahasiakan nama serta kejadian yang menimpa nenek kandung Xiao Ziya. Mendengar penjelasan dari sang buku tengkorak membuat Ziya semakin cemas, saat ini ia berada di wilayah Kerajaan Bintang Timur dan akan membutuhkan waktu lama untuk sampai di sana. Dunia manusia abadi bukanlah tempat sembarangan dimana semua kultivator bisa menggunakan teleportasi sesuka hati mereka, akan lebih mudah menerobos pertahanan luar dari dunia manusia abadi daripada harus berteleportasi dari satu wilayah ke wilayah lain.


"Argh apa yang sedang terjadi di sana." ucap Xiao Ziya yang semakin cemas bila sesuatu terjadi pada Yie Munha.


Akhirnya gadis itu berusaha untuk melakukan telepati dengan Ratu Min Xunzi yang masih menetap di Kerajaan Bulan, beberapa kali Xiao Ziya berusaha mencobanya namun gagal karna sang ratu sedang tertidur pulas. Xiao Ziya mencoba lagi pada beberapa sepupunya namun yang berhasil hanyalah Min Xome.


"Ada apa adik sepupu? mengapa tiba tiba kau melakukan telepati?." tanya Min Xome dengan nada bingung.


"Saya membutuhkan bantuan anda." ucap Xiao Ziya dengan tergesa gesa.


"Katakanlah dan saya akan membantumu." jawab Min Xome, pemuda itu menjadi panik setelah mendengar nada bicara dari Xiao Ziya.


"Saat ini Yie Munha sedang berusaha untuk sampai di Istana Kerajaan Bulan secepat mungkin, sepertinya ia sudah mengetahui siapa nenek kandung saya. Tolong jemput gadis itu karna saat ini ia sedang dalam bahaya, saya tak bisa melakukan apapun saat ini." ucap Xiao Ziya dengan suara gemetaran, ia memang tak menyukai Yie Munha akan tetapi Ziya akan tetap bertanggung jawan atas keselamatan gadis itu karna telah melakukan tugasnya dengan baik.


"Adik sepupu tenang saja, saya akan membangunkan yang lain dan segera menjemput Yie Munha." ucap Min Xome, pemuda itu segera memutus telepati antara dirinya dengan Xiao Ziya.

__ADS_1


Hai hai semua author balik lagi nih. Jangan lupa follow buat yang belum, vote karna wajib, gift hadiah apapun, like like like, komen, share. Jangan lupa juga kalian mampir ke Novel Ling Huo ya.


__ADS_2