RATU IBLIS

RATU IBLIS
Desa Elnz


__ADS_3

Setelah selesai berpamitan dengan para bangsa elf, Xiao Ziya langsung mengajak Lunx untuk pergi dari pedang gandum tersebut. Xiao Ziya terus menyusuri hamparan padang gandum hingga gadis itu menemukan ujung dari ujung padang gandum tersebut, di belakang Xiao Ziya ada Lunx yang sedang mengikutinya dari belakang, leluhur elf itu ingin menanyakan kemana nona mudanya akan pergi namun ia merasa enggan saat akan menanyakan hal tersebut.


"Apa ada sesuatu yang membuatmu cemas?." tanya Xiao Ziya sembari membalikkan badan dan menatap ke arah Lunx.


"Saya ingin tau kemana Nona Ziya akan pergi, saya pernah mendengar bahwa di balik padang gandum terdapat sebuah wilayah yang sangat dingin dan dapat membekukan manusia yang datang ke sana." ucap Lunx yang kini sedang mencemaskan keselamatan Xiao Ziya. Bagaimana jika tiba tiba noma muda barunya itu membeku? siapa yang akan membantunya untuk mengembalikan semua jiwa miliknya yang telah terpisah.


"Memang tempat itu yang ingin saya tuju, ada sebuah tugas yang harus saya selesaikan." jawab Xiao Ziya dengan santai, seberapapun dinginnya Desa Elnz gadis itu tak akan mundur untuk menemukan sisa jiwa nenek kandungnya.


"Baiklah jika begitu saya akan berusaha untuk melindungi Anda." ucap Lunx yang hanya bisa mematuhi dan menuruti keinginan Xiao Ziya.


Xiao Ziya dan Lunx terus berjalan dan kali ini rute yang mereka lewati adalah hutan biasa pada umumnya, Xiao Ziya menoleh ke kanan dan ke kiri untuk melihat apakah ada sesuatu mencurigakan di sekitarnya. Saat Xiao Ziya sedang mengedarkan pandangan ke berbagai sudut hutan, gadis itu merasakan aura dingin dari beberapa pohon yang ada di sekitarnya. Xiao Ziya hanya tersenyum tipis saat mengetahui ada orang lain yang sedang mengawasi pergerakannya saat ia baru saja menginjakkan kaki di hutan itu.


"Sebaiknya kita bergegas pergi, saha tak memiliki banyak waktu lagi." ucap Xiao Ziya kemudian gadis itu langsung melesat dengan kecepatan penuh, Lunx yang terkejut langsung berusaha untuk menyusul nona mudanya itu.


Empat pemuda yang sedang mengawasi pergerakan gadis asing itu menjadi kelabakan, mereka tak akan bisa mengimbangi kecepatan tak masuk akal dari gadis serta seorang elf yang baru saja memasuki wilayah mereka. Keempat pemuda itu langsung menganggukkan kepala mereka dan memutuskan untuk kembali ke Desa Elnz dan melaporkan kejadian tersebut pada kepala desa. Keempat pemuda yang mengawasi Xiao Ziya adalah penduduk yang tinggal di Desa Elnz, mereka berempat lebih dikenal dengan empat kesatria sihir Pelindung Desa Elnz.


"Menurutmu apakah gadis itu akan baik baik saja saat sudah memasuki wilayah terluar desa kita?" tanya seorang pemuda dengan rambut berwarna putih pada ketiga temannya yang lain. Pemuda itu sempat melihat kecantikan paras Xiao Ziya sehingga merasa tak baik jika gadis secantik itu mati begitu saja.


"Bukankah selama ini semua manusia biasa yang masuk ke dalam wilayah desa kita akan langsung membeku." ucap salah seorang pemuda dengan rambut berwarna biru


muda.


"Sangat disayangkan jika gadis seperti itu mati begitu saja." ucap pemuda berambut putih dengan ekspresi sedih.


"Jangan bilang kau jatuh hati padanya? seorang penyihir seperti kita dilarang memiliki hubungan dengan manusia biasa. Bagaimanapun tradisi tetaplah tradisi dan harus ditaati." ucap pemuda berambut hitam yang sedang mengingatkan pemuda berambut putih.


"Aku tak melupakan hal itu." ucap pemuda berambut putih, terlihat wajahnya menunjukkan ekspresi kesal. Apa salahnya jika ia tertarik dengan seorang gadis yang memiliki paras cantik, ia juga pemuda normal yang menyukai keindahan seperti itu.


"Kalian berhenti bertengkar, yang harus kita lakukan sekarang ini adalah melapor pada kepala desa." ucap pemuda dengan rambut pirang, ia satu satunya pemuda dengan otak yang masih waras dibandingkan ketiga temannya yang lain.


Akhirnya ketiga pemuda yang sempat berdebat langsung diam, meraka tak ingin memperkeruh suasana dengan membuat pemuda berambut perak marah. Diantara keempat kesatria sihir pelindung Desa Elnz, pemuda dengan rambut perak memiliki kekuatan sihir yang lebih unggul dari rekannya yang lain. Akhirnya mereka berempat segera pergi menuju desa sebelum terjadi sesuatu yang tak diinginkan, bagaimanapun juga tak menutup kemungkinan jika gadis manusia dan elf itu tahan terhadap hawa sedingin itu.


Saat ini Xiao Ziya dan Lunx sudah sampai di perbatasan paling luar Desa Elnz, gadis itu merasakan aura dingin yang sangat luar biasa hingga tubuh Xiao Ziya hampir membeku. Dengan segera Xiao Ziya melapisi seluruh tubuhnya menggunakan api hitam miliknya, untunglah Lunx sang leluhur elf tahan terhadap hawa dingin seperti ini.


"Apakah Nona Ziya masih kedinginan?." tanya Lunx dengan tatapan khawatir, leluhur elf sedang memastikan apakah nona mudanya akan baik baik saja jika ia tetap berada di hawa dingin.


"Saya baik baik saja Tuan Lunx, tak perlu khawatir dengan kondisi saya." jawab Xiao Ziya dengan senyuman hangat yang menyakinkan Lunx bahwa gadis itu akan baik baik saja meskipun terkana hawa dingin dalam waktu yang cukup lama.


Xiao Ziya terus berjalan mendekat ke arah sebuah dinding es yang sangat tinggi, sepertinya dinding es tersebut merupakan dinding pembatas yang menjadi gerbang sebagai akses keluar masuk dari Desa Elnz. Xiao Ziya mendongakkan kepalanya ke atas, ia melihat betapa tingginya dinding es itu dan bagaimana cara penduduk di Desa Elnz membuat dinding setinggi itu?. Xiao Ziya ingin masuk ke dalam namun beberapa penduduk desa yang sedang berjaga di depan gerbang perbatasan menghadang Xiao Ziya saat ingin masuk ke dalam.

__ADS_1


"Pergilah nona, tempat ini bukanlah tempat yang bisa dikunjungi oleh manusia biasa." ucap salah seorang penduduk Desa Elnz dengan tatapan dingin yang ia berikan pada Xiao Ziya.


"Maaf bisakah saya masuk kedalam? ada sesuatu yang ingin saya lakukan di tempat ini." tanya Xiao Ziya dengan sopan dan nada bicara lembut.


Beberapa penduduk Desa Elnz yang sedang berjaga saling bertatapan satu sama lain, mereka merasa bingung haruskah mereka memberikan izin pada gadis manusia serta elf yang ada di belakangnya itu. Saat beberapa penduduk Desa Elnz sedang berdiskusi tiba tiba saja keempat kesatria sihir datang dan langsung berjalan untuk bertemu dengan Xiao Ziya.


"Hei gadis manusia, apakah kau tak mendengar apa yang mereka katakan?." tanya seorang pemuda dengan rambut hitam, pemuda itu menatap Xiao Ziya dengan tatapan tak suka.


"Izinkan saya untuk masuk kedalam dan bertemu dengan kepala desa, saya kesini bukan untuk membuat masalah melainkan ada hal penting yang harus saya lakukan." jelas Xiao Ziya pada keempat pemuda itu.


"Apapun alasannya, Anda dilarang untuk masuk ke dalam wilayah Desa Elnz." ucap seorang pemuda berambut biru yang sama keras kepalanya dengan pemuda berambut hitam.


Xiao Ziya menatap ke arah Lunx, gadis itu memberikan isyarat pada leluhur elf itu bahwa satu satunya cara untuk masuk ke dalam desa dengan melawan para penduduk yang sedang menghadang mereka. Lunx menganggukkan kepalanya sebagai pertanda bahwa ia mengerti dengan isyarat yang diberikan oleh Xiao Ziya, dengan segera Lunx mengeluarkan tongkat sihirnya dan bersiap untuk bertarung dengan para penyihir es dari Desa Elnz.


"Inikah pilihan Anda nona cantik? saya harap Anda tak akan menyesalinya." ucap pria berambut hitam, ia sudah siap dengan dua pedang yang terbentuk dari es yang sangat dingin.


"Kalahkan pemuda itu untuk saya." ucap Xiao Ziya yang memberikan perintah pada Lunx, dengan senang hati leluhur elf itu maju kemudian menyerang pemuda berambut hitam menggunakan tongkat sihir panjangnya.


Meskipun tongkat sihir milik Lunx terbuat dari kayu namun sanggup menyaingi pedang elemen es milik pemuda itu, setelah pertarungan yang cukup panjang pemuda dengan rambut hitam itu terpental beberapa meter kebelakang dan ia kalah. Xiao Ziya dengan segera meminta Lunx untuk mundur ke belakang saat pemuda berambut perak maju untuk membalas kekalahan rekannya itu.


"Dia bukan lawan yang mudah, tolong mundur lah Tuan Lunx." ucap Xiao Ziya dengan tatapan serius. Tanpa mengatakan apapun Lunx langsung mundur dan mematuhi perintah dari Xiao Ziya, pria tua itu memasukkan kembali tongkat sihirnya kedalam ruang dimensi yang ia miliki. Trinzes adalah nama dari pemuda berambut perak itu, dengan kekuatan yang ia miliki saat ini mungkin ia sanggup membekukan sebuah gunung hanya dalam waktu beberapa menit saja.


"Hey Trinzes, jangan melukai gadis cantik itu." ucap pemuda berambut putih yang memberikan peringatan pada temannya itu.


"Haish, kau sangat berisik." ucap Trinzes dengan tatapan kesal.


Trinzes mengeluarkan aura yang sangat dingin dari telapak tangan sebelah kirinya, ia mengarahkan aura dingin itu pada Xiao Ziya. Aura dingin yang tadinya tak memiliki bentuk apapun tiba tiba berubah menadi jutaan duri es dengan ukuran yang cukup besar, untuk melindungi dirinya Xiao Ziya langsung membuat perisai menggunakan api hitam yang ia miliki. Berkat api hitam itu semua duri es yang melesat ke arah nya meleleh menjadi air. Trinzes menatap ke arah Xiao Ziya dengan tatapan tak suka, kekalahannya kali ini membuatnya sangat malu karna ia kalah dari seorang gadis manusia.


"Panggilkan saja kepala desa, saya ingin membahas beberapa hal penting dengannya." ucap Xiao Ziya lagi, ia tak ingin membuat keributan di Desa yang telah menjaga jiwa milik neneknya selama puluhan tahun itu.


"Kau harus melawan kami jika ingin bertemu dengan kepala desa." ucap keempat kesatria sihir pelindung Desa Elnz.


Tiba tiba tekanan aura dingin yang ada di sekitar Xiao Ziya meningkatkan secara drastis, muncul ribuan bola es di atas Xiao Ziya dan siap untuk menyerang gadis itu. Xiao Ziya tersenyum miring karna lawannya kali ini cukup tangguh meski belum mampu untuk menggores luka di tubuh Ziya, gadis itu tantu tak ingin kalah dari pemuda berambut perak yang kini sedang menatapnya dengan tatapan penuh kebencian itu. Bunga mawar es yang ada di dalam lautan spiritual Xiao Ziya mekar secara bersama, mawar mawar itu memancarkan aura dingin yang sangat luar bisa. Jika kekuatan para penyihir di Desa Elnz dapat membekukan seseorang dalam satu menit maka kekuatan sihir es milik Xiao Ziya dapat membekukan jantung seseorang kurang dari lima detik tanpa menyentuh tubuh bagian luar.


Xiao Ziya memejamkan mata sebentar ia sedang berkonsentrasi dan menyalurkan seluruh energi dari mawar es kedalam tubuhnya, tiba tiba saja penampilannya gadis itu berubah secara drastis. Rambut yang awalnya berwarna hitam kini berubah menjadi biru ke perak perakan, kulit Xiao Ziya berwarna pucat sama seperti es yang ada di sekitarnya, kemudian saat gadis itu membuka mata tatapannya semakin tajam dengan mata berwarna biru yang sangat indah. Trinzes dan ketiga pemuda lain menelan ludah mereka dengan kasar, bagaimana mungkin ada gadis secantik itu di dunia ini? kecantikan dari gadis asing itu sangat mirip dengan apa yang pernah meraka baca di buku kuno penyihir es.


"Baiklah mari kita serius bertarung sekarang." ucap Xiao Ziya dengan kata kata yang terkesan dingin.


Trinzes menggerakkan tangannya ke bawah hingga ribuan bola es yang ada di atas kepala Xiao Ziya jatuh secara bersama dan menghujani gadis itu tanpa henti, anehnya tak ada satu pun ledakan dari bola bola es itu yang dapat mengenai tubuh gadis asing yang sedang Trinzes lawan. Karna lawannya kali ini sangat kuat ia pun membuat sebuah lingkaran sihir yang sangat besar, Trinzes membaca sebuah mantra sihir kemudian muncul puluhan serigala es dari lingkaran sihir pemuda itu.

__ADS_1


"Serang dia!." ucap Trinzes yang memberikan perintah pada serigala serigala es milik ya. Hal aneh pun kembali terjadi, puluhan serigala es itu hanya menatap ke arah Xiao Ziya dengan wajah ketakutan bahkan beberapa diantara mereka ada yang menundukkan kepala.


"Mengapa kalian diam saya, cepat serang gadis itu." bentak Trinzes yang sudah sangat kesal, serangan seperti apa lagi yang harus ia berikan untuk mengalahkan sang gadis manusia biasa.


"Maaf Tuan Muda, meskipun Anda adalah pemilik kami dan orang yang telah merawat kami namun kami lebih menghormati Nona Muda yang ada di hadapan kami ini. Kali ini pasukan serigala es tak bisa membantu Anda." ucap seekor serigala es pada tuannya dengan jujur. Mereka juga tak menyangka keberadaan yang sangat agung tiba tiba muncul di tempat terpencil seperti Desa Elnz ini.


"Pergilah dan jangan ikut campur dengan urusan saya di desa ini." ucap Xiao Ziya sembari menatap tajam ke arah sekelompok serigala es yang dipanggil oleh pemuda berambut perak itu.


"Kami tak akan berani menganggu Anda, kami pamit undur diri." ucap sekelompok serigala es itu yang langsung berlari sekencang yang mereka bisa ke sisi lain Desa Elnz.


Trinzes dan ketiga anggota kesatria sihir yang lain menunjukkan raut wajah tak senang, apa yang harus ditakuti pada seorang gadis manusia yang hanya menguasai sihir es tingkat rendah seperti itu? sepertinya para serigala es telah mendapatkan pengaruh buruk dari sang gadis.


"Pergilah dari sini gadis manusia sebelum kami bertindak lebih jauh lagi." ucap Elmo sang pemuda berambut biru.


"Nama saya Xiao Ziya, jangan panggil saya dengan sebutan gadis manusia." jawab Xiao Ziya dengan tatapan dingin, gadis itu tak akan pergi dari sana sebelum menemukan pedang yang menyimpan sisa jiwa dari neneknya.


"Mengapa kau sangat keras kepala seperti ini, semua ini demi keselamatan mu sendiri." ucap Clay sang pemuda berambut putih yang memiliki ketertarikan pada Xiao Ziya.


"Ada hal penting yang harus saya lakukan di desa kalian, izinkan saya untuk bertemu dengan kepala desa." ucap Xiao Ziya dengan jawaban yang masih sama.


Keempat pemuda itu saling bertatapan satu sama lain, mereka membuat jarak yang cukup jauh dengan Xiao Ziya. Setelah itu keempatnya membentuk sebuah pola bintang di atas lapisan es yang mereka pihak, dengan serempak keempat pemuda itu membaca mantra sihir kemudian muncul energi sihir yang sangat kuat di hadapan mereka, ini satu satunya cara untuk mengusir gadis bernama Xiao Ziya itu dari gerbang masuk desa sebelum kepala desa datang untuk membunuhnya.


"Kami bisa membunuhmu dengan bola energi ini." ucap Elmo dengan tatapan serius.


Xiao Ziya terlihat santai meski bola energi berwarna biru muda itu terlihat sangat kuat, di sisi lain Lunx benar benar mengkhawatirkan kondisi nona mudanya. Lunx ingin meminta nona mudanya mundur dalam pertarungan kali ini dan mereka akan memikirkan cara lain untuk masuk ke dalam desa tersebut, akan tetapi Lunx yakin bahwa sarannya tak akan di dengar oleh nona muda.


"Lakukanlah apa yang ingin kalian lakukan, niatan ku tetap sama yaitu bertemu dengan kepala desa." ucap Xiao Ziya dengan tegas.


Clay, Zien, Trinzes, dan Elmo menyerang Xiao Ziya secara bersamaan menggunakan bola energi yang telah mereka buat, bila energi dengan ukuran yang sangat besar itu melesat dengan begitu cepat ke arah Xiao Ziya. Setelah sangat dekat dengan Xiao Ziya, bola itu meledakkan energi yang terdapat di dalamnya hingga menimbulkan suara yang sangat nyaring. Beberapa penduduk Desa Elnz penasaran dengan apa yamg sedang terjadi di luar gerbang perbatasan namun mereka dilarang untuk melihat olah para penjaga.


"Nona Ziya apakah Anda baik baik saja!." triak Lunx dengan suara yang kencang, leluhur bangsa elf itu berusaha mencari keberadaan nona mudanya di balik asap dingin yang sangat tebal, belum sempat ia menemukan Xiao Ziya tiba tiba ia melihat sebuah mawar berwarna biru dengan ukuran yang sangat besar mekar di hadapannya, di dalam mawar itu terdapat sang nona muda yang sedang ia cari.


"Siapkan diri kalian untuk menerima serangan balasan." ucap Xiao Ziya dengan tatapan tajam, kali ini gadis itu akan memberikan serangan balasan pada keempat pemuda yang ada di hadapannya.


"Tarian mawar seribu malam." ucap Xiao Ziya dengan cahaya berwarna biru terang yang menyinari seluruh tubuhnya. Tiba tiba saja dari atas langit muncul ratusan ribu mawar berwarna biru hingga menutupi seluruh langit di Desa Elnz, kepala desa yang tadinya tenang dan tak mengkhawatirkan pertarungan itu langsung berlari keluar dari rumahnya untuk memastikan apakah mawar mawar itu adalah mawar es yang sama dengan catatan buku kuno?.


"Nona Besar telah datang!!." triak kepala desa dengan sangat kencang, ia begitu takut jika gadis yang telah ditakdirkan marah kemudian mengobrak abrik Desa Elnz ini.


Tanpa basa basi sang kepala desa langsung melesat secepat yang ia bisa menuju gerbang masuk Desa Elnz, ia berharap semuanya belum terlambat karna serangan dari mawar es dapat menghancurkan apapun dalam sekejap mata. Di sisi lain saat ini keempat kesatria sihir merasa tertekan dengan aura kuat yang keluar dari tubuh Xiao Ziya, tubuh mereka juga gemetaran dan hampir tak sanggup untuk berdiri lagi.

__ADS_1


"Sekali lagi saya katakan, panggil kepala desa karna saya ingin bertemu dengannya." ucap Xiao Ziya dengan tatapan tajam yang ia arahkan pada keempat pemuda itu. Ia sudah tak memiliki banyak waktu lagi dan berharap keempat pemuda itu mau mengerti sebelum ia bertindak lebih jauh. Satu hal yang membuat Xiao Ziya mati matian menahan dirinya, Desa Elnz adalah tempat dimana pedang yang menyimpan jiwa nenek Xiao Ziya berada, karnanya Xiao Ziya tak ingin menghancurkan tempat itu


__ADS_2