
Xiao Yungha merasa sangat kesal karna ayah angkatnya tidak dapat membalas perkataan dari Xiao Ziya, gadis itu mengambil sebuah batu yang berada di bawah kakinya kemudian melemparkan batu itu hingga mengenai kening Ziya. Semua murid yang sedang berlatih di lapangan menunjukkan ekspresi terkejut mereka, tindakan Xiao Yungha sudah terlewat batas karna kali ini secara terang terangan mengusik Nona Muda Xiao Ziya.
Meskipun keningnya terluka Xiao Ziya hanya diam sembari menunjukkan senyuman manis, Xiao Ciyun merasakan firasat buruk saat melihat senyuman itu.
"Besok saya tidak ingin mendengar gadis ini memakai marga Xiao lagi, jika Anda tidak bisa melakukan hal itu maka posisi pemimpin Klan Xiao akan saya serahkan pada ketua yang lain." ucap Xiao Ziya dengan ekspresi yang langsung berubah menjadi tatapan dingin.
Xiao Ciyun terkejut mendengar hal tersebut, apa yang harus ia lakukan sekarang?. Ia tidak tega jika harus mengeluarkan putri angkatnya itu dari Klan Xiao namun di sisi lain ia juga tidak ingin kehilangan posisinya sebagai ketua klan. Xiao Yungha mengepalkan tangannya dengan kuat, ia tak akan melepas posisinya sebagai putri dari pemimpin Klan Xiao. Selama tinggal di dalam klan ia mendapat banyak fasilitas dan hidup dengan nyaman, jika ia sampai ditendang keluar maka hidupnya akan sangat berantakan.
"Tidak, saya tidak bisa melakukan hal itu. Saya telah menganggapnya sebagai putri kandung saya." ucap Xiao Ciyun, kali ini ia akan melawan Xiao Ziya demi putri angkatnya itu.
"Apakah saya terlihat peduli dengan hal itu?. Silahkan turun dari tahta pemimpin Klan Xiao jika tidak sanggup memenuhi keinginan saya, lagipula bagaimana bisa Anda mengangkat gadis liar sepertinya menjadi putri Anda?. Saya juga sangat yakin banyak anggota Klan Xiao yang tidak menyukai kehadirannya di sini." ucap Xiao Ziya.
Mata Yie Yungha terlihat berkaca-kaca, gadis itu terjatuh ke tanah kemudian menangis sejadi jadinya. Gadis itu berusaha menarik simpati para murid Klan Xiao yang sedang berlatih untuk berada di pihaknya, sangat disayangkan para murid sudah sangat muak dengan sikap Xiao Yungha hingga mereka diam saja dan tak menunjukkan respon apapun. Karna rencananya gagal Xiao Yungha menangis dengan lebih kencang, Xiao Ziya yang merasa terganggu dengan tangisan gadis itu berjongkok dan menatap lekat wajah Xiao Yungha.
Plak...
Sebuah tamparan keras mendarat di pipi sebelah kiri Xiao Yungha, tamparan itu meninggalkan bekas telapak tangan yang terlihat dengan sangat jelas.
"Suara tangisan mu itu sangat mengganggu, apa kau ini seorang anak berusia lima tahun yang hanya bisa menangis ketika menginginkan sesuatu?. Berkacalah agar kau tau seberapa menjijikkannya dirimu itu." ucap Xiao Ziya dengan kata kata yang cukup kasar, gadis itu hampir kehilangan kesabaran saat terganggu dengan tangisan Xiao Yungha.
Xiao Yungha memegang pipinya, ia tak menyangka Xiao Ziya berani menamparnya dihadapan semua orang. Karna situasinya semakin kacau akhirnya Xiao Ciyun membantu putri angkanya itu untuk berdiri kemudian pergi dari sana, di dalam hati pria itu ia berjanji akan membalas penghinaan yang dilakukan oleh Xiao Ziya.
"Kalian baik baik saja?." tanya Xiao Ziya sembari menatap ke arah anggota kelompok Xiao Zuen.
"Kami baik baik saja Nona Ziya, terimakasih atas bantuannya." ucap Xiao Zuen mewakili anggota kelompoknya yang lain.
"Kalau begitu saya permisi terlebih dahulu, sampai jumpa." ucap Xiao Ziya, gadis itu melesat dengan kecepatan tinggi meninggalkan lapangan tempat berlatih para murid.
Setelah berada di area dalam Klan Xiao, Xiao Ziya berjalan dengan santai menyusuri setiap lorong yang ada di sana. Gadis itu ingin pergi menemui sang ayah untuk membicarakan beberapa hal penting salah satunya perubahan sikap Xiao Ciyun yang terlalu drastis selama ia tinggal beberapa tahun belakangan ini, mungkin saja hal itu berkaitan dengan kemunculan Xiao Yungha dalam kehidupan Xiao Cunyu.
Saat sedang berjalan menuju ruang kerja ketua klan ia berpapasan dengan Xiao Yan yang baru saja keluar dari sebuah ruangan sembari membawa alat kebersihan, pemuda itu masih menjalankan hukuman yang diberikan sang adik walaupun tak ada yang memantaunya. Mata Xiao Yan melebar saat melihat sebuah luka di kening adik kesayangannya, siapa orang yang telah berani melukai adiknya itu.
"Ada apa Gege? mengapa melihat saya seperti itu." tanya Xiao Ziya dengan tatapan bingung, seingatnya ia tak melakukan kesalahan apapun namun mengapa kakak tertuanya itu menunjukan ekspresi kesal?.
__ADS_1
"Bajingan mana yang telah melukai kening mu itu? aku akan memukulnya hingga babak belur." ucap Xiao Yan.
"Ah luka ini, jangan terlalu cemas. Kening saya terluka karna dilempari batu oleh anak angkat Paman Cunyu." jawab Xiao Ziya dengan santai karna lukanya itu tak terlalu parah.
"Gadis sialan itu selalu membuat ulah dimanapun ia pergi. Tunggulah di sini gege akan memberikan pelajaran padanya." ucap Xiao Yan yang ingin pergi untuk memberikan pelajaran pada Xiao Yungha.
Xiao Ziya menahan kakak pertamanya itu agar tidak pergi, untuk sementara waktu biarlah Xiao Ciyun bersama putri angkatnya itu melakukan apapun yang mereka inginkan karna perlahan lahan mereka akan hancur dengan sendirinya. Lagipula percuma jika Xiao Yan memarahi pamannya itu karna sang paman hanya mempercayai apa yang dikatakan oleh putri angkatnya saja.
"Baiklah aku tidak akan memperpanjang masalah ini namun jika gadis itu kembali berulah akan ku pastikan ia mendapatkan pelajaran yang tak akan pernah terlupakan." ucap Xiao Yan sembari menahan emosinya yang meluap luap.
"Saya tidak akan melarang gege menghukumnya jika ia mengulang kesalahan yang sama. Saya pergi terlebih dahulu karna ada urusan dengan ayah." ucap Xiao Ziya, gadis itu melanjutkan langkahnya dan meninggalkan Xiao Yan di sana sendirian. Xiao Yan menatap kepergian sang adik, ia tersenyum tipis kemudian melangkah menjauh.
Saat berjalan menyusuri lorong lorong yang ada di Klan Xiao banyak murid yang menanyakan kondisi gadis itu akibat luka di keningnya, setelah beberapa menit berjalan akhirnya Xiao Ziya sampai di depan pintu ruang kerja untuk para ketua Klan Xiao.
Tok tok tok...
Xiao Ziya mengetuk pintu, setelah mendapatkan jawaban dari dalam ia langsung masuk dan menghampiri sang ayah yang berada di meja paling ujung. Beberapa ketua klan menatap ke arah gadis itu dengan tatapan terkejut, siapa orang yang berani melukai Nona Xiao Ziya?.
"Salam hormat saya pada ayah, maaf karna saya harus mengganggu waktu Anda sebentar." ucap Xiao Ziya sembari menundukkan kepalanya.
"Silahkan duduk putriku, ayah tidak merasa terganggu dengan kedatangan mu." jawab Xiao Cunyu dengan senyuman hangat.
Xiao Ziya duduk di kursi yang ada di depan sang ayah, ia menatap ke arah ayahnya itu dengan tatapan serius. Ada beberapa rencana gadis itu yang perlu dirundingkan dengan ayahnya terlebih dahulu, mungkin ia menetap di dunia bawah sekitar satu hingga dua bulan kemudian harus pergi lagi untuk menyelesaikan urusannya yang lain.
"Setelah kembali saya cukup terkejut dengan perubahan sikap paman Xiao Ciyun, karna saat ini otoritas telah saya serahkan secara penuh padanya saya akan mencabut pengaruh saya pada klan ini termasuk pasokan beras dari kota kecil milik saya yang ada di perbatasan wilayah Kekaisaran Qiyu. Mungkin akan terjadi kerugian besar di dalam klan ini, ada beberapa pihak yang akan memutuskan kerja sama mereka dengan Klan Xiao untuk sementara waktu hingga saya kembali memegang otoritas itu. Apakah ayah dan yang lain akan tetap bertahan di sini atau pergi dengan saya menuju kota kecil dan tinggal di sana untuk segmen waktu, ini hanyalah saran dari saya." ucap Xiao Ziya yang sedang menyampaikan sarannya.
"Ah ternyata begitu, ayah rasa akan sangat sulit bertahan di klan ini tanpa ada pengaruh besar seperti mu. Kebanyakan pihak yang bekerjasama dengan Klan Xiao karna menghargai mu sebagai pemimpin mereka." jawab Xiao Cunyu dengan menghela nafas panjang.
Suasana di ruang kerja para ketua klan terasa hening untuk beberapa saat, sepertinya ketua klan yang lain sedang memikirkan pilihan mereka. Apa yang akan terjadi pada Klan Xiao jika dibiarkan Xiao Ciyun yang mengurusnya sendiri? mungkin saja klan ini akan hancur atau yang lebih buruk direbut oleh pihak lain.
"Sepertinya kami akan menetap di sini Nona Ziya, saya tak bisa membayangkan akan seperti apa nantinya klan ini jika hanya dikelola oleh pemimpin bodoh itu." ucap Xiao Yuza yang memilih untuk bertahan di Klan Xiao.
"Saya juga akan menetap di sini meski harus mengambil jarak dengan pemimpin klan, setidaknya dengan kehadiran kami klan ini tidak akan hancur dalam satu malam." ucap Xiao Anmi dengan senyuman lebar.
__ADS_1
"Ya akan lebih baik jika kami terus berada di dalam klan dan mengawasi pergerakan pemimpin, saya khawatir ia akan menggila dan melakukan tindakan diluar batas nantinya." ucap Xiao Zuen.
"Bagaimana dengan ayah?." tanya Xiao Ziya dengan menatap ke arah ayahnya.
"Maaf sepertinya ayah tidak bisa ikut dengan mu, namun tenang saja karna kami semua akan selalu berada di pihak mu apapun yang terjadi. Keberadaan kami di dalam Klan Xiao hanya untuk mengontrol serta mengamati pergerakan paman mu yang sudah mulai gila itu, ayah harap kau mengerti putriku." ucap Xiao Cunyu dengan berat hati. Ia ingin pergi bersama putrinya dan tinggal dengan damai di kota kecil itu namun di sisi lain hatinya menolak, sejak bayi Xiao Cunyu tinggal di dalam Klan Xiao dan ia tak akan membiarkan keegoisan Xiao Ciyun menghancurkan tempat kelahirannya itu.
"Baik saya mengerti sangat berat untuk kalian meninggalkan klan ini, tolong jaga Klan Xiao selama saya mencabut pengaruh saya di sini. Jika ada pria itu melakukan pergerakan yang mencurigakan kalian bisa melaporkannya secara langsung pada saya." ucap Xiao Ziya dengan senyuman manis, gadis itu mengerti beberapa hal yang dipertimbangkan oleh para ketua klan.
"Ah iya, siapa yang melukai kening Anda?." tanya Xiao Xiling. Sedari tadi ia menahan rasa penasarannya, sangat tidak mungkin jika Nona Ziya tiba tiba terjatuh dan melukai dirinya sendiri.
"Ini ulah putri angkat paman Xiao Ciyun, ia sangat marah karna saya membela kelompok Xiao Zuen yang sedang bersitegang dengannya. Gadis itu tidak bisa menjaga ucapnya dan saat orang lain mengabulkan apa yang ia katakan, ia marah dengan alasan yang tak jelas." jawab Xiao Ziya dengan penjelasan yang singkat.
"Gadis itu memang biang masalah, kami sangat muak dengan keberadaannya di dalam Klan Xiao. Lagipula untuk apa pemimpin klan memberikan marga Xiao padanya." cibir Xiao Xiling dengan tatapan tak suka.
"Bersabarlah paman, sebentar lagi gadis itu akan pergi dari Klan Xiao. Saya juga tidak sudi memiliki saudari sepertinya." ucap Xiao Ziya dengan tawa pelan.
"Ada beberapa hal lain yang ingin saya sampaikan pada ayah, mungkin nanti malam saya akan datang untuk menemui ayah di paviliun. Saya permisi terlebih dahulu, sampai jumpa semua." ucap Xiao Ziya. Gadis itu pergi meninggalkan ruang kerja ketua klan menuju paviliunnya. Untuk sekarang ia akan mengamati dari jauh apa saja yang akan dilakukan oleh Xiao Ciyun setelah mendapatkan otoritas penuh.
Waktu berjalan dengan sangat cepat, kini matahari mulai meredup dan orang orang menghentikan beberapa aktivitas yang mereka lakukan. Xiao Ziya baru saja selesai mandi dan saat ini gadis itu sedang mengenakan sebuah gaun panjang berwarna biru muda dengan taburan sedikit berlian di beberapa bagian, ia juga menggunakan japit rambut yang diberikan sang ayah sebelum berangkat berkelana beberapa tahun yang lalu.
"Senang rasanya bisa menikmati suasana sore seperti ini." ucap Xiao Ziya sembari menatap ke arah matahari terbenam, senyuman gadis itu sangatlah cantik hingga membuat gadis lain akan merasa iri dengannya.
"Mongi, Yoongi keluarlah." ucap Xiao Ziya yang sedang mengeluarkan serigala es dan serigala api dari dalam cincin semesta miliknya.
Cahaya berwarna biru dan merah keluar dari cincin semesta milik Xiao Ziya dsn beberapa saat setelah muncul Mongi dan Yoongi dalam wujud manusia.
"Salam hormat kami pada Nona Besar, tugas apa yang bisa kami lakukan untuk Anda." ucap Mongi dan Yoongi, keduanya mengucap salam secara bersamaan.
"Tolong jaga paviliun ini selama saya pergi, mungkin untuk beberapa hari kedepan kalian akan mendapatkan tugas yang sama. Jangan biarkan orang lain masuk selain ayah dan kedua saudara laki laki saya, ah iya paman Xiao Yuza juga boleh masuk ke dalam jika ia datang bersama dengan ayah. Saya akan keluar untuk berbelanja keperluan kalian berdua selama tinggal di paviliun ini untuk beberapa hari." ucap Xiao Ziya yang memberikan tugas menjaga paviliun miliknya pada kedua serigala itu.
"Baik kami akan menjalankan tugas dari Nona Besar dengan baik. Apakah Nona bisa membelikan daging segar untuk kami? selama berada di dalam cincin semesta kami sudah kenyang makan sayur dan buah buahan." ucap Yoongi dengan senyuman canggung, ia sedikit takut saat menyampaikan keinginannya itu.
"Baiklah sesuai dengan permintaan kalian, saya pergi dulu." ucap Xiao Ziya yang bergegas pergi meninggalkan paviliun miliknya menuju pasar yang ada di wilayah Kekaisaran Qiyu.
__ADS_1
Hai semua author balik lagi nih, gimana kabar kalian semoga sehat selalu ya. Jangan lupa follow buat yang belum, vote karna wajib, gift hadiah apapun makasih banget, like like like, komen buat ninggalin jejak, rate bintang lima, share juga ya.