RATU IBLIS

RATU IBLIS
Jangan Sentuh Putri Beiling Zu!


__ADS_3

Setelah sampai di Istana Putri Xiao Ziya langsung masuk ke dalam kamar Putri Beiling Zu untuk beristirahat, Xiao Ziya merasa ada kehadiran orang lain di dalam kamar saudari tirinya itu dan beberapa detik setelahnya Ziya mendengar suara teriakan dari Putri Beiling Zu. Dengan segera Xiao Ziya masuk ke dalam untuk melihat apa yang sedang terjadi, Ziya melihat Putri Beiling Zu sedang dalam kondisi terhimpit karna ada tiga orang pemuda tak dikenal mencekal tangan serta kaki sang putri. Xiao Ziya mengambil sebilah pedang secara acak di dalam cincin semesta miliknya, setelah mengambil pedang Ziya langsung menyerang punggung tiga pemuda itu. Tiga pemuda yang tadinya ingin melakukan hal macam macam pada Putri Beiling Zu langsung terkapar tak berdaya dengan punggung berdarah.


"Terimakasih adik Ziya. ucap Putri Beiling Zu yang langsung memeluk Xiao Ziya dengan sangat erat, Xiao Ziya menatap ke arah baju yang digunakan tiga pemuda itu.


"Dari klan mama kalian berasal!." triak Xiao Ziya dengan tatapan marah, entah bagaimana cara prajurit Kerajaan Bintang Timur menjaga keamanan hingga ada pemuda asing menyusup kedalam kamar Putri Beiling Zu.


"Mereka adalah saudara sepupu saya dari Klan Zu, sepertinya mereka datang bersama Ibu Suri Yanhua Zu dan Kakek Yonzan Zu." jelas Putri Beiling Zu dengan mata berkaca kaca, kehormatannya akan hilang jika adik tirinya terlambat sedikit saja.


Xiao Ziya menggenggam tangannya dengan erat, matanya melebar dan warna mata yang berubah menjadi merah. Xiao Ziya meminta pada Putri Beiling Zu untuk tetap di dalam kamar, Ziya melapisi bagian luar kamar Putri Beiling Zu dengan sihir pelindung. Putri Beiling Zu menuruti perkataan dari Xiao Ziya demi keselamatannya, jika ia ikut dengan adiknya mungkin ia hanya akan mengganggu saja. Xiao Ziya mencengkram kerah baju ketiga pemuda itu, Ziya menyeret mereka keluar dari Kamar Putri Beiling Zu.


"Sialan lepaskan kami." triak salah satu diantara ketiga pemuda itu, mereka merasa malu karna diseret paksa oleh gadis muda.


"Diamlah dasar bajingan!." bentak Xiao Ziya dengan sangat kasar, gadis itu begitu marah karna memahami bagaimana perasaan Putri Beiling Zu saat ini.


Xiao Ziya menyeret ketiga pemuda itu sembari memanggil nama nama anggota Keluarga Kerajaan Bintang Timur yang tinggal di Istana Utama maupun Istana Putra, mereka semua harus tau betapa bejadnya ketiga pemuda dari Klan Zu itu. Mendengar suara teriakan kencang dari Xiao Ziya membuat semua orang terpaksa bangun dari tidur mereka, Raja Yongling Zu panik dan keluar dari kamar ia takut ada yang memancing kemarahan Xiao Ziya hingga seperti itu.


"Mengapa kau sangat berisik malam malam begini?." ucap Ibu Suri Yanhua Zu dengan tatapan sinis yang diarahkan pada Xiao Ziya. Setelah membuka matanya dengan lebar Ibu Suri Yanhua Zu melihat tiga keponakannya yang sedang ditarik oleh Xiao Ziya dengan paksa.


"Apa yang kau lakukan pada mereka bertiga, lepaskan keponakan keponakanku." ucap Ibu Suri Yanhua Zu yang menghalangi jalan Xiao Ziya.


Karna amarah gadis itu sudah tak bisa dibendung lagi, Ziya mengeluarkan sulur sulur hitam dari kedua telapak tangannya. Beberapa sulur hitam itu melempat Ibu Suri Yanhua Zu hingga membentur ke dinding, setelah orang yang menghalangi jalannya telah hilang Xiao Ziya langsung melanjutkan perjalanan menuju aula utama Kerajaan Bintang Timur.


Xiao Ziya sudah tiba di dalam aula utama Kerajaan Bintang Timur, gadis itu melempar salah seorang pemuda dan meletakkan yang lain di bawah kakinya. Kini Ziya hanya perlu menunggu beberapa anggota Kerajaan Bintang Timur berkumpul di aula utama, Raja Yongling Zu masuk kedalam dengan nafas tersengal sengal begitupun dengan ketiga pangeran dan Tuan Yonzan Zu yang sedang menggendong istrinya.


"Apa yang terjadi Nona Ziya? mengapa anda terlihat sangat marah." tanya Raja Yongling Zu, pria itu berusaha meredam kemarahan dari Xiao Ziya.


Tanpa menjawab pertanyaan dari Raja Yongling Zu, Xiao Ziya menginjak tangan salah satu pemuda yang tersungkur di bawah kakinya hingga menimbulkan suara retakan yang cukup mengerikan, semua orang langsung menundukkan kepala mereka untuk melihat apa yang sedang diinjak oleh Xiao Ziya.


"Tunggu Nona Ziya, tolong jangan menyakiti ketiga pemuda itu." ucap Tuan Yonzan Zu dengan tatapan memohon. Ketiga keponakan itu sedang dititipkan oleh orang tua mereka pada Ibu Suri Yanhua Zu dan Tuan Yonzan Zu, apa yang harus mereka berdua katakan jika terjadi sesuatu pada mereka.

__ADS_1


"Tiga sampah ini ingin menodai kesucian Putri Beiling Zu saat saya berada di luar Istana Putri, tindakan mereka tak bisa dimaafkan begitu saja!." triak Xiao Ziya dengan penuh emosi, kata kata gadis itu tentu mengejutkan semua orang. Ketiganya baru sampai di Istana Kerajaan Bintang Timur dan sudah membuat masalah sebesar ini.


Ketiga pemuda dari Klan Zu tampak tak berdaya karena mendapat perlakuan kasar dari Xiao Ziya, tubuh mereka terdapat beberapa luka memar hingga menimbulkan warna ungu ke biru biruan.


"Kami tak melakukan apapun pada Putri Beiling Zu, gadis ini hanya memfitnah kami." ucap salah seorang pemuda bernama Zu Junyang. Meskipun parasnya cukup tampan namun dengan sikap seperti itu tak akan ada gadis yang mau menikah dengannya di masa depan.


"Siapa yang ingin kalian bodohi di sini? saya melihat dengan jelas apa yang telah kalian lakukan." ucap Xiao Ziya tanpa ingin dibantah oleh siapapun.


"Kami hanya memegangi tangan Tuan Putri Beiling Zu saja, tak ada hal lain yang kami lakukan." ucap Zu Minze dengan tatapan tak bersalah untuk meyakinkan semua orang yang ada di sana.


"Kalian dengar sendiri mereka bertiga tak melakukan apapun, gadis itu sangat senang mencari perhatian orang lain hingga bertindak sejauh ini." ucap Ibu Suri Yanhua Zu, wanita tua itu melemparkan kesalahan pada Xiao Ziya.


Xiao Ziya menatap datar ke arah Ibu Suri Yanhua Zu, gadis itu mendekati Zu Minze kemudian menginjak kepalanya hingga membentur lantai aula utama Kerajaan Bintang Timur. Xiao Ziya sangat alergi dengan manusia manusia yang suka mengatakan omong kosong seperti ketiga pemuda itu.


"Lepaskan mereka, saya bilang lepaskan!!." bentak Tuan Yonzan Zu, meski ia menghargai keberadaan Xiao Ziya di Kerajaan Bintang Timur bukan berarti ia akan diam saja ketika gadis itu melakukan sesuatu yang salah.


Xiao Ziya tersenyum miring dan menatap ke arah Tuan Yonzan Zu, akhirnya gadis itu bisa menilai dengan cepat sifat asli dari ayah Raja Yongling Zu. Bukannya melepaskan ketiga pemuda yang sedang kesakitan, Xiao Ziya malah melilit tubuh mereka menggunakan sulur sulur hitam miliknya. Setelah berhasil menangkap ketiga pemuda itu Ziya langsung mengarahkan tangannya keatas hingga ketiganya menabrak langit langit aula utama Kerajaan Bintang Timur.


Tuan Yonzan Zu merasa bahwa masalah kali tak akan bisa diselesaikan dengan kata kata ataupun sikap ramah saja, sepertinya ia harus mengambil tindakan yang lebih tegas pada Xiao Ziya. Tuan Yonzan Zu mengambil pedang di dalam cincin dimensi yang ia miliki kemudian menatap tajam ke arah Xiao Ziya, sepertinya pertarungan diantara keduanya tak bisa dihentikan. Xiao Ziya melihat ke arah pedang dengan cahaya keemasan itu, ia tersenyum tipis melihat pedang yang berasal dari dunia dewa, dengan segera Ziya mengambil pedang hitam miliknya dan siap bertarung melawan pria tua itu.


"Mari kita buat sebuah kesepakatan." ucap Tuan Yonzan Zu dengan sungguh sungguh. Ia harus menyelamatkan ketiga keponakannya itu dari tangan Xiao Ziya yang memiliki emosi tak stabil.


"Katakan saja kesepakatan apa yang anda inginkan jika saya kalah dalam pertarungan ini." jawab Xiao Ziya dengan santai, gadis itu akan mengerahkan semua kekuatannya untuk mengalahkan Tuan Yonzan Zu dan membalas atas perbuatan ketiga pemuda yang ingin melukai harga diri Putri Beiling Zu.


"Jika anda kalah dalam pertarungan kali ini saya harap Anda melepaskan dan memaafkan tindakan yang telah dilakukan ketiga keponakan saya serta Anda harus pergi dari Istana Kerajaan Bintang Timur malam ini juga." ucap Tuan Yonzan dengan semua pertimbangan yang telah ia lakukan. Setidaknya saat Xiao Ziya tak berada di istana Kerajaan Bintang Timur maka suasana di dalam istana Kerajaan Bintang Timur akan kembali seperti semula.


"Baiklah saya menyanggupi permintaan anda, namun jika anda yang kalah dalam peperangan kali ini maka mereka bertiga akan mendapatkan hukuman dari saya tanpa harus meminta izin Yang Mulia Raja Yongling Zu." ucap Xiao Ziya yang sudah tak sabar menghukum ketiga pemuda brengsek yang tak mengerti bagaimana cara menghargai wanita.


"Baiklah saya sepakat dengan permintaan anda." ucap Tuan Yonzan Zu, pria tua itu yakin akan menang saat melawan Xiao Ziya. Gadis itu tak memiliki aura yang kuat artinya ia belum sampai ke ranah dewa dan masih bisa dikalahkan dengan mudah.

__ADS_1


Xiao Ziya tau pria tua itu sedang meremehkannya hanya karna tubuhnya saat ini tak memancarkan aura kuat. Tuan Yonzan Zu mulai menyerang ke arah Xiao Ziya dengan pola serangan yang sama, dengan sangat mudah Xiao Ziya menangkis semua serangan itu bahkan ia tampak bosan di awal pertarungan. Tuan Yonzan Zu tak akan bermain main lagi, ia harus mengalahkan Xiao Ziya dengan cepat agar gadis itu menyadari kesalahan yang telah ia lakukan.


"Saya akan serius sekarang." ucap Tuan Yonzan Zu dengan tatapan tajam, pedang emas miliknya memancar aura yang lebih kuat daripada sebelumnya. Muncul beberapa lingkaran di bawah kaki Xiao Ziya, karna merasa penasaran Ziya menginjak salah satu lingkaran itu dan muncul ledakan energi yang cukup besar.


Saat ledakan energi itu terjadi Ziya langsung menghindar dengan cepat, gadis itu baik baik saja tanpa ada luka sedikitpun di tubuhnya. Karna serangannya gagal Tuan Yonzan Zu melakukan trik lain, pria tua itu menggunakan salah satu jurus yang ia pelajari ketika sudah memasuki kultivasi alam dewa. Jurus itu bernama jurus membelah gunung, Tuan Yonzan Zu melakukan beberapa gerakan hingga muncul bayangan pedang besar di atas kepala Xiao Ziya, semua orang yang ada di aula utama Kerajaan Bintang Timur merasakan aura pedang yang sangat kuat.


"Saya akan memberi Anda pelajaran agar lebih berhati hati dalam bersikap di wilayah orang lain." triak Tuan Yonzan Zu dengan kencang, ia menyilangkan pedangnya ke arah Xiao Ziya hingga bayangan yang ada di atas gadis itu melesat dengan cepat ke arahnya.


Xiao Ziya tak tinggal diam, ia menggerakkan tangan kirinya seolah olah bayangan pedang itu dibuat langsung dengan kekuatannya. Dalam sekejap Tuan Yonzan Zu kehilangan kendali bayangan pedang miliknya itu, saat Xiao Ziya menjentikkan jari bayangan pedang itupun lenyap seketika.


"Saya sudah memberikan Anda kesempatan dua kali untuk menyerang, kini saatnya saya melakukan serangan balasan." ucap Xiao Ziya dengan senyuman miring, gadis itu melepaskan seratus persen aura kematian yang telah ia sembunyikan selama ini. Aula utama Kerajaan Bintang Timur terguncang dengan sangat keras bahkan langit langitnya saja hampir rubuh karna ulah Xiao Ziya. Raja Yongling Zu dan Tuan Yonzan Zu saling bertatapan satu sama lain, ternyata ini kekuatan yang dimiliki oleh penerus dari Raja Artur.


"Tolong jangan merusak bagian dalam istana." ucap Raja Yongling Zu secara spontan, akan diperlukan banyak biaya jika aula utama hancur karna di dalam aula itu terdapat tujuh tiang penyangga utama Istana Kerajaan Bintang Timur.


Mendengar permintaan Raja Yongling Zu tentu membuat Xiao Ziya tak dapat mengabaikannya gadis itu menarik lengan Tuan Yonzan Zu kemudian melesat menuju lapangan tempat latihan para prajurit yang berada di luar istana. Beberapa anggota Keluarga Kerajaan Bintang Timur berusaha mengimbangi kecepatan Xiao Ziya meskipun hal itu akan sia sia saja, setelah sampai di lapangan tempat berlatih para prajurit Xiao Ziya langsung melepaskan tangan Tuan Yonzan Zu dan bersiap untuk kembali bertarung.


"Baiklah mari kita lanjutkan pertarungan yang sempat tertunda ini." ucap Xiao Ziya dengan senyuman lebar, sepertinya gadis itu sangat suka bertarung melawan orang yang telah membuatnya marah dan kesal.


Tuan Yonzan Zu mempersiapkan dirinya untuk menerima serangan dari Xiao Ziya, pria tua itu sangat was was jika Ziya menyerang dengan kekuatan besar. Benar saja gadis itu mengumpulkan semua aura kematian miliknya kemudian aura kematian itu bergabung dengan pedang hitam milik Xiao Ziya, Ziya melempar pedang hitamnya ke atas langit hingga langit malam yang tadinya cerah berubah menjadi gelap gulita di seluruh wilayah Dunia Manusia Abadi. Beberapa kerajaan sempat merasa heran dengan fenomena tersebut, pasalnya kegelapan malam kali ini diiringi dengan suasana mencekam, banyak penduduk yang memilih masuk ke dalam rumah dan mengunci semua pintu dan jendela rapat rapat agar tak terjadi hal buruk.


Tuan Yonzan Zu membelalakkan matanya, ia tak menyangka bahwa Ziya akan se serius ini saat bertarung untuk membela Putri Beiling Zu. Raja Yongling Zu dan anggota keluarga Kerajaan Bintang Timur yang lain baru sampai di lapangan tempat berlatih para prajurit, Raja Yongling Zu membuat pelindung di sekitar istana utama agar tak terguncang saat pertarungan berlangsung.


"Bersiaplah Tuan jika Anda tak ingin kehilangan nyawa dalam pertarungan kali ini." ucap Xiao Ziya dengan tatapan dingin, dalam sekejap mata pedang hitam milik Xiao Ziya melesat ke arah Tuan Yonzan Zu dan menyerang pria itu dengan berutal. Pedang hitam yang memiliki jiwa serta kemarahan sendiri dapat bergerak sesuka hati ketika Xiao Ziya memberikannya izin, kini pedang hitam itu akan menyerang pria yang berani menantang nona mudanya hingga pria itu mengalami luka parah.


"Terbentuklah." ucap Xiao Ziya yang membuat sebilah pedang menggunakan api hitam miliknya, sebuah pedang yang sangat panas hingga bisa melelehkan apapun yang ia tebas. Tuan Yonzan Zu semakin panik karna keseriusan dari Xiao Ziya, gadis itu melesat ke arahnya dan menyerang bersama dengan pedang hitamnya itu.


"Tolong hentikan pertarungan ini adik Ziya." ucap Putra Mahkota Yunzo Zu, ia juga marah karna ketiga pemuda itu ingin merusak kesucian dari adik perempuannya akan tetapi kakek dan neneknya tak perlu terlibat dalam masalah ini.


"Saya tak ingin membuat masalah dengan kakek Anda, bukankah Anda mendengar sendiri dialah yang pertama kali menantang saya." jawab Xiao Ziya dengan nada datar ditengah tengah pertarungannya dengan Tuan Yonzan Zu.

__ADS_1


Serangan demi serangan dari Xiao Ziya menimbulkan luka di beberapa bagian tubuh Tuan Yonzan Zu, suara dentingan pedang yang saling beradu terdengar sangat nyaring hingga tiba tiba pedang emas milik pria tua itu berbelah menjadi dua bagian. Tuan Yonzan Zu sangat marah karna pedang itu pemberian dari salah satu dewa sebagai hadiah keberhasilannya mencapai kultivasi alam dewa tingkat menengah beberapa tahun yang lalu, Tuan Yonzan Zu mengambil sebuah kertas emas berisikan mantra kuno untuk memanggil seorang dewa yang sudah mengikat janji dengannya.


Hai hai semuanya gimana kabar kalian, semoga sehat selalu ya guys. Jangan lupa follow buat yang belum, vote karna wajib, gift hadiah apapun, like like like like, komen buat ninggalin jejak, rate bintang lima, share juga ya.


__ADS_2