
Sesampainya di depan gerbang masuk Istana Kerajaan Zu Long Xiao Ziya disambut oleh para penjaga gerbang, dengan segera mereka membukakan pintu gerbang dan mempersilahkan Xiao Ziya untuk masuk kedalam karna kebetulan sekali Raja Zu Fengzo juga sedang mencari gadis itu setelah kemarin menerima laporan dari prajurit yang ditugaskan untuk mengamankan perbatasan barat.
"Silahkan nona langsung pergi ke aula utama karna Yang Mulia Raja Zu Fengzo sedang menunggu kedatangan anda." ucap salah seorang prajurit yang mengantarkan Xiao Ziya menuju aula utama.
Pintu aula utama dibuka dengan lebar saat para prajurit yang berjaga di depan pintu aula melihat kehadiran Xiao Ziya, mereka juga membukkan badan sebagai rasa hormat pada Xiao Ziya.
"Salam saya pada Yang Mulia Raja Zu Fengzo." ucap Xiao Ziya yang mengucapkan salam biasa tanpa membukkukkan badan atau menundukkan kepalanya.
"Salam pada nona Xiao Ziya." ucap Raja Zu Fengzo yang langsung berdiri dari tahtanya dan membungkuk di hadapan Xiao Ziya, meski gadis itu masih sangat muda namun kemampuannya tak bisa diremehkan.
"Saya dengar anda sedang menunggu kedatangan saya, apakah ada hal penting yang ingin dibahas?." ucap Xiao Ziya yang mempertanyakan alasan mengapa Raja Zu Fengzo mencarinya, apakah ini ada hubungannya dengan para monster yang menyerang bagian barat Kerajaan Zu Long.
"Saya mendapat kabar dari kedua jenderal yang saya tugaskan di perbatasan, mereka mengatakan bahwa anda telah membantu kerajaan ini. Saya ucapkan trimakasih karna anda telah membantu kami. Namun hingga saat ini saya belum mengetahui alasan dibalik penyerangan para monster itu." ucap Raja Zu Fengzo yang kebingungan mengapa para monster yang tinggal di hutan sebelah barat perbatasan marah pada Kerajaan Zu Long. Ia dan para pangeran sudah lama tak kesana.
"Saya telah bertemu dengan salah satu monster srigala, ia menceritakan alasan dibalik penyerangan mereka." ucap Xiao Ziya yang mengatakan dengan apa adanya.
"Lalu apa yang monster itu katakan?."ucap Raja Zu Fengzo yang ingin mengakhiri mala petaka ini, jika penyerangan para monster terus berlanjut maka penduduknya yang ada di wilayah barat akan terancam.
"Mereka mengatakan bahwa anda mengambil sebuah permata hitam yang ada di hutan itu, permata hitam itu adalah sumber tenaga dan kehidupan para monster disana. Mereka menyerang untuk merebut kembali permata hitam itu." ucap Xiao Ziya yang menceritakan secara singkat dan jelas alasan dibalik penyerangan para monster.
Raja Zu Fengzo tampak sedang berfikir mungkin ia sedang mengingat ingat apakah ia pernah mengambil sebuah permata berwarna hitam di dalam hutan perbatasan bagian barat, namun seingatnya Raja Zu Fengzo sudah sangat lama tak memasuki hutan itu dan ia tak pernah mengambil apapun dari sana.
"Namun saya tak mengambil permata hitam itu nona." ucap Raja Zu Fengzo dengan raut wajah yang serius.
"Jadi siapa yang telah mengambil permata hitam itu, jika pelakunya tak segera ditemukan maka akan terjadi gelombang serangan monster yang besar." ucap Xiao Ziya yang sudah membaca rencana para monster itu walau mereka tak menceritakan apapun pada Xiao Ziya. Apalagi monster banteng yang sepertinya terlihat sangat marah pada para penduduk Kerajaan Zu Long.
"Atau ada anggota Kerajaan Zu Long yang diam diam masuk kedalam hutan itu tanpa sepengetahuan saya." ucap Raja Zu Fengzo yang sedang menebak nebak siapa orang yang mengambil batu permata hitam itu.
"Sebaiknya anda panggil semua anggota Kerajaan Zu Long." ucap Xiao Ziya yang memberikan sebuah saran.
Akhirnya Raja Zu Fengzo mengutus seorang prajurit untuk mengumpulkan seluruh anggota keluarga kerajaan, sembari menunggu mereka datang Xiao Ziya duduk di sebuah kursi yang sudah disediakan oleh Yang Mulia Raja Zu Fengzo khusus untuk tamu kehormatannya. Setelah menunggu cukup lama akhirnya seluruh anggota Kerajaan Zu Long berkumpul, mereka tampak kebingungan karna para prajurit yang memanggil mereka tak mengatakan apapun tentang alasan mengapa Yang Mulia Raja menyuruh mereka untuk berkumpul.
"Ada apa ayah? mengapa anda mengumpulkan kami semua disini?." tanya Pangeran Sunjin yang tak menerti ada kepentingan apa hingga ayahnya memanggil mereka semua secara mendadak.
"Mengapa nona Xiao Ziya juga ada di sini?." tanya Putri Zu Inha yang keheranan dengan kehadiran Xiao Ziya di tengah tengah anggota keluarga Kerajaan Zu Fengzo.
"Saya ingin menanyakan satu hal pada kalian saya harap kalian menjawabnya dengan jujur karna ini menyangkut nyawa banyak orang." ucap Xiao Ziya yang menatap bergantian ke arah para anggota keluarga Kerajaan Zu Long.
"Silahkan nona Ziya jika ingin mengintrogasi mereka, saya serahkan semuanya pada nona." ucap Raja Zu Fengzo yang menyerahkan pencarian pelaku pada Xiao Ziya karna jika ia sendiri yang mencarinya maka hasilnya akan nihil.
"Kapan terakhir kali kalian pergi ke hutan yang ada didekat perbatasan sebelah barat?." ucap Xiao Ziya yang mulai mengajukan sebuah pertanyaan.
"Saya terakhir kali pergi ke sana satu tahun yang lalu." ucap Ratu Zu Sungli yang menjawab dengan sorot mata tegas itu artinya ia menjawab dengan jujur.
"Saya dan pangeran kedua terakhir kali pergi ke sana empat tahun yang lalu karna ayah melarang kami." ucap putra mahkota yang mengatakan bahwa ia dan pageran kedua sudah sangat lama tak pergi ke tempat itu.
__ADS_1
"Saya terakhir pergi ke sana lima tahun yang lalu." ucap Permaisuri Zu Minjinli.
"Selain pangeran pertama dan kedua kami tak pernah pergi ke sana, kami selalu melalui jalan lain saat akan pergi ke kerajaan sebelah." ucap pangeran ketiga yang mewakili adik adiknya yang lain. Sudah jelas mereka tak pergi kesana karna tempat itu sangat berbahaya lagipula mereka masih saya dengan nyawa mereka.
"Jadi siapa yang berbohong di antar kalian?." ucap Xiao Ziya dengan sebuah seringai menakutkan, gadis itu sudah menemukan pelaku yang telah mengambil permata hitam itu setelah mendengar semua jawaban anggota keluarga Kerajaan Zu Long.
"Saya harap kalian mengatakan dengan jujur jika tidak para monster yang tinggal di hutan itu akan semakin marah dan menyerang kerjaan ini." ucap Raja Zu Long yang berharap anggota kerajaanya menjawab dengan jujur, ia hanya akan mengambil permata hitam itu dan menyerahkannya pada Xiao Ziya agar gadis itu dapat mengembalikannya pada para monster.
"Jadi dimana permaisuri menyembunyikan permata hitam itu?." ucap Xiao Ziya yang menatap tajam ke arah Permaisuri Zu Minjinli.
Sang permaisuri nampak terkejut mendengar perkataan Xiao Ziya yang mengarah padanya, mengapa gadis itu langsung menuduhnya? apakah ia benar benar tau apa yang sudah diakukan oleh sang permaisuri atau asal menebak saja.
"Mengapa nona menuduh saya yang mengambil permata hitam itu?." ucap Permaisuri Zu Minjinli yang berpura pura sedih karna telah dituduh melakukan sesuatu yang tidak ia lakukan.
"Apakah ibu saya memiliki kesalahan pada nona sehingga nona menuduhnya?." tanya Pangeran Zu Minho yang tak terima karna sang ibu dituduh oleh Xiao Ziya telah mencuri permata hitam yang ada di hutan dekat perbatasan sebelah barat.
"Baiklah jika permaisuri tak ingin mengaku, saya juga tak akan rugi jika kalian semua mati ditangan monster monster itu." ucap Xiao Ziya yang tersenyum remeh, ia memang tak akan kehilangan apapun jika para monster yang tinggal di dalam hutan dekat perbatasan sebelah barat membunuh para anggota Kerajaan Zu Long.
"Bukankah kau memiliki kenalan baik di Klan Xiao dan Klan Shen. Tentu mereka juga akan mati mengenaskan karna monster monster itu." ucap Permaisuri Zu Minjinli yang berusaha untuk memojokkan Xiao Ziya. Sepertinya sang permaisuri tak ingin menyerahkan permata hitam itu dan ia juga tak ingin mati di tangan para monster.
"Itu urusan gampang, saya bisa memasang sihir pelindung pada kediaman Klan Xiao dan Klan Shen serta beberapa kenalan dekat saya. Silahkan kalian nikmati penyerangan para monster saya ingin mencabut pedang yang saya tancapkan di perbatasan sebelah barat agar monster monster itu dapat masuk dengan mudah." ucap Xiao Ziya yang tak akan membantu lagi jika permaisuri tak menyerahkan permata hitam itu padanya.
Mendengar perkataan Xiao Ziya tentu saja membuat Yang Mulia Raja Zu Fengzo merasa gusar, mengapa permaisurinya itu tak ingin menyerakan permata hitam yang ia ambil secara paksa. Apakah tak ada cara lain untuk menghentikan para monster agar tak membunuh mereka semua.
"Mohon nona Ziya pertimbangkan lagi, jika bukan nona yang membantu kami tak ada orang lain yang sanggup melakukannya." ucap Raja Zu Fengzo yang sedang berusaha untuk membujuk Xiao Ziya.
Permaisuri sangat geram karna Xiao Ziya hanya memberikan saran yang mengancam nyawanya saja, lagipula mengapa gadis itu ikut campur dalam masalah ini, jika situsinya terus seperti ini maka ia akan benar benar ketahuan.
"Mengapa bukan nona saja yang ditumbalkan?." ucap Permaisuri Zu Minjinli dengan asal yang memberikan saran agar Xiao Ziya saja yang ditumbalkan karna ia bukan anggota Kerajaan Zu Long jadi Raja Zu Fengzo tak perlu kehilangan siapapun.
"Tumbalkan saja saya jika kerajaan ini ingin diratakan oleh Kerajaan Hitam." ucap Xiao Ziya dengan sebuah senyum kemenangan, jika mereka berani menumbalkannya para monster itu juga tak akan mau memangsa Xiao Ziya yang lebih ganas daripada mereka.
"Mereka tak akan tau jika tak ada yang memberi tau." ucap Permaisuri Zu Minjinli yang terus berusaha mengamankan posisinya.
"Hentikan apakah kau sudah gila dan ingin menumbalkan nona Ziya." triak Ratu Zu Sungli yang sudah tak tahan mendengar ocehan sang permaisuri yang tak masuk akal. Xiao Ziya adalah gadis yang kuat jika ia saja mampu membuat para monster itu tak berani datang ke wilayah Kerajaan Zu Long itu artinya gadis itu juga mampu untuk membinasahkan para monster itu dengan kekuatannya yang luar biasa.
"Apa kau bersekongkol dengan gadis ini untuk menyudutkanku?." ucap Permaisuri Zu Minjinli yang semakin membuat Xiao Ziya geram dan ingin menampar wanita itu dengan keras.
"Nona Ziya datang kesini untuk membantu memecahkan masalah ini, dan kau dengan keras kepala tak ingin menyerahkan permata hitam itu dan melempar kesalahanmu pada orang lain apakah kau sudah gila?." ucap sang raja yang juga tak habis fikir bahwa permaisurinya akan seegois ini. Jika permaisurinya memang menginginkan sebuah permata maka ia bisa membelikannya.
"Waktu kalian tak banyak segeralah befikir tak lama lagi saya akan pergi ke hutan untuk memberitau keputusan kalian." ucap Xiao Ziya yang menyandarkan punggunggnya ke kursi dan memposisikan duduknya dengan santai, gadis itu akan menunggu beberapa saat mengenai keputusan para anggota keluarga Kerajaan Zu Long.
Para anggota keluarga Kerajaan Zu Long sedang berunding tindakan apa yang harus mereka lakukan untuk mencegah penyerangan monster itu, setelah cukup lama mempertimbangkannya mereka semua menatap ke arah Permaisuri Zu Minjinli mungkin saja keputusan mereka adalah menumbalkan wanita keras kepala itu.
"Jadi bagaimana?." tanya Xiao Ziya yang tak ingin berlama lama di sana karna masih banyak urusan penting yang harus ia selesaikan.
__ADS_1
"Saya sudah memuskan karna Permaisuri tak ingin menyerahkan permata hitam itu maka sebagai gantinya ia akan ditumbalkan." ucap Raja Zu Fengzo yang sudah mengumumkan keputusannya, tentu saja Permaisuri Zu Minjinli terkejut karna suami tercintanya itu tega menumbalkan dirinya.
"Saya tak ingin ditumbalkan apapun alasannya." ucap Permaisuri Zu Minjinli yang tetap ingin hidup dan menikmati posisinya sebagai seorang permaisuri.
"Serahkan permata hitam itu sekarang." ucap Xiao Ziya dengan nada dingin, jika memang sang permaisuri tak ingin ditumbalkan ia harus menyerahkan permata hitam itu sebelum semuanya terlambat.
"Saya sudah bilang bukan saya yang mengambilnya." triak permaisuri yang tetap mengelak.
Plak
Satu tamparan mendarat di pipi sebelah kiri permaisuri Zu Minjinli, orang yang menamparnya adalah Xiao Ziya. Gadis itu sudah muak mendengar semua kebohongan yang diucapkan permaisuri itu. Jika ia tak bisa diajak bekerja sama dengan cara yang halus maka jangan salahkan Xiao Ziya jika gadis itu menggunakan cara yang kasar. Xiao Ziya mengambil tiara yang dipakai dikepala permaisuri kemudian membantignya dengan keras, semua orang yang ada di aula itu merasa terkejut. Setelah tiara itu hancur terlihat sebuah potongan permata berwarna hitam dengan segera Xiao Ziya mengambil permata itu.
Rupanya sang permaisuri sudah menjadikan permata hitam yang ia ambil menjadi perhiasan dan memotongnya menjadi beberapa bagian. Xiao Ziya memperhatikan permaisuri dari ujung rambut hingga ujung kaki, gadis itu langsung menarik kalung yang dikenakan oleh permaisuri secara paksa hingga leher sang permaisuri berdarah. Kalung yang Permaisuri Zu Minjinli kenakan berhiaskan sebuah potongan permata hitam.
"Tak bisakah kau mengambilnya secara perlahan." triak Permaisuri Minjinli yang kesakitan.
"Jangan menyiksa ibundaku." ucap Pangeran Minho yang membela ibunya.
"Jangan banyak bicara bukankah ini pilihanmu sendiri permaisuri." ucap Xiao Ziya sembari mencari dua potongan permata hitam yang lain, dimana permaisuri menyembunyikannya. Xiao Ziya melihat sesuatu yang bersinar si kerah jubah kerajaan Pangeran Zu Minho.
"Lepaskan jubahmu sekarang." ucap Xiao Ziya dengan nada datar dan menatap ke arah Pangeran Zu Minho.
Pangeran Zu Minho tak mengerti mengapa Xiao Ziya menginginkan jubahnya itu, dengan terpaksa ia melepas jubahnya dan memberikan pada Xiao Ziya.
Setelah itu Xiao Ziya melepas dua permata hitam yang melekat pada kerah sebelah kiri dan kanan jubah kerajaan itu.
"Semua pecahan permata hitam sudah terkumpul. Menyatulah." ucap Xiao Ziya yang membakar pecahan permata hitam itu menggunakan api putihnya, setelah beberapa saat keempat kepingan permata hitam itu menyatu dan membentuk sebuah permata yang utuh.
"Cambuk permaisurimu sebanyak dua puluh kali agar ia tak melakukan kesalahan yang sama." ucap Xiao Ziya yang meminta pada Raja Zu Fengzo untuk menghukum permaisurinya itu. Sang raja hanya menganggukkan kepalanya saja sebagai pertanda ia akan mematuhi perintah Xiao Ziya.
"Jika begitu saya akan pamit untuk pergi ke hutan untuk menyerahkan permata hitam ini." ucap Xiao Ziya yang langsung pergi dari aula Kerajaan Zu Long.
Xiao Ziya melesat pergi menuju hutan perbatasan sebelah barat, setelah masuk kedalam hutan gadis itu langsung mencari pohon hitam besar yang menjadi rumah para monster. Setelah menemukan pohon itu Xiao Ziya langsung masuk kedalam, terlihat para monster sedang menunggu kedatangan Xiao Ziya.
"Apakah nona mendapatkan permata hitam yang kami cari?." tanya seekor monster srigala pada Xiao Ziya.
"Ini permata hitam milik kalian, lain kali tolong jaga dengan baik baik. Yang mengambilnya bukan Raja Zu Fengzo melainkan permaisurinya." ucap Xiao Ziya yang menjelaskan siapa orang yang telah mengambil permata hitam dari hutan itu.
"Trimakasih atas bantuannya, jika nona menemukan kesulitan di lain hari nona bisa memanggil kami." ucap para monster yang merasa beruntung karna mereka tak perlu pergi ke kerumunan manusia dan menghabisi mereka.
Setelah menyelesaikan tugasnya itu Xiao Ziya langsung pergi ia ingin pulang ke Istana Kerajaan Hitam namun perjalanan cukup panjang dan memakan waktu. Ia juga malas jika harus membaca mantra teleportasi dan melintasi ruang dan waktu, Xiao Ziya berkeliling hutan itu hingga ia menemukan sebuah bangunan rumah yang cukup tua, Xiao Ziya masuk kedalam.
"Permisi apakah di sini ada orang?." tanya Xiao Ziya yang ingin meminta izin pada penghuni rumah tua itu untuk menginap di sana semalam saja. Namun tak ada yang menjawab Xiao Ziya, akhirnya gadis itu pergi ke sebuah kamar dan beristirahat di sana.
Xiao Ziya tertidur dengan lelap, untung saja rumah tua itu benar benar rumah kosong yang sudah lama tak ditinggali oleh pemiliknya sehingga gadis itu bisa beristirahat dengan tenang tanpa ada perasaan was was.
__ADS_1
Hai hai semuanya author update lagi nih wkwkwk, gimana kabar kalian semoga baik baik aja ya. Jangan lupa follow buat yang belum, vote karna itu wajib ya guys, gift hadiah seberapapun makasih banget, like like like, komen buat ninggalin jejak, rate bintang lima, share juga ya.