
Lee Brian turun menuju kastil miliknya untuk menidurkan Xiao Ziya di kasur, tak terasa ternyata malam telah datang padahal ia pergi saat hari masih siang. Mungkin waktu terasa sangat cepat berlalu karna Lee Brian menghabiskannya bersama dengan orang yang selalu menempati hatinya.
Besok adalah sebuah hari yang besar, semua orang akan tau mengapa Lee Brian berusaha menjauhi Xiao Ziya dan tidak terlalu dekat dengan keponakan kesayangannya itu.
"Setelah ini mungkinkah kita masih bisa bersama lagi? sulit rasanya untuk menerima takdir dari Sang Pencipta dan melepaskan mu begitu saja." gumam Lee Brian sembari mendarat di halaman depan Kastil Pemimpin Malaikat Kematian.
Lee Brian berjalan dengan santai menuju kamar yang ditempati oleh Ziya selama tinggal di dunia tempat tinggal para malaikat kematian ini. pria itu dengan sengaja memperlambat langkahnya agar ia bisa berlama lama menatap wajah Xiao Ziya.
"Ini sangat sulit bagiku, namun ini juga demi kebaikanmu." ucap Lee Brian dengan air mata yang menetes dan jatuh ke pipi Xiao Ziya.
Setelah berjalan cukup lama akhirnya Lee Brian sampai di depan pintu kamar milik Xiao Ziya, pria itu membukakan pintu kemudian masuk kedalam. Setelahnya ia membaringkan tubuh Xiao Ziya di atas tempat tidur. Pandangan Lee Brian masih tertuju pada wajah cantik Xiao Ziya saat sedang tidur, gadis itu selalu memiliki paras sempurna kapanpun mulai dari awal hidup merea hingga reinkarnasi yang kesekian kalinya.
"Terimakasih telah hadir kembali meskipun di kehidupan yang sekarang ini tak mungkin bagi kita untuk saling memiliki." ucap Lee Brian kemudian mencium kening Xiao Ziya penuh dengan kasih sayang.
Lee Brian bergegas keluar dari kamar gadis itu sebelum langkahnya semakin berat. Lee Brian menutup pintu kamar Xiao Ziya kemudian berjalan kembali menuju ruang kerjanya.
Malam itu suasana di Kastil Pemimpin Malaikat Kematian terasa sangat sunyi dengan hawa dingin yang menusuk daging. Para prajurit yang sedang berjaga sampai harus melapisi tubuh mereka menggunakan api yang cukup panas.
"Aneh sekali, tak biasanya kastil sedingin ini. Apa yang sedang terjadi pada Pemimpin?." tanya seorang prajurit kematian yang berjaga di gerbang bagian belakang.
"Sepertinya Tuan Lee Brian sedang bersedih hingga menyebabkan aura di sekitar kastil berubah drastis." jawab prajurit yang lain.
"Bukankah besok akan ada pertemuan dengan para malaikat sayap putih, apakah itu yang membuat Tuan Lee Brian menjadi sedih?." tanya prajurit yang pertama.
"Entahlah saya kurang tau mengenai hal itu, namun saya melihat Tuan Lee Brian sangat menyayangi keponakannya yang bernama Xiao Ziya. Mungkin kesedihannya kali ini berkaitan dengan gadis itu." jawab prajurit kematian yang lain.
Tidak ada yang tau apa yang sedang terjadi pada Lee Brian saat ini, apa yang membuatnya begitu sedih hingga aura dingin menyebar di seluruh kastilnya sendiri. Min Yuzang saja tidak berani untuk menghampiri pemimpinnya itu yang sedang berdiam diri di dalam ruang kerja.
Waktu berjalan dengan cepat hingga tengah malam pun tiba, Xiao Ziya membuka mata dan menoleh ke kanan dan ke kiri untuk memastikan dimana dia saat ini.
"Bukankah saya tadi sedang terbang bersama dengan paman Lee Brian? lalu mengapa tiba-tiba saya sudah berada di dalam kamar." tanya Xiao Ziya pada dirinya sendiri dengan ekspresi bingung.
Saat sedang memikirkan hal itu tiba-tiba perut Ziya berbunyi, gadis itu kelaparan karna belum makan apapun sepanjang hari. Ziya pun bangkit dari tempat tidurnya kemudian berjalan keluar dari kamar untuk mencari letak dapur di dalam kastil milik sang paman.
Xiao Ziya merasa ada yang aneh karena para prajurit yang sedari pagi berjaga di depan kamarnya hilang padahal sang paman meminta mereka untuk terus berada di depan kamar Xiao Ziya.
"Mungkin mereka sedang memiliki tugas lain, tidak masalah jika saya pergi sendiri untuk mencari dimana letak dapur." gumam Xiao Ziya sembari berjalan pergi meninggalkan kamarnya. Gadis itu tak lupa menutup pintu agar tak ada penyusup yang masuk ke dalam kamar.
__ADS_1
Xiao Ziya berjalan menyusuri lorong kastil yang sangat panjang, Ziya tidak tau mengapa malam ini begitu dingin. Mungkinkah suasana di dunia tempat tinggal para malaikat kematian memang seperti ini?.
"Tak biasanya kastil milik Tuan Lee Brian memiliki seorang tamu perempuan." suara seorang wanita dari arah belakang Xiao Ziya. Dengan segera Ziya menoleh kebelakang dan melihat siapa wanita yang sedang menegurnya itu.
Mata hitam legam milik Xiao Ziya bertatapan langsung dengan mata emas milik wanita itu. Untuk pertama kalinya Ziya melihat seorang wanita dengan kecantikan yang tak pernah ia lihat sebelumnya. Wanita itu tersenyum tipis kemudahan berjalan mendekat ke arah Xiao Ziya, dan samar samar ada tekanan besar yang mulai datang dari arah wanita itu.
"Siapa Anda?." tanya Xiao Ziya dengan singkat dan tatapan penuh selidik. Gadis itu ingat bahwa seluruh malaikat kematian yang ada di dunia ini berkelamin laki-laki.
"Seharusnya saya yang menanyakan hal itu pada Anda. Tidak baik seorang gadis asing berkeliaran di kastil tunangan seseorang." ucap wanita itu yang mulai menunjukkan kemarahannya. Mata sang wanita mengeluarkan cahaya menyilaukan dan muncul beberapa energi pedang yang hendak menyerang Xiao Ziya.
Dengan segera Ziya membuat sihir pelindung untuk menangkis serangan dari wanita itu. Untunglah kemampuan Xiao Ziya setara atau mungkin di atas wanita yang sedang menatapnya dengan penuh kebencian.
"Anda tunangan paman Lee Brian? mengapa paman tidak pernah mengatakan hal itu sebelumnya." ucap Xiao Ziya dengan perasaan bingung. Gadis itu tidak mengerti mengapa muncul rasa sedih dari dalam hati.
"Paman?? ah ternyata Anda adalah Nona Xiao Ziya yang sering diceritakan oleh Tuan Lee Brian pada saya. Sedang bisa bertemu dengan salah satu keluarga Tuan Lee Brian." ucap si wanita yang langsung berubah secara drastis. Ia menarik energi pedangnya itu bahkan menatap Ziya dengan tatapan yang berbeda.
"Ya Anda benar saya adalah keponakan dari paman Lee Brian." jawab Xiao Ziya dengan singkat, gadis itu merasa enggan untuk berbicara panjang lebar dangan wanita yang ada di hadapannya.
"Ah maaf atas sikap saya barusan. Saya kira ada penyusup yang masuk ke dalam kastil ini karna besok pagi akan ada pertemuan antara para malaikat kematian dengan malaikat sayap putih." ucap si wanita sembari tersenyum lebar.
"Tak bisakah saya ikut dengan Anda?." tanya si wanita Dengan sedikit memaksa.
"Tidak, karna saya tak ingin diganggu oleh siapapun termasuk Anda." jawab Xiao Ziya dengan nada dingin.
Gadis itu melangkah pergi meninggalkan wanita asing yang tak diketahui namanya itu. Di sisi lain si wanita merasa keheranan dengan tingkah laku keponakan dari Lee Brian, mengapa gadis itu sedikit berbeda dari apa yang Lee Brian ceritakan padanya selama ini.
"Mungkinkah gadis itu merasa kesal terhadap saya atas kejadian barusan?" gumam wanita asing itu dengan perasaan bingung.
Xiao Ziya melesat dengan sangat cepat untuk menyusuri kastil milik sang paman, ia ingin segera menemukan dimana dapur berada. Setelah mencarinya cari kesana kemari akhirnya gadis itu menemukan sebuah ruangan yang digunakan sebagai dapur, dengan segera Ziya masuk ke dalam.
Ternyata suasana di dalam dapur sangatlah sunyi tak ada satu pelayanan pun disana. Sepertinya waktu kerja yang dimiliki oleh para pelayan di kastil ini berbeda dengan para pelayan dari Kekaisaran ataupun Kerajaan yang ada di berbagai lapisan dunia lain.
"Huft tak ada siapapun di sini, sepertinya saya harus memasak sendiri agar tidak mati kelaparan." gumam Xiao Ziya dengan suara pelan.
Ziya menutup pintu dapur kemudian mulai memasak beberapa menu makanan yang ingin ia makan malam ini. Di tempat lain wanita yang ditemui oleh Xiao Ziya sebelumnya sedang berjalan menuju ruang kerja Lee Brian.
Tok tok tok....
__ADS_1
Suara pintu ruang kerja Lee Brian yang diketuk oleh wanita itu. Sangat disayangkan tidak ada jawaban apapun dari dalam padahal si wanita dapat merasakan aura keberadaan Lee Brian di dalam sana.
Tok tok tok...
Si wanita kembali mengetuk pintu itu untuk yang kedua kalinya, kali ini suara ketukan lebih kencang dari sebelumnya.
"Tuan Lee Brian saya tau Anda berada di dalam, ini saya Su Mingji calon tunangan Anda. Tolong buka pintunya, saya ingin membicarakan beberapa hal dengan Anda." ucap wanita itu, ternyata namanya adalah Su Mingji.
Dengan malas Lee Brian berjalan ke arah pintu kemudian membuka pintu ruang kerjanya itu. Lee Brian menatap Su Mingji dengan tatapan datar seolah-olah tidak menginginkan kedatangan wanita yang akan menjadi tunangannya.
"Ada apa?." tanya Lee Brian dengan nada ketus.
"Barusan saya bertemu dengan keponakan Anda yang sering Anda ceritakan pada saya. Namun menurut saya dia berbeda dengan apa yang Anda ceritakan." ucap Su Mingji.
"Apa yang kau lakukan di saat pertemuan pertama kalian?. Ziya adalah gadis baik dia tidak akan memusuhi seseorang tanpa alasan yang jelas." ucap Lee Brian.
"Saya tidak melakukan apapun selain menyapanya, apakah Tuan Lee Brian tidak mempercayai saya?." tanya Su Mingji sembari menunjukkan ekspresi sedih.
"Saya lebih mempercayai kalimat yang keluar dari mulut gadis itu daripada mulutmu yang sering mengucapkan kebohongan." jawab Lee Brian.
"Saya adalah bagian dari Malaikat Sayap Putih, bagaimana bisa mengucapkan kebohongan yang membuat nilai kebaikan saya berkurang." elak Su Mingji.
"Dimana keponakan saya sekarang?. Saya ingin bertanya langsung padanya." tanya Lee Brian dengan tatapan malas.
"Entahlah saya juga tidak tau dimana Nona Xiao Ziya berada, mungkin dia sedang berkeliling di sekitar kastil karna merasa bosan. Saya sudah menawarkan diri untuk menemaninya berkeliling namun ia langsung menolak." jawab Su Mingji.
"Minggir saya ingin mencarinya." ucap Lee Brian yang hendak pergi untuk mencari Xiao Ziya.
"Sudahlah jangan terlalu memikirkan gadis itu, dia sudah cukup dewasa untuk menjaga dirinya sendiri. Lagipula Nona Ziya memiliki kekuatan yang setara dengan saya." ucap Su Mingji.
Lee Brian menatap wanita yang ada di hadapannya itu dengan tatapan dingin. Bagaimana bisa ia tau jika kekuatan diantara mereka berdua hampir setara jika belum pernah saling bertarung satu sama lain?. Sepertinya Su Mingji tidak pandai berbohong hingga kebohongannya itu sangat cepat terbongkar.
"Saya datang kemari untuk mengantarkan surat dari Pemimpin Malaikat Sayap Putih, ada beberapa hal yang perlu Tuan Lee Brian persiapkan sebelum pertemuan besok berlangsung." ucap Su Mingji sembari menunjukkan sebuah surat.
"Masuklah ke dalam, kita akan membicarakan masalah ini secara empat mata." ucap Lee Brian.
Hai hai semua author balik lagi nih gimana kabar kalian semoga sehat selalu ya. Jangan lupa follow buat yang belum, vote karna wajib, gift hadiah apapun makasih banget, like like like, komen buat ninggalin jejak, rate bintang lima, share juga ya guys.
__ADS_1