RATU IBLIS

RATU IBLIS
Akan Ada Balasannya


__ADS_3

Xiao Ziya menghancurkan perisai pelindung yang ia buat agar Mue Linzong dan Mue Sanron segera pergi dari aula utama Kerajaan Bintang Timur, Ziya sudah sangat muak melihat tingkah mereka berdua. Mue Sanron segera membawa suaminya pergi dari sana, ia akan memikirkan cara untuk membalas perbuatan Xiao Ziya.


"Karna semuanya sudah selesai saya obati, saya pamit untuk kembali ke kamar." ucap Xiao Ziya pada semua penduduk yang sedang berada di aula utama Kerajaan Bintang Timur.


"Trimakasih atas bantuan yang telah Nona Besar Xiao Ziya berikan, kami tak akan pernah melupakan kebaikan Anda." ucap para penduduk secara bersamaan, sangat jarang orang luar mau membantu tanpa tujuan khusus.


Putri Beiling Zu menghampiri adik tirinya itu dan keluar bersama dari aula utama Kerajaan Bintang Timur keduanya berjalan dengan santai menuju Istana Putri, Xiao Ziya memandang ke arah langit gadis itu menunjukkan ekspresi kesal karna hujan berwarna merah darah itu tak kunjung berhenti. Xiao Ziya menggenggam tangan Putri Beiling Zu dan menyalurkan sedikit kekuatannya pada sang putri, dengan demikian Putri Beiling Zu akan aman meski terkena air hujan. Putri Beiling Zu menyadari bahwa ada kekuatan dari luar yang sedang masuk ke dalam dantiannya, sontak sang putri melihat ke arah Xiao Ziya dengan senyuman manis.


"Terimakasih karna adik Ziya sangat peduli dengan keselamatan saya." ucap Putri Beiling Zu yang sudah mendengar apa yang telah terjadi pada para penduduk yang sedang dievakuasi itu serta bagaimana cara Xiao Ziya mengatasi masalah serumit ini.


"Saya harap Beiling Jiejie tetap berada di istana putri hingga hujan berhenti." pesan Xiao Ziya pada kakak tirinya itu.


"Baiklah saya akan mendengar dan melaksanakan saran dari Adik Ziya." jawab Putri Beiling Zu dengan ekspresi senang.


Keduanya telah sampai di istana putri, Xiao Ziya meminta pada Putri Beiling Zu untuk masuk ke dalam kamar terlebih dahulu karna ia ingin melihat kondisi tiga pemuda yang pernah mendapat hukuman cambuk darinya. Putri Beiling Zu masuk ke dalam kamar sedangkan Xiao Ziya berjalan menuju sebuah ruangan yang lumayan jauh dari kamar para putri, Xiao Ziya membuka pintu ruangan itu kemudian masuk kedalam. Terlihat tiga pemuda dari Klan Zu sedang menatap ke arahnya dengan tatapan tajam, mereka harus menahan rasa sakit selama berhari hari karna tak ada tabib yang mengobati.


"Ternyata kalian masih hidup." ucap Xiao Ziya dengan tatapan dingin disertai senyuman miring khasnya.


"Kami akan tetap hidup untuk membalas dendam padamu suatu hari nanti." ucap Zu Junyang dengan tatapan tajam penuh kebencian yang ia perlihatkan pada Xiao Ziya.


Ketiga pemuda itu tampak seperti orang bodoh di hadapan Xiao Ziya, jika mereka sangat membenci gadis itu dan ingin membalas dendam padanya tak seharusnya mereka mengatakan hal tersebut secara terang terangan.


"Karna kalian berencana membalas dendam di kemudian hari, bagaimana jika saya membunuh kalian bertiga?. Tak baik membiarkan musuh tetap hidup." jawab Xiao Ziya dengan tatapan menyeramkan, gadis itu berjalan mendekati Zu Junyang lalu menampar pipi pemuda itu dengan sangat keras.


"Kalian bertiga terlalu dimanjakan hingga tumbuh menjadi pemuda pemuda bodoh." ucap Xiao Ziya dengan kata kata tajam yang membuat ketiga pemuda itu diam.


Xiao Ziya dapat melihat potensi besar dalam diri tiga pemuda itu, walaupun mereka sering membuat masalah namun mereka memiliki hati yang murni. Jika Xiao Ziya bertemu dengan orang gua ketiga pemuda itu maka ia akan memberi mereka pelajaran karna telah salah mendidik anak. Zu Junyang, Zu Minze, dan Zu Genzi dikenal sebagai pemuda keras kepala dengan ego yang cukup tinggi, di wilayah kekuasaan Klan Zu mereka sering membuat onar dan menggoda beberapa gadis anehnya mereka belum pernah membunuh seseorang dengan tempramen mereka yang sangat buruk itu.


"Saya akan memberi kalian bertiga pilihan." ucap Xiao Ziya dengan wajah seriusnya, gadis itu akan memberi kesempatan mereka bertiga untuk berubah.


"Pilihan apa? mengapa kami harus menuruti perkataan orang asing sepertimu." ucap Zu Genzi dengan tatapan kesal, ia sangat tak suka diperintah oleh orang lain apalagi orang yang tak ia kenal seperti Xiao Ziya.


"Karna saat ini nyawa kalian ada di tangan saya, pikirkan dengan baik. Kalian ingin berubah menjadi pemuda baik dengan serangkaian latihan dari saya, ataukah kalian ingin mati sekarang juga?." ucap Xiao Ziya dengan tegas mengenai pilihan yang ia miliki untuk ketiga pemuda dari Klan Zu itu.


Ketiganya tampak bingung untuk memutuskan pilihan mana yang lebih bagus untuk mereka, mendapat pelatihan dari gadis kasar seperti Xiao Ziya sama saja dengan menyerahkan diri pada kematian secara perlahan lahan, namun jika mereka memilih untuk mati sekarang juga maka hal itu akan benar benar terjadi.


"Baiklah kami akan menerima pelatihan khusus dari Anda, dengan syarat Anda tak boleh membunuh kami jika kami sudah menjadi pemuda baik." ucap Zu Junyang. Menjadi pemuda baik bukanlah keputusan yang buruk, mungkin kedua orang tuanya akan bangga padanya.

__ADS_1


"Kau serius Tuan Muda Zu Junyang?." tanya Zu Minze dengan tatapan tak percaya, mengapa rekan baiknya itu lebih memilih untuk tunduk pada tekanan yang diberikan oleh Xiao Ziya di balik kata latihan.


"Saya akan menerima pelatihan dari Anda sama seperti Tuan Muda Zu Junyang." ucap Zu Genzi, pemuda itu terlalu menyayangi nyawanya. Menderita sedikit selama pelatihan berhari hari bukanlah hal yang buruk, mungkin saja latihan yang dipimpin oleh Xiao Ziya akan meningkat kultivasinya.


"Sepertinya salah satu rekan kalian tak setuju dengan pelatihan ini, apa yang harus saya lakukan padanya?." tanya Xiao Ziya sembari menatap ke arah Zu Minze dengan senyuman miring yang mengerikan.


"Bagaimana jika anda memulangkannya ke Klan Zu saja." saran dari Zu Junyang, ia tau pasti seberapa keras kepala Zu Minze itu. Jika ia tetap berada di Istana Kerajaan Bintang Timur ia hanya akan memancing amarah dari Xiao Ziya dan membuat dirinya kehilangan nyawa.


"Saya tak akan melepaskannya dengan mudah, biarlah ia tetap berada di ruangan ini hingga pelatihan kalian selesai. Apapun ilmu yang saya berikan, jangan pernah kalian bagi dengan pemuda itu. Jika kalian melanggarnya kalian berdua akan mendapat hukuman berat." ucap Xiao Ziya dengan nada serius, ia akan membenahi karakter dari kedua pemuda itu agar bisa lebih baik lagi.


Xiao Ziya mengajak Zu Junyang dan Zu Genzi untuk keluar dari ruangan tersebut, mereka meninggalkan Zu Minze sendirian di dalam sana. Setelah kepergian Xiao Ziya, Zu Minze tertawa dengan jahat dan menganggap bahwa gadis itu sangat bodoh, bagaimana Xiao Ziya bisa mengurungnya di ruangan seperti ini. Zu Minze berjalan mendekat ke arah pintu, pemuda itu berusaha untuk membukanya namun pintu itu tak bisa dibuka sama sekali.


"Dasar gadis sialan!!!." triak Zu Minze dengan sangat kesal, tadinya ia berfikir bahwa Xiao Ziya hanya akan meninggalkannya di ruangan itu dengan pintu terkunci sehingga Zu Minze bisa membuka menggunakan kekuatan yang ia miliki, sangat disayangkan Xiao Ziya telah melapisi ruangan itu dengan mantra tingkat tinggi agar tak ada yang bisa keluar masuk sesuka hati mereka.


Di sisi lain saat ini Mue Sanron sedang menunggu sang suami, tabib istana Kerajaan Bintang Timur berusaha meregenerasi kedua telapak tangan pria itu akan tetapi semua usahanya sia sia saja. Sang tabib juga merasa keheranan karna tingkah Tuan Mue Linzong seperti anak kecil yang kadang menangis saat ia mengoleskan obat, tabib itu tak tau apapun karna ia tetap berjaga di ruang kesehatan di saat tabib yang lain sibuk mengobati para penduduk yang terluka.


"Apakah mungkin untuk menumbuhkan kembali kedua telapak tangan suami saya?." tanya Mue Sanron dengan raut wajah khawatir, masa depan sang suami sebagai pemimpin Klan Mue akan hancur bila kehilangan kedua telapak tangan seperti itu. Xiao Ziya sangatlah kejam padahal ia hanyalah gadis biasa dengan keberuntungan yang lebih baik dari orang lain.


"Dengan kemampuan yang saya miliki saat ini, saya tak bisa melakukan apapun untuk menyembuhkan suami Anda." ucap sang tabib dengan wajah pasrah, ia belum sampai di tingkat yang lebih tinggi untuk melakukan hal sesulit itu.


"Ada apa hingga ibu mertua terlihat sangat marah?." tanya Ratu Junyi Zu dengan ekspresi polos.


Tanpa mengatakan apapun Mue Sanron langsung menebaskan pedangnya pada kedua pergelangan tangan sang ratu, para prajurit yang melihat hal itu sangat terkejut dan langsung menangkap Mue Sanron. Beberapa prajurit pergi menuju aula utama untuk melaporkan kejadian itu pada Raja Yongling Zu, sedangkan sang ratu berusaha menahan rasa sakit meski darahnya terus mengalir dengan deras.


"Yang Mulia Raja Yongling Zu, Nyonya Mue Sanron menebas kedua telapak tangan Ratu Junyi Zu." ucap seorang prajurit yang langsung masuk kedalam aula tanpa memberikan salam hormat karna ia sangat khawatir dengan kondisi Ratu Junyi Zu.


"Seluruh tabib pergi ke ruang kesehatan, periksa kondisi istri saya sekarang!!." bentak Raja Yongling Zu dengan sangat emosional, mengapa wanita tua itu melampiaskan amarahnya pada sang istri yang tak tau apapun mengenai masalah ini.


Semua tabib Kerajaan Bintang Timur pergi meninggalkan aula utama, para penduduk yang mengungsi akan diurus oleh para pelayan mengenai semua kebutuhan yang mereka perlukan. Para penduduk berharap semoga Ratu Junyi Zu baik baik saja, wanita itu adalah ratu terbaik yang mereka miliki hingga saat ini, bila sesuatu terjadi padanya maka mereka akan menuntut agar Selir Mue Zu diturunkan dari posisinya saat ini.


Saat semua anggota Keluarga Kerajaan Bintang Timur sangat khawatir dengan kondisi sang ratu, Xiao Ziya malah sibuk mengawasi latihan fisik yang ia berikan pada Mue Linzong dan Mue Sanron. Kedua pemuda itu harus berlari mengitari istana Kerajaan Bintang Timur sebanyak dua puluh kali tanpa istirahat, semua itu dilakukan agar mereka berdua memiliki kekuatan fisik yang melebihi kekuatan mereka saat ini. Saat Xiao Ziya sedang sibuk mengawasi kedua pemuda itu ia melihat Pangeran Jongsu Zu berlari ke arahnya dengan wajah pucat.


"Adik Ziya tolong selamatkan Ratu Junyi Zu." ucap Pangeran Jongsu Zu dengan nafas tersengal sengal.


"Apa yang terjadi pada ibu?." tanya Xiao Ziya dengan wajah panik, baru saja ia selesai mengatasi beberapa masalah lalu muncul kembali masalah baru.


"Nyonya Mue Sanron memotong kedua telapak tangan Ratu Junyi Zu, saat ayah menanyakan motif dibalik tindakannya wanita itu menjawab ingin membalas Anda." ucap Pangeran Jongsu Zu yang memberikan sedikit penjelasan pada Xiao Ziya.

__ADS_1


Seketika aura gadis itu berubah menjadi sangat mencekam, Zu Junyang dan Zu Genzi merinding merasakan aura gelap yang begitu kental dari gadis itu. Dalam sekejap mata Xiao Ziya melesat meninggalkan mereka bertiga dan pergi menuju ruang kesehatan, Pangeran Jongsu Zu berusaha menyusul gadis itu dan menenangkan amarahnya namun ia gagal. Zu Junyang dan Zu Genzi melanjutkan pelatihan fisik mereka yang sempat tertunda, keduanya tak ingin menyinggung Xiao Ziya lagi karna memiliki konsekuensi yang sangat besar, lari dua puluh putaran sangatlah ringan daripada kehilangan nyawa mereka.


Dalam sekejap mata Xiao Ziya sudah sampai di ruang kesehatan, gadis itu membuka pintu dengan sangat kasar hingga mengejutkan semua orang. Xiao Ziya berjalan menuju ranjang tempat Ratu Junyi Zu dirawat, ia juga melirik ke arah Mue Sanron yang ada di sana.


"Mengapa Anda tak memenjarakan wanita itu!." tanya Xiao Ziya pada Raja Yongling Zu dengan nada tinggi, sebagai seorang raja ia harus tegas menangani kasus seperti ini.


"Kami perlu melakukan persidangan untuk menahannya, Selir Mue Zu memberikan pembelaan menggunakan posisi yang ia miliki." ucap Raja Yongling Zu dengan amarah yang ia tahan sekuat tenaga.


"Anda tak perlu melakukan apapun, saya sendiri yang akan menghancurkan mereka." ucap Xiao Ziya dengan sangat serius, sepertinya akan ada hal besar yang menimpa Mue Sanron dan Mue Linzong.


"Kalian para tabib sialan menyingkir lah!! tak ada hal yang bisa kalian lakukan dengan benar." bentak Xiao Ziya pada para tabib istana Kerajaan Bintang Timur yang tak bisa menghentikan pendarahan Ratu Junyi Zu. Para tabib langsung mundur karna takut saat merasakan aura kegelapan yang begitu kuat dari gadis itu.


Xiao Ziya mengambil beberapa pil dari dalam cincin semesta miliknya, ia harus menemukan pil kehidupan yang ia simpan. Pil kehidupan adalah sebuah pil yang terbuat dari seratus tanaman khusus dari dunia peri, pil tersebut dapat meningkatkan regenerasi tubuh sebanyak seribu kali lipat. Di dunia ini hanya ada beberapa tabib ataupun alkemis yang dapat membuat pil itu termasuk Xiao Ziya, setelah menemukan pil berwarna hijau keemasan gadis itu langsung meminumkannya pada Ratu Junyi Zu.


"Berikan air." ucap Xiao Ziya dengan nada ketus.


Seorang pelayan datang membawakan satu gelas air minum untuk Ratu Junyi Zu, sang ratu meminum air tersebut beserta pil pemberian Xiao Ziya. Ratu Junyi Zu masih sangat kebingungan, diantara semua anggota Keluarga Kerajaan Bintang Timur mengapa gadis luar yang sangat peduli dan khawatir tentang keselamatannya.


"Mengapa Anda sangat mengkhawatirkan saya Nona Ziya?." tanya Ratu Junyi Zu dengan suara lembut, ia sangat ingin tau alasan dibalik sikap Xiao Ziya terhadap dirinya


selama ini.


"Suatu hari Anda akan mengingat siapa saya." jawab Xiao Ziya dengan senyuman tulus.


Setelah meminum pil itu pendarahan di tangan Ratu Junyi Zu berhenti bahkan muncul cahaya berwarna hijau kecemasan di bagian telapak tangan yang telah terpotong. Ratu Junyi Zu dan semua orang yang ada di ruang kesehatan tak percaya dengan apa yang mereka lihat, bagaimana bisa telapak tangan sang ratu tumbuh kembali dengan begitu cepat? pil jenis apa yang telah Xiao Ziya berikan pada sang ratu.


"Sekarang Anda sudah pulih kembali Yang Mulia Ratu Junyi Zu, saya harap Anda bisa menjaga diri dengan baik." ucap Xiao Ziya yang merasa lega karna Ratu Junyi Zu mendapatkan kedua telapak tangannya kembali.


"Terimakasih atas bantuan yang telah Nona Xiao Ziya berikan, saya akan membalas kebaikan Anda nanti." ucap Ratu Junyi Zu dengan wajah berseri-seri.


Mue Sanron menatap tajam ke arah ibu dan anak itu, mengapa gadis seperti Xiao Ziya memiliki hal hal yang sangat luar biasa. Mungkinkah jika ia mendapatkan pil yang sama ia bisa menumbuhkan kembali kedua telapak tangan sang suami.


"Jangan pernah berharap saya akan memberikan pil itu pada suami Anda. Apa yang Anda lakukan pada Ratu Junyi Zu haru ini, saya akan segera membalasnya." ucap Xiao Ziya dengan nada dingin disertai tatapan tajam.


**Hai semua jangan lupa follow Instagram author ya : pusparini682. Jangan sampai author kalian tercinta ini dipandang remeh sama author lain😭😭.


Jangan lupa follow buat yang belum, vote karna wajib, gift hadiah apapun, like like like, komen buat ninggalin jejak, rate bintang lima, share juga ya**.

__ADS_1


__ADS_2