
Xiao Ziya masih terdiam sembari menatap ke arah leluhur bangsa elf itu, jika Lunx menjadi pelayan setianya artinya ia akan ikut kemanapun Xiao Ziya pergi. Lalu bagaimana dengan para elf yang ada di wilayah ini? Xiao Ziya berharap ia tak perlu mengajak mereka semua dalam perjalanan yang akan ia lakukan di hari mendatang. Karna gadis manusia yang kini menjadi nona muda dari leluhurnya hanya diam, Raja Elf berasumsi bahwa gadis manusia itu masih sangat marah atas apa yang telah mereka lakukan dan tak ingin menerima sang leluhur elf menjadi pelayan setianya.
"Apakah Nona Muda tak ingin menerima leluhur kami?." tanya Raja Elf dengan sangat berhati hati, jika perjanjian yang telah dibuat ditolak oleh gadis manusia itu maka leluhur elf akan mendapat hukuman yaitu menghilangnya seluruh jiwa yang masih tersisa di dalam tubuhnya itu.
"Saya bersedia menerima leluhur kalian dan membawanya kemanapun saya pergi namun saya tak bersedia jika kalian harus ikut juga." ucap Xiao Ziya dengan berterus terang pada Raja Elf.
"Anda tak perlu membawa kami karna kami akan tetap tinggal di tempat ini, saya merasa lega karna Anda menerima Tuan Lunx." ucap Raja Elf dengan senyuman tipis.
Xiao Ziya menatap kembali ke arah leluhur bangsa elf itu, ia merasa ada sesuatu yang aneh dengan Lunx. Meskipun auranya dan kekuatan yang Lunx miliki sangat kuat namun kehidupan yang ada di dalam tubuh tua itu seperti tak lengkap. Mungkinkah ada efek samping saat orang yang telah membuat perjanjian dengannya membatalkan perjanjian tersebut secara sepihak? dan di mana Xiao Ziya bisa mencari jiwa lain milik leluhur bangsa elf itu.
"Kemarilah Lunx." ucap Xiao Ziya dengan senyuman yang terasa sangat hangat bagi leluhur bangsa elf itu. Lunx pun berjalan mendekat ke arah Xiao Ziya dan berhenti tepat di depannya.
"Ada apa Nona Muda?." tanya Lunx dengan tatapan bingung.
"Panggil saya Nona Ziya karna nama saya adalah Xiao Ziya. Saya ingin bertanya kemana serpihan jiwamu yang lain pergi?." tanya Xiao Ziya dengan ekspresi penasaran, ia ingin tau apakah jiwa milik Lunx ini bisa diambil kembali
ataukah tidak.
"Menurut buku yang pernah saya baca, saat perjanjian dibatalkan oleh salah satu pihak maka sayalah yang akan menanggung hukumannya. Sebagian jiwa yang saya miliki akan diambil oleh sesuatu yang saya tidak ketahui, akan tetapi jiwa saya pergi ke Alam Neraka." jawab Lunx sesuai dengan yang ia ketahui. Pria tua itu juga menginginkan jiwa miliknya utuh kembali seperti semula namun semua itu terasa sangat tidak mungkin.
"Baiklah setelah urusan saya di Dunia Manusia Abadi ini selesai, kita akan pergi ke Alam Neraka untuk menanyakan hal itu pada Raja Artur. Kebetulan ada beberapa hal yang perlu saya urus juga." ucap Xiao Ziya dengan senyuman lebar, ia akan mengusahakan agar Lunx mendapatkan semua potongan jiwanya lagi.
Lunx tak tau harus mengatakan apa pada gadis manusia yang ini telah menjadi nona mudanya itu, ia sangat senang bercampur dengan sedih karna baru kali ini ia mendapatkan pemilik baru yang begitu baik dan juga ramah. Lunx ingin bersujud di kaki Xiao Ziya namun dengan segera Ziya menahannya.
"Jangan pernah melakukan hal seperti itu dihadapan saya karna saya tak menyukainya." ucap Xiao Ziya dengan ekspresi yang tiba tiba saja berubah menjadi dingin, perubahan yang begitu cepat hingga membuat Lunx dan para elf yang lain merasa takut.
"Maafkan saya Nona Ziya, saya tak akan mengulanginya lagi. Saya hanya ingin berterimakasih karna Anda memiliki niatan baik untuk menyatukan kembali jiwa yang saya miliki." ucap Lunx dengan perasaan bersalah di hatinya.
"Bukankah saat ini statusmu adalah pelayan setia saya? artinya kau adalah milik saya. Saya akan mengusahakan apapun untuk mereka yang telah menjadi milik saya." jawab Xiao Ziya dengan santai.
Setelah pembahasan yang cukup panjang itu Raja Elf menyarankan Xiao Ziya untuk bermalam di istananya dan melanjutkan perjalanan esok pagi, ladang gandum yang ditempati oleh para elf itu akan sangat menyeramkan saat di malam hari. Meski Xiao Ziya tak takut dengan apapun yang ada di ladang gandum itu namun ia memilih untuk bermalam di sana. Raja Elf meminta para pelayan yang ada di istananya untuk menyiapkan kamar terbaik untuk tamu mereka kali ini, Raja Elf juga meminta untuk disiapkan berbagai hidangan untuk makan malam nanti.
Di sisi lain saat ini Xiao Ziya sedang berjalan jalan di sekitar istana bersama dengan Lunx dan juga para elf yang menjadi pemandunya. Karna hari masih sore gadis itu menaiki beberapa anak tangga untuk sampai di lantai atas istana tersebut.
__ADS_1
"Mengapa para elf yang sedang memanen gandum berlarian masuk ke dalam istana?." tanya Xiao Ziya dengan tatapan bingung. Saat ini ia sedang melihat pemandangan hamparan gandum yang sangat luas dari lantai dua istana tersebut, hal yang membuatnya penasaran adalah para elf yang berhenti memanen gandum dan berlari secepat yang mereka bisa untuk sampai di istana tempatnya sekarang.
"Saat matahari tenggelam padang gandum yang terlihat sangat indah itu akan berubah menjadi menyeramkan, banyak makhluk aneh yang menyerang para elf hingga mereka kehilangan nyawa. Sejak saat itu Raja membuat sebuah peraturan dimana para elf harus masuk ke dalam istana sebelum matahari tenggelam." jawab elf yang sedang memandu Xiao Ziya.
Xiao Ziya terus mengamati apa yang ada di padang gandum itu, samar samar matanya melihat ada asap hitam yang keluar dari dalam tanah tempat gandum itu tumbuh. Mata milik Xiao Ziya tiba tiba saja berubah warna menjadi biru cerah karena saat ini gadis itu sedang meminjam kekuatan dari mawar biru yang ada di dalam tubuhnya. Xiao Ziya melihat ribuan tengkorak hidup dengan mata merah menyala bangkit dari dalam tanah, anehnya tak ada satu pun tanaman gandum yang rusak. Tiba tiba saya mata Xiao Ziya tertuju pada seorang anak elf yang masih berusaha berlari dan dikejar oleh beberapa tengkorak itu.
"Kalian tetaplah di sini, saya akan membantu anak itu." ucap Xiao Ziya sembari menunjuk ke satu arah. Lunx dan elf yang sedang memandu Xiao Ziya berusaha menghentikan gadis itu namun mereka gagal karna Xiao Ziya adalah gadis yang sangat keras kepala.
"Kembalilah dengan selamat Nona Ziya." hanya itu yang bisa Lunx katakan, ia tak ingin nona barunya terluka hanya karna menyelamatkan seorang bocah elf.
"Saya akan pergi untuk melaporkan hal ini pada raja." ucap elf yang menjadi pemandu Xiao Ziya, dengan segera Lunx menganggukkan kepalanya dan elf itu langsung turun ke lantai bawah.
Di sisi lain Xiao Ziya baru saja melompat dari lantai dua istana itu, ia segera berlari menuju hamparan ladang gandum dengan membawa pedang hitam miliknya. Gadis itu melesat dengan kekuatan penuh ke arah seorang anak laki laki yang sedang berlari dengan ketakutan karna ia dikejar kejar oleh tengkorak. Tiba tiba saja anak laki laki itu terjatuh dan para tengkorak sudah sangat dekat dengannya, untunglah Xiao Ziya tiba di saat yang tepat dan langsung memotong tubuh tengkorak itu menggunakan pedang hitam miliknya.
"Berlindung lah dibelakang ku." ucap Xiao Ziya sembari menatap anak laki laki itu.
"Terimakasih nona." ucap anak laki laki itu yang langsung bangkit kemudian berlindung di belakang gadis manusia yang ada di hadapannya.
Xiao Ziya membalikkan badannya dan melihat kembali ke arah tengkorak yang telah ia potong, ternyata mereka bisa menyatukan kembali tulang tulang yang sudah berserakan itu. Xiao Ziya tersenyum miring karna ia sudah tau apa yang harus dilakukan, jika kalian tak bisa dipotong maka akan saya bakar." ucap Xiao Ziya yang langsung melapisi pedang hitamnya itu menggunakan api hitam dan api putih miliknya. Gabungan antara kedua jenis api tersebut akan membakar habis para tengkorak hidup itu hingga mereka tak akan bisa beregenerasi lagi.
"Bagaimana bisa Nona Ziya menghentikan pertumbuhan tengkorak sialan itu?." tanya Raja Elf pada dirinya sendiri. Sudah banyak yang para elf lakukan agar tengkorak hidup itu tak kembali ke padang gandum milik mereka namun semua rencana yang mereka buat selalu gagal. Sihir suci yang pernah Raja Elf pelajari juga tak mempan pada para tengkorak hidup itu, saat tulang tulang mereka hancur maka dalam beberapa saat akan menyatu kembali.
Xiao Ziya menebas para tengkorak hidup yang berdatangan dalam jumlah yang sangat banyak itu, setelah pedang miliknya mengenai tulang para tengkorak itu maka mereka langsung terbakar kemudian hangus menjadi abu. Anak laki laki yang sedari tadi berdiri di belakang Xiao Ziya menatap kagum ke arah gadi itu, bagaimana bisa seorang manusia biasa memiliki kekuatan yang melebihi Raja Elf? mungkinkah manusia yang ada di hadapannya itu jelmaan seorang Dewi?.
"Tunggulah karna sebentar lagi pertarungan ini akan selesai." ucap Xiao Ziya pada anak laki laki yang berada di belakangnya.
Xiao Ziya mempercepat serangannya, sudah lebih dari setengah pasukan tengkorak hidup yang musnah di tangan gadis itu. Tiba tiba saja Xiao Ziya mendengar suara telapak kaki kuda, gadis itu langsung melihat jauh ke depannya dan di sana ada satu tengkorak yang berbeda dengan yang lain. Tengkorak itu memiliki sorot mata berwarna hitam legam dengan armor yang menutupi seluruh tulangnya dan ia datang dengan menunggangi kuda. Raja Elf yang saat itu sedang mengawasi pertarungan Xiao Ziya seketika menjadi panik karna pemimpin dari pasukan tengkorak itu telah datang.
"Nona sebaiknya Anda mundur dan kembali ke istana!!." triak Raja Elf dengan suara yang sangat kencang hingga terdengar jelas di telinga Xiao Ziya.
"Kau dengar itu nak, lari lah dan pergi temui pria itu. Ah iya jangan lupa kau harus memukul kepalanya dengan kencang karna suaranya membuat telinga saya sakit." ucap Xiao Ziya yang memberikan perintah pada anak laki laki itu. Dengan segera anak laki laki itu berlari menuju ke arah istana, entah mengapa ia merasa langkahnya semakin ringan.
Saat anak laki laki itu hendak berlari, Xiao Ziya memberikan sedikit energi qi yang ia miliki agar bisa berlari dengan kencang. Di sisi lain jenderal para pasukan tengkorak hidup sudah ada di hadapan Xiao Ziya, mereka berdua saling bertatap tatapan dengan sorot mata tajam.
__ADS_1
"Kau telah membunuh ribuan pasukan ku, jangan berharap kau bisa kabur dari tempat ini." ucap jenderal pasukan tengkorak dengan kemarahan yang ia arahkan pada Xiao Ziya.
"Saya tak berniat kabur dari sini, tapi mengapa kalian hanya muncul saat malam hari saja?. Apakah kalian takut dengan sinar matahari?." tanya Xiao Ziya dengan senyuman lebar di wajahnya.
Jenderal tengkorak itu tak ingin menjawab pertanyaan dari Xiao Ziya, ia memerintahkan seluruh pasukan tengkorak yang tersisa untuk menyerang gadis itu secara bersamaan. Kini Xiao Ziya sedang dikepung oleh seribu tengkorak hidup, mereka mengarahkan pedang secara bersamaan pada Xiao Ziya. Xiao Ziya tak tinggal diam, ia melapisi seluruh tubuhnya menggunakan api hitam dan api putih yang ia miliki sehingga para tengkorak yang berani mendekat akan langsung terbakar hingga tak tersisa.
"Kau benar benar merepotkan." ucap jenderal tengkorak yang langsung turun tangan untuk menyerang Xiao Ziya, pedang berwarna merah darah dengan permata hitam di bagian tengahnya dapat menandingi pedang hitam milik Xiao Ziya. Pertarungan diantara keduanya berlangsung cukup lama hingga anak laki laki itu telah sampai di dalam halaman depan istana Kerajaan bangsa elf.
Dengan segera anak laki laki itu menaiki tangga untuk menghampiri Raja Elf, ketika sudah berada di belakang Raja Elf anak laki laki itu langsung menendang bokong sang raja dengan kencang hingga Raja Elf hampir terjatuh.
"Apa yang sedang kau lakukan, mengapa tiba tiba kau menyerang ku?." tanya Raja Elf dengan sedikit membentak.
"Nona itu yang meminta ku untuk melakukannya, ia mengatakan suara Yang Mulia Raja Zuenz sangatlah mengganggu dan membuat telinga nona itu terasa sakit." ucap sang anak laki laki dengan tatapan polos kemudian ia turun dan langsung masuk ke dalam istana.
Raja Elf hanya bisa diam dan tak membalas perbuatan anak laki laki itu, ia tak ingin berurusan dengan Nona Ziya jika sampai melukai anak laki laki yang beru saja diselamatkan olehnya. Raja Elf kembali mengawasi pertarungan antara Xiao Ziya dengan Jenderal tengkorak, ia berharap Nona Ziya yang berasal dari bangsa manusia itu dapat mengalahkan jenderal tengkorak.
"Kau tak akan mampu mengalahkan ku wahai gadis manusia. Kekuatan yang ku miliki jauh berada di atas mu." ucap jenderal tengkorak itu dengan nada bicara yang terdengar sangat menyebalkan.
Dengan segera Xiao Ziya memasukkan pedang hitamnya dan mengambil pedang emas dari dalam cincin penguasa mutlak, pedang emas yang ia miliki sebagai simbol bahwa Xiao Ziya adalah Dewi tertinggi dari Alam Dewa Dewi. Pedang emas itu telah mendapat berkat dari semua penghuni Alam Dewa Dewi sehingga dapat memancarkan cahaya serta energi suci dalam jumlah besar. Jendela tengkorak itu terdiam saat melihat pedang emas dengan kilau yang menyilaukan sedang dipanggang oleh seorang manusia.
"Mengapa pedang itu ada di tangan manusia seperti mu?." tanya sang jendral tengkorak dengan sedikit perasaan takut yang menghantuinya.
"Apakah seorang manusia tak bisa mendapatkan posisi tertinggi di Alam Dewa Dewi? hapus pemikiran mu itu wahai Jenderal Tengkorak." ucap Xiao Ziya yang langsung mengeluarkan cahaya yang sangat terang dari pedang emasnya. Tiba tiba saja armor yang digunakan oleh jenderal tengkorak meleleh, kuda yang ia tunggangi menghilang begitu saja, kini sang jenderal tampak seperti pasukan tengkorak yang lain.
"Takkan kubiarkan kau menang!!." triak sang jenderal tengkorak penuh dengan kemarahan, ia menyerang Xiao Ziya menggunakan pedang miliknya itu, namun pedang berwarna merah darah itu meleleh saat berdekatan dengan pedang emas milik Xiao Ziya. Tanpa membuang buang waktu Xiao Ziya langsung menebas tubuh sang jenderal menggunakan pedang emas milikinya. Setelah tubuh jenderal itu hancur seluruh pasukan tengkorak iblis juga ikut hancur dengan sendirinya.
Raja Elf tersenyum bahagia karna musuh dari bangsa elf yang tunggal di padang gandum telah musnah untuk selamanya, semua itu berkat gadis manusia yang sempat ia remehkan. Ternyata tak semua manusia itu serakah mungkin bangsa elf yang kurang mengenal beberapa sifat manusia.
"Terimakasih banyak Nona Xiao Ziya." ucap Raja Elf dengan suara yang sangat lantang, ia tak lupa untuk membungkukkan badannya.
Anak laki laki yang diselamatkan oleh Xiao Ziya kembali mendengar suara lantang dari Raja Elf, ia khawatir saat ini nona yang telah menyelamatkannya sedang sakit telinga karna teriakan itu. Akhirnya sang anak laki laki berlari keluar dari istana dan kembali naik ke atas di dingin gerbang, tak lupa ia menendang kembali bokong Raja Elf lebih kencang dari sebelumnya. Kali ini Raja Elf jatuh dari dinding gerbang yang cukup tinggi, untunglah ia tak mati karna terjatuh dari tempat setinggi itu.
"Jangan berteriak pada Nona lagi, jika tidak aku akan menendang Anda lagi." ucap anak laki laki itu dengan raut wajah marah sedangkan Xiao Ziya dan para elf yang lain hanya bisa tertawa.
__ADS_1
Hai hai semua author balik lagi nih, oh iya chapter yang satunya nyusul nanti malam yak wkwkwk. Jangan lupa follow buat yang belum, vote karna wajib, gift hadiah apapun, like like like, komen buat ninggalin jejak, rate bintang lima, share juga ya.