
"Pak, Maafin saya,"
Melihat wajah Abash yang dingin dan tatapan yang tajam, Sifa pun mulai panik. Ia tak boleh kehilangan pekerjaan ini, ini satu-satunya pekerjaan yang bergaji besar sebagai seorang cleaning servis. Sifa pun mengejar Abash, namun naas, kakinya tersandung dengan pel yang tadi Abash hempaskan ke lantai.
"Pak, tunggu, maafin saya, sayang gak sengaja," ujar Sifa yang mana malah membuat dirinya terjatuh kedalam pelukan Abash, saat Abash membalikkan tubuhnya.
Karena terkejut, Abashbpun kehilangan keseimbangan dan juga ikut terjatuh. Bibir dingin Sifa menyentuh bagian rahang Abash, yang mana membuat sesuatu yang terasa aneh pada tubuh mereka.
Sifa mengerjapkan matanya saat mata dirinya dan Abash bertemu. Sifa masih berada di atas Abash, ia menopang tubuhnya dengan kedua tangannya.
"Maaf, pak." cicit Sifa, namun masih belum berpindah dari atas tubuh Abash.
Sifa terhanyut kedalam bola mata Abash yang berwarna coklat pekat. Bola mata yang lembut namun juga sangat tajam. Entah kenapa, Sifa merasa jika ia tak bisa beralih dari tatapan bola mata tersebut, seolah tatapan matanya telah terkunci di sana dan enggan berpaling.
"Mau sampai kapan Kamu berada di atas, Saya?"
Suara berat Abash menyadarkan keterpanaan Sifa. Sifa dengan cepat langsung bangkit dari atas tubuh Abash.
"Maaf, Pak." cicit Sifa lagi.
Abash bangkit dan meringis saat merasakan pinggangnya sakit karena terbentur oleh lantai.
"Bapak baik-baik aja?" tanya Sifa yang refleks mencoba untuk membantu Abash berdiri.
Tak ada penolakan, Abash menerima uluran tangan Sifa dan menopang tubuhnya.
"Pinggang saya sakit gara-gara Kamu." cetus Abash dengan jutek.
"Maaf, Pak. Saya cuma takut kalo bapak marah dan memecat saya."
Abash menghela napasnya pelan. Dengan perlahan ia mencoba berjalan kembali kesofa. Sifa kembali refleks membantu Abash dan memapahnya, tak ada penolakan dari Abash, mungkin Abash memang benar-benar merasakan sakit pada bagian punggungnya.
Setelah membantu Abash duduk, Sifa memberanikan diri menawarkan pijitan kepada Abash.
"Ba-bapak mau saya pijitin? atau mau kedokter?" tanya Sifa dengan gemetar.
"Lebay banget harus kedokter." cetus Abash.
"Trus? mau saya pijitin?" tawar Sifa lagi.
"Emang kamu bisa mijit?" entah kenapa Abash mengatakan hal itu, padahal, ia adalah salah satu orang yang tak ingin tubuhnya di sentuh oleh orang asing.
Yaa, Abash dan Lucas memiliki sedikit kesamaan, bedanya Abash masih mau makan sesendok atau pun sepiring berdua. Berbeda dengan Lucas yang enggan dan merasa jijik untuk melakukan hal tersebut.
__ADS_1
"Bisa, Pak. Kata nenek saya, waktu lahir, saya lahirnya sungsang, jadi kata orang dulu, saya bisa mijitin orang." jawab Sifa dengan wajah polosnya.
"Kamu percaya?"
"Tapi, nenek saya bilang, kalo pijitan saya memang enak kok pak, bahkan tetangga saya ada yang terkilir dan minta dipijit dengan saya." jelas Sifa.
"Hmm, ya udah, coba kamu pijitin dulu, awas aja kalo makin parah." ketus Abash.
Sifa pun mengangguk dan berjalan kearah punggung Abash.
"Maaf ya pak,"
Sifa meraba bagian pinggang Abash, hanya dengan menyentuh dari bagian luar baju saja, Sifa sudah merasakan jika pinggang Abash terkilir, itu yang menyebabkan bokongnya sakit.
Abash sempat meringis saat Sifa menekan bagian bawah pinggangnya.
"Sa-saya buka baju bapak boleh?" tanya Sifa ragu.
Tak ada jawaban dari Abash.
"Cu-cuma di pinggang aja yang saya pijitnya,"
Abash perlahan bergumam dan membuka kemejanya. Sifa menelan ludahnya karena merasa gugup, apa lagi melihat tubuh toples bagian atas Abash yang sangat berbentuk.
Sifa menarik napasnya dan membuang pandangannya. Sifa pun mengambil minyak zaitun yang selalu ia bawa dalam botol kecil. Entahlah, Sifa selalu membawanya kemana pun ia pergi, mungkin jiwa tukang pijitnya yang mengontrol fikirannya untuk membawa minyak zaitun kemana pun ia pergi.
"Aaww ....." Abash memekik sakit saat Sifa menekan kuat pinggangnya.
"Kamu mau buat pinggang saya cidera?" pekik Abash dan berbalik kearah Sifa.
Sifa mengerjapkan matanya, begitupun dengan Abash yang tidak merasakan lagi sakit di pinggangnya. Sepertinya Sifa benar-benar bisa memijit.
Abash pun memutar tubuhnya, mencari rasa sakit yang ia rasakan tadi, namun ia tak merasakan apapun lagi. Pinggangnya seketika tak merasaka sakit.
"Pintar juga kamu mijitnya," puji Abash.
Sifa tersenyum, "Terima kasih, Pak. Eh, tapi saya gak dipecat ini kan?" tanya Sifa yang kembali mengkhawatirkan pekerjaannya.
"Iyaa, saya gak bakal pecat Kamu. Lain kali, kalo kerja itu hidupkan lampunya." ujar Abash sambil mengenakan kembali pakaiannya.
"Iya Pak, maafkan saya."
Kriiuukkk ....
__ADS_1
Sifa melebarkan matanya saat Abash menatapnya tajam.
"Bu-bukan perut saya, Pak. Sumpah."
Abash mengerjapkan matanya. Ia berdehem sebentar sebelum kembali berbicara.
"Itu perut saya, saya lapar." ujar Abash dengan memandang kearah lain.
"Ooh, Bapak mau saya pesankan makanan?"
"Tidak usah, Kamu lanjut saja bekerja, saya bisa pesan sendiri."
Sifa pun menganggukkan kepalanya dan kembali melanjutkan membersihkan kamar mandi. Sedangkan Abash, ia meraih ponselnya yang ada di atas meja dan mengutak Atik ponselnya.
*
Satpam mengetuk pintu ruangan Abash di saat Sifa tengah mengepel lantai ruangan Abash. Setau satpam, tak ada yang boleh membersihkan ruangan bosnya, di saat Abash berada di dalam ruangannya. Tapi? kenapa Abash membiarkan Sifa untuk membersihkan ruangannya di saat ia berada di dalam ruangan?
Abash mengambil pesanan makananya dan memberikan uang kepada satpam untuk membayar makanannya. Satpam pun meninggalkan ruangan Abash.
Sifa telah selesai dengan pekerjaannya, saat ia ingin pamit meninggalkan ruangan Abash, Abash menyuruhnya mencuci tangan dan duduk di sofa.
Dengan kening mengkerut, Sifa menuruti perintah Abash.
"Ini untuk kamu, temani saya makan." uajr Abash sambil menyodorkan satu kotak makanan kepada Sifa.
"Saya sudah makan, Pak." tolak Sifa.
"Jadi kamu gak mau?" tanya Abash sambil menaikkan alisnya sebelah.
Abash melakukan hal ini hanya untuk berterima kasih kepada Sifa, karena Sifa telah memijit pinggangnya hingga tak terasa sakit lagi. Walaupun itu karena ulah Sifa sendiri.
"Iyaa, Pak, saya makan."
Sifa meraih kotak makan yang diberikan oelh Abash. Ia membuka tutupnya secara perlahan. Aroma makanan yang ada di dalam kotak, mengunggah kembali selera makan Sifa, namun ia harus kembali menghela napasnya pelan saat melihat Nasi di dalam kotak tersebut.
Helaan napas sifa terdengar oleh Abash.
"Kenapa? kamu gak suka?" tanya Abash.
"Hah? buk-bukan begitu Pak, menunya sangat enak dan mengunggah selera. Tapi, saya gak suka makan nasi."
Abash terbatuk karena ludahnya sendiri, "Apa? kamu gak makan nasi?"
__ADS_1
\=\= Jangan lupa Vote, Like, and komen ya ..
Salam sayang dari ABASH dan ARASH.