
Acara prosesi akad nikah pun telah terselesaikan dengan lancar. Waktunya Sifa dan Abash beristirahat, sebelum mereka melanjutkan ke puncak pesta sebenarnya.
"Karena sudah sah jadi suami istri, jadi kalian beristirahatnya di kamar yang sama, ya?" ujar Mama Kesya dengan tersenyum lebar.
"Iya, Ma," jawab Abash yang tersenyum lebih lebar lagi.
"Emm, kenapa Sifa harus di kamar yang sama, Ma? Apa gak pisah kamar aja dulu?" cicit Sifa dengan wajah yang merona.
Bukan tanpa alasan Sifa berkata seperti itu, karena sedari tadi Abash terus saja berbisik mesum kepadanya. Bukannya Sifa ingin menunda untuk memberikan hak Abash, akan tetapi, Sifa takut jika mereka berada di dalam satu kamar yang sama, Abash akan kelepasan kendali dan membuat banyak tanda merah di tubuhnya.
Ya, setidaknya itulah info yang Sifa dapatkan dari Putri.
Membayangkannya saja, Sifa sudah merasa malu, bagaimana jika hal itu benar-benar terjadi?
"Kenapa mesti pisah lagi, Sifa? Sudah sah juga, kok. Lagian, segala keputusan ada di tangan suami kamu," tutur Mama Kesya. "Coba deh tanya sama suami kamu, apa boleh pisah kamar?" Mama Kesya pun tersenyum penuh arti kepada sang menantu.
"Gak mau. Lagian udah sah juga. Kenapa harus pisah kamar lagi?" tolak Abash.
"Emm, bukan begitu, Mas. Tapi---"
"Gak pake tapi. Intinya kita harus berada di kamar yang sama sekarang, titik," titah Abash yang tidak ingin mendengar penolakan lagi dari sang istri.
"Iya, Mas." Sifa hanya bisa menganggukkan kepalanya, menuruti apa yang dikatakan oleh suaminya itu.
"Ya sudah kalau begitu, selamat beristirahat aja, ya," ujar Mama Kesya. "Ingat, Bash, jangan membuat Sifa kelelahan," ucap Mama Kesya sebelum meninggalkan Abash dan Sifa berdua di kamar mereka.
"Iya, Ma," jawab Abash dengan tersenyum lebar.
Mama Kesya telah berlalu meninggalkan kamar Abash dan Sifa, sehingga meninggalkan pengantin baru itu berdua.
"Kita masuk yuk," ajak Abash sambil merangkul pinggang sang istri.
"Hah? Ah ya." Sifa merasa gugup, tetapi dia tetap harus menuruti perkataan sang suami, kan?
Sifa dan Abash pun sudah berada di dalam kamar, pria itu pun menuntun sang istri untuk duduk di meja rias.
"Apa kepala kamu tidak merasa sakit memakai sunting-sunting ini?" tanya Abash yang sudah menatap Sifa dari pantulan kaca.
"Lu-lumayan sakit, Mas."
"Hmm, baiklah."
Abash pun menghubungi seseorang, membuat Sifa mengernyitkan keningnya.
"Mas barusan telepon siapa?" tanya Sifa berbalik menatap sang suami.
"Mua, aku mau suruh mereka melepaskan sunting kamu."
"Oh, begitu," lirih Sifa merasa kecewa.
Sifa pikir, jika Abash yang akan melepaskan sunting-suntingnya, seperti apa yang diceritakan oleh Putri. Abash melihat wajah Sifa yang cemberut.
"Kenapa, sayang? Kok cemberut?" tanya Abash yang mana membuat Sifa mendongakkan kepalanya.
"Hmm? Gak papa kok."
__ADS_1
Abash berjalan mendekati sang istri. "Apa kamu berharap aku yang melepaskannya?"
Abash tersenyum lebar, di saat merasa jika tebakan pria itu tepat. Lihat sasja ekspresi wajah Sifa yang terlihat terkejut dengan bola mata yang membulat dengan sempurna.
"Sayang, sunting kamu ini sunting sunda. Banyak pernak perniknya. Aku takut menyakiti kamu, jika aku yang melepaskannya. Makanya aku meminta MUA untuk melepaskannya, karena mereka yang lebih paham dan mengerti," jelas Abash.
"Kenapa Mas gak berusaha untuk melepaskannya?" tanya Sifa dengan bibir manyunnya.
"Aku akan berusaha melepaskannya, tapi tidak melepaskan sunting." Abash semakin mendekat ke arah Sifa dan berbisik ke telinga sang istri. "Tapi aku akan berusaha melepaskan semua pakaian kamu, sayang."
"Maasss ..." pekik Sifa pelan dan mendorong tubuh Abash untuk menjauh darinya.
Abash tertawa terbahak-bahak melihat wajah merona sang istri. Betapa sungguh menggemaskannya wajah Sifa saat ini. Bersamaan dengan tawa Abash yang menggelegar, bel pun berbunyi, menandakan jika ada seseorang yang berada di luar kamar mereka.
"Aku rasa MUA-nya sudah datang. Biar aku yang membukakan pintunya." Abash berdiri dan berjalan mendekat ke arah pintu.
Benar saja, yang berada di depan pintu kamar hotel Abash dan Sifa adalah tim mua.
"Maaf mengganggu, Pak," ujar asisten MUA tersebut.
"Ya, tidak masalah, silahkan masuk," titah Abash dan membiarkan dua orang yang bertugas untuk membuka sunting Sifa masuk ke dalam kamarnya dan Sifa.
Kedua asisten MUA itu pun langsung menghampiri Sifa dan melepaskan sunting-sunting yang ada di kepala wanita itu.
Abash yang mulai merasa kegerahan dengan jas nikahnya pun, membuka baju nikah itu dan menyisakan baju kaos berwarna putih pas body. Penampilan pria itu yang terlihat lebih sederhana pun membuat siapa saja yang melihatnya pasti tergoda. Di tambah lagi ketampanan Abash yang terlihat sangat paripurna dan sempurna.
"Ci, pegang ini," ujar salah satu asisten mua kepada asisten yang lain.
"Hah? Ah ya."
"Ci, kamu kerja yang bener dong? Ini sunting mahal, tau," tegur temannya Ci.
"I-iya, maaf ... maaf ..."
"Kalau di suruh ganti, lo harus bayar lebih banyak, karena lo yang salah," ketusnya.
"Iya."
Sifa melirik dengan kesal gadis yang dipanggil 'Ci' itu, karena Sifa sedari tadi memang memperhatikan jika gadis itu terus saja melirik ke arah sang suami.
"Ci ..." tegur temannya lagi, karena si Ci itu lagi-lagi menjatuhkan sunting yang dia beri.
"Maaf ... maaf ..." ujar Ci sambil meringis pelan di saat melihat batu swarovski yang ada pada sunting terlepas.
"Tu lah, kalau kerja itu yang benar. Mata itu jangan jelalatan. Gak sopan banget, sih?" tegur temannya.
"Maaf ... maaf ..." ujar Ci sambil menundukkan kepalanya kepada Sifa.
"Sudah selesai? Jika sudah, kalian boleh keluar," titah Sifa yang merasa tidak suka cara Ci menatap Abash.
"Baik, Buk," jawab temannya CI.
"Tapi, ini kan ada beberapa tusuk rambut yang belum di lepas?" tunjuk Ci ke arah rambut Sifa.
Temannya Ci itu menarik tangan Ci, tak lupa melototkan matanya untuk memberikan peringatan kepada gadis itu agar berlaku sopan terhadap klien mereka.
__ADS_1
"Maaf, Buk, Pak, kami permisi dulu, pamit temannya Ci itu dan menarik Ci untuk keluar dari kamar Abash dan Sifa.
Sifa berdecak kesal dan melirik ke arah sang suami.
"Ada apa, sayang?" tanya Abash yang melihat perubahan wajah sang istri yang terlihat sedang kesal. Abash pun berjalan mendekat ke arah sang istri.
"Kesal banget dengan gadis yang bernama Ci itu. Bisa-bisanya dia mencuri pandang ke arah kamu, Mas," kesal Sifa.
"Benarkah? Jadi kamu tidak menyukainya?" tanya Abash lagi.
"Tentu saja tidak. Lagian, kamu kenapa harus membuka baju di depan mereka, sih? Kamu kan bisa membuka baju di kamar mandi, Mas," kesal Sifa.
"Aku hanya membuka jasnya aja, sayang, bukan membuka baju aku," ujar Abash sambil menunjuk ke arah tubuhnya.
"Lihat saja, aku masih mengenakan pakaian kok."
"Ck, bukan itu, Mas. Tapi, walaupun kamu memakai baju ini, tetap saja kamu terlihat seksi, tau. Dan aku tidak suka kamu terlihat seksi di depan orang lain," lirih Sifa dengan cemberut.
Abash tersenyum, kemudian mengusap pipi Sifa dengan lembut.
"Jadi ceritanya kamu ini lagi cemburu?" goda Abash.
Sifa lagi-lagi mencebikkan bibirnya dengan kesal. "Memangnya aku gak boleh cemburu? Kalau suami aku di pandang oleh cewek lain, Mas?" ketus Sifa. "Bagaimana jika aku dipandang oleh pria lain, apa kamu tidak marah?"
"Aku akan mencongkel mata mereka, hingga mereka tidak bisa melihat kamu lagi, sayang," sahut Abash dengan nada suara yang dingin.
"Nah kan, kamu aja cemburu, masa aku gak boleh sih?"
"Hmm, baiklah kalau begitu. Aku akan melaporkan kejadian ini dengan MUA-nya langsung." Abash berdiri dan melangkah menuju di mana ponselnya berada.
"Mas, kamu mau apa?" tanya Sifa yang sudah mencekal lengan Abash.
"Aku akan katakan jika cewek yang bernama Ci itu bekerja tidak becus," jawab Abash.
"Tidak, Mas, biarkan saja. Aku takut jika kamu melaporkan hal itu, dia akan kehilangan pekerjaannya," lirih Sifa.
"Tapi dia memang bekerja tidak becus, sayang."
"Iya, Mas, setidaknya jangan laporkan. Aku takut jika dia memang benar-benar membutuhkan pekerjaan ini. Sebaiknya di tegur saja secara halus, Mas," saran Sifa.
Abash menghela napasnya dengan pelan dan menganggukkan kepalanya. "Baiklah, bagaimana baiknya dengan kamu saja, sayang."
"Mas," panggil Sifa dengan pelan saat Abash merangkul pinggangnya.
"Ya?"
"Bantu aku lepaskan jepitan-jepitan rambut ini, Mas, kepala aku masih terasa terikat dengan kuat," cicit Sifa dengan pelan.
Abash melihat ke arha rambut Sifa yang memang masih tersanggul, pria itu tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
"Hmm, baiklah kalau begitu. Ayo," ajak Abash dan menuntut sang istri untuk kembali duduk di kursi rias.
Sifa tersenyum, di saat melihat wajah Abash kesusahan saat melepaskan jepitan rambutnya.
"Lucu banget kamu, Mas?" batin Sifa yang sudah merasa moodnya kembali membaik.
__ADS_1