
"Zi," panggil Arash yang mana membuat Zia berbalik.
"Ya?"
"Kamu tidur saja di kamar aku," titah Arash.
Zia mengerjapkan matanya sekali. Apa dia tidak salah dengar?
"Hah?"
"Di kamar kamu pasti tempat tidurnya tidak akan muat, jika kamu tidur berempat bersama Rayyan, Yumna, dan Mama. Jadi, sebaiknya kamu tidur di kamar aku saja. Aku akan tidur di sofa," ujar Arash yang lagi-lagi membuat Zia mengerjapkan matanya cepat.
"Mak-maksudnya gimana? Aku tidur di kamar, Mas, gitu?" tanya Zia memastikan.
"Iya."
Zia tersenyum. "Gak papa, Mas. Terima kasih atas tawarannya. Tapi aku rasa itu tidak perlu. Lagi pula tadi aku sudah beli tempat tidur angin. Aku bisa tidur di sana," tolak Zia.
"Tempat tidur angin? Kapan?" tanya Arash. "Bukannya kamu hanya pergi ke rumah sakit saja tadi?" tanya Arash penasaran.
"Sepulang dari rumah sakit."
Eheekk … eheekk … eheekk …
Zia mendengar suara tangis Yumna, membuat gadis itu pun berpamitan kepada Arash untuk melihat putrinya. Em, maksudnya Putri suaminya.
Arash hanya menatap kepergian Zia yang menghilang di balik pintu kamar gadis itu.
Pukk …
Arash terkejut, di saat Mama Nayna menepuk bahunya.
"Mandangin apa sih?" tanya Mama Nayna sambil mengulum senyumnya.
"Hah? Oh, itu, Ma. Yumna sepertinya nangis," jawab Arash gugup.
__ADS_1
Mama Nayna terkekeh. "Kalau memang kamu ingin melihat Yumna, kenapa malah bengong di sini? Sana masuk, lagi pula kamu dan Zia kan sudah menjadi suami istri? Gak masalah kalau kalian berada di satu ruangan yang sama," ujar Mama Nayna yang mana membuat Arash menggaruk tengkuknya yang tidak gagal.
"Se-sepertinya Yumna sudah tidak nangis lagi, Ma. Arash masuk kamar dulu ya, Ma," pamit Arash dan langsung kabur masuk ke dalam kamarnya.
Mama Nayna menggelengkan kepalanya, melihat tingkah Arash yang terlihat sangat menggemaskan malam ini.
"Malu-malu kucing ternyata. Gengsinya terlalu tinggi," gumam Mama Nayna sambil menggelengkan kepalanya pelan. "Ntar, kalau udah hilang aja, baru panik."
Mama Nayna pun masuk ke dalam kamar, melihat Zia yang sedang memberikan susu kepada Yumna.
"Biar Mama aja yang jagain Yumna, kamu tidur aja, Zi," titah Mama Nayna.
"Gak papa, Ma. Lagi pula seharian ini Yumna kan gak sama Zia. Biar Zianaja yang jagain Yumna, Mama tidur aja," ujar Zia menolak perintah sang mama dan malah menyuruh Mama Nayna untuk tidur.
"Bagus juga kasurnya, Zi. Nyaman juga di duduki," ujar Mama Nayna saat melihat kasur angin yang Zia dan Ibra beli.
Bahkan, cara pemasangan kasur tersebut sangat praktis, tidak perlu tenaga untuk memompanya, karena jika alatnya sudah terpasang di tempatnya, maka kasur itu akan terisi angin sendiri sesuai kapasitasnya.
"Ibra yang milihin tadi, Ma. Awalnya Zia mau beli kasur biasa, tapi Ibra menyarankan untuk membeli kasur itu," ujar Zia memberitahu.
"Maa …."
"Loh, kenapa memangnya? Ada yang salah dengan ucapan Mama?" tanya Mama Nayna sambil mengulum bibirnya.
"Ma, Zi sudah menjadi istri orang, Ma," ujar Zia mengingatkan.
"Istri kok pisah kamar?" sindir Mama Nayna yang mana membuat Zia terdiam tak bisa berkutik lagi.
Ya, apakah dirinya memang berstatus istri bagi Arash? Sedangkan mereka tidur di kamar yang terpisah. Dan juga, Arash tidak pernah memberikan nafkah batin untuk Zia. Apakah itu bisa dikatakan jika dirinya seorang istri?
"Zi, Mama tahu perjanjian kamu dan Arash. Di mana jika kamu menemukan pria yang bisa membuat kamu bahagia, maka Arash akan melepaskan kamu. Dan juga, Arash berjanji jika dirinya tidak akan melarang kamu untuk menemui Rayyan dan Yumna," ujar Mama Nayna mengingatkan tentang perjanjian pernikahan yang telah dibuat oleh Arash dan Zia.
"Ibra datang kembali di kehidupan kamu, Zi. Seolah itu adalah pertanda jika dia adalah pria yang tepat untuk kamu."
"Maa …"
__ADS_1
"Zia, tidak ada orang tua yang ingin melihat anaknya sedih dan menderita. Kamu mungkin bisa berkata jika kamu bahagia menikah dengan Arash, tapi kebahagiaan kamu itu hanya sebatas jnu sambungnya Yumna dan Rayyan. Tapi, tidak untuk menjadi istri yang utuh dan dicintai oleh suami kamu, Zi. Mama hanya ingin melihat kamu hidup bahagia bersama dengan pria yang mencintai kamu," ujar Mama Nayna menatap sendu ke arah sang putri.
Mama Nayna bangkit dari duduknya dan mendekati Zia. Tangan mama Nayna terulur untuk menyentuh wajah putri kecilnya yang sudah beranjak dewasa itu.
"Zi, kebahagiaan seorang istri, terletak pada suaminya. Jika istri memiliki suami yang sangat mencintai dirinya, maka kebahagiaan seorang istri akan selalu terjamin, Zi. Untuk itu, kamu harus menikah dengan pria yang mencintai kamu, bukan karena alasan lain," ujar Mama Nayna menasehati.
"Jika kamu merasa lelah dengan pernikahan ini, maka akhiri saja, Zi, sebelum semuanya terlambat. Sebelum kamu terlanjur jatuh cinta kepada Arash," sambung Mama Nayna dan tersenyum kepada Zia.
"Kamu patut bahagia, Zi. Jangan korbankan kebahagiaan kamu demi orang yang tidak bisa menghargai pengorbanan kamu."
Ya, Mama Nayna kesal dengan Arahs yang telah memperlakukan putrinya dengan tidak layak. Bukan maksud Mama Nayna ingin Arash menyentuh Zi, bukan. Tapi, menurut informasi yang Mama Nayna dapat, setiap Zia ingin berbuat baik untuk Arash, pria itu selalu menolaknya dengan kasar. Untuk itulah, Mana Nayna merasa kesal kepada sifat Arash yang tidak selembut saat bersama almarhumah Putri
"Mau sampai kapan kamu bertahan di posisi ini, Zi? Mau sampai kapan?"
Zia benar-benar tidak memiliki jawaban untuk menjawab semua perkataan sang mama. Gadis itu hanya terdiam sambil menundukkan kepalanya menatap wajah Yumna dan Rayyan yang tertidur dengan lelap.
"Biarkan diri kamu bahagia dan merasakan bagaimana di ratu kan oleh seorang pria," ujar Mama Nayna tersenyum dengan hangat kepada sang putri.
Setelah percakapannya dengan Mama Nayna tadi. Zia benar-benar tidak bisa menutup matanya, karena terus saja kepikiran tentang Rayyan dan Yumna. Zia berpikir, apakah dirinya mampu untuk melepaskan hak asuh Yumna dan Rayyan?
Karena Yumna dan Rayyan lah, Zia tetap bertahan dengan keegoisan Arash, di mana pria itu tidak menepati janjinya untuk memperlakukan Zia dengan baik.
Tapi, bagaimana jika Arash tiba-tiba saja bertemu dengan seorang wanita yang bisa menaklukkan hati pria itu dan mengganti posisi Almarhumah Putri? Pastinya Zia juga akan tersingkir kan? Lalu, bagaimana dengan Yumna dan Rayyan.
Membayangkan dan memikirkan gak tersebut, membuat Zia benar-benar tidak bisa tidur nyenyak malam.
"Akkhh … ini semua karena perkataan Mama," gumam Zia kesal.
Zia pun berniat untuk menjernihkan pikirannya dengan segelas coklat hangat. Wanita itu pun bangkit dari tidurnya dan berjalan keluar kamar untuk membuat coklat hangat.
"Kamu belum tidur?" terus Arash yang berada di depan televisi.
Mendengar suara Arash yang tiba-tiba, membuat Zia terkejut dan hampir saja terjatuh.
"Pelan-pelan kalau jalan, Zi. Dan maaf, jika aku mengejutkan kamu."
__ADS_1