Twins A And Miss Ceriwis

Twins A And Miss Ceriwis
Bab. 40 - Bazar Makanan 2


__ADS_3

"Kalian mau masuk ke dalam bazar? Saya boleh gabung?"


Sifa menatap kepada sang sahabat, untuk bertanya mengenai pendapatnya.


"Boleh gak? Ini kembarannya Pak Abash, yang polisi itu," bisik Sifa.


"Hah? Ya ampun, aku pikir tadi Pak Abash. Eh, kamu dari mana taunya?" tanya Amel.


"Duh, lihat aja jaket yang di pakai. Rata-rata kan polisi pakai jaket kulit begituan, di tambah lagi kalung yang di lehernya, jelas banget jika dia itu polisi," jawab Sifa masih dengan berbisik.


Ekhem ...


Abash sengaja berdehem untuk mengambil perhatian Sifa dan Amel yang masih berbisik-bisik. Kedua gadis itu pun langsung menoleh ke arah sumber suara.


"Boleh," jawab Amel dengan senyum yang mereka.


Arash pun membalas senyuman Amel. Ya, pria yang menyelamatkan Sifa adalah Arash. Saat patroli kemarin, Arash melihat ada bazar makanan. Berhubung Arash ini suka dengan jajanan tradisional, maka dari itu, pria yang berprofesi sebagai polisi ini, menyempatkan dirinya untuk menghadir acara bazar yang hanya di adakan setahun sekali.


Awalnya Arash sudah mengajak sepupunya untuk mendatangi Bazar, akan tetapi mereka sudah sibuk dengan pasangannya masing-masing. Terutama sang kakak yang sudah memiliki suami.


Sebenarnya Sifa sedikit keberatan saat Amel menyetujui permintaan Arash. Akan tetapi mau bagaimana lagi, sang sahabat sudah menyetujuinya.


Arash, Sifa, dan Amel pun berjalan beriringan. Sifa berada di tengah-tengah antara Arash dan Amel.


'Seru juga kali yaa, kalau aku nikah sama Abash, Sifa bisa nikah sama kembarannya!' batin Amel sambil tersenyum sendiri.


Ya, Amel sengaja menyetujui permintaan Arash untuk bergabung dengan mereka, karena ingin membuat Sifa menjadi dekat dengan kembaran dari pria yang di taksirnya sejak lama.


Sudah sangat lama sekali Amel menyukai Abash. Bahkan, pilihan jurusan teknologi informasi pun, sengaja di ambilnya agar bisa memiliki alasan untuk semakin dekat dengan Abash. Tapi, Amel tak pernah tau jika Abash memiliki seorang kembaran.


Keluarga Moza benar-benar sangat pintar dalam menutupi identitas keturunannya.


"Sifa, ini kayaknya enak!" ujar Amel saat berhenti di sebuah stand makanan tradisional Sumatra Utara.


Ikan emas yang di masak dengan menggunakan daun singkong dan di siram dengan bumbu kuning pun, di sebut dengan masakan arsik, lebih tepatnya masakan khas Tapanuli.


"Ini Masakan apa, Mas, namanya?" tanya Amel kepada si penjaga stand.


"Oh, ini masakan arsik, mbak." Si penjaga stand pun mulai menjelaskan apa-apa saja yang terdiri dari masakan tersebut.


"Silahkan di cicipi, Mbak, Mas," ujar penjaga stand sambil menyodorkan sepotong ikan kepada Arash, Sifa, dan Amel.


"Maaf, saya gak suka ikan Mas," ujar Amel menolak pemberian penjaga stand tersebut.


Sifa dan Arash pun mencicipi masakan Tapanuli tersebut.


"Enak, pedes, tapi kenapa sisiknya gak di buang?" tanya Sifa.


"Itu dia salah satu ciri khas memasak ikan mas. Dan satu lagi, kalau makan ikan mas, jangan ribut-ribut,"


"Maksudnya?" tanya Sifa bingung.


Si penjaga stand pun mendekat ke arah Arash dan Sifa, sehingga mereka mendekatkan wajahnya kepada pria penjaga stand.

__ADS_1


"Mitosnya, kalau makan ikan mas, gak beh berisik dan ngeluh banyak tulang. Semakin mengeluh, semakin banyak terasa tulangnya."


Sifa dan Arash pun kembali menegakkan tubuhnya sambil ber-oo ria.


"Kenapa?" tanya Amel.


Sifa mengedipkan matanya seolah tak beh mengatakannya saat ini. Setelah selesai mencicipi, mereka pindah ke stand makanan lainnya.


"Wow, ada masakan Aceh, yukk.." ajak Sifa.


Arash dan Amel pun mengikuti Sifa yang berjalan ke arah stand masakan Aceh.


"Wanginya enak, ini masakan apa?" tanya Sifa saat melihat sebuah kuah berwarna hijau ke Kuningan dengan asap yang menggembul.


"Ini namanya kuah pliek u"


"Kuah apa?" tanya Sifa ulang.


"Kuah pliek u. Masakan khas Aceh."


"Bahannya apa aja? kok ada keong kerucut?" tanya Amel saat melihat sebuah keong berbentuk kerucut berwarna hitam di atas piring.


"Kalau di Aceh, keong itu di sebut chu."


"Chu?" ujar Amel dan Sifa dengan tertawa kecil.


"Imut banget namanya," ujar Sifa.


"Iya. Jadi, Chu ini di masak dengan beberapa bahan sayur, seperti buah pepaya muda, biji melinjo, daun melinjo, dan beberapa bahan lainnya. Kemudian di masak dengan pliek u."


"Ini." pria stand pun menunjukkan sebuah kelapa yang terlihat membusuk.


Sifa dan Amel sedikit jijik melihat apa yang di tunjukkan oleh pria stand tersebut.


"Maaf, tapi, itu kan kelapa busuk?" cicit Sifa.


Pria stand tersenyum. "Iya, sama halnya seperti ikan asin yang di jemur hingga kering. Begitu juga dengan pliek u. Jadi, kelapa tua akan di jemur hingga dia mengering seperti ini, kemudian di olah menjadi seperti ini." pria stan menunjukkan sebuah pliek u yang sudah menjadi butiran seperti pasir.


"Ini? Di makan?" tanya Amel.


"Iya, silahkan di coba." Pria tersebut memberikan tiga mangkuk kuah pliek u kepada Sifa, Amel dan Arash.


Sifa dan Amel merasa ragu untuk mencicipi masakan tersebut, berbeda dengan Arash yang terlihat santai saat menikmatinya.


Sruupp ...


Fokus Sifa dan Amel pun teralih kepada Arash yang tengah menyedot siput dari cangkangnya.


"Enak, cobain deh," ujar Arash kepada Sifa dan Amel.


Sifa menelan ludahnya saat Arash menghirup kuah tersebut langsung dari mangkoknya.


"Ini beneran enak," ujar Arash.

__ADS_1


Sifa pun mencicipi sedikit rasa kuahnya karena merasa penasaran. Seketika mata Sifa pun membola.


"Iya, enak. Sifa pun mencicipi keong atau Chu yang ada di dalam kuah.


Sruupp ... Sruupp ...


"Eem, beneran enak!" seru Sifa.


Seenak apapun yang di katakan oleh Sifa dan Arash, Amel tetap saja merasa geli untuk memakannya, apa lagi mengingat bahan utama dari kuah tersebut.


"Maaf, saya gak mau," ujar Amel dengan tak enak hati.


"Tak apa, emang kalau bukan orang Aceh, gak suka dengan kuah ini."


Sifa dan Arash telah selesai menghabiskan kuah pliek tersebut.


"Mbak, Mas, mau cobain pliek u nya yang belum di masak gak?" tawar pria stand tersebut.


Amel sudha bergidik geli, begitu pun dengan Sifa. Jika memakan kuah pliek, itu karena telah di masak, ini, mereka menyarankan untuk memakan pliek u nya tanpa di masak?


"Gak dulu deh, Mas," tolak Sifa.


Berbeda dengan Arash yang penasaran dengan rasa pliek u itu sendiri. "Saya mau coba."


Pria stand memberikan pliek u yang sudah di campur dengan garam dan gula, kemudian cabai rawit yang sudah di Cooper menjadi satu dengan pliek u tersebut.


"Pernah dengar salak pliek? Ini dia, silahkan di coba," ujar pria stand tersebut.


Arash dengan santai mencicipinya. "Wow, enak." lagi, Arash mengambil sepotong salah dan mencelupkannya ke dalam pliek yang sudah di Cooper menjadi lebih halus.


Sifa yang penasaran pun juga ikut merasakannya. "Emm, lumayan."


"Jadi, gimana dengan pendapat Mas dan Mbak, dengan masakan Aceh?"


"Enak," jawab Sifa dan Arash dengan serentak.


Setelah puas dengan masakan Aceh, mereka pun mencoba masakan dari Papua, yang mana bahan utamanya adalah sagu.


Pria stand pun menyodorkan dua mangkok bubur sagu kepada Arash dan Sifa.


"Sagu ini dari batang pohon, cobain deh," ujar Sifa kepada Amel yang memang terbilang pilih-pilih makanan.


"Aku cicipin dikit aja yaa," Amel pun mencoba hanya dari ujung sendok saja.


"Gimana?" tanya Sifa.


Amel menatap wajah sang sahabat. " Enak."


Ya, siapa yang tak tahu rasa dari masakan berbahan dasar sagu. Tentu saja rasanya sudah sangat mendunia dan di cintai oleh masyarakat Indonesia.


...Jangan lupa Vote, Like, and komen ya .....


...Salam sayang dari Abash n Sifa...

__ADS_1


...Follow IG Author : Rira_Syaqila...


__ADS_2