Twins A And Miss Ceriwis

Twins A And Miss Ceriwis
Bab. 378


__ADS_3

"Mandi dulu, Mas, bau acem," ledek Sifa di saat Abash memeluk tubuhnya.


"Masa sih?" Abash pun merelai pelukannya, kemudian menciumi dirinya sendiri.


Di saat Abash sedang sibuk menciumi aroma tubuhnya, Sifa perlahan berjalan mundur untuk menjauh dari sang suami. Abash yang menyadari Sifa tak lagi berada di dekatnya pun, langsung menoleh cepat ke arah pria itu.


"Kamu----"


"Satu kosong, weeekkk," ledek Sifa dan berlari menjauhi Abash, di saat pria itu langsung mengejarnya.


"Sifa, jangan lari kamu ...."


"Ha ... ha ... ha .. ampun, Mas, ampun ...." ujar Sifa yang berharap Abash berhenti mengejarnya.


Abash melompati kursi dengan cepat, sehingga membuat Sifa membuka mulutnya, karena takjub melihat betapa kerennya sang suami. Sifa merasa dia baru saja melihat sebuah adegan laga yang ada di televisi.


Huppp ..


"Aahh ..." lirih Sifa pelan, di saat Abash berhasil menangkap tubuhnya.


"Kena kamu."


"Maass!!"


Abash memeluk Sifa, akan tetapi tangannya tak berhenti menggelitik pinggang gadis itu.


"Mas, hentikan, tolong, aku mohon. hahahah .. geli, Mas, aku gak sanggup," mohon Sifa yang berusaha melepaskan diri dari pelukan sang suami.


"Ini hukuman untuk kamu, Sayang," bisik Abash yang masih terus menggelitik pinggang Sifa.


"Mas, hen-hentikan. Aku tidak tahan lagi, Mas ... hahahaha ... aku mohon, hentikan..."


Abash mengabaikan permintaan Sifa, hingga gadis itu memekik pelan sambil menggigit bahu pria itu.


"Maas, kaan dia keluaaarr ...." rengek Sifa yang mana menjauh Abash menghentikan aksinya.


Abash mengikuti arah mata Sifa, di mana gadis itu menatap ke arah lantai saat ini.


"Kamu kencing di celana?" kejut Abash.


"Iih ... ini kan salah, Mas. Aku kan udah bilang untuk berhenti tadi, tapi Mas terus aja gelitik aku," rengek Sifa.


"Bwahaha ...." Pecahlah tawa Abash, sehingga membuat Sifa semakin merengek.


"Maaasssss ....."


Tawa Abash semakin membahana, pria itu seolah tidak bisa berhenti tertawa, walaupun Sifa sudah memohon sampai menangis.


"Ya ampun, sayang. maafin aku," lirih Abash yang akhirnya berhasil menghentikan tawanya.

__ADS_1


"Kamu sih, hiks ..." rengek Sifa sambil memukul dada bidang sang suami.


Abash menghela napasnya sedikit kasar dan panjang, karena pria itu merasa ingin kembali tertawa.


Abash teringat akan sesuatu, tubuh pria itu sudah basah karena keringat, sedangkan Sifa juga sudah basah karena pipis di celana. Sepertinya mereka harus mandi bersama saat ini.


"Kamu juga sudah basah sayang, bagaimana kalau kita mandi bersama?" ujar Abash sambil menaik turunkan alisnya.


Seketika tangis Sifa langsung berhenti, gadis itu menelan ludahnya secara perlahan.


Huuppp ...


Dalam sekejal saja, tubuh Sifa sudah berada di dalam gendongan Abash.


"Ayo," ajak Abash dengan wajah mesumnya.


"M-Maasshh ..." lirih Sifa dengan gugup.


"Kamu tidak boleh menolak, sayang," bisik Abash yang mana membuat Sifa terdiam.


Abash terus melangkahkan kakinya menuju kamar mandi, kemudian menurunkan sang istri di samping jacuzzi.


Berhubung jacuzzi itu sudah terisi dengan air dan taburan kelopak bunga, Abash tidak perlu lagi mengisinya. Pria itu hanya perlu menikmati apa yang sudah di siapkan oleh pihak hotel atas permintaan sang papa dan mama.


Abash berdiri tepat di depan Sifa, menarik baju kaosnya ke atas, sehingga menampilkan tubuh atletisnya yang sangat menggoda. Sifa menelan ludahnya dengan kasar, gadis itu dengan cepat memalingkan wajahnya ke arah samping, karena merasa malu untuk melihat tubuh telanjang sang suami.


"A-aku malu, Mas," cicit Sifa pelan.


"Kita sudah sah menjadi suami istri, sayang. Jadi, tidak ada lagi hal yang perlu dilakukan," bisik Abash, kemudian menempelkan bibirnya di bibir sang istri.


Abash melepaskan pagutan bibirnya, kemudian menuntun Sifa untuk berdiri. Perlahan, tangan Abash membuka resleting baju kebaya yang Sifa kenakan saat ini.


Ah ya, emak mau bocorin sesuatu nih. sebelum menikah, Abash sudah berlatih membuka kancing resleting tanpa melihatnya. Pria itu berlatih dengan menggunakan manekin. Awalnya cukup sulit, tapi setelah mencoba beberapa kali, akhirnya Abash berhasil.


Dan sekarang, Abash dengan mudah dapat melepaskan resleting baju Sifa.


Sifa menggenggam erat kebaya yang dia kenakan, tubuh gadis itu merasa merinding di saat merasakan sentuhan langsung dari tangan Abash.


Abash menurunkan kebaya yang Sifa kenakan, hingga hanya menampilkan penutup gunung kembar tanpa tali. Abash pun semakin mengikis jarak di antara mereka, tangan pria itu turun ke pinggul Sifa untuk membuka pengait dan resleting rok yang gadis itu kenakan, hingga rok batik itu pun terjatuh dan menampilkan penutup yang berbentuk segi tiga.


"M-mAashh ..." lirih Sifa sambil memejamkan matanya, di saat Abash mendaratkan sebuah kecupan di bahunya.


Abash mengangkat tubuh Sifa, membawanya masuk ke dalam jacuzzi yang sudah siap di gunakan.


Dan .... apa yang terjadi?


Yang terjadi adalah hal yang seharusnya terjadi. Yaah, begitulah. Akhirnya Abash bisa mandi bareng dengan Sifa.


Ingat, mandi bareng ya ....

__ADS_1


*


Sifa tak bisa menutupi wajah meronanya, di saat Abash terus saja memandang ke arahnya.


"Mas, hentikan memandang aku seperti itu," cicit Sifa dengan malu-malu.


"Mau bagaimana lagi, sayang. Di ruangan ini pemandangan yang indah hanya kamu," puji Abash.


"Maas, jangan mulai lagi, deh," ujar Sifa yang semakin merasa malu dengan perkataan sang suami.


"Aku serius."


Abash bangkit dari tempat duduknya, menghampiri sang istri yang duduk di sudut tempat tidur.


"Maassh?" lirih Sifa saat Abash semakin mendekat ke arahnya.


Abash tidak menghiraukan penolakan Sifa, pria itu semakin terus mendekatkan wajahnya ke arah sang istri. Sifa pun perlahan menutup matanya, karena masih merasa grogi dengan keadaan mereka saat ini.


yah, namanya juga pengantin baru. Wajarlah masih malu-malu kan?


Ting tong ....


Abash menghentikan pergerakannya tepat di depan wajah Sifa.


"Aku akan membuka pintu dulu," bisik Abash sambil mengelus pipi Sifa.


Sifa menghela napasnya dengan lega, di saat Abash sudah beranjak menjauh darinya.


Abash membuka pintu kamar, hingga menampilkan pelayan hotel yang membawa makanan untuk mereka.


"Pesanan dari Tuan Arka, untuk Pak Abash dan istri," ujar pelayan tersebut.


"Baiklah, terima kasih banyak."


Abash pun mendorong troli makanan tersebut ke dalam kamarnya.


"Siapa, Mas?" tanya Sifa.


"Ini, kiriman dari Mama dan papa," jawab Abash sambil menunjuk makanan yang dia bawa.


"Tahu aja Mama kalau aku lapar," seru Sifa dan bangkit dari tempat duduknya.


"Ya tahu, dong, secara kamu pasti lelah karena kejadian di kamar mandi tadi," ungkap Abash sambil menaik turunkan alisnya.


"Maaasss," pekik Sifa karena merasa malu jika harus diingatkan tentang kejadian beberapa puluh menit yang lalu.


Bahkan, di tubuh Sifa terdapat bekas tanda cinta yang sengaja Abash tinggalkan. Menunjukkan jika gadis itu adalah miliknya.


Ya, Sifa adalah miliknya. tidak ada yang boleh merebut Sifa darinya, karena Sifa sudah sah menjadi miliknya.

__ADS_1


__ADS_2