
Putri terus melirik ke arah Arash yang sedang mengemudikan mobil. Gadis itu sedari tadi tidak berhenti tersenyum menatap wajah sang tunangan.
"Kenapa? Kok liatnya senyum-senyum gitu?" Arash melirik ke arah Putri sekilas.
"Gak papa. Cuma mau mandang wajah kamu aja," jawab Putri dengan malu-malu.
"Nanti, kalau kita sudah menikah. Kamu bakal puas memandang wajah aku. Pagi, siang, malam, mau tidur, bangun tidur, kapan pun kamu mau, kamu bisa terus memandang wajah aku," ujar Arash dan menggenggam tangan Putri yang ada di pangkuan gadis itu.
Putri menatap tangannya yang di genggam oleh Arash, wajah gadis itu pun semakin merona mendapatkan perlakuan manis dan hangat yang Arash berikan.
"Eh, kita mau ke mana?" tanya Putri, saat menyadari jika mobil yang di kendarai oleh Arash menuju ke rumah sakit.
"Jenguk Abash. Tadi subuh dia masuk rumah sakit," ujar Arash memberitahu.
"Oh ya? Kenapa?"
"Kakinya retak lagi. Padahal belum sepenuhnya pulih, tapi dia malah nekad gendong Sifa tadi malam," kekeh Arash yang mana membuat Putri membulatkan matanya.
"Maksudnya? Abash gendong Sifa? Gendong ke mana?"
__ADS_1
"Jadi, semalam itu Abash rindu berat sama Sifa. Trus, dia diam-diam tanpa sepengetahuan Mama dan orang rumah, dia pergi lagi untuk menemui Sifa di apartemen," ujar Arash memberitahu.
"Lalu?"
"Mereka habiskan waktu bersama, hingga Sifa tertidur di sofa. Abash yang merasa kasihan, akhirnya menggendong Sifa dan memindahkannya ke dalam kamar. Karena itulah tulang kaki Abash kembali retak," jelas Arash.
"Ya ampun, padahal tinggal pemulihan aja," iba Putri.
"Iya. Sifa pagi-pagi sekali datang ke rumah, saat mengetahui Abash masuk rumah sakit, dia langsung bergegas menyusul ke rumah sakit. Sifa merasa bersalah karena Abash kembali terluka karena dia," ujar zaradh sambil tersenyum sendu.
Putri menghela napasnya pelan. Kali ini, dia benar-benar melihat dari wajah Arash, jika pria itu hanya sekedar kagum kepada Sifa, bukan karena ada perasaan spesial yang lainnya.
"Huum, kamu benar. Dia sampai nangis tersedu-sedu dan berlutut di depan Mama untuk meminta maaf." Arash menghela napasnya pelan, pria itu merasa iba saat melihat kejadian tersebut.
"Apa Tante Kesya marah dan menyalahkan Sifa?" tanya Putri merasa penasaran.
"Tidak. Mama tidak marah dengan Sifa. Tapi, hanya menyayangkan apa yang sudah terjadi. Mama bahkan marahnya kepada Abash, karena tidak bisa menahan hasratnya."
"Tante benar-benar orang yang baik. Aku beruntung banget kayaknya punya mertua seperti mama kamu."
__ADS_1
Arash menoleh ke arah Putri, pria itu pun membawa tangan Putri yang di genggam ke bibirnya.
"Kita nikah sekarang?" tanya Arash.
"Boleh."
"Serius? Kalau iya, aku bakal belokin ke arah KUA nih," goda Arash.
Putri hanya terkekeh mendengar ucapan sang kekasih. Dia masih tidak menyangka, jika dirinya saat ini telah menjadi tunangan Arash.
*
"Bang, Aku janji, aku akan membalaskan dendam Abang."
"Tentu, kamu harus membalaskan dendam aku. Aku tidak terima jika harus mendekam di penjara dan berpisah dengan kamu, Josi."
"Tenang, Bang. Aku pasti akan membuat mereka merasakan apa yang Abang rasakan saat ini."
"Kamu harus hati-hati dan bermain halus, agar pergerakan kamu tidak tercium oleh mereka."
__ADS_1
"Baik, bang. Aku akan turuti semua apa yang Abang katakan."