
"Ada apa, Fa? Kamu lagi ada masalah?" tanya Amel penuh perhatian.
Sifa menghela napasnya pelan, haruskah dia menceritakan tentang Abash kepada Amel? Lagi pula, Amel sudah mengetahui jika dirinya dan Abash berpacaran. Dan nyatanya sahabatnya itu cukup bisa di percayakan?
"Fa, kalau kamu lagi ada masalah, cerita sama aku. Mana tau aku bisa membantu kamu," ujar Amel sambil menggenggam tangan sang sahabat.
"Atau ini ada hubungannya dengan Pak Abash?" tanya Amel dengan hati-hati.
Sifa kembali menghela napasnya, kali ini dengan sedikit kasar. Matanya pun kembali memanas, hingga bulir bening pun mengalir mulus membasahi pipinya.
"Hei, ada apa?" tanya Amel sambil membelai pipi Sifa dengan lembut.
"Mas Abash, hiks ..." Sifa menangis tersedu-sedu. Gadis itu merasa sakit jika kembali mengingat tentang foto-foto yang di kirimkan oleh nomor asing tersebut. Entah siapa yang mengirimnya dan apa tujuannya, Sifa pun tidak mengerti.
"Kamu tenangin diri dulu, ya, tarik napas dan buang secara perlahan," titah Amel menuntun Sifa untuk mengatur napasnya.
Setelah melihat sang sahabat merasa tenang, Amel pun kembali bertanya apa yang terjadi dengan gadis itu.
"Mas Abash, dia---." Dan cerita tentang foto itu pun mengalir dengan mulus dari bibir Sifa. Termasuk perasaannya yang terluka.
Amel terkejut sambil menutup mulutnya. "Apa? Ka-kamu serius, Fa?" tanya Amel dengan suara yang bergetar.
"Hmm, iya," jawab Sifa sambil mengusap air matanya yang kembali terjatuh.
"Fa, dalam sebuah hubungan itu harus ada rasa saling percaya dan terbuka satu sama lainnya. Kamu harus percaya dengan Pak Abash, jika dia benar-benar mencintai kamu," ujar Amel dengan bijak.
"Iya, tapi ...." Sifa kembali menangis di kala mengingat akan foto di mana Abash tengah mencium Putri.
"Fa, sebaiknya kamu tanyakan kebenaran foto itu kepada Pak Abash," saran Amel. "Tapi, aku takut jika kamu melakukan hal itu, maka hubungan kamu semakin merenggang, karena Pak Abash merasa kamu tidak mempercayainya dan lebih percaya dengan foto-foto itu," sambung Amel meyakinkan Sifa jika apa yang dia katakan itu benar.
"Pak Abash akan terluka jika kamu lebih percaya dengan foto itu ketimbang dirinya sendiri. Lagi pula, apa yang kamu lihat di foto, belum tentu semuanya itu benar, kan?" ujar Amel mencoba melindungi kejahatannya.
"Kamu benar, tapi me-mereka---," Sifa menghentikan ucapannya, karena ponsel gadis itu berbunyi.
Amel sempat melihat siapa yang sedang menghubungi sahabatnya itu.
"Angkat aja, siapa tau ada hal penting yang ingin dikatakan," titah Amel yang diangguki oleh Putri.
__ADS_1
"Assalamualaikum, Mas," ujar Sifa saat panggilan telah terhubung.
"Walaikumsalam, kamu di mana, sayang?" tanya Abash berpura-pura tidak tahu jika sang kekasih telah di jemput oleh Amel.
Lagi pula, Sifa tidak mengabarinya jika dia pergi bersama sahabatnya itu.
"A-aku pergi ke kantor dengan Amel," ujar Sifa memberitahu. "Maaf, gak kasih tahu kamu, Mas. Aku pikir itu bukanlah hal yang penting. Lagi pula, Amel sahabat baik aku."
"Apa pun itu, kamu tetap harus kasih kabar, sayang. Aku gak mau kamu terluka. Mau kamu pergi dengan sahabat kamu atau dengan siapa pun, kamu tetap harus kasih kabar ke aku, mengerti?" titah Abash.
"Iya, Mas."
"Sayang, kamu habis nangis?" tanya Abash yang yang baru menyadari jika suara sang kekasih terdengar parau.
"Enggak, Mas. Aku hanya sedikit flu. Mungkin karena semalam aku makan es krim tengah malam," bohong Sifa.
"Ya sudah, jangan lupa minum obat ya. Kamu hutang penjelasan sama, aku," ujar Abash yang mana membuat Sifa bingung.
Bukankah seharusnya Abash yang punya hutang penjelasan kepada dirinya?
"Pen-penjelasan apa?" tanya Sifa bingung.
"Mas, sudah dulu ya, sudah mau sampai kantor," ujar Sifa yang tak ingin membalas perkataan rindu Abash kepadanya.
"Iya, kamu hati-hati ya. Kalung yang aku kasih jangan di lepas-lepas. Aku sayang kamu, Sifa."
"Iya, Mas. Assalamualaikum."
Panggilan pun terputus setelah Sifa mendengar jawaban salam dari Abash.
"Penjelasan apa?" tanya Amel yang memang mencuri dengar apa yang di katakan oleh sang sahabat kepada pria idamannya itu.
Ya, walaupun gadis itu tidak mendengar apa yang di katakan oleh Abash. Tetapi Amel masih bisa mengorek informasi dari sahabat polosnya itu 'kan?
"Hmm? Tentang kamu," lirih Sifa dan memilih menatap ke arah luar jendela.
"Tentang aku? Kenapa?' tanya Amel penasaran.
__ADS_1
"Aku juga tidak tahu. Bisakah kita pergi ke kantor sekarang? Kalau tidak kita akan terlambat," ujar Sifa yang mana diangguki oleh Amel.
"Iya, kamu benar. Ya sudah, kamu kompres aja matanya, ya, biar gak terlalu terlihat sembab," titah Amel yang diangguki oleh Sifa.
Saat perjalanan dari apartemen menuju apotek tadi, Amel akhirnya berhasil memuat Sifa berkata jujur, jika matanya itu bukanlah karena kemasukan binatang, melainkan habis menangis semalaman.
Dan lagi, Amel berhasil membuat Sifa mengatakan jika dia menangis karena kecewa dengan sang kekasih.
Ah, betapa puasnya hati Amel melihat Sifa terluka.
"Inilah yang aku rasakan, Fa. Saat aku melihat kamu berpelukan dan berciuman dengan Pak Abash," batin Amel sambil melirik jahat kepada Sifa yang tengah memandang ke arah luar jendela.
*
Arash menghela napasnya pelan, Putri dan Abash sudah menandatangani surat pencabutan tuntutan terhadap Josi. Mereka tidak hanya berdua, ada Om Martin yang mendampingi.
Entah ini keputusan yang benar atau tidak. Yang jelas, Arash memiliki firasat buruk tentang hal ini.
"Baiklah, semua sudah beres. Mari kita pulang, Putri," ajak Om Martin.
"Iya, Om."
Putri dan Om Martin pun pamit kepada Abash dan Arash. Saat Putri dan Om Martin mau meninggalkan kantor polisi. Yosi datang dan tersenyum manis kepada mereka.
"Waah, kenapa kalian terlihat terburu-buru?" tegur Yosi dengan tersenyum lebar.
Putri sudah mengepalkan tangannya dengan kuat menahan amarahnya. Rasanya gadis itu ingin sekali mendaratkan tinjunya ke wajah pria yang ada di hadapannya saat ini saat mengingat bagaiamana Zia--sang adik meringis kesakitan di saat perban yang ada di kakinya di buka.
Belum lagi gadis belia itu merengek kesakitan di saat kakinya terasa berdenyut dan tersiksanya dia harus meminum obat.
Yosi berjalan mendekat ke arah Putri. "Bagaimana rasanya melihat orang yang kita sayangi terluka?" bisik Yosi yang hanya di dengar oleh Putri dan Om Martin.
"Lo harus bersyukur, karena gue cuma membuatnya masuk ke dalam rumah sakit, bukan ke dalam penjara," desis Yosi di telinga Putri.
"Ini baru peringatan. Maka dari itu, jangan pernah lagi berurusan dengan gue."
Setelah mengatakan hal itu, Yosi tersenyum mengejek dan berlalu meninggalkan Putri.
__ADS_1
"Brengsek," maki Putri pelan dan ingin mengejar Yosi.
"Put, tahan emosi kamu," tahan Om Martin sambil memegang lengan Putri.