Twins A And Miss Ceriwis

Twins A And Miss Ceriwis
Bab. 225 - Butik


__ADS_3

"Share loc."


Tanpa berpikir panjang, Putri pun langsung mengirim di mana lokasinya berada saat ini. Gadis itu pun menghela napasnya pelan dan kasar, sehingga mengambil atensi Naya dan juga Kak Martin.


"Kenapa, Put?" tanya Naya.


Putri pun mengangkat wajahnya dan tersenyum kecil kepada Naya. "Eng, itu, sebenarnya aku ada janji dengan teman, dan aku melupakannya," ujar Putri mencoba berbicara dengan tenang tanpa ada rasa kegugupan sedikit pun.


Satu hal yang mungkin Putri lupakan saat ini, jika Naya adalah dokter psikologi. Jadi, sudah pastilah Naya bisa menebak jika saat ini gadis yang sedang duduk di hadapannya sedang berbohong dan menutupi sesuatu. Naya memaklumi hal tersebut, karena semua orang memiliki privasi yang tidak boleh di ketahui oleh orang lain.


"Teman kamu yang mana?" tanya Kak Martin, yang mana membuat Naya langsung menoleh ke arah pria itu.


Bukan tanpa alasan Kak Martin bertanya seperti itu, akan tetapi dia sudah mengetahui tentang kondisi Putri yang berada dalam penjagaan ketat oleh Arash dan Abash. pria itu juga terlibat dalam melindungi Putri, karena orang yang menjaga Putri adalah orang-orangnya yang bisa di percaya.


"Teman lama," jawab Putri yang mana membuat Kak Martin tersenyum kecil.


"Bagaimana jika aku tidak membiarkan kamu pergi bersama teman kamu?" tanya Kak Martin yang mana membuat Putri membelalakkan matanya.


"Maaf, Anda tidak punya hak untu---"


"Saya punya hak. Karena kamu juga berada di bawah perlindungan saya," potong Martin cepat yang mana membuat Naya menoleh ke arah pria itu dan bergantian menoleh ke arah Putri.


Ada rasa cubitan di dalam hati Naya mendengar ucapan Kak Martin, akan tetapi melihat tatapan mata Putri yang tak memiliki ekspresi kepada kak Martin, begitu pun sebaliknya, membuat naya bernapas dengan lega.


"Soni Alexander, apa Anda mengenalnya?" tanya Putri yang akhirnya menyebut nama orang yang akan dia temui.


Kak Martin menganggukkan kepalanya, pria tu sangat mengenal siapa Soni Alexander. Pengusaha yang memiliki salah satu perusahaan penanaman saham di negara yang sama dengannya. Bisa di katakan, jika Soni ingin melindungi Putri, maka kekuatannya sama besar dengan perlindungan keluarga Moza kepada gadis itu. Tidak hanya perusahaan penanaman saham, tetapi Soni juga memiliki perusahaan-perusahaan besar lainnya, seperti perusahaan properti dan pembangunan.


"Saya sangat mengenalnya. Bagaimana Anda bisa mengenal Tuan Soni?" tanya Martin merasa penasaran.


"Soni teman kecil saya. Dia keponakan dari Om Martin, pengacara saya," ujar Putri memberitahu, yang mana membuat Kak Martin menganggukkan kepalanya.


"Jadi, apa saya boleh pergi bersamanya sekarang?" tanya Putri kepada Kak Martin.

__ADS_1


"Sure. Dia orang yang bisa melindungi Anda. Tak ada satu mafia yang ingin bermain dengannya," ujar Kak Martin yang mana membuat senyuman Putri mengembang.


"Kalau begitu saya permisi," pamit Putri yang sudah berdiri dari duduknya. "Ah ya, jaas Anda--"


"Pakai saja, baju Anda basah. Lagi pula jas itu bisa menghangatkan Anda," ujar Kak Martin yang mana membuat Putri menghentikan pergerakannya untuk membuka jas tersebut.


"Kalau begitu terima kasih." Putri pun benar-benar berdiri dari duduknya. "Naya, saya permisi dulu. Terima kasih sudah menemani saya."


Naya ikut berdiri dan menganggukkan kepalanya. "Kabari aku jika butuh bantuan.


"Pak Martin, terima kasih sekali lagi jasnya," pamit Putri sebelum dia pergi.


"Ya, salam buat Tuan Soni," ujar Martin sebelum Putri berlalu meninggalkan dirinya dan Naya.


"Hmm, gadis yang manis, tetapi terjebak dalam perasaan yang rumit," gumam Naya yang masih di dengar oleh Kak Martin.


Ya, tanpa Putri memberitahu tentang perasaannya kepada Arash, Naya sudah bisa menebak, cukup melihat dari tatapan mata Putri yang memandang kepergian Arash dengan tatapan mata yang terluka.  Gadis itu menyukai Arash--sepupunya.


Putri sudah menunggu kedatangan Soni, hingga sebuah mobil sport mewah yang hanya memiliki dua pintu dan dua kursi di dalamnya berhenti tepat di hadapan Putri. Seorang pria tampan dan berwibawa turun dari mobil dengan sedikit berlari.


"Tidak, lagi pula aku juga baru berdiri di sini," jawab Putri yang sebenarnya dia sudah berdiri sejak tujuh menit yang lalu.


Soni mengerutkan keningnya, di saat melihat Putri menutupi tubuhnya dengan jas milik seorang pria.


"Kenapa dengan baju kamu? Kenapa memakai jas pria?" tanya Soni penasaran.


"Ah, tadi saat tiba di rumah sakit, terkena percikan hujan. Makanya baju aku basah," ujar Putri sambil tersenyum lebar.


"Ah ya, kamu kenal dengan Martin Wilson?" tanya Putri.


"Ya, aku mengenalnya. Bagaimana kamu mengenal dia?" tanya Soni penasaran.


"Jas ini miliknya," ujar Putri dengan terkekeh pelan.

__ADS_1


"Oh ya? Bagaimana bisa? Bukannya kamu pergi bersama polisi---"


"Akan aku ceritakan di mobil. Aku sudah kedinginan di sini," ujar Putri sambil memluk tubuhnya.


Merasa tak tega dengan Putri yang kedinginan, Soni pun bergegas membuka pintu mobil dan mepersilahkan pujaan hatinya itu untuk masuk ke dalam mobil. Setelah memastikan Putri duduk dengan nyaman, Soni pun menutup pintu mobil dan berlari menuju pintu mobil yang lainnya.


"Kita berangkat sekarang?" tanya Soni yang sudah duduk di belakang kemudi.


"Ya," jawab Putri sambil menganggukkan kepalanya.


Soni pun melajukan mobilnya meninggalkan rumah sakit.


"Kamu mau ke mana ini?" tanya Soni saat mobilnya sudah bergabung dengan kendaraan lain di jalan raya.


"Aku lapar, bagaimana kalau kit amakan mie pangsit jamur?" usul Putri.


"Emangnya kamu tau di mana tempat yang enak di sini?" tanya Soni lagi sambil menoleh ke arah Putri sebentar.


"Tentu saja. Kamu tau aku siapa, kan? Aku ini si pecinta kuliner," kekeh Putri yang mana membuat Soni ikut tertawa.


"Ya, pecinta kuliner, terutama yang bahan utamanya mie," ujar Soni sambl menggelengkan kepalanya.


"Tapi, sebelum kita menuju ke lokasi, sebaiknya kita ganti dulu pakaian kamu!" ujar Soni sambil melajukan mobilnya ke salah satu butik milik kenalannya.


"Maksud kamu? Kita pulang dulu, gitu?" tanya Putri yang sebenarnya sangat malas untuk pulang ke rumah. Apa lagi dia harus mencium aroma maskulin yang masih tertinggal di apartemen itu.


Aroma siapa lagi kalau bukan aroma maskulin tubuh Arash.


"Siapa bilang kita akan pulang?" ujar Soni yang sudah tersenyum penuh arti.


"Lalu?" tanya Putri penasaran.


Soni hanya tersenyum sambil mengedipkan matanya sebelah, sehingga membuat Putri pun mencebikkan bibirnya dengan kesal.

__ADS_1


Ah, sudah lama sekali Soni ingin melakukan hal ini untuk Putri. Yaitu membelikan pakaian mahal untuk gadis itu dan menungguinya mencoba beberapa baju untuk di beli di salah satu sofa yang ada di butik. Soni sering melihat-lihat adegan tersebut di film-film. Dia sudah lama sekali ingin melakukan hal itu bersama Putri, dan saat ini adalah waktu yang tepat, kan?


__ADS_2