Twins A And Miss Ceriwis

Twins A And Miss Ceriwis
BaB. 172 - Rasa Takut Sifa


__ADS_3

Abash, kamu jemput Sifa kan nanti?" tanya Mama Kesya kepada putranya itu.


"Enggak, Ma. Sifa datang sendiri nanti," jawab Abash.


"Kenapa? Seharusnya kamu jemput dia. Sudah, sana pergi," titah Mama Kesya.


"Gak, Ma, Sifa udah naik ojek yang Abash pesankan kok," jawab Abash.


"Ck, masa calon mantu Mama di suruh naik ojek? Gak romantis banget kamu. Udah sana,, jemput calon menantu Mama," titah Mama Kesya.


"Calon menantu? Siapa?" tanya Papa Arka yang mendengar sebagian pembicaraan Mama Kesya dan Abash.


"Abassh sudah punya pacar?" tanya Papa Arka.


Abash melirik ke arah Mama Kesya, seolah bertanya apakah ratu di rumahnya itu sudah memberi tahu jika dirinya berpacaran dengan Sifa?


Mama Kesya menggelengkan kepalanya, seolah mengerti apa yang ingin di tanyakan oleh sang anak.


"Loh, kok pada diem sih? Kenapa? Atau ada yang di sembunyikan dari Papa?" tanya Papa Arka kepada Abash dan Mama Kesya.


"Gak ada kok, Pa. Cuma Mama lagi jahilin Abash aja. Mama kan pingin tau apa putra kesayangan Mama ini sudah punya pacar atau belum?" ujar Mama Kesya sambil membelai lengan sang suami.


"Loh, Ma? Emangnya kalong ada pacar?" tanya Papa Arka sambil mengejek sanga putra.


"Ih, Papa ini. Masa untuk anak sendiri di katain kalong sih?"


"Ya habisnya, tidur selalu pagi, kalau malam udah bergadang. Trus, sama semua cewek juga dingin banget sikapnya," ujar Papa Arka meluapkan perasaannya.


"Sama seperti Papa dulu. Dulu juga Papa kerja sampai dari pagi sampai ketemu pagi. Terus kalau sudah jam delapan pagi, Papa langsung molor deh," ejek Mama Kesya.


"Emang iya, Ma?" tanya Abash penasaran.


"Waktu sama Mama sih enggak, tapi kata Oma Laura sih begitu. Waktu semasa Papa kamu ini masih lajang, beliau sering tidak tidur malam, sehingga membuat paginya tidak bisa menahan kantuk," ujar Mama Kesya menceritakan apa yang pernah Oma Laura ceritakan.


"Berarti Abash memang keturunan Papa dong?" kekeh Abash yang mana membuat Papa Arka menggelengkan kepalanya.


"Kalau bukan dari keturunan Papa, emangnya kamu keturunan siapa? Kamu itu ada karena hasil kerja sama Papa dan Mama," ujar Papa Arka yang mana membuat Mama Kesya mencubit pinggang sang suami.


"Sama anak yang masih lajang kok ngomongnya gitu?" cibir Mama Kesya.


"Loh, kalau dia kepingin kan bisa tinggal cari istri, Ma," kekeh Papa Arka. "Lagian, Papa berharap agar anak-anak Papa tidak menikah di umur yang sudah tua seperti Papa."

__ADS_1


"Tiga puluh masih muda kali, Pa," ujar Abash sambil terkekeh.


"Iya, untuk di luar Indonesia masih muda. Tetapi di Indonesia sendiri, udah di panggil om-om," kekeh Papa Arka sambil melirik Mama Kesya dengan tatapan menggoda.


"Haah, nasib kawin sama om-om ya begini. Sehingga anak gadis Mama satu-satunya juga nikah sama om-om," ujar Mama Kesya dengan membuat mimik wajah yang sendu.


"Tapi asyikkan nikah sama om-om," goda Papa Arka yang mana membuat Mama Kesya tersenyum malu.


"Ih, Papa, udah tua masih aja genit," kekeh Mama Kesya.


Abash memutar bola matanya malas, jika sudah begini maka mereka akan menonton film romantis yang akan berunsur adegan dewasa. Di mana Papa Arka dan Mama Kesya akan mengakhiri gombalannya adengan ciuman.


Abash pun bangkit dari duduknya dan karena tak ingin menjadi obat nyamuk di sana.


"Loh, mau ke mana?" tanya Papa Arka yang melihat sang putra sudah berdiri.


"Mau ke dapur, cari makanan," jawab Abash yang mana membuat Papa Arka tertawa kecil.


Abash menghentikan langkahnya di saat melihat sang kekasih sudah berada di dapur sambil tertawa bersama Putri.


Ya, kedua gadis itu sudah berada di rumahnya. Namun, kenapa sang kekasih tidak memberikan kabar kepadanya jika dia sudah berada di rumah?


Abash pun terkejut dan menoleh ke arah sang kakak.


"Ngagetin aja," ujar Abash sambail memanyunkan sedikit bibirnya.


"Habisnya kamu ngapain berdiri di tengah jalan begini?" tanya Quin sambil tersenyum penuh arti.


"Siapa yang berdiri di tengah jalan? Abash kan berdiri di rumah. Dih, Mbak Quin udah error nih gara-gara empus mau di bawa ke Paris," ledek Abash yang mana membuat mimik wajah Quin kembali sedih.


"Eh, Mbak, Abash gak bermaksud---,"


"Mas Abi," rengek Quin saat melihat sosok sang suami.


Abi pun berjalan cepat menghampiri sang istri.


"Kenapa, sayang?" tanya Abi yang sudah memeluk tubuh Quin.


"Itu, Abash, hiks ..."


"Abash kenapa?" tanya Abi dengan bingung.

__ADS_1


"Abash bikin aku sedih. Dia ingetin aku lagai tentang kepergian empus," rengek Quin dengan manja yang mana membuat Abash mellongo melihatnya.


"Bash," tegur Abi dengan tatapan tegas dan juga memohon.


"Maaf, Mas," kekeh Abash tanpa bersalah.


Di dapur, Sifa dan Putri melihat adegan di mana Abash sedang tertawa lepas di saat melihat Quin menangis.


"ternyata bisa tertawa tiga jari juga?" kekeh Putri yang mana membuata Sifa menoleh.


"Maksudnya?" tanya Sifa dengan bingung.


"Jadi, semalam itu pacar kamu nginap di apartemen Arash. Kami menginap bertiga, tapi dalam kamar yang berbeda," ujar Putri, kemudian gadis itu menyadari jika dia salah bicara.


"Eh, maaf, bukan maksud aku---,"


"Aku tau kok, Mbak. Mas Abash ada cerita sama aku. Dia sengaja tidur di apartemen Mas Arash agar tidak menimbulkan fitnah," ujar Sifa yang mana membuat Putri menghela napasnya dengan pelan.


"Syukurlaha kalau begitu. Aku berharap agar hubungan kamu dan Pak Abash semoga cepat di restui ya," lirih Putri.


"Di restui? Maksudnya?" tanya Sifa dengan bingung.


"Kalian pacaran diem-diem karena keluarga Pak Abash tidak merestui kan?" tanya Putri dengan wajah polosnya. "Eh, tapi, kalau gak di restui kenapa kamu di suruh datang ke sini juga ya? Membingungkan," lirih Putri sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal.


Sifa tersneyum melihat wajah [polos Putri yang mana membuat gadis itu semakin cantik.


"Sebenarnya bukan gak di restui, Mbak. Tapi, memang aku-nya aja yang belum siap untuk mempublikasikan hubungan kami," bisik Sifa dengan malu-malu.


"Kenapa?" tanya Putri dengan bingung.


"Itu karena-----,"


"Lagi ngobrolin apa? Seru banget?" ujar Arash yang sudah ikut bergabung dengan Sifa dan Putri.


"Rahasia perempuan," kekeh Putri sambil mengedipkan matanya sebelah kepada Sifa.


Sifa pun menghela napasnya dengan pelan. Karena Putri tidak memberi tahu kepada Arash tentang hubungannya dengan sang kekasih.


Sifa pun merasa kagum dengan kecantikan Putri dan juga kebaikan hati gadis itu. Bolehkah Sifa merasa takut? Kalau sang kekasih akan tertarik dengan gadis yang ada di sebelahnya saat ini?


Perlahan, perasaan takut itu pun mulai menghantui perasaan Sifa. Walaupun sudah sering kali Abash mengatakan jika wanita yang hanya akan menjadi istrinya nanti adalah dirinya.

__ADS_1


__ADS_2