Twins A And Miss Ceriwis

Twins A And Miss Ceriwis
Bab. 428


__ADS_3

Abash sudah berbicara kepada Kak Farhan tentang keputusan Sifa untuk resign. Sebenarnya tak ada masalah bagi Kak Farhan untuk melepaskan Sifa, karena pria itu bisa mencari pengganti Sifa dengan cepat dan pastinya melalui seleksi yang ketat pula. Namun, untuk melakukan hal tersebut, Kak Farhan harus kembali mengeluarkan dana besar untuk menseleksi kembali calon karyawan yang akan bergabung dengan tim cobra.


Ya, walaupun Abash akan membayar semua pinalti yang harus Sifa tanggung, tetap saja mencari seseorang yang kompeten itu tidaklah mudah.


"Begini saja, Kak. Bagaimana jika karyawan aku yang bernama Bimo, yang akan menggantikan posisi Sifa," tawar Sifa saat melihat Kak Farhan seolah keberatan dengan keputusan Sifa untuk keluar dari perusahaannya.


"Bimo?" ulang Kak Farhan yang di angguki oleh Abash.


"Iya, Bimo. Lagi pula dulu dia mendapatkan nomor tertinggi kedua setelah Sifa."


Kak Farhan terlihat berpikir, kemudian pria itu memanggil sekretarisnya dan meminta untuk membawakan biodata tentang Bimo.


Ya, setiap karyawan Abash yang ingin bergabung dengan tim cobra, harus memberikan biodata mereka masing-masing.


Tak berapa lama pintu ruangan Kak Farhan pun di ketuk oleh sekretarisnya yang membawakan biodata Bimo.


"Ini, Pak."


"Terima kasih banyak." Kak Farhan pun memperhatikan biodata yang di berikan oleh sekretarisnya, membaca dengan detail apa yang tertulis di sana.


"Hmm, baiklah." Kak Farhan menutup map tersebut dan meletakkannya ke atas meja.


"Bagaimana, Kak?" tanya Abash.


"Kita atur waktu yang pas untuk kembali mengunci Bimo," jawab Kak Farhan yang mana membuat Abash tersenyum.


Sebenarnya Abash sedikit keberatan untuk memberikan Bimo kepada Kak Farhan, karena Bimo termasuk karyawan yang berkompeten di perusahaannya. Namun, karena rasa tidak enak dengan Kak Farhan, Abash pun terpaksa menawarkan Bimo untuk bekerja


"Baiklah kak." Abash pun akhirnya berpamitan, karena banyak lagi pekerjaan yang harus dia kerjakan.


Abash baru saja masuk ke dalam lift, pria itu meraih ponselnya dan mengetikkan pesan untuk di kirimkan kepada sang istri.

__ADS_1


"Sayang, kamu di mana?" send


Ting ....


Pintu lift pun terbuka, di mana membuat Abash mengangkat wajahnya dan melihat orang yang ada di luar lift.


"Mas?" tegur Sifa.


"Sayang."


Cling ...


Sebuah notif pesan pun membuat Sifa meraih ponselnya. Wanita itu membaca pesan yang tertulis di sana.


Sifa masuk ke dalam lift bersama dengan teman-teman kantornya. Teman-tenab Sifa pun menganggukkan kepala dan tersenyum kepada Abash.


Sudut bibir Sifa terangkat membentuk sebuah senyuman di saat membaca pesan yang dikirimkan oleh sang suami. Wanita itu pun mengetikkan sesuatu di layar pipihnya itu.


"Aku di sebelah kamu, Mas." send.


Cling ...


"Makan siang bareng, yuk," ajak Abash membalas pesan yang dikirimkan oleh sang istri.


Cling ...


Sifa kembali menatap ponselnya yang kembali berdenting.


"Maaf, Mas. Aku sudah janji untuk makan bareng teman-teman," sesal Sifa sambil memberikan emo sedih.


Cling ...

__ADS_1


"Gak masalah, sayang. Lain kali kita bisa makan siang bareng." send.


Sifa menoleh ke arah sangat suami, wanita itu tersenyum sambil menggerakkan bibirnya mengucapkan terima kasih.


Ting ...


Pintu lift pun kembali terbuka, membuat teman-teman Sifa berpamitan kepada Abash dan membiarkan Sifa berbincang dengan suaminya.


"Maaf ya, Mas," sesak Sifa dengan wajah yang sedih.


"Gak papa, Sayang."


"Jadi, Mas makan siang di mana nanti?" tanya Abash.


"Emm, gampang itu. Aku bisa makan siang bareng Kak Farhan."


"Baiklah, tapi jangan sampai lupa makan siang, ya?" ujar Sifa mengingatkan.


"Iya, sayang."


"Kalau begitu aku menyusul teman-teman ya, Mas," pamit Sifa.


"Iya, sayang."


"Bye Mas." Sifa pun mencium punggung tangan sang suami sebelum pergi.


Sifa pun berjalan meninggalkan sang suami menuju kantin, tanpa wanita itu sadari jika Abash mengikutinya dari belakang.


"Maaf ya aku terlambat. Apa kalian sudah pesan?" tanya Sifa yang sudah duduk di kursi.


"Belum. Kamu mau pesan apa, Sifa?" tanya Dewi, teman sekantor Sifa.

__ADS_1


Dewi pun memberikan menu makanan kepada Sifa. "Eem, aku pesan apa ya?"


"Maaf, bolehkah saya bergabung?" ujar seorang pria tampan yang mana membuat semuanya menoleh ke arah sumber suara.


__ADS_2