Twins A And Miss Ceriwis

Twins A And Miss Ceriwis
S2 - Bab. 4 - Perasaan Gak Enak


__ADS_3

Zia menatap penampilannya di cermin, di mana saat ini dia sedang berdiri dengan salah satu kakinya yang sudah di nyatakan sembuh beberapa minggu lalu, tepatnya sebelum Zia berangkat ke Singapura. Tulang kakinya yang retak sudah bisa di gunakan sebagai tumpuan. Akan tetapi, tetap saja Zia belum bisa menggunakannya terlalu lama. Sedangkan salah satu kaki Zia yang terluka parah, masih belum bisa di gunakan sebagai tumpuan untuknya berdiri. Akan tetapi, jari-jari kaki Zia sudah bisa di gerakkan semuanya. Itu adalah sesuatu perkembangan yang sangat baik bagi penyembuhan kaki Zia yang patah cukup parah.


"Buk Zia yakin mau pakai tongkat?" tanya Yuli---sang asisten.


"Iya, kenapa memangnya? Gak boleh?" tanya Zia balik sambil tersenyum.


"Bukan begitu, Buk. Tapi---"


"Kamu tenang aja. Saya pasti baik-baik aja kok. Lagi pula, saya juga letih tau jika harus duduk seharian," ujar Zia sambil tersenyum.


"Iya, Buk." Sebagai asisten, Yuli hanya bisa menuruti kemauan atasannya tanpa bisa membantah. yang terpenting, dia harus tetap siaga untuk menyiapkan kursi roda di saat Zia membutuhkannya.


"Ayo," ajak Zia yang di angguki oleh Yuli.


Hari ini, Zia akan melakukan penandatanganan kontrak dan foto bersama. Tentu saja gadis itu ingin terlihat cantik saat di dalam foto. Zia tidak ingin saat di foto, dia duduk di atas kursi roda, sedangkan dirinya sudah bisa berjalan menggunakan tongkat, walaupun dia tidak bisa berjalan dengan cepat dan pergerakannya masih terbilang cukup terbatas.


Sudah hampir setengah hari berlalu, tiba-tiba saja Zia merasa kakinya berdenyut dengan hebat, membuatnya meringis menahan rasa ngilunya.


"Buk Zia baik-baik saja?" tanya Yuli merasa khawatir.


"Iya, tapi gak tau kenapa, kaki saya kok terasa ngilu banget, ya?" ujar Zia memberitahu dengan suara yang menahan rasa sakit.


"Mungkin karena Buk Zia terlalu banyak berjalan, Buk. Sebaiknya Buk Zia menggunakan kursi roda saja, ya?" saran Yuli.


"Hmm, baiklah."


Yuli pun mengambil kursi roda yang dia titipkan di bagian kasir. Ah ya, saat ini mereka sedang makan siang bersama investor yang akan mendanai semua hasil karya Zia di pameran.


"Ini, Buk, di minum dulu obatnya," titah Yuli memberikan beberapa butir obat pereda nyeri yang selalu dia bawa ke mana-mana.


Walaupun selama ini Zia tidak pernah mengeluh jika kakinya sakit atau ngilu, Yuli tetap saja membawa obat atasannya itu ke mana pun dia pergi. Hal itu dia lakukan hanya untuk berjaga-jaga, andai kejadian seperti terjadi.


Zia mengambil obat yang Yuli berikan, kemudian menenggaknya satu persatu hingga habis dengan susah payah. Yuli langsung memberikan buah jeruk yang sudah dia kupas dengan cepat kulitnya kepada Zia, agar atasannya itu tidak merasa mual di saat menelan obat yang pastinya terasa sangat pahit di tenggorokan.


"Terima kasih, Yul," ucap Zia saat mengambil jeruk yang di berikan oleh Yuli.


"Sama-sama, Buk."

__ADS_1


Yuli pun membantu Zia untuk berpindah duduk ke kursi roda, kemudian mereka berpamitan kepada investor untuk kembali ke kamar hotel, di karenakan Zia yang tiba-tiba saja tidak enak badan.


"Kok perasaan saya gak enak ya, Yul?" ujar Zia memberitahu apa yang dia rasakan kepada Yuli.


"Gak enak bagaimana, Buk?" tanya Yuli memastikan harus memberikan respon seperti apa.


"Gak tau. Saat  kaki saya sakit, saya teringat dengan Yumna. Takut kalau Yumna kenapa-napa," ujar Zia dengan suara yang lirih.


"Buk Zia jangan berpikiran macam-macam, ya. Mungkin itu karena Buk Zia merasa rindu aja dengan Yumna. Makanya Buk Zia berpikiran seperti itu," ucap Yuli mencoba memberikan pikiran yang positif kepada atasannya itu.


"Iya juga, ya. Apa yang kamu katakan benar." Zia pun meraih ponselnya di dalam tas, gadis itu pun membuat panggilan kepada Mama Kesya.


Di tempat lain.


Mama Kesya merasa bingung harus memberikan alasan apa di saat melihat Zia menghubungi nomornya.


"Duh,, bagaimana ini, Mbak?" tanya Mama Kesya kepada Mama Nayna.


"Emm, bilang aja kalau kita sedang di rumah sakit untuk melakukan pemeriksaan sakit perut karena banyak makan rujak kemarin," saran Mama Nayna.


"Terus, kalau Zia tanya Yumna gimana?" tanya Mama Kesya lagi.


"Ah ya, bilang aja kalau Yumna sedang bersama dengan papa-nya. Lagi pula, Zia kan tidak pernah menghungi Arash, kan?" ujar Mama Kesya saat memiliki ide yang bagus.


"Nah, iya bener. Bilang aja seperti itu," sahut Mama Nayna menyetujui ide yang di ucapkan oleh Mama Kesya.


Mama Nayna dan Mama Kesya sudah sepakat untuk tidak memberitahu keadaan Yumna saat ini kepada Zia, karena mereka tidak ingin menggangu pekerjaan Zia yang mana bisa membuat gadis itu meraih mimpi menjadi nyata.


Mama Kesya dan Mama Nayna pun memilih untuk berpindah tempat, sebelum memutuskan untuk menggeser tombol hijau agar panggilan video yang Zia panggil bisa terhubung.


"Hai sayang, assalamualaikum," sapa Mama Kesya, di samping wanita paruh baya itu ada Mama Nayna.


"Walaikumsalam. Loh, Mama sedang bersama dengan Tante Kesya?" tanya Zia dengan kening mengkerut.


"Iya, sayang. Kami sedang bersama."


"Ada apa, Ma? Ada Yumna sedang sakit?" tebak Zia.

__ADS_1


Mama Kesya dan Mama Nayna saling melirik, kemudian mereka tertawa bersama.


"Yumna baik-baik saja kok, sayang. Dia sedang di rumah dengan papa-nya." ujar Mama Kesya berbohong.


"Memangnya Tante dan Mama lagi di mana?" tanya Zia yang merasa tidak asing dengan lokasi berdiri Mama Kesya dan Mama Nayna saat ini.


"Oh, kami lagi di rumah sakit. Baru saja selesai pemeriksaan," bohong Mama Nayna.


"Melakukan pemeriksaan apa, Ma? Memangnya Mama dan Tante sakit apa?" tanya Zia merasa khawatir.


"Gak sakit apa-apa. Cuma sakit perut aja tadi pagi, karena kemarin kami habis makan rujak yang pedas," ujar Mama Nayna dengan berbohong kembali.


"Ya ampun, Ma!" Zia hanya bisa menggelengkan kepalanya pelan. "Tapi Mama dan Tante sekarang baik-baik saja, kan?" tanya Zia.


"Iya, sayang. Kami baik-baik aja kok."


"Syukurlah kalau begitu. Zia merasa tenang kok," ucap Zia dengan lirih. "Ah ya, Yumna gimana? Baik-baik aja, kan?" tanya Zia lagi tentang kabar bayi mungil yang sedang mengganggu pikirannya saat ini.


"Iya, sayang. Yumna baik-baik saja."


"Syukurlah …"


"Jadi, kapan kamu akan pulang?" tanya Mama Kesya.


"Emm, kalau tidak ada halangan mungkin besok Zia sudah bisa pulang, Tante."


"Ah, begitu ya. Syukurlah kalau begitu," ucap Mama Kesya merasa lega.


"Ada apa memangnya, Tante? Apa ada sesuatu yang terjadi?" tebak Zia yang kembali merasa tidak enak perasaan.


"Hmm? Tidak ada, semua baik-baik saja kok," bohong Mama Kesya yang dijawab anggukan oleh Mama Nayna.


Setelah berbincang-bincang sesaat dengan Mama Nayna dan Mama Kesya, Zia pun memutuskan panggilannya.


"Huufff, hampir saja," ucap Mama Nayna dengan lirih.


"Iya, hampir saja."

__ADS_1


Tiba-tiba perawat berlari datang menghampiri Mama Nayna dan Mama Kesya, memberitahu jika Yumna mengalami kejang-kejang saat ini.


"Astaghfirullah, Yumnaaa …."


__ADS_2