
Arash sudah menjemput Putri di kantornya, pria itu sudah berada di lobby kantor selama 15 menit, tetapi tapi gadis yang ditunggunya juga belum muncul. Tak berapa lama gadis yang ditunggu oleh aras pun akhirnya keluar dari dalam kantornya dan langsung menuju ke mobil Arash.
"Maaf ya aku terlambat, tadi ada briefing sebentar," ujar Putri saat sudah masuk ke dalam mobil.
"Nggak papa kok, kita berangkat sekarang?"
"Boleh, tapi nanti singgah ke tempat jualan bunga dulu ya, Aku mau beli buket bunga," pinta Putri kepada Arash.
"Oke." Arash pun melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang meninggalkan pelantaran kantor firma hukum di mana tempat Putri bekerja.
Dalam pikiran Arash, Putri ingin membelikan buket bunga untuk Abash. Secara mereka kan saat ini pergi ke rumah sakit untuk menjenguk Abash. Kalau bukan untuk Abash, untuk siapa lagi memangnya bunga itu? Tidak mungkin untuk dia kan?
Akhh … memikirkan hal itu membuat hati Arash sedikit panas.
Tak berapa lama mobil yang dikendarai Arash pun tiba di sebuah rumah kaca yang dipenuhi oleh berbagai macam bunga yang cantik-cantik sekali. Putri pun melepaskan segalanya dan turun dari mobil dengan di ikuti arah di belakangnya.
"Eh, kamu ikut turun juga?" kejut Putri saat melihat aras berada di sampingnya.
"Emangnya aku nggak boleh ikut turun?" ujar arah sambil terkekeh pelan.
"Bukan gitu, tapi– ah sudah lupakan saja."
Putri pun mengalihkan perhatiannya ke bunga-bunga cantik yang ada di dalam rumah kaca tersebut.
"Selamat sore ada yang bisa dibantu?" sapa seorang pelayan toko bunga.
"Sore," jawab Putri dengan ramah.
"Mau cari bunga apa, Mbak? tanya si penjual bunga.
"Emm … saya ingin mencari bunga yang cantik, berkesan lembut, penuh kekaguman dan selalu dirindukan," ujar Putri kepada si penjual bunga.
Aras yang mendengar permintaan Putri pun menaikkan satu alisnya.
"Ah, jadi dia mengagumi Abash dan merindukan pria itu?" batin Arash berkata.
"Baik tunggu sebentar ya," ujar si penjual bunga.
Pelayan toko bunga tersebut pun masuk semakin dalam ke dalam tokonya, sedangkan Putri melihat-lihat bunga-bunga yang dipajang di toko itu. Arash pun ikut melihat-lihat bunga yang dilihat oleh Putri.
"Bunga ini cantik ya," ujar Putri kepada Arash sambil menunjuk salah satu bunga yang berwarna ungu keputihan.
Arash pun memperhatikan bunga yang ditunjuk oleh Putri. Pria itu mengernyitkan keningnya, bunga dengan kelopak yang kecil dan berwarna ungu terlihat cantik di mata Putri sedangkan di matanya terlihat biasa saja.
Apa wanita memang seunik itu? Bukankah bunga yang cantik itu adalah bunga mawar?
Tanpa aras ketahui arti dari bunga yang ditunjuk oleh Putri.
"Kamu tahu bunga ini memang tidak terlihat indah seperti bunga yang lainnya yang memiliki kelopak lebih besar dan lebih panjang. Tapi, arti dari bunga ini sangat bermakna sekali. Aku berharap suatu saat nanti cinta sejatiku akan memberikan bunga ini untukku," ujar Putri dengan tersenyum sendu.
Aras pun mendengarkan apa yang putri katakan. Entah mengapa rasa penasaran tentang bunga yang ditunjuk oleh Putri membuat hati aras tergerak untuk mengetahuinya lebih jauh tentang bunga itu.
__ADS_1
"Memangnya apa artinya? tanya Arash merasa penasaran.
"Bunga ini biasanya ditujukan kepada seseorang yang tidak ingin pernah dilupakan oleh cinta sejatinya. Bunga ini sangat terkenal, tapi sayang aku tidak akan pernah mendapatkan bunga ini dari cinta sejatiku," lirik Putri dengan sendu di akhir kalimatnya.
"Kenapa?" tanya Arash merasa penasaran.
"Hmm? Ah? Nggak papa," Putri sambil tersenyum manis.
"Kenapa kamu tidak minta dengan orang yang kamu sukai?" tanya aras yang mana berpikir jika orang yang disukai oleh putri adalah Abbas–kembarannya sendiri.
Putri terkekeh pelan. "Ingin minta sama siapa? Pacar saja tidak punya," kejar Putri sambil terkekeh dan menggelengkan kepalanya.
"Abash?" Sebut aras yang mana membuat Putri melirik tak suka kepadanya.
"Harus berapa kali aku katakan? Jika aku dan Abash itu tidak memiliki hubungan apapun," ujar Putri dengan tegas dan nada yang terdengar kesal.
"Oke, aku minta maaf."
Putri hanya menghela nafasnya dengan kasar saat mendengar permintaan maaf dari Arash. Tak bisakah pria itu peka sedikit? Tak bisakah pria itu mengerti jika Putri benar-benar tidak menyukai Abash? Harus berkata bagaimana lagi agar Arash mengerti jika dirinya dan Abbas memang tidak memiliki hubungan apapun selain kontrak kerjasama kerja.
Ya, Putri dan Abash memang hanya sebatas partner kerja kan? Tidak lebih dari itu.
Tapi bagaimana agar Arash dan Sifa mengerti jika dirinya memang tidak memiliki hubungan spesial sama sekali dengan Abash.
Haruskah Putri mengatakan yang sebenarnya saat ini?
Tapi, jika Putri mengatakan kalau Abash dan Sifa berpacaran? Apakah Arash akan mempercayai dirinya?
"Maaf menunggu lama," ujar pelayan toko itu dengan tersenyum manis.
"Nggak papa kok, Mbak," jawab Putri tak kalah ramah dan juga tak kalah tersenyum manis.
"Ini bunga yang Mbak minta, namanya bunga anyelir." Ujar pelayan toko sambil menunjukkan buket bunga yang ada di tangannya.
"Bagaimana? Apa Mbak suka? Atau mau dijadikan satu warna saja?" usul si pelayan toko.
"Tidak, ini saja sudah cukup. Bunga-bunga ini sangat cantik sekali. Warna-warnanya juga sangat cerah," puji Putri sambil menang tetap takjub bunga yang ada di tangan pelayan toko tersebut.
"Baiklah, jadi mau bunga ini saja yang dibungkus kan?" tanya si pelayan toko.
"Iya, Mbak."
"Baiklah, tunggu sebentar ya, Mbak," ujar pelayan toko dan mempercantik buket bunga yang ada di tangannya.
"Mau ditambah ucapan, Mbak?" tanya si pelayan toko.
"Tidak, tidak perlu," jawab betul sambil kepalanya.
"Baiklah ini buket bunganya sudah selesai, Mbak."
"Oh, ya." Putri pun mengeluarkan dompetnya yang ada di dalam tas, tetapi dia dikejutkan dengan tangan Arash yang terulur di sampingnya kepada pelayan toko, sambil memberikan black card-nya kepada si pelayan toko.
__ADS_1
"Apa yang kamu lakukan?" tanya Putri kepada Arash.
"Biar aku yang membayarnya," ujar Arash sambil tersenyum.
Di dalam diri pria itu merasa tidak rela jika Putri membelikan bunga yang berartikan sebuah kekaguman kepada seseorang. Apalagi bunga itu ditujukan untuk Abash–kembarannya.
Tidak, aras akan tidak rela jika putri memberikan bunga untuk Abash.
Tapi kenapa juga Arash tidak rela jika Putri memberikan bunga untuk Abash? Kenapa dia harus tidak suka? Bukannya Arash tidak menyukai Putri? Atau pria itu mulai menyukai gadis yang ada di sampingnya saat ini.
Arash pun menggelengkan kepalanya memikirkan hal-hal yang menurutnya mustahil dan tidak mungkin itu terjadi. Di dalam pikirannya dia sudah merasa yakin jika dirinya hanya mencintai Sifa.
Ya, Sifa. Gadis sederhana yang selama ini dia cari untuk dijadikan pendamping hidupnya.
Tanpa Arash sadari, jika di dalam kehidupan ini kita bisa selalu mendapatkan apa yang seperti kita inginkan. Ya, walaupun terkadang ada hal yang juga sesuai dengan keinginan kita.
Tapi, bukankah Allah lebih tahu dari segala-galanya. Yang baik untuk kita belum tentu baik di mata Allah. Walaupun menurut Allah itu baik untuk kita, akan tetapi hal itu tidak kita sukai. Dan hal itu jarang sekali disadari oleh manusia.
Arash menghela nafasnya dengan sedikit kasar, di saat dia merasa bingung dengan perasaannya sendiri.
"Kenapa?" tanya Putri yang mendengar helaan nafas Arash. "Kamu nyesal sudah membayarnya?" kekeh Putri.
"Hah? Buk-bukan begitu. Siapa bilang aku nyesal?" ujar Arash tak terima. "Aku ikhlas kok membayarkan bunga yang kamu beli," sambung Arash.
"Lalu kenapa kamu menghela nafas seperti itu?" tanya Putri. "Kedengarannya seperti kamu keberatan membayarnya."
"Oh itu? Engg … itu karena aku memikirkan pekerjaan," bohong Arash.
"Oh kalau kamu memang sibuk, ya udah sebaiknya kamu kembali bekerja aja. Aku bisa kok pergi dari sini sendiri ke rumah sakit," ujar Putri.
"Tidak, tidak. Tidak kamu tidak boleh pergi sendiri. Aku akan tetap mengantar kamu, lagi pula jam kerjaku juga sudah selesai kok," bohong Arash.
Padahal pria itu hari ini bekerja sampai malam. Karena ada misi yang harus dia jalankan malam ini. Misi rahasia yang tidak boleh diketahui oleh Putri dan juga orang lain.
Tapi, demi tidak membiarkan Putri pergi sendirian ke rumah sakit. Arash rela menggunakan jam kerjanya untuk mengantar dan menemani gadis itu sore ini.
"Kamu yakin?" tanya Putri memastikan.
"Ya, kenapa tidak?" Aras pun tersenyum menunjukkan jika apa yang dikatakannya itu bukanlah sebuah kebohongan.
"Ya sudah kalau begitu." Putri pun mencoba mempercayai apa yang Arash katakan.
"Mas, Ini kartunya," ujar pelayan toko sambil mengembalikan black card d milik Arash.
"Ah ya, terima kasih."
Setelah urusan bayar membayar selesai, Putri dan Arash pun meninggalkan toko bunga tersebut.
"Kita langsung ke rumah sakit?" tanya Arash memastikan. "Apa mau ada lagi yang kamu beli?"
"Tidak, tidak ada lagi yang ingin aku beli. Kita langsung saja ke rumah sakit ya," ajak Putri yang diangguki oleh Arash.
__ADS_1
Arash pun melajukan mobil dengan kecepatan sedang menuju rumah sakit di mana Abash dirawat.